
Hari berganti hari, bulan pun beganti dengan cepat. Kini Alena kembali menjalani pemotretan dan syuting iklan, tapi dia selalu di awasi oleh Raya dan staf lainnya. Tapi Raya yakin hanya pada Alisa Alena melakukan itu, karena dia iri pada adiknya.
"Kak, bagaimana dengan status Alena?" tabya Raya.
"Biarkan dia berkembang dulu. Kita lihat, apakah dia semakin baik dan juga tidak berulah lagi. Aku sudah mengawasi dia dari satu bulan tentang kejadian yang kamu bilang itu." kata Anindya.
"Yah, sepertinya dia berubah. Tapi aku tidak yakin, karena dia tahu Alisa sekarang tidak lagi di samakan dengan jadwal pemotretan dan syutingnya." kata Raya.
"Dia terlalu ambisius dan tidak mau mengalah. Dia ingin selalu menang sendiri. Entah bagaimana didikan orang tuanya dulu." ucap Anindya.
"Kamu tahu kak, Alisa dulu itu sangat lemah. Dia selalu di tindas terus oleh Alena, Alena selalu ingin unggul dari siapapun. Terutama sama Alisa, dia tidak mau mengalah. Dan sekarang yang lebih terkenal dan sukses adalah Alisa, tentu saja dia marah dan semakin membenci Alisa. Aku takut dia berbuat di luar nalar kak." kata Raya.
"Aku sudah menyuruh orang mengawasi Alena, tapi selama ini dia semakin baik. Kita lihat satu bulan ini, apakah sikapnya tetap sama seperti yang sekarang atau hanya pura-pura saja." kata Anindya.
"Oh ya, kak. Apa yang akan kita lakukan pada Alena?"
"Kamu masih ingin merencanakan itu?"
"Aku ingin dia tahu kalau tempatnya dia bernaung adalah milik laki-laki lumpuh yang dia tinggalkan, bagaimana reaksinya jika dia tahu." ucap Raya.
"Sepertinya Alena bukan orang yang mudah menyesal. Dia terlalu angkuh untuk mengakui kesalahannya." kata Anindya.
"Benar kak, dia memang seperti itu. Tapi sekarang sepertinya dia berubah jadi pendiam dan menurut itu menurutku aneh, apa dia sedang mencari perhatian atau memang sedang menunggu orang lengah?" ucap Raya.
Dia tidak percaya dengan Alena yang jadi pendiam dan selalu rajin dan menurut dengan arahan potografer serta sutradara. Biasanya dia selalu ada saja sesuatu yang di protes atau tidak mau melakukannya.
Pembicaraan itu terhenti karena Anindya mendapat telepon dari klien.
"Kak, aku menemui Alisa dulu ya." kata Raya.
Anindya mengacungkan jempol pada Raya, dan Raya pun keluar dari ruang kantor Anindya.
_
Alena menjalani sesi pemotretan hari ini, dia lebih fokus pada jadwal pemotretan. Tidak ada yang tahu kenapa Alena seperti diam dan lebih akrab dengan junior. Hingga makan pun bersama dengan rekan-rekan juniornya, bercanda juga.
__ADS_1
Dan hari ini kebetulan Alisa datang untuk syuting iklan sebuah online shop. Di lakukan di studio karena nanti banyak efek dan akan di editing yang di tampilkan di layarnya nanti, jadi lebih efektif syuting di stuio saja. Dengan arahan beberapa dari sutradara dan produser.
Memang gedung rumah produksi Symonesta Stars banyak ruang khusus untuk syuting dan pemotretan, ada tiga lantai khusus untuk stuido foto dan syuting. Jika membutuhkan ruang outdor, maka bisa di lakukan di rooftop yang luas dan nyaman.
Dari segi penyediaan tenaga kerja juga ahli di bidangnya telah tersedia, sutradara, asistennya juga produser film beserta staf yang bekerja membantu pelaksaan syuting serta peralatan lengkap semua.
Memang biaya mendirikan rumah produksi tidaklah sedikit biaya yang di butuhkan, dan Simon membuat itu awalnya untuk Alena bisa masuk menjadi model di tempat rumah produksinya, tapi menolak. Dan sekarang justru dia masuk ke sana, tapi Simon tidak tahu. Karena Raya dan Anindya tidak memberitahunya.
Kali ini Alisa akan ke ruang syuting di lantai empat, yang kebetulan sebelahnya juga tempat studio poto di mana Alena sedang melakukan pemotretan.
Raya kesal kenapa, produser memilih lantai empat untuk melakukan syuting, kenapa tidak di lantai lima. Lagi pula dia berpikir nanti banyak editing nanti di hasil akhirnya.
"Sudahlah Raya, aku baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat. Alena sudah berubah, aku cukup kaget. Dalam dua bulan sejak peristiwa itu, dia berubah." kata Alisa.
"Tapi dia belum minta maaf kan sama kamu?" tanya Raya.
"Ya, karena kita jarang bertemu. Dan jadwalku tidak bersama Alena, jadi mungkin belum ada waktu untuk meminta maaf." kata Alisa.
"Semoga saja begitu, aku juga ragu dia jadi berubah begitu. Bagiku aneh, tapi yaa saat ini aku percaya. Dan kamu harus berhati-hati juga, biasanya orang membenci kita karena iri selamanya akan benci dan mencari cara untuk mrnjatuhkan kita." kata Raya lagi.
"Tetap saja harus hati-hati Alisa."
"Iya."
Alisa lalu di panggil untuk melakukan syuting oleh sutradara.
"Aku ke sana dulu ya."
"Oke."
_
Alena mendekat pada Alisa yang kebetulan sedang sendiri, dia tersenyum sinis. Namun seketika wajahnya berubah ketika Alisa menolah ke arahnya.
Ada rasa khawatir terlihat di wajah Alisa ketika Alena mendekat padanya. Namun dia berusaha tenang dan menatap Alena datar seiring kakak kembarnya itu mendekat padanya.
__ADS_1
Alena berhenti di depan Alisa, wajah menyesal terlihat di mata Alena. Belum terucap satu kata pada Alisa, apa yang akan di lakukan Alena?
"Mau apa kamu datang padaku?" tanya Alisa datar saja.
"Aku mau minta maaf, sejak kecil kita tidak pernah akur. Aku harap kamu memaafkan aku." kata Alena singkat.
Alisa diam, dia tidak percaya. Namun dia berusaha mencari tahu di mata Alena, apakah benar kakaknya itu minta maaf padanya?
"Kamu sadar kita tidak pernah akur, buat apa minta maaf sekarang?" tanya Alisa masih curiga.
"Karena aku ingin berdamai dengamu, aku ingin berubah." jawab Alena mencoba meyakinkan Alisa.
"Berdamai? Apa kita sedang berperang?" tanya Alisa menyindir.
"Alisa, aku sungguh-sungguh ingin berdamai denganmu. Aku membayangkan kita saudara kembar, kenapa tidak rukun dan saling menyayangi saja?"
"Kamu dulu kan yang membuat aku seperti orang tidak di akui. Dan sekarang kamu ingin berdamai? Aneh."
"Alisa, kamu semakin sombong saja. Ayolah Alisa, kita ini kakak adik. Kenapa kamu tidak percaya padaku?" kata Alena.
Dia sebenarnya tidak sabar, tapi dia tahan emosinya demi sebuah rencana.
"Tunggulah aku memikirkannya, siapa tahu kamu berubah lagi. Kamu tahu, meski pun aku terlihat teraniaya dulu, tapi sekarang aku ingin lebih berani. Dan rasanya aneh kamu seperti itu."
"Alisa, kamu masih tidak percaya? Tapi baiklah, maaf jika aku membuatmu seperti ini." ucap Alena.
Lalu dia pergi meninggalkan Alisa yang masih tidak percaya dengan perubahan Alena itu. Alena sendiri dalam langkahnya dia kesal sekali, dia menarik nafas kasar. Tapi dia ingin lebih bersabar lagi untuk bisa mendapatkan kepercayaan adiknya itu. Baru setelah itu, dia akan tertawa senang.
Sedangkan Alisa, kini sudah berada di mobil Richard. Setelah Alena pergi, Richard datang menjemputnya untuk pulang.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤