Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
58. Simon Mau Di Terapi


__ADS_3

Raya memarkirkan mobilnya di garasi seperti biasanya. Dia turun setelah mematikan mesin mobil, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Langsung menuju kamarnya,hari ini sangat lelah. Belum lagi Thomas sore tadi datang dan seperti biasa memaksanya untuk makan malam.


Senyum Raya terbit ketika dia mengingat kemarin malam Thomas menciumnya. Wajahnya tertunduk hingga dia tidak sadar di depan Simon memandanginya heran.


"Raya, kamu kenapa?" tanya Simon di kursi rodanya.


Raya terkejut, dia memegangi dadanya dan menatap kakaknya itu dengan tegang.


"Ih, kak Simon bikin kaget aja sih. Di depan tahu-tahu menghalangi jalanku." kata Raya.


"Siapa yang menghalangi jalanmu? Sejak tadi kamu jalan salah arah. Apa yang membuatmu senyum-senyum sendiri sampai salah jalan begitu?" tanya Simon.


Raya melihat sekeliling rumah, dan benar apa yang di katakan Simon. Dia memghadap ke arah kamar kakaknya tepat Simon berdiri.


"Heheh, aku mau ke kamar kakak. Katanya kakak mau bicara denganku, apa yang mau di bicarakan kak?" tanya Raya.


Untung dia ingat ucapan Simon tadi pagi, kalau kakaknya itu ingin bicara dengannya.


"Yakin hanya itu?" tanya Simon tidak percaya, dia menatap wajah adiknya dengan penuh selidik.


"Benar kak, memangnya aku bohong. Sekarang apa yang mau kakak bicarakan?"


"Kamu mandi dulu sana, nanti kakak tunggu di kamar. Ingat, jangan senyum-senyum sendiri seperti tadi. Memgkhawatirkan sekali." kata Simon sambil berlalu meninggalkan Raya yang masih malu dengan ucapan kakaknya itu.


"Ish, kak Simon ini ada-ada saja. Ya sudah, aku ke kamar dulu. Setengah jam aku ke kamar kakak."


"Mmm."


Raya masuk ke dalam kamarnya sedangkan Simon pergi ke dapur untuk mengambil buah di kulkas.


_


Raya sudah mandi dan sudah segar malam ini, dia akan menemui kakaknya. Apa yang akan di bicarakannya kali ini, karena tidak biasanya memintanya untuk bicara serius.


Dia melangkah hendak keluar, tapi ponselnya bergetar dan nada dering yang berbeda. Ada senyum di bibirnya, ya nada dering berbeda dari yang lain menandakan bahwa itu telepon dari Thomas yang menghubunginya.


Raya pun mengambil ponselnya dan menjawab teleponnya.


"Halo."


"Kamu sudah mau tidur?"


"Emm, ya. Ada yang harus aku bicarakan dengan kakakku. Ada apa kamu meneleponku?" tanya Raya dengan wajah cerianya.


Dia berbaring di ranjangnya sambil memandang langit-langit kamar dan ponsel menempel di telinga.


"Emm, aku kangen sama kamu."

__ADS_1


"Gombal banget, baru juga kan ketemu. Lagi pula kamu gampang banget bilang kangen, jangan-jangan setiap perempuan di bilang kangen." ucap Raya,


Dia gugit bibirnya, takut ucapannya membuat Thomas tersinggung.


"Aku laki-laki sibuk, mana bisa mengumbar kata-kata rayuan untuk memikat perempuan. Hanya kamu yang aku kangeni, apa kamu juga kangen padaku?"


"Entah, baru juga tadi ketemu. Masa aku harus kangen sama kamu."


"Huh, jangan bohong Raya."


"Aku ngga bohong, lagi pula bukan kamu aja yang aku pikirkan. Beberapa pekerjaan dan juga jadwal-jadwal Alisa untuk besok."


"Emm, ya benar. Kamu masih memikirian pekerjaanmu malam ini, tapi kalau aku setelah malam hanya memikirkanmu saja."


"Hahaha, ya ya. Kamu memang pandai membuat perempuan tertarik dan menyukaimu. Ck, laki-laki seperti itu akan mudah juga membuang perempuan nantinya.


"Raya, besok pertemuan terakhir kita. Aku akan memintamu untuk menjawab cintaku. Aku serius Raya."


"Apa yang kamu ingin jawaban dariku?"


"Jawaban kalau kamu juga mencintaiku."


Raya diam, tiba-tiba dia meresa akan di tinggalkan oleh Thomas. Apakah dia benar-benar mencintai Thomas juga?


Hati kecilnya berperang, Raya memejamkan matanya. Masih bingung dengan hatinya, tapi bukankah dia sangat senang selama ini dengan Thomas?


Raya masih diam, dia kembali memejamkan matanya. Antara ingin memgatakan iya dan tidak. Tapi lebih berat untuk mengatakan iya.


"Ya sudah, aku tutup teleponnya ya. Mungkin kamu sudah mengantuk. Daah."


Klik


Sambungan telepon terputus, wajah Raya pun meredup. Dia kecewa Thomas memutus sambungan teleponnya. Tapi dia masih bingung dengan hatinya saat ini, baginya itu terlalu cepat. Hanya tujuh hari dia mengenal Thomas, dia benar-benar tidak bertele-tele. Jika suka, maka dia langsung mengatakannya. Seperti dia menyukai Raya, dan ciuman malam itu?


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar Raya membuyarkan lamunannya, dia bergegas menyimpan ponselnya di nakas dan segera menuju pintu untuk menemui kakaknya.


Klek,


Pintu terbuka dan benar Simon sudah berada di depan kamar Raya.


"Kak?"


"Katanya setengah jam, tapi kenapa sudah lebih satu jam kamu tidak ke kamar kakak juga?" tanya Simon.


"Maaf kak, tadi ada telepon penting. Jadi menjawab telepon dulu. Oh ya, kakak mau bicara apa?" tanya Raya.

__ADS_1


Simon masuk ke dalam kamar Raya, dia mendorong rodanya di bantu oleh Raya untuk masuk lebih dalam. Pikirannya masih pada Thomas, bagaimana besok dia menjawab peradaan cinta Thomas padanya.


Simon berhenti di depan meja seperti meja kerja, dia melihat banyak sekali berkas dan juga laptop di atas meja itu.


"Raya, apa pekerjaanmu sangat banyak dan melelahkan? Aku pikir menajdia manajer Alisa itu kamu kerepotan dan juga mengurus rumah produksi itu dengan Anindya." kata Simon.


"Ngga juga kak, aku menikmati pekerjaanku sebagai manajer Alisa dan juga mengurus Symonesta Stars. Lagi pula ada kak Anindya kok. Memangnya ada apa kak?" tanya Raya yang sudah fokus pada ucapan kakaknya itu.


"Apa aku terlambat untuk melakukan terapi?" tanya Simon membuat Raya terkejut.


"Apa? Kakak mau terapi?" tanya Raya tidak percaya.


"Iya, kakak bosan harus di kamar terus. Jadi lebih baik kakak melakukan terapi dan ikut mengurus Symonesta Stars." jawab Simon.


"Waah, ini keajaiban. Aku senang mendengarnya kak, nanti aku akan kabari mama sama papa ya." ucap Raya dengan senang sekali.


"Tidak, jangan. Kakak ingin memberikan kejutan pada mama dan papa di hari ulang tahun perkawainan mereka yang ke empat puluh lima. Kakak ingin memberikan hadiah itu dan kejutan sama mereka berdua. Apa kamu mau membantuku?" tanya Simon.


"Pasti kak, bulan depan itu universary mama dan papa. Aku akan membantu kakak untuk melakukan terapi. Kakak harus semangat demi mama dan papa ya? Aku senang mendengarnya, ini benar-benar kejutan juga buatku kak. Terima kasih ya untuk berubah." ucap Raya menatap Simon dengan terharu.


Simon tersenyum, dia kini bersemangat untuk sembuh dari kakinya yang lumpuh dan bisa di sembuhkan sebenarnya. Tapi dia malah terpuruk karena ucapan Alena yang sangat menyakitkan hatinya.


Dia akan buktikan pada gadis itu, dia juga tahu kalau Alena itu masuk agensi miliknya. Tapi Alena tidak tahu kalau rumah produksi Symonesta Stars itu milik Simon. Jadi dia ingin tahu bagaimana reaksi Alena ketika tahu agensi itu miliknya.


Hari sudah larut malam, obrolan demi obrolan bergulir antara kakak beradik itu. Hingga jam menunjukkan pukul dua belas malam dan Raya juga sudah menguap beberapa kali.


"Ya sudah, kakak keluar dulu. Kamu sepertinya sudah mengantuk, maaf kalau kakak mengganggu waktu istirahatmu." kata Simon.


"Ngga apa-apa kak, aku senang malah kakak mau di terapi." ucap Raya.


Simon lalu keluar dari kamar Raya, di bantu di dorong kursi rodanya oleh Raya sampai depan kamarnya.


"Selamat malam kak."


"Malam."


Raya pun kembali ke kamarnya sambil menguap beberapa kali, dia benar-benar mengantuk sekali.


_


_



Mampir kesini juga yuk kaka, bagus lho ceritanya..😉😊


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2