
Mobil berhenti,
"Sudah sampai, sudah turun sana." kata Thomas ketika mobilnya berhenti di depan rumah besar dan megah.
"Kamu ngga ikhlas aku lama-lama duduk di mobilmu?" tanya Raya ketus.
Dia bersungut-sungut kesal karena baru saja berhenti mobilnya sudah di suruh keluar oleh Thomas saja.
"Aku mau aja kamu di sini sama aku selamanya, tapi ini sudah malam. Kamu butuh istirahat, besok kan harus kerja. Jadwal kerja kamu itu tidak beraturan sama seperti modelmu itu." kata Thomas mengingatkan Raya.
"Apa sih, sok perhatian bengat sama aku." kata Raya lagi, tapi dia belum turun juga.
"Ya jelas aku harus perhatian sama kamu, aku sebentar lagi jadi pacar kamu. Bulan depan sudah melamar kamu ke hadapan papamu, jadi wajar aku perhatian sama kamu." kata Thomas lagi.
Raya melirik tajam pada Thomas, bibirnya mengerucut. Lalu melengos cepat.
"Orang begini, jadi pacarku? Ngga ada romantis-romantisnya sama sekali." gumam Raya dengan suara kecil sekali lagi melirik le arah Thomas dengan mata jengahnya, namun telinga Thomas mendengar gumaman kecil Raya.
Dia tersenyum dan menatap Raya yang masih cemberut tidak jelas. Tapi belum berniat turun dari mobil karena masih kesal. Di tatapnya terus wajah Raya, dia suka sekali Raya yang merajuk seperti itu.
Thomas mendekatkan wajahnya pada Raya, niatnya ingin menggoda dengan menatap wajah Raya intens dari dekat. Lama Raya tidak menyadari wajah Thomas lebih dekat padanya, hingga dia kaget wajah Thomas masih di tempatnya dan dengan senyum manisnya. Dengan cepat wajahnya di mundurkan dan dia membuka pintu mobilnya, bergegas turun. Dia takut Thomas melakukan apa-apa padanya.
Bug!
Pintu mobil di banting oleh Raya, dia kesal. Tapi entah kenapa dia kesal. Apa yang dia kesali? Masih berdiri menatap Thomas yang tersenyum padanya karena lucu dengan tingkahnya.
Raya mendengus kasar, ldia berjalan dengan menghentakkan kakinya. Persis seperti anak kecil yang tidak di berikan permen oleh ibunya. Dia terus meninggalkan mobil Thomas yang belum juga pergi, kemudian dia berbalik dan berhenti menatap mobil Thomas dengan tajam.
"Sudah sana pergi!" teriak Raya.
Diam, mobil belum bergerak,
Thomas pun turun dari mobilnya dan berjalan mendekat pada Raya yang terlihat kesal mengusirnya tadi. Setelah dekat menatap Raya menelusuri setiap inci wajah ayunya dan tatapannya berhenti pada bibir yang sejak tadi mengerucut karena kesal padanya, dia menarik tengkuk Raya dan mencium bibir Raya yang masih cemberut. Dia mencumbu bibir Raya dengan lembut dan lama.
Raya kaget dengan ciuman Thomas yang mendadak itu, dia pun terbuai sejenak. Lalu dia sadar, tangannya mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan Thomas di tengkuknya dan memukuli dadanya.
Thomas melepas ciumannya, lalu menatap Raya lembut dan tersenyum penuh kemenangan.
"Manis." ucap Thomas masih menatap Raya dengan penuh cinta.
"Apa sih kamu main sosor aja. Plak!" kata Raya memukul lengan Thomas.
__ADS_1
"Selamat malam, Raya. Tidur yang nyenyak ya." ucap Thomas.
Dia lalu masuk kembali ke dalam mobilnya, tanpa melihat Raya yang masih terkejut dengan ciumannya yang mendadak itu. Thomas melambaikan tangannya pada Raya, dan segera melajukan mobilnya dengan kencang.
Raya meraba bibirnya yang tadi di cium Thomas, ada rasa hangat di pipinya. Wajahnya memerah lalu tangannya memegang dadanya yang sejak di cium tadi berdetak lebih kencang seperti genderang yang mau perang.
"Apa ini? Kenapa aku seperti ini? Ini gila, benar-benar gila. Raya!! Apa kamu sudah jatuh cinta sama laki-laki itu?!" teriak Raya bertanya pada dirinya sendiri.
Senyumnya mengembang, dadanya masih saja bergemuruh karena detak jantungnya semakin kencang.
Kemudian Raya membuka pintu gerbang, satpam tertidur di posnya. Dia bersyukur ketika teriakannya tadi tidak membangunkan satpam penjaga rumahnya itu.
Raya berlari kecil dan mendorong pintu utama dengan keras. Rona bahagia di rasakan Raya karena hatinya sedang bahagia.
_
Triiing
Suara pesan terkirim di ponsel Raya. Raya belum terbangun, hanya telinganya saja yang mendengar ada pesan di ponselnya. Dia pikir mungkin dari kantor, kakak sepupunya atau dari Alisa.
Dia malas membuka pesan itu, kembali Raya meringkuk mencari posisi nyaman untuk tidur lagi.
Tapi ponsel Raya kembali berbunyi, tapi bukan notif pesan. Melainkan suara dering telepon, semakin lama semakin kencang suaranya. Raya terganggu, dia lalu mengangkat teleponnya dan menjawabnya asal.
Klik.
Raya meletakkan lagi ponselnya. Baru saja ponselnya di letakkan, ponsel itu berdering kembali. Raya membiarkannya saja, nanti berhenti sendiri. Pikir Raya.
Jika Alisa, tidak mungkin sepagi ini. Karena jadwal ke studio jam sembilan pagi, tapi ini baru jam enam pagi. Siapa yang menelepon sepagi ini?
"Halo, sudah saya bilang saya sibuk. Kalau ada perlu, datang ke kantor agensi jam sepuluh pagi nanti. Di sana saya sudah stanby, jadi jangan ganggu saya lagi. Titik!"
Klik
Raya mematikan ponselnya lagi, dia buat silent agar tidak mengganggu tidurnya.
Satu jam lebih Raya tertidur semenjak dia di ganggu suara telepon. Dia bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Waktu menunjukkan setengah tujuh pagi, dia harus cepat berangkat ke kantor agensi karena hari ini Alisa ada pemotretan di luar kota, jadi dia harus mendampingi Alisa.
Bisa saja sebenarnya tidak ikut, ada asisten yang di sediakan oleh agensi untuk Alisa. Jika Alisa memerlukan sesuatu, maka asisten itu yang mengurus. Raya hanya memantau Alisa saja jika dia sibuk.
Setengah jam Raya mandi, dia bergegas memakai baju kemeja di padu dengan celana jeans saja agar lebih leluasa bergerak. Memakai make up seperlunya agar tidak terlalu pucat saja.
__ADS_1
Setelah selesai berdandan, Raya mengambil ponsel juga tasnya. Tak lupa peralatan make up seadanya dia masukkan ke dalam tasnya.
Dengan berlari, Raya menuju pintu utama hendak keluar. Namun kakaknya Simon memanggilnya.
"Raya, apa kamu mau ke kantor?" tanya Simon menjalankan kursi rodanya mendekat pada Raya.
"Ya kak, apa kakak sudah sarapan?" tanya Raya merapikan rambutnya.
"Sudah, emm kamu pulang jam berapa?" tanya Simon.
"Belum tahu kak, tapi kalau sesuai jadwal aku pulang agak malam. Karena harus rapat bulanan dengan kak Anindya." jawab Raya.
"Oh, ya sudah. Nanti malam kalau sudah pulang, kamu ke kamar kakak ya." kata Simon.
"Iya kak." jawab Raya.
"Jangan lupa kamu sarapan."
"Iya, nanti di kantor aja."
Sambil berjalan cepat, Raya segera keluar dari rumahnya. Dia mengambil kunci mobilnya, dia lupa kalau mobilnga ada di kantor agensi. Semalam dia di antar pulang oleh Thomas, dan tanpa sadar Raya meraba bibirnya. Mengingat kembali ciuman Thomas yang lembut.
"Ehem, yuk berangkat." kata Thomas yang tiba-tiba masuk dari pintu gerbang.
Raya kaget, dia mengerutkan keningnya heran. Kenapa Thomas pagi-pagi sudah ada di rumahnya?
"Kamu mau apa?" tanya Raya.
"Mau mengantar kamu berangkat ke kantor, kamu pasti buru-buru kan?"
"Aku bisa naik mobil sendiri."
"Tapi mobil kamu ada di kantormu, makanya aku yang jemput kamu sekarang."
Raya menatap tajam, dia lalu melongok ke garasi mobilnya. Tidak ada mobil di dalam sana, jadi dia ingat kalau tadi malam pulang di antar oleh Thomas.
Thomas menghampiri Raya dan menarik tangannya agar cepat masuk ke dalam mobilnya untuk segera berangkat ke kantor agensi.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤