
Alisa bersiap untuk berangkat ke kantor agensi, hari ini hanya setengah hari dia berada di kantor itu. Sekarang dia hanya membimbing junior yang baru masuk ingin jadi model di agensi itu, dan dia lebih santai dalam pekerjaannya.
Sengaja dia tidak mengambil job banyak, dan itu sudah di katakannya pada Raya.
"Kenapa? Apa sekarang kamu lelah?" tanya Raya ketika Alisa mengutarakan maksudnya.
"Ngga, aku ingin lebih santai aja." jawab Alisa.
"Tapi kamu belum mencapai cita-cita jadi artis film lho, mungkin bulan depan ada tawaran kamu main film di manis jembatan gantung barangkali." ucap Raya bercanda.
"Hihihi, kamu lucu banget sih. Tapi kalau ada tawaran untuk main film aku mau, terima aja kalau ada. Hanya saat ini mungkin aku mengurangi jadi model. Bisa aku jadi pembimbing model junior ngga untuk memberi pengarahan dan pengetahuan pada merek aja?" tanya Alisa.
Raya tampak berpikir, mungkin memang Alisa lebih baik di tugaskan sebagai pemimbing model junior yang baru masuk. Memberikan materi dan ilmu tentang modeling.
"Baiklah, aku akan pikirkan itu." kata Raya.
Kini Alisa dan Raya sedang makan siang dengan makanan yang di pesan melalui aplikasi. Banyak sekali pembicaraan, mengenai Alena nanti nasibnya bagaimana setelah Simon akan mendepaknya dari Symonesta Stars.
"Apa kamu nanti memaafkan Alena, Alisa?" tanya Raya.
"Aku selalu memaafkan dia, tapi tidak dengan perbuatannya. Sejujurnya aku juga sudah muak dengan tingkahnya itu, memanfaatkan para model yang baru masuk untuk bisnis kotornya itu. Memang itu tidak bisa di benarkan dan harus di laporkan ke pihak kepolisian." kata Alisa.
"Ya benar, keberanarn harus di tegakkan. Entah kak Simon menunggu apa dia mendepak Alena, atau dia ingin mempermalukan Alena. Kurasa seperti itu." ucap Raya.
"Oh ya, katanya Thomas sudah melamarmu sama papa mama kamu?" tanya Alisa.
"Ya, mereka sudah membicarakannya dengan serius. Dua bulan lagi Thomas menikahiku." ucap Raya dengan bahagia.
"Waah, selamat deh buat kamu. Aku senang mendengarnya." ucap Alisa.
"Iya, terima kasih ya. Lalu kamu bagaimana, Richard apakah sudah bertemu dengan ibumu?" tanya Raya.
"Aku ngga tahu, akhir-akhir ini dia sibuk banget karena membuat cabang baru di luar kota. Jadi sekarang jarang ketemu, tapi setiap pagi dan malam hari dia tidak pernah lupa meneleponku." jawab Alisa.
"Mungkin dia juga sedang mempersiapkan semuanya untukmu."
"Ya mungkin." ucap Alisa.
Keduanya terdiam, tak lama Simon masuk ke dalam ruangan Raya.
"Kalian makan kok ngga ngajak-ngajak sih?" tanya Simon.
Dia mencomot beberapa makanan lalu di masukkannya ke dalam mulutnya.
Sedang asyik makan bertiga, ada staf yang masuk ke dalam ruangan Raya mencari Simon.
"Pak Simon ada yang mencari." kata karyawan itu.
"Siapa?" tanya Simon heran.
"Saya ngga tahu pak, tapi orangnya ada di bawah. Katanya orangnya bawa makanan untuk pak Simon." jawab karyawan itu lagi.
"Suruh naik dan ke ruanganku aja." ucap Simon.
__ADS_1
"Katanya ngga mau pak, pengen ketemunya di bawah. Tadi juga udah di kasih tahu, tetap ngga mau orangnya."
"Aneh bener, siapa sih? Laki-laki atau perempuan?" tanya Raya penasaran.
"Pasti perempuan, Raya. Mana mungkin laki-laki bawa bekal makanan ketemu di bawah.c timpal Alisa.
Simon tersenyum, kemungkinan dia tahu siapa orangnya.
"Ya sudah, saya turun ke bawah. Terima kasih ya infonya." kata Simon.
"Iya pak Simon, sama-sama." kata karyawan itu.
Lalu karyawan itu pun hendak pergi, namun di cegah oleh Simon.
"Tunggu pak, nanti ke bawahnya sama saya." ujar Simon.
"Oh ya."
Karyawan itu pun menunggu Simon, dia melihat Simon memasukkan tangannya ke kantong celananya. Dan memegang pundaknya berjalan beriringan dengannya, sampai dalam lift Simon baru melepaskan pegangan tangannya di pundak karyawan itu.
Karyawan itu tidak enak pundaknya di pegang Simon, setelah lepas dia pun lega.
Dalam lift hanya berdua, karyawan tersebut diam saja.
"Nih pak untuk beli rokok." kata Simon.
"Oh, ngga usah pak Simon. Saya ada sendiri uangnya kok." jawab karyawan itu.
"Eh, tunggu pak. Saya terima deh, lumayan juga nambah seratus lagi dengan mbak tadi lima puluh ribu. Heheh ...." ujar karyawan itu tanpa sengaja.
"Siapa yang kasih uang lima puluh ribu pak?" tanya Simon.
"Itu, mbak yang menyuruh saya panggil pak Simon." jawabnya masih belum sadar.
"Ooh, berarti bapak dapat dua kali ya." ucap Simon dengan tersenyum simpul.
Tidak ada yang salah dengan karyawan itu, namun dia tahu siapa yang menyuruhnya turun.
Sampai di bawah karyawan itu pun pamit untuk melanjutakn pekerjaannya.
Sesangka Simon menyusuri lorong lobi dan keluar dari dalam gedung. Dia melihat Alena sedang duduk di bawah pohon rindang. Sejenak dia pun berhenti, membuang nafas kasar lalu menatap Alena lagi.
Muak sebenarnya dia harus menghadapi Alena lagi. Segala cara di lakukan untuk bisa menemuinya dan merayunya kembali.
Simon berjalan santai menghampiri Alena, Alena sendiri senang melihat Simon akhirnya mau turun dan menemuinya.
Sejak bertemu Simon waktu di parkiran, Alena dengan segala cara mendekat pada Simon. Dan Simon seperti tahu gelagat Alena untuk selalu menemuinya, menunggunya lagi di parkiran sampai menghubunginya lewat telepon.
Dan sekarang, menyuruh orang untuk membawanya turun ke bawah lalu menemuinya. Saat ini Simon berdiri di depan Alena dengan sikap biasa saja.
"Ada apa kamu mencariku?" tanya Simon.
"Duduklah dulu, aku bawakan makan siang untukmu." kata Alena.
__ADS_1
"Tidak usah repot membawakan makan siang untukku. Aku sudah makan dengan Raya." jawab Simon.
"Oh, kalau begitu kita bicara saja. Aku ingin bicara denganmu Simon." kata Alena.
"Apa yang perlu kamu bicarakan?"
"Aku masih mencintaimu, Simon. Aku sendiri bahkan sejak putus denganmu merasa sedih dan terpukul. Hik hik hik." ucap Alena sambil mengeluarkan air mata buayanya.
Simon menatap tajam ke arah Alena, lalu duduk di sebelahnya.
"Lalu, kalau kamu masih mencintaiku. Kenapa kamu pergi saat aku sedang terpuruk. Bahkan kamu bilang tidak mau lagi sama aku yang lumpuh waktu itu. Yang bicara seperti itu, apakah bayanganmu?"
"Eh, bukan itu maksud aku menjengukmu saat itu. Aku hanya sedang emosi, marah sama seseorang dan ingin melampiaskan ke orang itu tapi ngga bisa." ucap Alena beralasan.
Senyum sinis di bibir Simon mengembang, lalu menggelengkan kepalanya saja mendengar ucapan Alena yang tidak masuk akal itu.
"Simon, percaya padaku. Aku ingin pergi denganmu seperti dulu." kata Alena mencoba merayu Simon.
"Oke, kita akan pergi bersama." ucap Simon.
"Benarkah? Jam berapa kita pergi kencan?" tanya Alena dengan antusias.
"Nanti aku hubungi kamu, tidak hari ini." ucap Simon.
"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu." ucap Alena dengan senyum mengembang.
"Iya, tunggu aku meneleponmu."
"Iya, aku akan selalu menunggumu Simon."
"Kalau begitu, aku masuk lagi. Pekerjaanku masih banyak."
"Iya, ngga apa-apa. Silakan masuk lagi."
"Hemm."
Simon beranjak dari duduknya, dia melangkah meninggalkan Alena yang terlihat senang dengan janjinya bertemu lagi nantin. Senyum smirik tampil di bibir Simon ketika dia menjauh dari Alena.
"Tunggu kehancuranmu Alena." gumam Simon.
_
_
\=\=>> maaf kakak, hari ini update satu aja ya. bocil othor lagi sakit, maafkeun sekali lagi, besok bisa 2 bab updatenya seperti biasa...🙏🙏🙏😉😊
Promo novel bagus juga punya teman othor, yuk sekalian mampir..
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤🤍
__ADS_1