
Alena dan Meta sekarang sering kerja sama mencari pekerjaan sampingan di luar jadwal syuting dan pemotretan. Yaitu malam hari, mereka langsung mencari mangsa baru.
Jason sendiri kadang mendapatkan sebagian hasil dari pekerjaan itu, dia hanya bertugas mencari laki-laki hidung belang yang mau berkencan sampai pagi atau menemani tidur dengan gadis yang mau di ajak kerja sampingan itu.
Ada tida model junior yang mengikuti cara Meta, karena mereka melihat Meta begitu berubah drastis selama seminggu semua barang yang dia gunakan terlihat mahal. Meta memberitahu dari mana dia mendapatkan uang dengan cepat. Dan sekarang total ada empat orang model junior yang melakukan itu.
"Kan, apa yang kita lakukan itu tidak ada yang tahu?" tanya Meli model junior pada Alena.
"Lo tenang aja, selama semua bekerja dengan rapi dan tidak menyebutkan identitas kalian masing-masing. Semua akan aman." kata Alena.
Baik Meli, Sofia dan Arci hanya diam saja. Karena mereka baru melakukan itu, dan yang baru melakukan itu pun di hargai Alena dengan sangat tinggi. Tentu saja itu sangat menyenangkan, dan laki-lakinya juga tidak sembarangan. Yang berani menawar tinggi oleh mereka yang berkantomg tebal dan mencari kepuasan pada gadis yang masih perawan.
"Kalian menikmati pekerjaan ini?" tanya Alena pada ketiganya.
"Tentu kak, di banding dari model rasanya belum cukup untuk kebutuhan kita. Tapi, apakah nanti kita bisa mendapatkan itu lagi?" tanya Arci.
"Tentu saja, jika kalian mau tekuni pekerjaan ini. Model hanya sampingan aja, dan tetap saja yang terkenal dan yang di ambil untuk syuting iklan bagus yang mendapatkannya yang sudah di kenal seperti Alisa. Kalian tetap jadi model yang tidak di kenal dan pendapatan juga tidak tentu banyak atau sedikit jika tidak di kenal." kata Alena mengompori pikiran ketiganya.
"Benar, yang di ambil syuting iklan hanya Alisa dan yang senior saja. Kita yang junior tetap hanya sebagai cadangan." kata Sofia menimpali.
Alena tersenyum, dia puas dengan pemikiran dari junior-juniornya yang mulai bimbang dengan manajemen agensi Symonesta Stars.
Ingin mendapatkan penghasilan lebih di luar jadi model. Dia tidak bekerja tapi mendapatkan uang yang lumayan banyak.
_
Selama satu bulan itu Simon terus melakukan terapi, dia terus berjuang untuk kebahagiaan kedua orang tuanya. Dia ingin sembuh, dia harus sembuh dan akan mengurus langsung rumah produksi miliknya Symonesta Stars.
Dia akan menunjukkan pada Alena, bahwa laki-laki lumpuh dan tidak tampan itu mempunyai sesuatu yang di banggakan. Tapi tidak untuk kembali, satu kata pernah dia ucapkan dalam hati. Seandainya dia sembuh dan menjalani kehidupan normal, dia tidak akan peduli pada siapapun perempuan yang mendekatinya.
Dia akan berjalan sendiri, menapaki hidup sendiri dengan orang-orang yang peduli padanya masih banyak yang peduli padanya.
"Tuan Simon, coba anda melangkah ya satu langkah dulu. Untuk memastikan otot syaraf sudah bisa bekerja dengan baik." kata dokter Daniel.
Simon pun berdiri, perkembangan sebelumnya memang Simon sudah bisa berdiri. Dalam setengah bulan dia sudah bisa berdiri dengan tegak, tapi untuk melangkah masih berat. Kali ini dokter Daniel menyuruhnya melangkah meski satu langkah saja.
Kaki Simon pun bergerak maju, masih kaku namun dia terus mencoba menggerakkan maju ke depan. Dan satu kaki berhasil di angkat ke depan, Simon tersenyum senang. Kini semangatnya kuat.
"Waaah, tuan Simon kemajuannya cepat sekali ya. Lihatlah, satu kaki langkahnya jauh sekali, dua puluh senti meter jaraknya." kata dokter Daniel.
"Apakah ini kaki saya bisa melangkah lebih jauh dokter?" tanya Simon dengan antusias.
"Tentu, tuan Simon bisa belajar melangkahkan kaki. Jangan di paksakan pangkah yang lebar atau banyak ya, tapi langkah pendek juga tidak apa-apa. Asal sering berlatih melangkah, dalam satu minggu ini anda bisa berjalan. Tetap semangat ya tuan Simon, ingat melangkah dengan pelan dulu. Jangan karena senang sampai lupa nanti melangkah seenaknya." pesan dokter Daniel.
__ADS_1
"Baik dokter." kata Simon.
"Nanti seterusnya tuan Simon bisa di bantu oleh suster, untuk sekarang saya mengontrol kemajuan anda. Nanti bisa belajar dengan suster ya."
"Baik dokter."
"Kalau begitu, saya permisi harus kembali ke rumah sakit. Karena di sana juga ada yang menunggu pemeriksaan dari saya."
"Iya, terima kasih dokter. Saya janji akan terus belajar melangkah." ucap Simon.
Lalu dokter Daniel pergi, tapi sebelumnya dia memberi pesan pada suster untuk mengingatkan Simon agar jangan terlalu bersemangat belajar, harus pelan-pelan saja.
"Begitu ya suster."
"Iya dokter."
Dokter Daniel pergi, kini tinggal Simon yang duduk di kursi roda. Rasanya dia tidak sabar untuk belajar lagi melangkah.
"Suster, bisa bawa saya ke taman?" kata Simon.
"Ya tuan, saya akan bawa anda di taman." jawab suster.
Selama dua minggu ini Simon di temani suster untuk terapi dan minum obat. Dia tidak tahu siapa nama suster itu, dan tidak bertanya. Pikiran dia hanya ingin sembuh.
"Suster, sudah berapa lama anda jadi suster?" tanya Simon ketika mereka berjalan menuju taman rumah di depan.
"Sebelum mengurus saya, anda mengurus siapa?" tanya Simon lagi.
"Anak kecil, dia juga sama dalam kecelakaan tidak bisa berjalan." jawab suster lagi.
"Lalu, apakah anak kecil itu sudah bisa berjalan?" tanya Simon lagi.
"Ya, anak kecil itu langsung bisa berjalan, dia bersemangat belajar berjalan. Hingga dalam sepuluh hari yang di tentukan dokter, anak itu bisa berjalan dalam lima hari. Menakjubkan sekali, dengan semangatnya dan menuruti apa kata dokter dan saya anak itu bisa berjalan dengan lancar sampai saat ini." kata suster.
Simon menatap suster sekilas, lalu tersenyum. Dia pun akan bersemangat untuk terus belajar melangkah.
"Nama suster siapa?" tanya Simon, mereka berhenti di gazebo.
"Dania, tuan." jawab suster Dania.
"Oh, suster Dania. Suster Dania tolong bantu saya berdiri." kata Simon.
Suster Dania pun membantu Simon berdiri, dia memegang tangan Simon keduanya. Simon mulai berdiri, tapi dia kesusahan.
__ADS_1
"Suster jangan di dapan saya, kok pegangnya tangan saya? Bukan pinggang saya seperti sebelumnya?" tanya Simon heran.
"Karena anda sudah mengimbangi tubuh anda tuan, jadi anda harus bisa bangkit sendiri. Saya memegangi tangan anda agar kekuatan tubuh anda di maksimalkan untuk mengangkat berat tubuhnya." jawab suster Dania.
Simon menatap suster Dania, dia mendengus kasar. Tapi dia menurut, tangan keduanya dia kaitkan pada tangan suster Danis, dia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengangkat tubuhnya secara perlahan.
Dan dengan sekuat tenaga Simon mengangkat tubuhnya, awalnya dia kesusahan. Namun dia berusaha lagi dengan suster Dania memberi semangat padanya kalau dia bisa melakukannya.
"Waah, anda hebat tuan Simon. Ternyata anda pantang menyerah, anda bisa melatih itu juga tanpa di pegang ya. Sekarang anda atur nafas dulu, berdiri lagi dengan tegak ya.
"Suster, apa anda seorang mentor senam?" tanya Simon dengan nafas putus-putus karena kelelahan.
"Hahaha, anda bisa saja. Tapi boleh saja kalau anda mengatakan saya mentor senam." ucap suster Dania.
Simon tersenyum miring, memang lucu suster ini. Pikir Simon.
"Apa anda sudah siap melangkah?"
"Tunggu, saya atur nafas dulu. Kenapa saya kelelahan, padahal hanya mengangkat tubuh saja."
"Itu karena badan anda terlalu berat."
"Hei, kamu secara tidak langsung mengatakan saya ini gemuk kan?"
"Tidak, anda memang berat Makanya saya tidak bisa mengangkat anda terus tuan Simon."
"Ck, sudahlah. Memang tubuh saya ini agak gemuk, karena saya makan sambi duduk di kursi lalu tidur. Lemak di tubuhku semakin menumpuk." kata Simon.
Suster Dania hanya tersenyum saja, dia tidak mengatakan apa-apa tapi Simon perasa. Simon pun menatap suster Dania yang tersenyum, manis. Gumam Simon dalam hati.
"Sekarang ayo anda mulai melangkah, ingat tadi kata dokter Daniel. Tidak perlu lebar, hanya satu kali langkah dari kedua kaki anda bisa kok tuan." kata suster Dania.
Simon pun menurut, dia mulai melangkah satu kaki. Ringan, lalu satu kaki lagi. Ringan, semakin penasaran Simon terus melangkah dengan kedua tangan masih bertautan dengan suster Dania.
"Kakak!"
_
_
Promo novel bagus kaka, yang penasaran bisa mampir yaa..😉😊
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤