
Setelah ibu Rosi menjenguk Alena di penjara, kini giliran Alisa yang menjenguknya. Ada rasa khawatir, namun dia tetap santai. Richard ingin ikut dengannya, mengantisipasi kalau nanti Alena mengamuk pada Alisa. Tapi Alisa menolaknya, dia tahu Alena akan merasa canggung padanya dan Richard jika dia ikut.
"Kamu ngga apa-apa sendirian?" tanya Richard.
"Ngga, kamu tenang aja. Aku yakin Alena sudah berubah. Mama bilang kemarin sama aku." kata Alisa.
"Ya sudah, tapi kamu tetap hati-hati ya." pesan Richard.
"Iya, jangan khawatir."
Setelah Alisa turun, Richard melambaikan tangannya dan dia langsung melajukan mobilnya menuju kantor perusahaannya.
Alisa masuk, dia menuju kantor penjaga agar di beri izin untuk menjenguk saudaranya Alena.
Lama Alisa menunggu, dia deg-degan juga. Takut Alena menolak bertemu dengannya. Tapi lima menit kemudian, petugas memberitahu kalau Alena mau menemuinya. Alisa pun lega, dia lalu menuju ruangan khusus penjengukan narapidana.
Tak lama, Alena pun datang. Sejenak berhenti dan melihat Alisa yang duduj seperti gelisah. Senyumnya mengembang sinis, lalu dia melangkah mendekati Alisa dan duduk di hadapannya dengan cepat.
Alida kaget, namun dia senang Alena mau menemuinya. Senyum Alisa mengukir, memberi energi positif pada kembarannya itu.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Alena ketus.
"Alena, sebelumnya aku minta maaf sama kamu baru bisa menjengukmu." kata Alisa.
"Lalu?"
"Lalu aku ingin tahu kabar kamu bagaimana?" tanya Alisa.
"Aku baik, di mana pun aku selalu baik. Jangan khawatirkan aku, sebaiknya kamu pergi saja." kata Alena ketus.
Alida diam, dia menatap wajah Alena yang marah juga malu. Dia pun tersenyum tipis, benar kata ibunya bahwa Alena sudah berubah.
"Bolahkah aku memelukmu Alena?" tanya Alisa ragu.
Sejak perseteruannya dengan kembarannya itu, Alisa tidak pernah lagi memeluk Alena. Atau sebaliknya. Lama Alena menatap Alisa, ada keraguan di matanya. Namun akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Alisa senang, dia tersenyum dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Alena.
Diam sebentar, lalu menarik Alena dan memeluknya erat. Keduanya saling diam dan saling merasakan kehangatan tubuh masing-masing. Sejatinya, saudara kembar itu akan saling membutuhkan dan saling merasakan apa yang di rasakan salah satunya.
Tapi entah sejak Alena bersikap angkuh, semau sendiri dan juga manja perasaan kehilangan saudara, sedih juga membutuhkan menjadi hilang. Dia mengabaikan semua perasaan itu.
Tiba-tiba Alena menangis terisak, dia membalas pelukan Alisa. Tak berapa lama, Alisa pun ikut menangis haru. Tidak menyangka bahea Alena ternyata butuh belas kasihnya, butuh pelukannya untuk menenangkan hatinya juga pikirannya.
"Maafkan aku Alisa, maaf telah membuat kamu menderita. Hik hik hik." ucap Alena dalam tangisnya.
Lama mereka merasakan keharuan dan menangis bersama, mengungkapkan perasaan masing-masing bahwa sejatinya kakak beradik itu saling membutuhkan. Setelah selesai, mereka pun masih saling diam. Menyelami hati masing-masing, memaafkan dan juga meminta maaf. Hal yang sangat indah dan tenang di rasa Alisa.
__ADS_1
Petugas memberi tahu kalau jam besuk sudah selesai, Alisa pun berpamitan. Dia berjanji akan menjenguk Alisa lagi.
_
Richard dan Alisa kini berada di dalam mobil, mobil Richard itu berhenti di depan rumah ibu Rosi. Membuat Alisa heran, kenapa dia di bawa ke rumah ibunya.
"Ada apa kamu membawaku ke rumah ibu?" tanya Alisa heran.
"Kamu tidak tahu maksud aku?" tanya Richard sambil tersenyum.
Alisa menggeleng, dia masih belum mengerti apa maksud Richard berhenti di depan rumah ibunya.
Lalu Richard mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya, dia mengambil cincin berlian lali di sematkan pada jari Alisa. Alisa sendiri bingung, apa yang di lakukan oleh Richard itu?
"Menikahlah denganku Alisa, bulan depan." kata Richard, dia mencium tangan Alisa yang di sematkan cincin pemberiannya.
"Apa? Menikah?"
"Iya, aku sudah katakan akan menikahimu Alisa."
"Tapi, aku kaget. Ini mendadak sekali."
"Hei, ingat ketika acara ulang tahun kedua orang tuan Raya? Aku menjawab dengan pasti bulan depan akan menikahimu, tapi maaf aku telat memintamu menikah denganku. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Richard sekali lagi.
Alisa tersenyum, lalu mengangguk cepat.
"Kalau begitu, ayo turun."
"Hahah, baiklah. Ternyata kamu juga tidak sabar ya." kata Richard dengan tawanya.
Alisa pun tersenyum, saat ini dia sangat bahagia. Dan dua bulan lagi akan menjadi seorang istri dari Richard.
Keduanya pun melangkah masuk lebih dalam, Alisa memencet bel rumah beberapa kali. Tak lama ibu Rosi muncul, dan betapa kagetnya dia. Di depannya berdiri anaknya yang sedang tersenyum manis menatapnya juga Richard kekasih Alisa. Ibu Rosi tersenyum menandakan kalau dia menerima kekasih anaknya itu.
"Ayo masuk sayang, mama kaget kenapa malam-malam begini kamu datang." kata ibu Rosi menggandeng anaknya itu.
Alisa melirik pada Richard, dia pun tersenyum. Lalu keduanya duduk di ruang tamu. Sedangkan ibu Rosi langsung masuk untuk membuatkan minum.
Tak lama ibu Rosi datang lagi membawa nampan berisi dua gelas air minum. Dia meletakkan gelas tersebut di depan Alisa dan Richard.
Ibu Rosi duduk, dia menatap Alisa dan Richard secara bergantian.
"Ada apa malam-malam datang kemari sayang?" tanya ibu Rosi.
"Richard mau bicara sama mama." jawab Alisa.
__ADS_1
Ibu Rosi beralih menatap Richard yang duduk dengan tegang. Meski dia tidak menghadapi ayahnya Alisa, yang biasanya kamu ayah yang membuat laki-laki tegang jika mau melamar anak gadisnya.
"Nak Richard, apa yang mau di bicarakan?" tanya ibu Rosi penasaran.
Richard melirik ke arah Alisa, dia ragu. Namun Alisa menganggukkan kepalanya untuk memberinya semangat dan kekuatan.
"Sebenarnya, saya datang dengan putri ibu ini .., emm ..., saya mau melamar Alisa. Bisakah ibu izinkan Alisa menikah dengan saya?" tanya Richard dengan segala kegugupannya.
Namun akhirnya dia lega, setidaknya dia sudah mengucapkan kalimat lamaran pada ibunya Alisa. Ibu Rosi menatap anaknya, dia melihat Alisa sangat bahagia dengan Richard. Dia pun menghela nafas panjang lalu mengatakan sesuatu pada Richard.
"Apa jaminan kamu pada anakku?"
"Saya akan membahagiakan Alisa bu, dia adalah nyawa saya. Saya benar-benar mencintainya, dan ibu jangan khawatirkan Alisa. Alisa berada di tangan yang tepat." kata Richard tegas.
"Percaya diri sekali ya, tapi baiklah. Selama anakku bahagia denganmu, ibu mengizinkan kamu menikahi anakku. Dengan syarat Alisa harus bahagia setiap hari." kata ibu Rosi.
Dia berharap tidak ada penderitaan lagi pada Alisa, doa dan harapannya sangatlah tulus agar Alisa selalu bahagia dalam hidupnya.
"Terima kasih bu, saya berjanji akan selalu membahagiakan Alisa. Dan saya tidak bohong kalau saya benar-benar mencintai Alisa." kata Richard.
"Ya, mama merestui kalian menikah. Kapan pernikahan kalian di laksanakan? Apakah kamu sudah merencanakannya?"
"Dua bulan lagi ma, kami akan menikah dua bulan lagi di hotel berbintang." jawab Alisa.
Ibu Rosi pun tersenyun bahagia, dia memeluk Alisa yang beralih duduknya dekat dengannya.
"Berbahagialah sayang, mama akan selalu merestui kalian. Mama akan bantu sebisa mama nanti sebelum acara pernikahan kalian."
"Tidak usah ma, Richard sudah menyuruh orang untuk menyiapkan segalanya. Pokoknya hari itu semua sudah lengkap, mama tinggal duduk di sebelahku nanti ketika hari pernikahan nanti." kata Alisa.
"Ya, tentu sayang. Baiklah kalian sebentar lagi menikah, jadi jangan terlalu sering bertemu ya." pesan ibu Rosi.
Alisa dan Richard hanya mengangguk saja, lagi pula mana mungkin mereka berpisah. Bukankah cinta menyatukan keduanya?
_
_
\_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤