Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
85. Menculik Alisa


__ADS_3

Alena kembali menjalankan pemotretan seperti biasa. Dia melihat banyak sekali junior yang baru-baru semua. Model sebelumnya juga masih ada, namun bukan yang biasa ikut dengannya ketika malam hari.


Alisa masuk ke ruang studio, dia memberitahu pada model baru untuk ke bagian tempat biasa untuk rapat. Karena dia akan memberikan pengarahan pada model yang baru masuk.


"Untuk adek sekalian, silakan masuk ke dalan ruang sembilan ya. Seperti dulu kalian ikut casting, nanti di sana saya akan memberikan pengarahan dan ilmu tentang modeling." kata Alisa pada para junior itu.


"Baik kak." jawab mereka serempak.


Lalu semua beranjak untuk pergi di ruang sembilan. Alena melihat itu pun hanya mencibir saja, dia memperhatikan Alisa dengan sinis. Dia tahu Alisa sekarang menjadi pembimbing dan mentor model bagi yang baru memasuki dunia modeling di agensi Symonesta Stars. Seperti dulu Anindya, sekarang yang menggantikan adalah Alisa.


Setelah semua keluar dan menuju ruangan sembilan, Alisa mengikuti dari belakang. Tapi tangan Alena mencegahnya, Alisa menoleh heran. Terpaksa dia pun berhenti dan menatap Alena tajam.


"Ada apa?" tanya Alisa.


"Heh, sekarang kamu jadi kepercayaan agensi ini ya? Menjadi mentor mereka." kata Alena sinis.


"Dari pada kamu, kehidupan seperti apa yang kamu jalani itu tidaklah akan memuasakan hatimu." kata Alisa menyindir Alena.


"Tapi duniaku lebih menjanjikan, memberikan banyak uang."


"Ya tentu, memanfaatkan kelemahan seseorang untuk mendapatkan uang haram dengan instan. Tapi menggadaikan diri pada laki-laki hidung belang. Itu tidak di benarkan Alena." kata Alisa mengingatkan kalau apa yang dia lakukan itu tidak baik.


"Cukup! Jangan menceramahiku, peremouan sok suci. Mungkin saja kamu juga tidak sesuci ucapanmu, karena waktu itu kamu sepertinya sangat menggairahkan, bahkan mungkin pacarmu yang memanfaatkan keadaanmu. Hahah .." ucap Alena dengan tawa angkuhnya.


"Oh ya? Kamu tidak tahu siapa pacarku, laki-laki sejati yang tidak pernah memanfaatkan keadaan meski diirnya tersiksa. Aku sangat beruntung dia menghargaiku sebagai perempuan terhormat. Sedangkan dirimu? Sudah berapa laki-laki yang kamu tiduri dan membayarmu?" kata Alisa dengan tajam dan cukup menusuk jantung Alena.


Tentu saja Alena geram dengan, wajahnya merah padam dan matanya menatap tajam Alisa. Sebenarnya apa yang di katakan Alisa itu benar, dia sudah tidur beberapa kali dengan Darius, dengan Jason lalu dengan pelanggan laki-laki lain. Dan itu memang di hargai lumayan besar. Hanya sebesar yang dia minta harga dirinya sebagai perempuan.


"Kamu?!"


"Kenapa? Ucapanku benarkan?"


"Heh, saudara macam apa kamu mempermalukan saudaranya sendiri, memojokkannya dengan kata-kata tajam. Tapi aku akui kamu sekarang lebih berani padaku. Heh, karena banyak yang membantumu, banyak yang melindungimu. Jika tidak di dalam gedung ini, sudah aku pastikan kamu akan celaka di tanganku." kata Alena seperti mengancam pada Alisa.


Alisa mendengar itu pun sedikit gentar, tapi dia berusaha tenang menghadapi saudara kembarnya yang kejam itu.


"Kamu mengakuiku sebagai saudara? Kenapa kamu mencoba menjualku? Kamu tahu, semua akan memburumu untuk menjebloskanmu ke dalam penjara. Aku sangat bersyukur jika kamu masuk ke dalam penjara." kata Alisa.


Setelah berkata seperti itu, Alisa meninggalkan Alena yang masih terdiam. Wajahnya geram, tangannya mengepal, nafasnya memburu dengan cepat.


"Kurang ajar Alisa, kamu semakin berani padaku? Akan aku buat perhitungan denganmu, awas kamu Alisa!" teriak Alena.

__ADS_1


Kebetulan di ruang studio itu sedang sepi tidak ada orang lain. Namun sikap Alena itu terekam oleh cctv.


_


Alisa kini sedang menunggu di ruang tunggu, dia sedang menunggu Richard yang akan menjemputnya malam ini. Alisa tidak tahu kalau sejak sore tadi Alena memperhatikannya.


Sejak tadi siang Alena sangat marah, dia sangat kesal dengan ucapan Alisa yang memojokkannya tentang pekerjaanya di dunia malam sebagai mucikari yang lihai.


Alena sangat dendam pada adiknya itu, dia selalu ingin mencelakai Alisa, bahkan ingin mempermalukannya. Entah setan apa yang menguasai hati Alena, sehingga dia sangat benci dan dendam pada adiknya itu.


Sejak tadi, Alena terus memperhatikan Alisa yang sedang menunggu Richard menjemputnya. Dalam ruang tunggu itu terlihat sepi, padahal masih pukul delapan malam.


Alena mengambil kesempatan, dia akan membawa Alisa ke klub dan menjualnya lagi pada laki-laki hidung belang. Dia benar-benar ingin mempermalukan Alisa.


Sedangkan Alisa sendiri tidak menyadari kalau Alena sedang memperhatikannya dan ingin membawanya.


"Mba Alisa, ada yang mencari di depan." kata petugas kebersihan.


"Siapa pak?" tanya Alisa heran.


Soalnya Richard bilang akan terlambat datang.


"Saya tidak tahu mbak, dia menunggu di luar." kata petugas itu.


Dia pun bangkit dari duduknya, ingin tahu siapa yang mencarinya. Berjalan perlahan karena dia curiga, karena suasana di gedung agensi sangat sepi. Sebelum dia keluar, Alisa menelepon Raya lebih dulu.


"Raya, kamu masih di ruang kantormu?" tanya Alisa dengan jalan melambat lalu berhenti.


"Iya, aku masih di ruanganku. Ada Thomas yang menemaniku saat ini. Kenapa memangnya?"


"Aku ada yang mencari di luar, entah siapa. Aku mau menemuinya sekarang." kata Alisa.


"Tunggu Alisa, kamu jangan gegabah. Jangan temui dia, aku rasa itu jebakan Alena." kata Raya.


Alisa berhenti, benar juga. Itu pasti jebakan Alena. Lalu Alisa pun hendak berbalik, dia mau kembali ke tampat duduknya lagi. Sambungan teleponnya masih aktif dengan Raya, namun baru saja Alisa melangkah tangannya di cegah oleh Alena. Dia berontak dan menarik tangan yang tadi di pegang Alena.


"Apa-apaan kamu Alena, lepaskan tanganku!" teriak Alisa.


"Hah, sudah aku bilang. Jika di luar gedung ini kamu akan celaka. Aku akan bawa kamu pada laki-laki yang membutuhkan kamu Alisa!"


"Alena, kamu ..."

__ADS_1


Alena langsung membekap mulut Alisa dengan sapu tangan yang sejak tadi dia siapkan. Dalam dua detik, Alisa lunglai dan Alena menyeret tubuh Alisa untuk di bawa ke mobilnya. Meski kesusahan, tapi akhirnya sampai juga di dalam mobil Alena.


Sedangkan ponsel Alisa masih aktif dan Raya panik ketika Alisa berteriak menyebut nama Alena.


"Thomas, Alisa sepertinya di bawa oleh Alena. Entah mau kemana, dia memaksa Alisa pergi. Aku takut dia membawa Alisa ke klub dan menjualnya lagi." kata Raya cemas.


"Ayo kita turun, kamu hubungi Richard segera. Beritahu keadaan Alisa sekarang."


"Iya baik."


Raya pun menghubungi Richard, beruntung Richard sudah ada di parkiran. Dia melihat mobil Alena keluar, tanpa curiga.


Tuuut


Raya cemas dan tidak sabar Richard mengangkat teleponnya.


"Halo Raya, ada apa?"


"Richard, sepertinya Alena membawa Alisa pergi. Dia akan menjual Alisa lagi."


"Aku tadi melihat mobil Alena lewat di depanku, tidak melihat Alisa di dalamnya."


"Cepat kamu kejar mobil Alena itu, dia pasti membawa Alisa pergi. Karena tadi Alisa meneleponku dan dia menyebut Alena, setelah itu tidak ada suara Alisa lagi. Kamu cepat kejar dia sebelum Alena membawa kabur Alisa!"


"Baiklah."


Klik


Sambungan telepon terputus, Raya dengan cepat mengikuti Thomas menuju lift.


"Bagaimana Richard?"


"Dia sudah ada di parkiran, dia langsung aku suruh mengejar Alena tadi."


"Baguslah, ayo kita susul Alisa. Richard pasti sudah mengejar mobil Alena."


Keduanya pun langsung turun setelah mereka keluar dari lift dan menuju mobilnya menyusul Alena dan Richard.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2