Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
59. Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Pagi hari Simon sudah siap untuk pergi ke dokter syaraf dengan Raya. Raya sendiri izin pada Alisa kalau hari ini dia akan datang ke kantor siang setelah makan siang.


Alisa bisa di tangani oleh asistennya dengan memberikan beberapa jadwal hari ini.


Raya sangat senang mengantar Simon pergi ke dokter syaraf. Dia juga sebelumnya sudah mengatur jadwal dengan dokter Daniel yang manangani Simon terapi.


Dokter Daniel juga kaget dan senang kalau Simon mau di terapi. Rumah sakit yabg di dirikan oleh ibunya Raya yang bekerja sama dengan sahabatnya itu memang cukup lengkap. Daj tidak ada yang tahu juga kalau rumah sakit itu punya keluarga Raya.


"Kakak senang bertemu dengan dokter Daniel?" tanya Raya ketika mereka sudah ada di mobil.


"Ya, cukup tegang. Tapi kakak sudah bertekad untuk sembuh dari kelumpuhan ini." jawab Simon.


"Baguslah, semangat kakak bisa mempercepat penyembuhan kaki kakak nantinya. Dan juga dokter Daniel anak menyiapkan sister di rumah untuk menemani kakak terapi. Untuk saat ini sih kita ke rumah sakit dulu baru selanjutnya aku meminta kakak terapi di rumah aja, biar dokter Daniel yang datang ke rumah." kata Raya lagi.


Mereka memasuki pintu gerbang rumah sakit dan langaung menuju parkiran. Sampai di parkiran, Raya menyiapkan kursi roda untuk Simon dan mereka langsung masuk ke dalam gedung rumah sakit setelah Simon sudah berada di kursi rodanya.


Raya pergi ke bagian administarsi dulu untuk mwndaftar. Dan ternyata dokter Daniel sudah mendaftarkan Simon di urutan kedua, karena sebelumnya sudah ada yang mendaftar lebih dulu.


"Kakak tunggu di sini dulu ya, dokter Daniel juga nanti akan memanggil kakak kok." ucap Raya.


"Kamu mau kemana?" tanya Simon.


"Mau menelepon Alisa, dia tadi kirim pesan jadwal sore itu apa."


"Ya sudah, kamu jangan lama-lama. Kakak gugup bertemu dengan dokter Daniel."


"Hahah, memangnya dokter Daniel mau makan kakak?"


Setelah bicara seperti itu, Raya menjauh keluar. Dia tidak mau menelepon dalam keadaan ramai. Karena di ruang tunggu itu sangat berisik sekali.


_


Setelah mengantar Simon periksa, Raya ke kantor agensi. Di sana Alisa sudah berangkat ke taman untuk pengambilan foto dan juga syuting iklan. Di taman dekat kantor tepatnya, mereka bersama dengan model lain.


Besok mengambil gambar di pantai, jadi Raya besok juga ikut dengan rombongan.


Hari sudah bergulir sore, Alisa baru saja pulang ke agensi dengan yang lainnya juga. Dia akan menemui Raya di ruang kerjanya. Seperti biasa, Alisa hanya masuk tanpa mengetuk pintu. Dia memang sudah kebiasaan, seperti waktu itu. Tapi kali ini dia akan mengetuk karena sudah beberapa hari Thomas ke kantor Raya dan jika Alisa ke ruangan Raya pasti ada Thomas.


Tok tok tok


Alisa mengetuk pintu.


"Masuk."


Alisa menarik handel dan mendorong daun pintu dengan lebar. Dia tidak melihat ada seseorang yang biasa kalau sore datang. Alisa pun heran, kenapa Thomas tidak datang?


"Thomas tidak datang berkunjung hari ini?" tanya Alisa pada Raya.


"Emm, ngga tahu. Ku kira belum kesini." jawab Raya sambil mengetik di laptop.


"Waah, ternyata kamu sedang menunggu dia datang ya? Hahah.." ledek Alisa.

__ADS_1


"Apa sih kamu, nggalah. Dia sekarang mungkin.." ucap Raya terpotong oleh suara laki-laki yang sudah familar di dengarnya.


"Halo model dan manajer? Kalian menungguku?" tanya laki-laki yang tak lain adalah Thomas.


Thomas langsung masuk karena pintu terbuka, dia tahu Raya pasti ada tamu. Dan ternyata sahabatnya.


Alisa menoleh ke arah Thomas dan tersenyum, begitu pun Raya. Namun dia hanya menatap tajam pada Thomas yang senyumnya mengembang mengarah pada Alisa. Dia tidak suka itu.


"Alisa, kamu tidak ada jadwal lagi?" tanya Thomas pada Alisa.


"Emm, ada nanti jam lima. Setelah itu selesai, kenapa? Apa kamu menunggu Raya? Tenang aja, Raya saat ini juga sedang santai, yang bekerja itu aku. Raya santai di kantornya." ucap Alisa melirik Raya yang seperti tidak suka dia bicara pada Thomas.


"Oh, begitu ya. Ya, memang sore ini aku akan mengajak Raya keluar. Apa kamu tidak keberatan?"


"Hahah, ku kira Raya senang di ajak jalan denganmu. Tak perlu basa basi denganku, kalau sekarang aku harus keluar pun tidak mengapa. Aku akan ke kantin." ucap Alisa.


"Waah, punya sahabat pengertian sekali. Terima kasih Alisa. Tunggu kabar baik dari kami." ucap Thomas.


"Thomas!"


"Apa?"


"Kabar apa? Sudah jangan bicara macam-macam."


"Oke, aku akan keluar dari ruangan ini. Silakan kalian bicara. Dan kurasa Raya juga sepertinya tidak suka aku bicara lama denganmu, hahah."


Alisa pun bangkit dari duduknya, dia menatap Raya yang juga menatapnya balik. Alisa mengerlingkan matanya pada Raya, dan Raya pun tersenyum dengan tingkah Alisa itu.


"Kamu menungguku?" tanya Thomas dengan percaya diri.


"Siapa yang menunggumu?"


"Ooh, jadi tidak menungguku ya. Aku kecewa."


"Ck, sudahlah. Mau apa kemari lagi?"


"Tadi malam aku sudah katakan di telepon, apa kamu lupa?"


Raya diam, dia menatap Thomas lalu menghela nafas panjang. Dia masih bingung dengan hatinua sendiri, apakah benar mencintai Thomas juga.


"Aku masih sibuk." jawab Raya.


"Aku tunggu kamu sesibuk apapun, jam enam sore kita keluar." kata Thomas.


"Tapi kalau kamu ngajak aku ngobrol terus, bagaimana bisa aku selesaikan pekerjaanku?" kata Raya lagi.


"Oke, aku ngga ganggu kamu. Aku pindah duduk di sofa sana aja, silakan kamu bekerja." ucap Thomas.


Dia lalu pindah duduknya di sofa ruang kerja Raya dan Raya hanya menatap punggung Thomas sambil tersenyum. Antara ragu dan dia suka gaya Thomas entahlah. Raya pun kembali memeriksa laptopnya, kali ini dia benar-benar bekerja agar cepat selesai.


Jam setengah enam sore, Thomas kembali duduk di depan Raya yang sudah bersiap dan merapikan mejanya. Mematikan laptopnya dan di simpan di tas kerjanya.

__ADS_1


"Sudah selesaikan?"


"Emm, ya."


"Ayo kita keluar."


Dan dengan malas Raya pun menurut, dia bangkit dari duduknya dan kini Thomas dan Raya keluar dari ruang kerja Raya.


_


Kini Raya dan Thomas berada di restoran mewah yang sengaja Thomas pilih agar suasana dia kembali melamar Raya menjadi lebih syahdu dan serius.


Makanan sudah di pesan, tapi belum datang Thomas mengeluarkan sebuah kotak beludru dan di tunjukkan pada Raya. Raya pun kaget, dia menatap Thomas heran.


"Kamu menerima cintaku, pakailah cincin ini Raya." kata Thomad tidak mau bertele-tele.


"Tapi..., apakah ini terlalu cepat? Kita seminggu berkenalan dan bertemu, rasanya itu bagiku terlalu cepat." kata Raya.


"Raya, bagiku jika aku sudah menyukai seorang gadis. Itu cukup pendekatan selama satu minggu, kita saling cocok dan aku benar mencintaimu Raya."


"Thomas, aku bingung. Ini rasanya mendadak sekali. Tidakkah kamu menghargai pendapatku? perasaanku? Bagiku ini terlalu mendadak dan, cinta itu butuh pemikiran."


"Tapi selama satu minggu ini kamu menikmati jalan denganku kan?"


"Ya, bisa saja itu sebagai keakraban seorang teman." kilah Raya.


Entah karena malu dan gengsi, Raya terus mengelak. Thomas menatap Raya dengan dalam, mencari kepastian atas kata-katanya. Lalu menghela nafas panjang.


Dia masukkan lagi kotak beludru itu ke dalam saku celananya, kembali menatap Raya.


Makanan pun datang, dan di sajikan oleh pelayan dengan cepat. Raya merasa tidak enak hati sama Thomas, dia menatap Thomas dan terlihat ada wajah kecewa di sana.


"Thomas, maafkan aku. Aku..."


"Sudahlah, ayo kita makan. Setelah makan kita langsung pulang. Aku sudah berjanji malam ini malam terakhir aku bertemu denganmu." kata Thomas memotong ucapan Raya.


Mereka pun makan dengan perasaan gelisah, terutama Raya. Sesekali dia menatap Thomas, ingin bicara namun sepertinya Thomas makan dengan cepat dan segera ingin pergi dari restoran itu. Raya sendiri makan hanya sedikit, dia merasakan makanan itu terasa hambar.


"Kalau sudah selesai, ayo kita pulang."


"Ya, aku sudah selesai." jawab Raya lirih.


"Baiklah, kita pulang. Aku antar kamu sampai rumah."


Setelah semua di bayar, Thomas cepat-cepat meninggalkan restoran dan langsung menuju mobilnya. Raya masuk dan mereka saling diam, tidak ada pembicaraan sepanjang jalan.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2