
Sudah terkumpul bukti kejahatan pamannya, Richard kini akan menyerahkan ke pengadilan berkas laporan kebakaran sepuluh tahun lalu, dia akan menggelar perkaranya. Meski mungkin pihak pengadilan akan heran, kenapa baru melaporkan kejadian sepuluh tahun lalu. Yang nyatanya akan sangat susah mencari bukti dan membuktikannya.
Makanya Richard mengumpulkan banyak bukti, terutama sarung tangan rajut yang tertinggal di pabrik dan tidak ada yang menyangka kalau itu adalah barang bukti. Dia juga tidak lupa membawa dirigen yang terbakar bagian belakangnya, semua ia kumpulkan.
Sidik jadi dia sudah dapatkan, tinggal menocokkan dengan sidik jari di sarung tangan rajut itu. Richard membawanya ke tim ahli forensik, untuk mencocokkannya agar dugaannya itu tidak meleset.
Richard juga sudah dapatkan klaim asuransi milik papanua, yang ternyata di sana juga ada namanya. Bukan hanya nama pamannya, justru nama pamannya adalah pihak kedua setelah dirinya. Richard benar-benar tidak habis pikir dengan omnya itu.
"Dia benar-benar licik, aku di sembunyikan setelah dari rumah sakit waktu itu. Padahal aku hanya pingsan, dan dia mengatakan kalau dirinya koma?" gumam Richard geram.
"Jadi waktu itu tuan selamat dan tuan Rendra mengatakan anda koma?" tanya Jo.
"Ya, dia ingin mendapatkan asuransi itu. Jadi aku di sembunyikan agar dokter dan pihak dari asuransi percaya kalau aku koma." jawab Richard.
Richard menatap tajam ke arah jendela, dia benar-benar akan melaporkan tindakan pamannya itu jika dia tidak mengakui dan mengembalikan uang asuransi tersebut juga uang perusahaannya yang dia pinjam atas nama karyawannya.
Dia tidak habis pikir kenapa pamannya itu sangat rakus sekali dengan kekayaan yang di milik oleh papanya.
"Tuan, apakah ada sesuatu yang membuat tuan Rendra berbuat seperti itu?" tanya Jo.
"Tentu saja dia ingin menguasai harta milik papa. Perusahaan ini juga jika bukan wasiat papa saat itu pada pengacara, mungkin saja di rebutnya. Maka dari itu, dia mengambil uang perusahaan melalui orang dalam." jawab Richard.
Beruntung dia punya pengacara yang berdedikasi tinggi pada papanya, mungkin papanya tahu kalau adik iparnya sangat jahat.
_
Setelah mengumpulkan bukti, dia juga akan menyiapkan saksi yang akan dia tanyai. Termasuk Alisa yang saat itu juga mengetahui perbuatan pamannya. Meski memang masih kecil saat itu, tapi dia tidak akan memaksa Alisa jadi saksi.
Richard sekarang sedang bersama Alisa di sebuah kafe, dia mengajak Alisa jalan malam ini. Karena kebetulan waktu Alisa senggang.
"Jadi, aku harus bersaksi nanti setelah kamu melaporkan om Rendra?" tanya Alisa.
"Emm, ya. Kamu keberatan?" tanya Richard.
"Ngga, hanya saja apakah nanti akan di terima? Karena waktu itu aku masih berumur sepuluh tahun, apakah saksi anak kecil bisa menguatkan bukti?" tanya Alisa lagi.
"Sekarang kamu sudah besar, ingatanmu juga masih baik. Jika memungkinkan bisa jadi saksi, akan aku tampilkan kamu sebagai saksi. Tapi jika menurut kejaksaan tidak bisa, ya udah. Kamu ngga usah khawatir dan ngga usah memikirkan apa yang akan aku lakukan. Aku sudah menyewa pengacara handal, tapi nanti jika aku minta kamu bertemu pengacaar bisa kan?" tanya Richard.
"Ya, ngga masalah. Asal bisa membantu kamu menyelesaikan masalahmu." jawab Alisa.
__ADS_1
Richard memegang tangan Alisa lalu menciumnya lembut.
"Terima kasih, kamu akan aku jamin tidak akan terjadi apa-apa jika nanti ketahuan kamu adalah saksi kunci waktu itu." ucap Richard.
Alisa hanya tersenyum saja, dia menarik tangannya yang masih di pegang Richard. Dia menyadari ada yang mengawasinya saat ini di kafe tersebut.
"Kenapa di tarik?"
"Ada yang mengawasi kita." jawab Alisa malu.
"Ya sudah, kita pergi dari sini aja."
Alisa mengangguk, dia bukannya tidak mau ada gosip tentang laki-laki yang sedang dekat dengannya, tapi risih saja di perhatikan oleh mereka. Memang resiko jadi publik figur ya pasti jadi incaran wartawan.
Tapi selama ini belum ada pemberitaan miring atau gosip tentang dia dan Richard.
"Ayo masuk ke mobil." kata Richard
"Maaf ya, acara kita jadi terganggu oleh mereka." kata Alisa merasa tidak enak pada Richard.
Keduanya sudah berada di dalam mobil dan Richard melajukannya menuju suatu tempat yang sepi.
"Aku merasa tidak enak, kamu harus menyembunyikan identidasmu." kata Alisa lirih.
"Aku sudah bilang, jika harus di sembunyikan hubungan kita pun tak apa. Demi karir kamu di dunia model dan keartisan. Lagi pula akan lebih nyaman begini, aku juga tidak di kejar-kejar wartawan." jawab Richard untuk menenangkan Alisa.
Alisa tersenyum, dia menatap Richard lama. Dan tentu saja Richard tidak membuang kesempatan untuk mencium bibir Alisa.
"Akan aku lakukan apa pun demi kamu, Alisa." ucap Richard menghapus bibir Alisa dengan lembut.
Alisa kembali tersenyum, Richard menarik tubuh Alisa untuk memeluknya erat.
_
Pagi ini Richard bertemu dengan pengacara yang dulu menangani wasiat papanya, dia ingin memakai jasanya lagi. Pengacara itu saat ini sudah tua dan senior. Jadi tidak di ragukan lagi kemampuannya menangani kasus tersebut. Apa lagi kasus mengenai kliennya dulu yang sekarang di tangani oleh anaknya.
"Jadi papamu itu di bakar oleh om kamu?" tanya pak Rudi pengacara senior.
"Iya pak Rudi." jawab Richard.
__ADS_1
"Jangan panggil pak, kamu adalah anak dari klienku yang sudah akrab. Panggil saja om, akan lebih akrab lagi." kata pak Rudi.
"Iya om, saya sangat berterima kasih om mau mendampingi kasus yang akan aku gelar nanti."
"Iya, tapi apakah kamu membawa bukti-bukti dan saksi? Semua memang harus sesuai prosedur setiap melakukan transaksi apa pun. Termasuk pengacara juga butuh bukti kuat untuk menuntut pak Rendra." kata pak Rudi.
"Saya sudah mengumpulkan bukti om, dan bukti ada di kantor daj rumah." jawab Richard.
"Emm, boleh besok om lihat buktinya?" tanya pak Rudi.
"Iya om, besok saya bawa kemari semua bukti-buktinya. Tapi om, apakah perlu saksi juga untuk menguatkan tuntutan" tanya Richard.
"Bisa juga dengan saksi, agar lebih kuat lagi. Jadi nanti pengadilan akan langsung menuntut, tapi ini masalahnya sepuluh tahun lalu ya. Jadi agak lama jika harus membuka sidang mengenai perkara yang sudah lama." ucap pak Rudi.
Richard hanya mengangguk saja, dia akan mengikuti pengarahan pak Rudi tentang tuntutannya pada tuan Rendra.
"Baiklah om, saya permisi dulu. Besok asisten saya yang akan mengantarkan bukti-bukti itu ke kantor om." kata Richard.
Kini dia bersalaman dengan pak Rudi untuk berpamitan kembali ke kantornya lagi. Setelah keluar dari ruangan pak Rudi, Richard menghubungi Shandy untuk meneruskan pembicaraan mengenai kerja sama tentan asuransi ketenaga kerjaan yang pernah mereka bahas dulu.
"Halo, lo ada di kantor?" tanya Richard.
"Ya, gue ada di kantor. Lo mau kesini?"
"Ya, kita lakukan kerja sama mengenai asuransi ketenaga kerjaan."
"Oke, gue tunggu lo. Atau kita ketemu di restoran Jepang aja, gimana? Gue belum makan siang ini."
"Oke, gue langsung ke restoran Jepang sekarang."
Klik.
Sambungan telepon terputus, Richard melajukan mobilnya menuju restoran Jepang di tengah kota itu.
_
_
_
__ADS_1
\=> jangan lupa like dan komen yaa...😊😊