
"Kakak!"
Brug!
Simon terjatuh ke kursi roda dengan menarik tubuh suster Dania Mereka terjatuh, suster Dania menindih Simon yang jatuh di atas kursi roda karena kaget teriakan Raya yang kencang.
Tentu saja Raya juga ikut kaget. Dia meringis, merasa bersalah karena mengagetkan kakaknya. Tapi kini dia tersenyum lucu, terjatuhnya Simon malah membawa kesenangan padanya. Raya bersedekap dan mencibir.
"Raya, kamu apa-apaan sih?!" bentak Simon, dia membantu suster Dania bangun karena menindihnya
Wajah suster Dania merah padam karena malu, di rapikannya baju serta rambutnya yang tadi ikut kaget dan berantakan.
"Ya maaf, karena aku senang kakak sudah mulai melangkah Kata dokter Daniel kakak banyak perubahan terapinya, semangat terus." ucap Raya mendekat pada kakaknya.
"Kakak lagi belajar melangkah, baru satu kali langkah kamu datang mengacaukan kakak." kata Simon kesal.
Dia kini duduk lagi di kursi roda, dan suster Dania sendiri duduk di gazebo. Menetralkan jantungnya tadi karena malu jatuh di pangkuan Simon. Raya melirik suster Dania, lalu tersenyum senang.
"Apa kamu tidak ke agensi? Siang-siang begini pulang. Nanti di cari sama modelmu itu." ucap Simon ketus.
"Tenang aja, dia juga sedang makan siang dengan pacarnya. Aku kaget dan senang aja waktu dokter Daniel menelepon kalau kakak sudah banyak kemajuan." kata Raya.
"Kalau tadi kamu tidak mengagetkan aku, mungkin aku sudah melangkah jauh. Lagi pula, kenapa pulang sekarang."
"Haish, kakak ngga suka kalau aku pulang cepat?" tanya Raya.
"Sudahlah, sana berangkat lagi. Kakak mau latihan jalan lagi, awas kamu kalau bikin kaget kakak lagi." ucap Simon mengancam Raya.
Setelah mengatakan seperti itu, Simon pun memanggil suster Dania untuk membantunya berdiri lagi.
Raya melihat Dania begitu telaten meladeni kakaknya, dia memperhatikan wajah Dania yang tidak terlalu jelek juga tidak cantik, namun jika di pandang lama akan terlihat manis sekali. Dia pun tersenyum dengan kakaknya yang mulai terbuka dengan seorang perempuan.
Dulu, jangankan menceritakan tentang model-model cantik di agensinya di depan Simon. Menyebut nama Alisa Raya sangat hati-hati karena Alisa itu kembaran Alena, mantan kekasih Simon.
Raya pun kembali lagi, dia tidak masuk ke dalam rumah. Tapi langsung naik mobil, dan tanpa menunggu lagi Raya melajukan mobilnya keluar dari rumah besar itu.
__ADS_1
_
Dua hari persiapan untuk perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tua Raya dan Simon. Semua di persiapkan, memang perayaannya di rumah besar itu dan yang di undang hanya beberapa kolega juga model yang sudah terkenal saja. Seperti Alisa juga kekasihnya Richard.
Ini pertama kalinya Alisa di undang dalam perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tua Raya, dia juga tahu kakak Raya yaitu Simon mengalami kelumpuhan.
Sejak empat tahun terakhir semenjak Simon lumpuh, orang tua Raya hanya merayakan universary pernikahan hanya makan malam saja. Itu untuk menghormati Simon yang tidak mau bertemu dengan banyak orang.
Dan kali ini, memang mengejutkan. Simon bersedia jika ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya di rayakan secara besar, meski hanya beberapa orang yang di undang.
"Raya, aku belum tahu kedua orang tuamu." kata Alisa yang sudah datang lebih dulu dengan Richard.
Richard sendiri dia bergabung dengan para pengusaha lainnya yang di undang.
"Emm, ya. Papa dan mamaku tinggal di Kalimantan. Tapi mereka tahu kok kamu adalah model di agensi kakakku." jawab Raya.
"Emm, aku pikir agensi itu milik kak Anindya, ternyata milikmu juga." kata Alisa.
"Tidak, sebenarnya. Aku belum cerita sama kamu ya, sebenarnya agensi itu milik kak Simon. Dan pembuatan agensi itu terinspirasi dari seseorang." kata Raya, matanya menerawang melihat ke arah kamar Simon yang masih tertutup.
Raya menghela nafas panjang, dia belum cerita tentang peristiwa dan masa lalu kakaknya pada Alisa. Meski dia tahu Alisa pasti tidak suka dengan Alena, tapi dia juga tidak ingin Alisa berpikir dan merada bersalah atas perbuatan Alena. Karena dia tahu, hati Alisa sangat baik sekali walau dia juga membencinya.
"Apa Thomas akan datang?" tanya Alisa, dia melihat semua yang hadir belum ada Thomas.
"Dia tidak bilang mau datang, tapi kata papa dia di undang." jawab Raya yang tiba-tiba juga merasa kecewa.
Alisa melihat raut wajah Raya berubah, lalu dia tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.
"Duuh, yang semangat dong. Aku yakin Thomas pasti datang kok, masa calon mertuanya merayakan unversary ngga datang sih." ucap Alisa menenangkan hati Raya.
Raya tersenyum, lalu dia mengangguk setuju. Dia pun pamit untuk menemui Simon kakaknya yang katanya hari ini akan membuat kejutan pada kedua orang tuanya.
Tanpa mengetuk pintu dulu, Raya langsung masuk ke dalam kamar Simon. Dan Simon sedang di dampingi dokter Daniel untuk berjalan melangkah perlahan. Raya melihat kemajuan dalam setengah bulan ini cukup kaget.
"Kak, sebentar lagi acara mau di mulai. Apa kakak siap?" tanya Raya mendekat pada Simon.
__ADS_1
"Ya, kakak sudah siap. Nanti setelah pembukaan pembawa acara, kakak nanti keluar dengan dokter Daniel." kata Simon.
"Baiklah, aku keluar dulu ya."
"Emm."
_
"Mohon perhatian semuanya, acara segera di mulai. Tuan rumah dan juga tuan hajat sudah berdiri di depan kita semua untuk menyapa dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan anda semua. Untuk itu, saya persilakan bapak dan ibu Danu Raharja maju ke depan dan menyampaikan sepatah kata, di lanjut dengan pemotongan kue ya. Dan ada kejutan hadiah dari seseorang untuk pengantin tua ya, hahah. Maaf salah, pengantin senior karena usia pernikahan mereka itu menginjak empat puluh lima tahun pernikahan. Waaw, menakjubkan ya selama itu masih terliaht harmonis." ucap pembawa acara.
Suara riuh bisik-bisik kagum terdengar dari orang-orang di sana. Raya merasa bangga, meski dia juga kadang tidaj tahu banyak sekali cobaan di pernikahan mereka, namun mereka bisa mengatasinya.
"Baiklah, sekarang pak Danu dan istri silakan menyampaikan kata-kata bijak dan pesan-pesan untuk para sepasang kekasih yang sedang merencanakan pernikahan, bagaimana tips dari pak Danu, silakan untuk di sampaikan langsung. Kita berikan waktu dan tempatnya."
Prok prok prok
Suara tepuk tangan meriah dari seluruh yang hadir, Raya sangat senang dan bahagia. Namun hatinya kali ini gelisah, dia tadi menghubungi Thomas namun tidak di angkat. Dia kesal, tapi tentu saja dia tidak bisa menyalahkan. Mungkin Thomas sedang banyak pekerjaan, atau ada keperluan lain.
Tapi, apakah dia memang berniat menghadap papanya? Seperti dulu janjinya, tapi sekarang di hubungi susah sekali.
Kini papanya, pak Danu sedang menyampaikan ucapan terima kasih pada semua yang hadir serta dia masih bingung dengan kejutan yang di sampaikan pembawa acara, tapi dia akan menunggunya.
Sedang serius melihat ayahnya berbicara di depan, Raya di kejutkan dengan satu ciuman mendarat di pipinya dengan lembut.
Cup
"Thomas?!"
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤
__ADS_1