Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
74. Seperti Biasanya


__ADS_3

Sesuai dengan rencana, selama satu minggu ini semua berjalan seperti biasanya. Video yang tersebar itu sudah hilang dari peredaran di internet. Alisa berangkat dan pulang seperti biasa di jemput oleh Richard.


Orang-orang staf juga sudah di beritahu, bahkan fotgarfer, sutradara dan juga produser semua sudah di beritahu oleh Anindya.


Bukan hanya bersikap biasa, namun juga pemberitahuan kalau ada bos baru yang akan setiap hari datang. Ya, Simon Barata akan berkantor mulai hari Senin depan. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang tahu Simon masuk kerja.


Selebihnya, membiarkan staf dan pegawai hanya bisa bertanya pada yang lain.


"Jadi nanti ada bos baru di kantor kita ini?" tanya karyawan lain yang tidak tahu siapa itu Simon.


"Ya, katanya sih begitu. Dia juga pemilik rumah produksi ini juga." jawab temannya.


Perbincangan mengenai Simon masuk sudah menyebar luas, namun belum tahu siapa orangnya.


Tepat di hari kesepuluh setelah Alena dan Bela berlibur di luar negeri, mereka kembali masuk. Alena masuk tanpa rasa bersalah karena telah cuti tanpa memberitahu, begitu juga Bela.


Bela masuk hari ini karena ada jadwal syuting indoor dengan Alisa dan beberapa model dan artis lainnya.


Karena Bela tidak tahu akan kejadian waktu itu, jadi dia bersikap biasa saja. Mungkin hanya merasa tidak enak pada manajer juga sutradara saja.


"Hai Bela, kamu sudah pulang?" tanya teman lainnya yang juga sudah datang.


"Iya, aku pulang dua hari lalu." jawab Bela.


Setelah sapaan itu tidak ada pembicaraan lain, mereka langsung melakukan syuting sampai siang hari. Alisa juga sudah berada di tempat lokasi.


Bela mendekat pada Alisa dan menanyakan kabar tentang kejutan itu.


"Hai Alisa, kamu sepertinya bersemangat ya." kata Bela menyapa Alisa.


"Ya, hari ini aku bersemangat sekali menjalani pekerjaanku." jawab Alisa.


"Oh ya? Waah, syukurlah. Oh ya, waktu itu kejutan makan malamnya bagaimana? Sukses?" tanya Bela.


"Ya, sukses. Bahkan sempat terharu aku dengan kejutan itu." kata Alisa.


"Waah, benarkah? Ternyata saudaramu itu benar-benar memberi kejutan menarik ya." kata Bela.


"Iya, sampai heboh selama satu minggu itu. Oh ya, kamu di suruh sauadaraku Alena ya?" tanya Alisa.


"Oh, memang iy ...."


"Bela, hai semuanya." sapa Alena yang tiba-tiba masuk ke lokasi syuting.


"Haaii ..."

__ADS_1


Sapa model dan artis di lokasi itu. Tiga orang Meli, Arci dan Sofia mendekat pada Alena. Mereka ingin membicarakan pekerjaan selanjutnya.


Alisa melirik Alena, dia tampak curiga pekerjaan apa yang di berikan Alena pada junior-junior itu. Lirikan Alisa kembali di lemparkan ke arah Alena, dan kali ini Alena mengetahui lirikan Alisa itu sebagai bentuk curiga padanya.


"Oke , guys. Pulang dari syuting kita bertemu lagi."


"Siap kakak, aku ngga sabar nih punya uang banyak. Aku pengen segera mendapatkan uang lagi." kata Arci dengan senyum mengembang.


Alena lalu mendekat pada Alisa, dengan langkah angkuhnya dia berdiri di depan Alisa.


"Apa kabar Alisa?" tanya Alena dengan wajah angkuhnya dan sinis.


"Aku baik." jawab Alisa singkat.


"Bagaimana dengan laki-laki yang pernah ..." ucapan Alena terhenti menggantung.


"Kenapa? Kamu penasaran?"


"Heh, ternyata kamu menyukainya juga ya."


"Ya, aku suka." jawab Alisa sesantai mungkin.


"Ooh, perlu aku carikan lagi?" tanya Alena dengan bibir mencibir.


Alisa diam, percakapan mereka beda maksud. Alena menyangka Alisa menyukai Darius yang memang membuat mereka bisa menikmati malam itu, sedangkan Alisa hanya berpikir tentang Richard laki-laki yang di maksud.


"Laki-laki untuk kamu tiduri." jawab Alena santai.


Plak!


Tamparan keras di pipi Alena membuat dia terkejut. Matanya melebar karena tamparan Alisa di lihat oleh beberapa junior yang tadi di ajaknya bicara.


"Kamu pikir aku serendah itu? Jangan karena waktu itu kamu membohongiku, lalu kamu mau menjual saudaramu?!" kata Alisa dengan marahnya.


"Heh! Munafik!"


Setelah bicara seperti itu, Alena pun pergi dengan tatapan tajam pada junior yang tadi melihatnya di tampar oleh Alisa.


Sedangkan Alisa menarik nafas kasar, dia benar-benar marah pada saudaranya itu. Dia masih berpikir waktu itu memang Darius berhasil tidur dengannya. Dia bersyukur Thomas segera menolongnya dan Richard segera datang lalu membawanya pulang.


Mungkin juga saat itu kesuciannya hilang oleh Darius, dan dia akan menyesal seumur hidupnya. Karena pertahanan terakhirnya untuk orang lain, bukan untuk kekasihnya itu nanti setelah menikah.


Alisa benar-benar tidak habis pikir dengan Alena, kenapa dia tega sekali menjualnya pada laki-laki playboy itu.


_

__ADS_1


Sejak saat itu, kembali kehidupan normal. Alena dan para model junior masih melakukan pekerjaan sampingannya, Meta kini berjalan sendiri. Dia membuka layanan sendiri dengan jaringan online.


Setiap malam para model junior selalu pergi ke kafe atau klub malam menemui laki-laki hidung belang yang akan mereka layani. Setelah melayani itu, mereka bertemu Alena dan membayar uangnya.


Tentu saja laki-laki yang di tawarkan oleh mereka bukan laki-laki sembarangan. Kebanyakan dari mereka itu pebisnis yang suka 'jajan di luar'. Yang berani bayar mahal, sehingga yang di dapat itu lebih banyak dari pada menjajakan di pinggir jalan.


Alena sedang duduk sendiri di klub malam, dia sedang menunggu asuhannya selesai berkencan di hotel. Dia menikmati cemilan dan juga anggur merah yang dia pesan. Rasanya Alena menikmati hidupnya, mempuanyai banyak uang dari hasil kerja anak buahnya, senyumnya mengembang.


Sebuah tangan kekar menempel di pundak Alena, dia kaget dan menoleh ke arah tangan itu.


"Tuan Darius?" sapa Alena.


Darius pun duduk di samping Alena, dia menatap Alena dengan tatapan aneh. Seoalah menginginkan Alena.


"Anda mabuk tuan Darius?" tanya Alena.


"Tidak."


"Lalu kenapa anda menatapku seperti itu?" tanya Alena.


"Emm, aku mau bermain denganmu malam ini." kata Darius dengan senyum seringainya.


"Oh, boleh saja. Tapi ada tarif yang harus anda bayar tuan." ucap Alena sengan senyum genitnya.


"Tentu saja aku akan bayar mahal kamu."


"Hahah, baiklah. Ayo kita cari hotel." tantang Alena.


Dia membayangkan Darius akan membayar mahal dirinya. Setidaknya, dia akan di bayar seratus juta untuk satu malam tidur dengannya. Setelah selesai bermain, Alena akan meminta bayarana dengan tarif tersebut.


Meraka lalu pergi ke hotel berdua, tidak memyadari ada seseorang yang mengikuti Alena dan Darius pergi. Dia tampak kesal sekali, namun dia tidak bisa mencegah Alena pergi dengan laki-laki lain.


"Alena, kamu sudah terlalu jauh. Bagaimana aku harus menghentikanmu." gumam laki-laki tadi yang melihat Alena dan Darius di klub itu.


Dia lalu berhenti di depan pintu klub malam itu, melihat dari jauh Alena naik mobil Darius dan menuju hotel untuk melakukan percintaan semalam di sana.


Ya, dia adalah Jason, laki-laki yang menyukai Alena sejak dulu. Namun tidak bisa mendapatkan cinta Alena yang tinggi dan tak tergalai olehnya.


_


_



Promo lagi nih, 😁 seru lho ya ceritanya, yuk mampir..😉😊

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2