Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
50. Perlu Bodyguard?


__ADS_3

Alena pulang tidak mengikuti makan malam di reatoran dengan rekan-rekan lainnya. Sementara Alisa sedang di obati oleh Raya dengan salep semnetara untuk meredakan nyeri di kepala dan memar benjol karena di bentur tadi di westafel.


"Ko aku ngga tahu Alena pergi ke toilet ngikutin kamu." kata Raya mengolesi kepala bagian atas Alisa.


"Aku juga kaget, dia semakin aku lawan semakin brutal sikapnya padaku. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi dia, di diamkan mulutnya semakin menjado. Tapi kalau di lawan dia menjadi-jadi kelakuannya." ucap Alisa lagi.


Michael mendekat pada Alisa dan Raya di tempat lain agar yang hadir di sana tidak curiga pada Alisa.


"Apa aku perlu bodyguard untuk menjaga kamu Alisa?" tanya Raya.


"Benar, Alisa butuh bodyguard untuk menjaga Alisa dari amukan Alena lagi. Aku takutnya dia tiba-tiba datang dan kembali melakukan hal tadi di tempat lain." kata Michael menyambungi.


"Ngga usah, sejauh ini dia memikih tempat sepi itu sekitar kantor agensi dan juga jika ada pertemuan seperti ini. Meski pun aku tahu, dia tidak akan puas sebelum aku di buat cacat olehnya dan mungkin dia juga akan mengincar karirku." kata Alisa.


Ya, Alisa seperti merasakan apa yang ada di benak Alena. Memang kadang hati dan pikiran orang kembar itu akan sama meski tidak di ucapkan oleh kembarannya.


"Kalau begitu, memang kamu butuh bodyguard Alisa. Ini demi keselamatamu, aku yakin Alena sangat kesal sama kamu." kata Raya.


"Jika kamu mau, aku juga bisa menjadi bodyguard kamu." kata Michael menimpali.


"Tidak usah, Michael. Dia sudah punya bodyguard sendiri." ucap Raya.


Agar Michael tahu kalau Alisa sudah ada yang menjaganya, lebih tepat kekasih. Dan benar, ada raut wajah kecewa terlihat pada Michael.


"Maksudnya sudah punya kekasih? Tapi dia tidak bisa menjaga Alisa setiap saat." kata Michael tidak terima dengan ucapan Raya.


"Mic, terima kasih kamu menolong aku. Jika tidak ada kamu mungkin aku dan Alena akan berkelahi di sana. Dan maaf juga apa yang di katakan Raya, dia hanya tidak ingin kamu repot karena aku." kata Alisa gara Muchael tidak tersinggung.


Kejadian di kamar mandi juga tidak terduga, mungkin karena Alena yang sangat membencinya jadi dia berbuat seperti itu. Apa lagi sekarang Alisa terkenal dan masuk lima besar dalam ajang internasional itu.


"Kamu harus hati-hati sama dia." ucap Michael pada Alisa.


"Terima kasih kamu perhatia sama aku, aku bisa jaga diri kok." jawab Alisa.


"Apa perlu aku pecat dia?" tanya Raya yang mulai kesal pada Alena.


"Tidak usah, Raya. Biarkan dia menekuni model juga. Lagi pula dia berhak mendapatkan kesempatan untuk terkenal dan sukses." ucap Alisa bijak.

__ADS_1


Dia tidak mau Raya berbuat gegabah, jika sampai Alena di pecat. Tidak tahu nanti apa yang akan di lakukannya nanti padanya.


_


Acara makan malam bersama dengan para model, kru serta staf dan pimpinan Symonesta Stars malam itu cukup meriah. Mereka tidak tahu kejadian di kamar mandi antara Alisa dan Alena, hanya Raya dan Michael saja. Mereka juga di suruh bungkam oleh Alisa masalah itu. Demi kebaikan bersama, karena Alisa tahu Alena seperti apa.


Dan kini Alisa sedang bersama dengan Richard, dia sudah tahu kejadian di restoran itu. Dia di beritahu oleh Raya mengenai kejadian di toilet Alisa di benturkan kepalanya oleh Alena.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Richard memperhatikan kepala Alisa di bagian belakang.


"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir." jawab Alisa menenangkan kekasihnya itu.


"Bagaimana aku tidak khawatir, kepala kamu di benturkan dengan keras." ucap Richard lagi.


"Tapi nyatanya memang aku tidak apa-apa. Hanya benjol sedikit saja."


"Benjol itu kenapa-kenapa. Sini aku obati."


"Sudah di obati oleh Raya tadi di restoran. Jangan di pegang lagi, nanti tambah.. Auw sakit, jangan di tekan." teriak Alisa karena Richard tidak sengaja menekan benjolan tadi.


Dan Richard pun kaget, dia menyesal telah meraba kepala Alisa tadi.


"Sudah, jangan khawatir. Ini juga sebenarnya audab mendingan. Obat dari Raya sangat ampuh tadi." ucap Alisa.


Richard diam, dia masih menatap Alisa dengan sedih. Dia menyesal tidak menyambut Alisa di bandara karena ada klien yang hanya ingin bertemu dengannya saja.


"Maaf aku tadi tidak menjemputmu di bandara, dan sekarang aku bisa menemuimu di waktu malam hari Alisa." ucap Richard lirih.


Dia benar-benar menyesal dan kecewa sendiri. Alisa tersenyum melihat Richard yang menyesali diri sendiri. Melihat wajah Richard yang sedih, Alisa mendekat dan mengecup sekilas bibir Richard agar kekasihnya itu tidak kecewa dan sedih.


Richard menatap Alisa, perbincangan mereka lebih banyak di lakukan di dalam mobil. Karena Richard tidak mau Alisa mendapat gosip tidak sedap dengannya. Dan Richard pun mengulang kecupan Alisa padanya, berganti dia yang menyambar bibir Alisa dengan lembut. Rasa rindu dan sedih menyatu jadi satu sekarang ini, membuat dia ingin terus mencumbu bibir Alisa. Sangat manis, tak ingin dia lepas.


Namun harus terlepas setelah mereka menikmati manisnya ciuman itu karena keduanya kehabisan nafas. Richard mengusap bibir Alisa lalu tersenyum pada Alis, kembali dia mengecup bibir Alisa.


"Richard, aku mua bicara sama kamu." kata Alisa, dia memegang tangan Richard dan mencium telapak tangannya.


"Bicara apa sayang?"

__ADS_1


"Kita terbuka saja di mana pun kita mau berdua, jalan-jalan kemanapun. Jika ada yang mengetahuinya, aku tidak apa-apa." ucap Alisa membuat Richard bingung dan berpikir keras.


"Maksudnya apa? Apa kamu memintaku kita berpacaran secara terbuka?" tebak Richard.


"Iya, maksudku seperti itu. Kamu keberatan?" tanya Alisa, dia khawatir Richard tidak setuju.


"Jadi kamu mengira aku seperti ini karena aku takut dengan wartawan-wartawan itu?" tanya Richard.


Alisa mengangguk pelan, dan menunduk.


"Alisa, aku malah senang jika kita jalan dan berpacaran di tempat terbuka. Kamu tahu, aku hanya takut kamu di gosipkan yang tidak-tidak denganku. Tapi baiklah, ayo kita berpacaran secara terbuka." ucap Richard dengan senang hati.


Dia hanya takut Alisa di gosipkan yang tidak baik karenanya.


Alisa tersenyum, dia pun mengangguk senang. Rasa khawatir karena Richard tidak mau bertemu wartawan ternyata salah.


"Sekarang sudah malam, besok Raya memberiku waktu libur satu hari. Aku mau seharian di rumah, apa kamu mau ke rumahku?" tanya Alisa.


"Tentu, siang aku ke rumahmu untuk makan siang. Buatkan aku makanan yang enak ya." ucap Richard.


"Tentu, besok aku akan memasaj spesial untukmu."


"Aku tidak sabar mencicipi masakanmu besok."


"Sabar, kita pulang. Aku lelah, ingin tiduran."


"Baik, tidurlah di pundakku lebih dulu jika kamu mengantuk."


"Emhm."


Alisa kemudian mengapit lengan Richard dan menyenderkan kepalanya di lengan Richard. Richard tersenyum, lalu dia menjalankan mesin mobilnya dan melajukannya dengan pelan. Takut Alisa terganggu tidurnya.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤


__ADS_2