Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
72. Raya Bercerita


__ADS_3

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Raya pada kedua laki-laki di depannya itu.


"Ngga ada sayang, itu hanya candaan aja. Sudah kamu jangan marah seperti itu. Sekarang, bagaimana kita mencari siapa yang membuat Alisa seperti itu." kata Thomas.


"Alisa bilang, dia awalnya di beritahu Bela kalau ada kejutan untuknya dari seorang yang dekat. Dia pikir mungkin kamu Raya, tapi dia merasa aneh juga yang datang malah Darius." kata Richard.


"Aku ingin ketemu Alisa, sepertinya ini juga berhubungan dengan Alena." kata Raya.


"Alena?"


"Ya, ada kemungkinan itu jebakan dari Alena. Kamu tahu kan kalau Alena itu benci banget sama Alisa." kata Raya.


"Bisa jadi, karena dia sangat terobsesi dengan hancurnya karir Alisa. Aku juga ingat ketika model barumu, si Michael itu dan juga masalah wajah Alisa di permasalahkan oleh wartawan. Dan dia juga yang membuat berita bohong itu. Bisa jadi memang otak semuanya itu Alena." ucap Richard.


"Alena siapa itu?" tanya Thomas.


"Dia kakak kembar Alisa." jawab Raya.


"Emm, apa sebenci itu pada saudaranya itu? Karena aku dengar dari Darius kalau dia telah membayar mahal Alisa untuk Si Darius itu."


"Maksudnya apa?" tanya Richard heran.


"Waktu aku tarik Alisa, dia bilang sudah membayar mahal Alisa untuk di bawa olehnya ke hotel. Aku yakin itu, dan aku marah saat itu. Aku bilang Alisa bukan pelacur, kenapa juga ada yang tega menjual Alisa. Ternyata saudaranya?" tanya Thomas.


"Dia iri pada Alisa yang sukses jadi model terkenal, tawaran pekerjaan juga banyak yang meminta Alisa. Jadi mungkin itu salah satunya juga." kata Raya


"Jadi, benar Alena otaknya. Tapi dia sukses membuat heboh berita online, semua ingin tahu tentang kabar itu." kata Richard.


"Mungkin, kita harus cari tahu. Aku tahu Bela itu hanya di suruh saja, tapi aku lihat pagi ini Bela tidak ada. Apa dia tidak datang ya?"


"Aku akan jebloskan ke penjara jika memsng Alena pelakunya."


"Jangan gegabah dulu Richard, kamu harus cari bukti dulu. Dan kemungkinan Darius itu tahu yang membawa Alisa adalah Alena. Kamu harus bicara pada Darius itu, kamu kenalkan?"


"Ya, dia rekan bisnis yang memang playboy dan suka mencari perempuan untuk di tiduri semalam." jawab Richard.


"Lalu, bagaimana kita selanjutnya? Berita itu tidak akan hilang dalam satu minggu ini." ucap Richard lagi.

__ADS_1


"Abaikan saja, Biarkan berita itu bergulir dan akan hilang sendiri."


"Nanti timku yang akan mengerjakannya, aku juga akan mencari Bela di mana dia. Dan sekarang antarkan aku ke rumah Alisa, Thomas. Aku ingin ketemu dia." kata Raya memintanpada Thomas.


"Emm, ya tentu sayang."


Lalu mereka pun berpisah, dan sebelumnya ketiganya membagi tugas mencari bukti-bukti untuk menjerat Alena.


Tapi sebelumnya, Raya meminta pada Thomas dan Richard jika bukti sudah terkumpul. Dia yang akan memasukkannya ke penjara, karena dendamnya pada Alena belum dia tuntaskan. Setidaknya nanti sampai Simon sudah masuk agensi, memimpin rumah produksi miliknya itu.


_


Kini Raya sudah berada di rumah Alisa, Thomas tidak ikut masuk ke dalam rumah karena ada pekerjaan yang menunggunya.


Alisa masih berbaring di kamarnya karena pagi tadi memang dia flu dan harus banyak istirahat di kamar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Raya pada Alisa.


"Sudah lebih baik, tadi pagi sudah minum obat sama Richard." jawab Alisa merapikan duduknya.


"Ngga usah duduk, berbaring aja juga ngga apa-apa."


"Raya, aku minta maaf sama kamu." kata Alisa dengan rasa menyesal dan malu.


"Sudahlah, Richard sudah menceritakannya padaku. Awalnya aku juga marah, kenapa ada Thomas di sana. Dan kamu memeluknya juga yaaah, ..." ucap Raya terputus.


"Aku benar-benar minta maaf, aku dalam keadaan tidak sadar waktu itu."


"Iya, aku mengerti. Sekarang aku ingin tanya sama kamu, kenapa kamu bisa ada di kafe itu? Dengan siapa kamu akan bertemu?" tanya Raya lagi.


"Aku di beritahu oleh Bela kalau ada seseorang yang mau memberiku kejutan. Katanya dia ulang tahun, dan dia dekat juga sama aku. Kupikir ya udahlah, aku juga butuh keluar. Eh tidak tahunya aku bertemu dengan orang itu. Setelah minum jus, aku langsung pusing dan mulai saat itu aku sudah ngga bisa mengontrol diriku. Aku ...." ucap Alisa dengan mnghela nafas berat.


Rasanya dia malu sekali ketika harus menuruti keinginan di luar kendalinya.


"Beruntung sekali Richard tidak mau menuruti keinginanmu yang memang di luar kekuasaanmu."


"Aku bilang sama dia, ngga apa-apa jika itu bisa membuatku lepas dari pengaruh obatnya. Tapi dia tidak mau, hanya ingin melakukannya tanpa bujukan dan kemauanku sendiri. Aku malu, tapi sekaligus aku bangga sama dia. Dia benar-benar laki-laki sejati." ucap Alisa dengan pipi yang merona dan senyum mengembang.

__ADS_1


Raya tersenyum, lalu dia kembali berdiskusi siapa sebenarnya pelakunya.


"Kamu sudah menebak siapa pelakunya?" tanya Raya untuk memastikan Alisa juga tahu.


"Mungkinkah Alena?" tanya Alisa ragu.


"Tepat sekali, aku sudah menebak pasti dia. Dan Richard juga, hanya saja kita sedang mencari buktinya dan berencana menjebloskan ke penjara." kata Raya.


"Ya, terserah kamu. Aku juga sudah tidak peduli dia itu saudaraku atau bukan. Jika memang dia pelakunya, aku tidak peduli dia masuk penjara. Sejak dulu dia selalu memperlakukanku tidak baik." kata Alisa.


"Aku belum pernah ceirita sama kamu, kamu tahu kakakku Simon?"


"Iya, kenapa?"


"Dia adalah korban kelicikan Alena. Kakakku itu dulu mencintai Alena, dan kamu tahu rumah produksi itu tercetus karena Alena ingin menjadi model. Tapi setelah rumah produksi itu sudah berdiri, kakakku mau mengatakan pada kalau dia mau memberinya kejutan. Tapi malah kakakku yang di beri kejutan olehnya, di putus. Dan kamu tahu, ketika kakakku kecelakaan dia menjenguk dan bilang tidak mau berteman dengan orang lumpuh. Dan sejak saat itu kakakku ngga mau di terapi selama empat tahun. Baru satu bulan lalu mau di terapi karena mau memberi kejutan pada mama papa." kata Raya.


Alisa menyimak dengan prihatin. Ternyata Alena memang hanya ingin uang saja dari siapa saja yang terlihat kaya. Bahkan dia sangat obsesif .


"Maafkan aku."


"Untuk apa?"


"Maaf untuk perbuatan Alena. Aku merasa malu dia seperti itu." ucap Alisa.


"Hei, kenapa kamu meminta maaf atas dirinya? Dia tidak berhak mendapatkan maaf atas namamu. Sudahlah, jangan pikirkan. Bulan depan kakakku akan masuk ke agensi. Seminggu sebelumnya aku akan umumkan kedatangan kakakku." kata Raya.


Alisa menghela nafas panjang, dia merasa banyak sekali merepotkan Raya, bahkan kakaknya jadi korban kejahatan Alena.


_


_



Promo novel bagus, yuhuuu.. mampir juga kaka kemari..😉😊


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2