
Simon mulai merapikan meja kerjanya, dia akan pulang sore ini dan bertemu seseorang di kafe. Membicarakan hasil pengintaian dari seseorang yang dia sewa.
Simon melangkah masuk ke dalam lift, waktu sudah menunjukkan pukul enam petang. Dia segera menemui seseorang di kafe.
Saat tangannya memencet tombol turun, ternyata ada yang mencegahnya. Alena masuk dengan buru-buru, wajahnya menunduk tanpa melihat ke arah Simon. Simon sendiri masih diam, dia tidak bergeming. Tombol di pencet untuk turun, tak ada yang bersuara.
Kali ini Simon tidak memakai kacamata atau pun memakai masker, dia buru-buru naik lift dan ingin segera turun. Dan di lantai tiga, lift berhenti. Dua orang masuk, dia staf agensi dan menunduk hormat sambil menyapa Simon.
"Selamat sore tuan Simon." sapa kedua staf itu pada Simon.
Tentu saja Alena terkejut, kedua staf itu menyapa Simon. Simon siapa? pikirnya.
Lalu dia menoleh ke belakang menatap Simon. Betapa terkejutnya dia, ternyata Simon yang di maksud adalah mantan pacarnya yang pernah dia campakkan Wajahnya memerah karena malu juga kaget. Alena masih terpaku menatap Simon, sedangkan Simon sendiri hanya diam tanpa melirik sedikit pun pada Alena, dengan wajah datarnya dia melirik jam yang melingkar di tangannya.
Tak lama, lift berhenti. Semuanya turun, termasuk juga Alena. Simon melangkah dengan buru-buru menuju parkiran. Alena terus menatap kepergian Simon yang sejak tadi tanpa menyapa atau menoleh padanya.
Satu orang pegawai cleaning service lewat, Alena menarik lengan cleaning cervice tersebut.
"Ada apa mbak?" tanyanya.
"Siapa laki-laki tadi?" tanya Alena pura-pura tidak tahu untuk mencari tahu kenapa Simon ada di kantor agensi Symonesta Stars.
"Yang mana mbak?"
"Itu, yang tadi berjalan cepat dan menuju parkiran."
"Memang mbak ngga tahu?"
"Kenapa memangnya?"
"Beliau itu direktur baru di agensi ini, pak Simon Barata namanya. Dia itu pemilik gedung rumah produksi Symonesta Stars. Masa mbak ngga tahu dia siapa?"
"Memang aku ngga tahu, baru ketemu kali ini."
"Huh, mbak dia itu direktur utama agensi di gedung ini, selain mbak Anindya juga mbak Raya. Dia yang paling tinggi kedudukannya. Saya aja yang cleaning cervice tahu siapa dia, mbak yang model agensi ini kok ngga tahu sih." cibir cleaning cervice itu.
"Haish, aku fokus kerja. Jadi ngga tahu siapa dia. Dasar babu lo!" umpat Alena.
Dia lalu pergi dan meninggalkan gedung bertingkat sepuluh itu. Pikirannya tiba-tiba kacau dengan keterangan cleaning cervice tadi.
"Kok bisa Simon jadi direktur utama dan sekaligus pemilik agensi Symonesta Stars? Apa dia membeli sahamnya?" gumam Alena dalam mobilnya sepanjang jalan menuju pulang ke rumah.
_
__ADS_1
Satu minggu berlalu, Alena terus mencari tahu tentang Simon. Banyak yang tidak dia ketahui tentang Simon, Raya dan Anindya. Ternyata mereka saudara, dan lebih kaget lagi Raya adalah adiknya.
"Hemm, kira-kira kalau aku mendekati Simon lagi bagiamana ya tanggapannya?" gumam Alena.
Pikirannya kini tertuju pada Simon yang berbeda dari sebelumnya. Banyak kemungkinan yang dia pikirkan, kenapa Simon mau menjadi direktur utama Symonesta Stars. Apakah karena dirinya? pikir Alena.
"Apa karena aku dia mau jadi direktur di agensi ini? Berarti dia masih belum melupakan aku ya." ucapnya pada diri sendiri dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Baiklah, aku akan dekati dia lagi. Aku rasa memang dia masih menginginkannya kembali, dan jika dia mau kembali sudah pasti aku mau. Aku akan jadi nyonya Simon yang memiliki kekayaan yang banyak. Hahaha ..."
Tawa Alena menggema di dalam mobilnya, dia akan mendekati Simon lagi. Mendekatinya secara perlahan dan menghiba, bila perlu meminta maaf sambil tersedu.
Sore ini, Alena sengaja menunggu Simon keluar dari kantornya. Dia menunggu Simon di depan mobil Simon yang kebetulan hanya sendirian saja mobil itu. Lama Alena menunggu, dengan sabar sambil chatingan dengan model junior untuk bukingan malam ini ada empat laki-laki menginginkan model tersebut.
'Kamu ketemu aja sama orangnya langsung ya, bilang aku yang menyuruh.' pesan di kirim oleh Arci.
'Oke kak, nanti malam aku kesana.'
'*Jangan lupa kasih tahu yang lain, nanti di sana ada dua orang yang menunggu. yang dua orang lagi datangnya telat Ingat ya, bayarannya nanti setelah selesai kalian melayani pelanggan.'
'Oke kak, kita akan tunggu kok. kak Alena tenang aja.'
'Oke kalau begitu, selesai pemotretan langsung stanby ya*.'
memgirim emoticon mengacungkan jempol.
Tak lama, orang yang di tunggu pun keluar dari gedung agensi, Alena tersenyum senang. Dia merapikan bajunya serta penampilannya hari ini. Berharap Simon masih tertarik padanya.
Semakin mendekat, Simon pada Alena. Dia semakin gugup, ternyata mau bertemu dengan mantan seperti Simon membuat Alena salah tingkah.
Simon tahu Alena menunggunya, dia bersikap biasa saja bahkan berubah jadi dingin. Dia mendekat pada mobilnya, lalu berhenti di depan pintu mobil di mana Alena berdiri dengan senyuman termanisnya menyambut Simon.
"Hai Simon, apa kabar?" sapa Alena lembut.
"Baik." jawab Simon singkat.
"Emm, lama ya ngga ketemu kamu. Sekarang kamu berubah jadi lebih gagah dan tampan." ucap Alena memuji Simon.
Simon menatap Alena datar, lalu senyuman sinis mengukir di bibirnya.
"Ya, karena selama ini kamu sudah tidak kenal aku dan bukan siapa-siapa aku." kata Simon.
"Oh, mengenai yang dulu. Aku minta maaf, aku keterlaluan waktu itu. Maafkan aku Simon." ucap Alena yang tiba-tiba berubah jadi sedih dan pilu.
__ADS_1
"Ya, aku memaafkanmu."
"Jadi kamu memaafkan aku? Dengan semudah itu?" tanya Alena tidak percaya, senyumnya mengembang sumringah.
"Iya, hanya butuh kata memaafkanmu kan dari aku?" tanya Simon.
Wajah Alena berubah sendu lagi, dia menunduk dan berpura-pura sedih.
Simon merasa Alena adalah artis terbaik di matanya, melihat perubahan sikap dan mimik wajah hanya dalam waktu satu menitpun tidak ada. Dalam hati, dia mencibir perbuatan Alena itu.
"Simon, bisa tidak kita seperti dulu?"
"Seperti apa?"
"Ya, seperti kita dulu pacaran. Maukan kita balikan lagi?" tanya Alena dengan penuh harap.
"Balikan lagi denganmu?"
"Iya, aku sebenarnya masih mencintaimu Simon. Hanya waktu itu aku terdesak sesuatu, jadi terpaksa memutuskanmu."
"Ooh, begitu ya."
"Iya, aku harap kamu mengerti semua keadaanku waktu itu."
"Ya, aku mengerti."
"Benarkah?"
"Ya, aku mengerti bahwa kamu itu selalu mencari laki-laki yang lebih kaya dan mau memberimu apa saja. Sedangkan aku tidak punya apa-apa waktu itu, jadi aku mengerti keadaanmu."
"Eh, bukan seperti itu maksud aku."
"Aku memgerti, sudah ya. Aku mau pulang." kata Simon memutus pembicaraan yang tidak penting baginya.
Dia lalu masuk ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan Alena yang masih diam, heran kenapa Simon begitu dingin padanya.
Simon melajukan mobilnya pelan, melihat dari kaca spion Alena masih berdiri mematung menatap kepergian mobilnya yang semakin menjauh.
"Jangan harap kamu bisa mendekatiku lagi Alena, aku tahu akal bulusmu mendekatiku lagi saat ini. Tapi tenang aja, akan aku permainkan dirimu sehingga bukti itu terkumpul dan mendepakmu serta model junior yang mengikuti jejakmu. Hanya parasit yang harus di hancurkan dari Symonesta Stars agar tidak merusak semua manajemen di sana." gumam Simon sambil terus melajukan mobilnya dengan kencang untuk pulang ke rumahnya.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤