Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
61. Bunga Cinta Raya


__ADS_3

Setelah sarapan bubur itu, kini Raya harus kembali ke kantor agensi. Dia berdiri di depan mobilnya dengan Thomas. Ada rasa berat ketika Thomas harus kembali ke Kalimantan untuk bekerja kembali.


"Mau aku antar ke kantormu?" tanya Thomas.


Dia tahu Raya berat jika harus berpisah dengan dirinya.


"Tidak perlu, aku bisa ke kantor sendiri." jawab Raya.


"Emm, lalu. Kapan ke kantornya? Modelmu pasti mencarimu?" kata Thomas lagi.


Dia memegang tangan Raya dan tangan satunya merapikan rambut Raya yang terkena angin. Raya menunduk, dia ingin mencegah Thomas tapi itu tidak mungkin. Jadi hanya diam saja.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Raya dan tatapan Thomas tepat di depan Raya.


"Aku akan kembali ke Kalimantan tiga hari lagi. Jadi jangan sedih, aku juga tidak mau jauh dari kamu." ucap Thomas seakan tahu apa yang Raya rasakan.


Raya pun memeluk Thomas dan menghela nafas panjang.


"Iya, aku tunggu itu. Aku akan kangen sama kamu." ucap Raya.


"Emm, ya aku juga. Tapi kita bisa video call." kata Thomas.


Dia melepas pelukan Raya dan menatapnya, mencolek hidungnya lalu mengecup bibirnya lagi.


"Aku antar kamu ke kantor?" tanya Thomas.


"Ngga usah, aku bisa kesana sendiri." jawab Raya.


"Terus, sampai kapan kita begini terus?" tanya Thomas.


Raya masih menempel pada Thomas, dia tidak menyangka di balik acuhnya Raya ternyata ada hal lucu dan menggemaskan. Seperti sekarang, lebih manja dari tadi malam. Apakah setiap perempuan akan selalu manja di hadapan kekasihnya?


Entahlah, tapi Thomas suka gadis manja seperti Raya. Manja jika dengannya, tapi dengan orang lain tidak pernah.


"Tunggu lima menit, aku masih mau sama kamu." ucap Raya lagi.


"Kamu manja ya ternyata, aku baru tahu." kata Thomas.


Mereka ada di dalam mobil Thomas dan duduk di jok belakang sambil memeluk.


"Aku manja sama kamu aja kok, tanya Alisa." kata Raya.


"Emm, bagus deh. Kalau di depan orang kamu terlihat cuek, seperti ketemu di mall itu. Duh rasanya pengen banget bawa ke hadapan papa kamu aja."


"Apa sih, jangan di ingat itu lagi."


"Hahah, baiklah. Aku antar kamu ke kantor ya?"


"Tapi mobil aku gimana?"


"Nanti aku hubungi tukang derek untuk bawa mobil kamu."


"Ya udah deh, ayo ke kantor agensi. Alisa pasti menungguku."


Mereka lalu pindah ke kursi depan, keduanya pun tersenyum senang. Tak berapa lama, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Saat di jalan, ponsel Raya berdering dan tertera nama Alisa. Raya pun tersenyum lalu menggeser tombol hijau.


"Halo, Alisa?"

__ADS_1


"Kamu di mana? Aku ke ruang kantormu kok ngga ada."


"Aku di jalan, maaf tadi ada keperluan sebentar. Apa jadwalnya kamu sudah tahu untuk hari ini?"


"Belum, aku sedang nunggu kamu ini di depan."


"Dua puluh menit lagi aku sampai kok, maaf ya aku ngga kasih tahu kamu jadwal hari ini."


"Ya, aku tunggu kamu. Kebetulan para kru sedang beres-beres dulu."


"Oke, aku tutup dulu ya."


"Ya, by.."


"By."


Klik


Raya menutup sambungan teleponnya, dia masukkan lagi ke dalam tasnya. Thomas melirik padanya lalu mengelus kepala Raya dengan sayang.


"Sampai lupa dengan jadwal Alisa kamu kasih tahu, hanya untuk mengejarku? Hahah.."


"Apa sih, aku kan cuma takut aja. Kenapa jadi ketawa ngeledek gitu?" sungut Raya, dia kesal selelu di ledek Thomas.


"Ngga, terima kasih ya kamu berubah pikiran. Tapi lain kali kasih tahu Alisa dulu kalau kamu ada perlu dan kirim jadwal dia, biar tidak kebingungan." ucap Thomas.


"Iya, maaf. Lagi pula ini kan masalah hati, Alisa juga pasti mengerti kok." masih dengan mode kesalnya.


Thomas melirik pada Raya yang masih kesal padanya. Suasana macet di jalanan, dan itu membuat kesempatan Thomas untuk mencium Raya kembali.


"Sudah jangan marah, nanti jelek itu bibirnya."


_


Thomas langsung pergi ketika Raya sampai di gedung agensi itu, dia tidak turun lagi karena barang yang ketinggalan di apartemennya belum di ambil.


Dan Raya pun masuk ke dalam gedung berlantai sepuluh itu, wajah cerianya tampak jelas terlihat. Anindya yang pertama kali melihat wajah ceria dan bahagia Raya, dia pun penasaran dan mendekat pada Raya.


"Sepertinya ada yang sedang bahagia nih, apa habis di tembak oleh Thomas?" tanya Anindya mensejajari Raya untuk naik lift.


Raya menoleh pada Anindya, dia pun tersenyum manis sekali. Senyuk Raya kali ini berbeda, senyuman yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun.


"Emm, jadi benar ya. Apa kalian sudah jadian?" tanya Anindya lagi.


"Ya, tadi satu jam yang lalu." jawab Raya.


"Oh, kamu terlambat karena sedang bersama Thomas?"


"Iya, semalam dia mengatakannya lagi. Aku pikir aku hanya kagum aja sama dia, tapi ternyata aku takut kehilangan dia juga. Jadilah aku ke apartemennya, dia awalnya sudah berangkat. Tapi ada yang ketinggalan, jadialh kita bertemu dan jadian juga." kata Raya dengan senyum mengembang.


"Emm, sedang jatuh cinta ternyata ya. Hahahaa..." ucap Anindya sambil tertawa.


Raya hanya tersenyum saja dengan ledekan kakak sepupunya itu.


Lift berhenti di lantai lima, mereka keluar dan langsung menuju ruangan kantor masing-masing.


_


"Aku pulang dulu ya." kata Alisa berpamitan ketika sudah malam.

__ADS_1


Richard sudah menunggu di kursi tunggu. Kali ini memang Alisa memintanya turun.


"Emm, ya. Maaf ya soal tadi pagi aku telat datang." kata Raya.


"Ya, aku ngerti kok. Memang kalau urusan hati harus di selesaikan secepatnya. Lalu bagaimana Thomas, apakah dia bersedia bolak balik kemari?" tanya Alisa.


"Tiga hari lagi dia kembali kemari, eh ternyata punya kekasih itu menyenangkan ya. Hahah..." ucap Raya.


"Tentu saja, dia bisa melindungi kita kapan saja."


"Ya, kamu benar. Lain waktu kita bisa pergi nonton film bareng berempat." ucap Raya.


"Waah, itu sepertinya menyenangkan. Kamu atur aja jadwalnya, kita bisa pergi bersama." kata Alisa.


"Oke sip, minggu ini kita atur waktu jalan bareng."


Richard menghampiri kedua sahabat itu, dia tersenyum dan merangkul Alisa.


"Sudah selesai bicaranya?" tanya Richard.


"Sudah, kamu tenang aja."


"Kamu tahu, sekarang Raya juga sudah punya seorang kekasih." kata Alisa pada Richard.


"Oh ya, apa aku mengenalnya?" tanya Richard turut bahagia.


"Kamu tahu pengusaha berlian yang pernah menggunakan jasaku mengiklankan produk berliannya." kata Alisa.


"Emm, Thomas Hardiansyah?"


"Iya, dia Thomas Hardiansyah. Kamu kenal?"


"Pernah bertemu waktu mengikuti seminar dari menteri perdagangan. Dia orangnya menyenangkan dan juga tidak banyak basa basi. Kalau suka sama seseorang ya akan bicara langsung."


"Iya benar, dia tidak suka basa basi dan apa yang kamu katakan itu tepat sekali." kata Raya dengan wajah berbinar.


"Jadi kamu sudah jatuh cinya sama dia?" tanya Richard pada Raya.


Raya tersenyum malu, lalu mengangguk pasti. Lalu ketiganya pun berpisah setelah mengobrol tentang Raya dan Thomas. Kini Alisa sudah berada di mobil Richard untuk pulang ke rumah malam ini.


"Sepertinya Raya sangat bahagia." kata Richard ketika mereka sudah di jalan.


"Iya, padahal mereka bertemu itu cuma satu minggu kemarin itu. Dan tadi pagi Raya menerima Thomas karena dia juga menyukai laki-laki itu."


"Emm, cinta itu memang rumit ya. Tidak bisa di tebak akan jatuh pada siapa."


"Ya, seperti sekarang aku jatuh cinta sama kamu yang dulu sering meledekku." ucap Alisa menyindir Richard.


Richard tertawa renyah, dia lalu mencium pipi Alisa dan berbisik.


"Kamu tahu, pertama lihat kamu sebenarnya aku sudah suka. Tapi mungkin karena aku gengsi aja. Hahah.."


Begitulah keduanya saling mengungkapkan perasaan masing-masing...


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2