Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
32. Melaporkan tuan Rendra


__ADS_3

Richard melepaskan pelukannya, dia pun tersenyum lega setelah memeluk Alisa. Mengecup kening Alisa lama dan mencium pipinya.


"Aku lega sekarang, kamu pergilah sebelum Raya meneleponmu." kata Richard menatap Alisa.


Alisa tersenyum, dia lalu mengecup bibir Richard lalu membuka pintu mobil Richard, tapi Richard menahan tangannya. Alisa pun menoleh.


"Ada apa lagi?" tanya Alisa heran.


"I love you." ucap Richard dengan lembut.


Alisa pun tersenyum malu, wajahnya bersemu merah. Lalu menjawab dengan suara berbisik.


"I love you too."


Setelah mengucapkan kalimat cinta itu, Alisa pun turun dan berlari keluar. Dia menuju gedung Symonesta Stars sambil berlari kecil. Richard memandang kepergian Alisa dengan hati lega. Ada rasa kecewa di hatinya ketika ajakan menikahnya tidak langsung di jawab oleh Alisa. Namun dia juga tidak mau terburu-buru karena ingin memberikan kesempatan Alisa mengejar mimpinya jadi model terkenal.


Ada rasa was-was di hati Richard jika Alisa sudah terkenal di kancah internasional, dulu pernah mendapat tawaran iklan produk luar negeri Namun hanya satu kali saja, belum ada tawar lagi dari produsen luar negeri yang memakai jasa Alisa sebagai model.


Setelah Alisa masuk ke dalam gedung dan sudah tak terlihat dari pandangan Richard, kini Richard menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran dan gedung Symonesta Stars.


Meski hatinya sudah lega setelah bertemu Alisa dan memeluknya, tapi Richard masih gelisah dan cemas. Dia mencoba menenangkan hatinya dan mempercayai Alisa masih mencintainya. Dia melihat di mata Alisa ada cinta yang dalam untuknya, meski tidak terucap dengan sesering dia mengucapkannya pada Alisa.


"Semoga kamu baik-baik saja sayang." gumam Richard di tengah jalannya padat lalu lintas yang dia lalui untuk pulang ke rumahnya dan beristirahat sejenak.


Alisa memberitahu kalau malam ini pulang jam sebelas malam, karena banyak sekali adegan yang memerlukan suasana malam hari. Dia melajukan mobilnya dengan cepat agar sampai di rumah dan beristirahat lebih lama sebelum menjeput Alisa pulang.


_

__ADS_1


Satu minggu lalu Richard melaporkan pamannya tuan Rendra dengan tuduhan dalang pembakaran pabrik sepuluh tahun lalu dan penggelapan uang perusahaannya yang di lakukan oleh anak buahnya bekerja di perusahaan Richard.


Tuan Rendra marah, dia di tuduh melakukan pembakaran. Sampai dia di periksa oleh penyidik dan bukti sidik jari yang menempel di sarung tangan di temukan oleh Richard pabrik itu cocok dengan sidik jari tuan Rendra.


"Kamu tega sekali melaporkan om ke polisi Richard?" tanya tuan Rendra seolah tidak bersalah.


"Om lebih tega demi mendapatkan uang asuransi om membakar pabrik dan mama sama papa juga ikut meninggal. Di dalam pabrik juga banyak di temukan bukti kuat om, jadi jangan menyangkal lagi." kata Richard sengit.


Heh, apa buktinya? kamu punya saksi untuk membuktikan akulah dalang pembakaran itu?" tanya tuan Rendra masih ngotot kalau dia tidak melakukan pembakaran itu.


"Buktinya sudah aku dapatkan, saksi juga sudah aku kumpulkan orangnya. Selain anak buah om yang bekerja di perusahaanku, juga ada satu lagi saksi waktu pembakaran itu." kata Richard lagi semakin sengit.


Tuan Rendra diam, dia berpikir siapa saksi yang di maksud Richard? Setahu dia, tidak ada orang yang melintas di sekitar pabrik waktu itu.


"Om masih berpikir tidak ada yang melihat kejahatan om?" pertanyaan Richard menohok tuan Rendra, dia tercekat dengan ucapan Richard itu yang seolah tahu apa yang di pikirkannya.


"Baik, kita bertemu nanti di persidangan. Polisi sudah menyiapkan baju orange untukmu om, bulan depan." ucap Richard dengan lantang, meluruhkan kesombongan tua Rendra.


Setelah berkata seperti itu, Richard pun pergi dari kantor tuan Rendra menuju kantornya. Dia sangat puas telah menakuti pamannya yang sombong dan serakah itu. Demi mendapatkan kekayaan, tuan Rendra sampai tega membakar dan juga membunuh kakak dan juga tuan Darwin. Kedua orang tua Richard.


Sementara tuan Rendra sangat cemas dengan ancaman Richard itu, dia tidak menyangka anak laki-laki yang dia asuh selama ayah dan ibunya meninggal kini berbalik melawannya, bahkan mengancam dan akan memenjarakannya.


"Kurang ajar! Dia anak kecil bau ingusan kini mau melaporkanku ke polisi. Lihat saja, apakah dia bisa membuktikan semuanya dalam persidangan?" Hah! anak ingusan melawan Rendra yanh sudah lihai dalam melakukan kejahatan. Lihat saja nanti kamu Richard, akan aku balas jika tidak terbukti di persidangan nanti. Hahah!!" ucap tuan Rendra dengan tawanya yang menggelegar.


_


Kini surat pemanggilan pada tuan Rendra sudah di layangkan, dia awalnya tidak datang ke kantor polisi. Surat kedua sudah di layangkan, tapi tetap dia tidak menggubrisnya. Justru dia pergi keluar kota mengurusi pembukaan pabrik baru.

__ADS_1


Dan surat pemanggilan ketiga, tuan Rendra bafu bisa datang. Dia ingin di kawal polisi untuk datang ke kantor di mintai keterangan lebih dulu dan setelah di selidiki, dan tuan Rendra terbukti melakukan pembakaran dengan bukti sidik jari dan dirigen. Maka polisi akan menetapkan tersangka kepada tuan Rendra.


Dan dia di tanya beberapa pertanyaan lagi tentang penggelapan uang perusahaan Richard dengan saksi yang sudah lebih dulu di panggil untuk memberi keterangan.


_


Setelah melakukan pemanggilan terhadap tersangaka juga saksi, kini tuan Rendra terbukti melakukan penggelapan uang perusahaan. Sedangkan pembakaran pabrik masih jadi saksi saja tuan Rendra itu, karena bukti berkas asuransi dan beberapa bukti lainnya masih belum cukup karena peristiwa itu cukup lama, jadi perlu bukti lebih kuat selain sarung tangan rajut dan juga dirigen.


Dua bukti itu masih belum cukup, serta konsleting listrik dari poto juga. Penyidik melakukan olah TKP di pabrik, dan sampai sekarang belum mendapatkan bukti kuatnya. Satu hari tiga orang penyidik mencari bukti lain di pabrik, jika sampai sore tidak menemukan bukti lagi maka terpaksa menghadirkan saksi mata yang melihat kejadian pembakaran pabrik tersebut.


"Tuan Richard, apa harus di usut tuntas kejadian waktu itu?" tanya Jo ketika mereka masih di kantor polisi.


"Tentu saja, aku yakin mama sama papa tidak tenang di alam sana karena om Rendra masih berkeliaraj dan menggerogoti perusahaanku dari dalam." jawab Richard.


"Sepertinya agak sulit tuan, tuan Rendra punya orang dalam di kepolisian. Jadi akan susah dan akan mengalami kendala karena oknum polisi melindungi tuan Rendra." kata Jo memberi tahu Richard.


"Kamu pikir aku ngga punya koneksi orang kejaksaan? Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang." kata Richard lagi.


Dia benar-benar geram dengan tingkah pamannya itu. Sudah salah, malah mau berbuat salah lagi. Jika sampai dia tidak di beri hukuman setimpal, Richard akan bertindak sendiri dengan memberinya pelajaran agar dia tidak melakukan tindakan di luar batas lagi, mencuri uang perusahaannya.


Begitu yang Richard pikirkan jika gagal menjebloskan ke dalam penjara dengan ancaman hukuman ringan


_


_


_

__ADS_1


\=> jangan lupa like dan komen yaa..😊😊


__ADS_2