
Kamu sudah pulang?"
"Sudah, ini sedang ke kantor agensi."
"Emm, maaf ya. Aku ngga datang ke bandara menyambutmu." kata Richard dengan menyesal.
"Iya, aku tahu kamu pasti sibuk dengan urusan kantor." ucap Alisa.
"Bagaimana perjalananmu?"
"Ngga enak." jawab Alisa sedikit meringis.
"Kenapa?"
"Ngga ada kamu." jawab Alisa dengan wajah bersemu merah.
"Hahah, sekarang kenapa jadi manja ya pacarku ini?"
"Aku seperti itu hanya sama kamu aja kok, tapi bener ngga enak rasanya ngga ada kamu." jawab Alisa dengan senyum manisnya.
Membuat Raya dan yang lainnya tersenyum lucu mendengar ucapan Alisa. Ternyata Alisa benar-benar mencintai Richard. Raya juga tidak menyangka, Alisa dan Richard saling jatuh cinta dan saling mencintai satu sama lain. Mungkin karena mereka merasa sama-sama sendiri dan membutuhkan teman berbagi keluhan.
"Nanti malam aku jemput kamu pulang seperti biasanya."
Alisa terdiam, dia menahan sesuatu di dadanya. Lalu menghela nafas panjang. Entahlah, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu pada Richard secepatnya.
"Alisa?"
"Ya."
"Jangan bersedih, maafkan aku."
"Ngga, aku hanya ingin mengatakan sesuatu sama kamu."
"Tentang apa?"
"Nanti saja kalau ketemu malam ini."
"Oke. Jaga diri baik-baik sayang."
"Iya, terima kasih."
"Sudah dulu ya, Jo sejak tadi menungguku selesau menelepon. Wajahnya juga sudah terlihat kesal, by."
__ADS_1
"By."
Klik
Sambungan telepon terputus, Alisa menatap Raya. Ingin dia bicara pada Raya tentang niatnya untuk mengumumkan kalau dia sudah punya kekasih di depan publik.
"Raya, apa aku harus memberitahu semua kalau Richard adalah pacarku?" tanya Alisa.
Matanya menerawang ke jendela, dia bingung sebenarnya. Lalu dia menatap Raya yang masih dia menatapnya heran.
"Kenapa? Apa kamu tidak nyaman dengan sembunyi begini?" tanya Raya.
"Aku tidak tahu, tapi sejujurnya aku ingin lebih leluasa berjalan dengannya tanpa ada gosip apa pun." ucap Alisa.
Dia ingat tentang Michael yang di gosipkan dengannya berpacaran. Raya tahu, Alisa sangat cemas dengan gosip yang sama akan muncul lagi dengan artis atau model lainnya.
"Itu terserah kamu dan Richard, jika kalian siap mempublikasikan hubungan kalian di khalayak ramai tidak masalah buatku. Tinggal kamu bicarakan pada Richard tentang masalah ini, aku takut dia tidak mau terekspos oleh wartawan." kata Raya menjelaskan pada Alisa.
"Ya, aku tahu. Makanya malam ini aku ingin membicarakannya dengan Richard." jawab Alisa.
Raya menatap Alisa, entah kenapa dia melihat Alisa yang gelisah. Namun dia belum tahu rasa gelisah Alisa itu apa.
"Alisa, apa ada yang membuatmu gelisah?" tanya Raya.
"Apa kamu benar-benar mencintainya?" tanya Raya lagi.
"Ya, aku benar-benar mencintainya. Kadang aku merasa sepi jika jauh darinya, apa aku berlebihan dengan perasaanku ini?" tanya Alisa.
Raya tersenyum, ternyata hanya karena itu juga Alisa gelisah.
"Alisa, jika kamu siap menikahlah dengannya. Itu akan membuat gelisahmu sirna. Ku pikir kamu khawatir Richard akan meninggalkanmu. Tapi kamu jangan khawatir, aku lihat dia benar-benar mencintaimu Alisa." kata Raya lagi.
Alisa menghela nafas panjang, mungkin benar apa kata Raya. Apa mungkin sebaiknya dia bicarakan juga masalah pernikahan?
Alisa menoleh ke arah Raya, dia melihat ada raut wajah sedih ketika Alisa membahas pernikahan. Dia tahu bukan masalah dirinya dan Richard, tapi sesuatu yang entah itu apa.
"Raya, kamu tahu tentangku. Apa yang kamu inginkan dariku? Kamu bilang dulu jika aku ingin membalas budi, apa yang akan aku lakukan? Kamu belum mengatakan padaku permintaanmu padaku." kata Alisa pada Raya.
Raya menatap Alisa, dia tersenyum misterius. Dia belum menceritakan tentang Simon kakaknya pada Alisa, karena itu berkaitan dengan saudara kembarnya. Inginnya dia balas dendam pada Alena tanpa melibatkan Alisa, hanya berdua saja dengan Anindya.
"Raya, apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Alisa pada Raya yang masih diam.
"Sudahlah Alisa, jangan pikirkan aku. Aku belum bisa menceritakan sesuatu padamu, belum saatnya." jawab Raya.
__ADS_1
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Bukan, hanya saja untuk saat ini aku mau menanganinya sendiri. Kamu itu sibuk, aku tahu itu. Jadi aku ngga mau ganggu pikiranmu dengan masalahku, Alisa." ucap Raya.
Alisa tersenyum, dia menatap Raya dengan ceria. Memang tidak semua masalah harus di diskusikan dengannya, entah apa yang di sembunyikan Raya padanya. Yang jadi pertanyaannya sejak dia tahu kalau agensi Symonesta Stars itu adalah milik Raya dan Anindya, kenapa Raya memilih jadi manajernya? Bukan dia sendiri yang terjun ke dunia model di agensinya sendiri.
Itu yang tadi di tanyakan oleh wartawan ketika di bandara.
"Raya, sampai saat ini aku masih bingung dengan statusmu sebagai manajerku. Kenapa kamu memilih jadi manajerku dari pada sebagai model atau artis di agensimu sendiri? Apa alasannya, aku ingin tahu sebenarnya darimu Raya." kata Alisa.
"Alisa, kamu ingin tahu jawabannya secara jujur dariku? Yang sebenarnya kamu sendiri sudah tahu." kata Raya dengan senyumnya.
"Tentu saja jawaban jujurmu. Aku tidak mau hanya itu-itu saja jawaban yang aku dengar darimu, karena aku merasa kamu memilik maksud untuk menjadikanku model terkenal." kata Alisa.
Raya pun tersenyum, dia mencubit pipi Alisa dengan gemas karena mimik wajah Alisa yang lucu. Pantas saja Richard begitu mencintainya karena Alisa sangat lucu jika sedang merajuk.
"Baiklah, dengarkan aku baik-baik. Aku awalnya memang merencanakan sesuatu padamu, menjadikanmu bahan percobaanku. Kamu aku daftarkan ke ajang kontes yang di gelar di agensi Symonesta Stars, karena aku pikir kesempatan langka. Kamu juga membuat aku gregetan setiap kali kakakmu itu selalu mengejekmu, Richard juga bahkan sering meledekmu. Kamu itu baik, cerdas dan percaya diri. Tak ada salahnya merubah dirimu lebih baik dan terbukti, dengan perawatan lebih intensive dan mengikuti kontes itu kamu ternyata berbakat juga di dunia modeling. Jadi sekalian aja, kamu jadi model terkenal. Biar Alena dan teman-temannya iri melihatmu sukses." kata Raya.
"Lalu, tentang kemenanganku waktu itu. Apakah kamu dan kak Anindya juga berperan?" tanya Alisa.
"Kalau itu murni keputusan juri, aku juga berpikir begini. Jika kamu tidak jadi juara satu, aku akan buat kamu jadi juara harapan satu. Karena juara satu, dua dan tiga memang yang memilih juri mutlak. Jadi, kamu jangan khawatir dengan kemenanganmu adalah sebuah manipulasi dariku dan kak Anindya." jawab Raya lagi.
"Emm, berarti aku banyak sekali punya hutang budi sama kamu Raya." kata Alisa lagi.
"Jangan bicarakan tentang hutang budi, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dan ketenaran. Kamu berhak mendapatkan semua yang belum kamu miliki Alisa, kasih sayang dari sahabat sepertiku, cinta dari Richard untukmu dan juga penggemarmu yang setia dan juga selalu mendukungmu. Bukankah itu cukup untukmu?" ucap Raya.
"Ya, kamu benar. Jadi sekali lagi aku ucapkan terima kasih sama kamu. Tanpa kamu, aku bukanlah Alisa yang sekarang."
"Takdir yang menentukanmu berubah Alisa, bukan aku. Aku hanya perantara saja, selebihnya Tuhan yang menentukan. Sampai saat ini, aku masih tidak percaya bahwa Richard itu cinta mati sama kamu. Yang dulu dia seperti enggan melihatmu, bahkan membencimu. Karena apa? Karena takdir memang sedang berpihak padamu, kamu orang baik. Tidak selamanya akan terpuruk dan tertindas terus." ujar Raya panjang lebar.
Mobil berhenti tepat di depan gedung rumah produksi Symonesta Stars. Semua menatap mobil yang di tumpangi rombongan wakil yang di kirim oleh agensi untuk kontes model internasiona. Banyak juga wartawan yang ingin mengambil gambar Alisa, sang juara kelima besar di ajang tersebut.
"Kamu harus terbiasa dengan kehadiran mereka. Jangan pernah canggung lagi, dan jangan lecewakan penggemarmu. Mereka mencari berita tentangmu lewat wartawan-wartawan itu." ucap Raya sebelum turun dari mobil jemputan agensi.
Alisa mengangguk pasti, dia lalu turun di susul oleh Raya di belakangnya. Dan tentu saja, jepretan kamera membuat Alisa risih. Namun memang seperti kata Raya, dia harus terbiasa dengan semua itu. Menjadi bingang adalah hal yang sangat langka bagi mereka yang menginginkannya, jadi berusahalah dengan kemampuan yang kita punya. Tidak kenal putus asa.
_
_
_
😊😊😊😚😊❤❤❤❤
__ADS_1