Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
76. Bos Baru


__ADS_3

Simon kini bersiap untuk pergi ke kantor agensi Symonesta Stars. Dia sudah menyuruh Raya dan Anindya untuk menyiapkan penyambutannya. Saat ini katanya Alena ada di studio, dia ingin tahu reaksi Alena ketika dia masuk di kantor itu dan menjadi salah satu bos di sana.


Bisa di bilang direktur utama di rumah produksi Symonesta Stars.


Dengan memakai baju kemeja lengkap dengan jas berwarna biru navy dan dasi berwarna merah bata, membuat paduan kemeja dan jas sangat serasi. Rambut di sisir rapi dan dan juga pergelangan tangan melingkar jam merek rolex yang dia beli di luar negeri dengan harga yang lumayan mahal karena jam asli.


Setelah selesai, Simon mengambil tas kerjanya. Sebenarnya ini baru pertama kali masuk kerja sejak dia berpacaran dengan Alena dulu.


Waktu itu dia masih kuliah dan mau lulus juga, karena Alena memang sejak SMA petualang cinta bagi pria-pria kesepian dan menginginkan kesenangan pada Alena. Alena juga hanya menikmati uang yang di berikan atau dia minta pada pria-pria tersebut.


Tapi rupanya, Simon malah jatuh cinta pada Alena. Bahkan dia rela memberikan apa saja pada Alena, hingga membuat PH ( Production House ) Symonesta Stars karena ingin mempersembahkan pada Alena. Dan kenyataannya, Alena malah sudah mendapatkan laki-laki lain.


"Kak, apa sudah siap?" tanya Raya di depan pintu kamar Simon.


"Emm, ya. Kamu duluan aja berangkatnya, aku akan menyusul nanti." jata Simon.


"Memang kakak mau apa lagi? Orang sudah rapi begitu, sudah ganteng. Apa kurang percaya diri?" tanya Raya seperti tahu keraguan Simon.


Simon menatap adiknya itu, dia lalu mengambil tas kerjanya lalu menghampiri Raya.


"Baiklah, ayo kita berangkat." kata Simon.


"Ayo. Eh tunggu, nanti ada yang tahu kalau kakak itu kakakku bagaimana jika kita berangkat sama-sama?"


"Hadeeh, terserah kamulah. Sudah kamu duluan aja sana. Kakak mau ke tempat lain dulu sebentar sebelum ke kantor agensi." ucap Simon.


Raya meringis kecil, lalu dia pun pergi meninggalkan Simon yang memang sudah siap untuk pergi ke kantor.


_


Jam sepuluh sudah heboh di setiap tempat karyawan berada. Ada juga model yang ikut penasaran siapa bos baru yang akan memegang langsung agensi itu.


"Eh, gue mau lihat deh bosnya. Katanya dia ganteng." ucap model lain.


Yang lain pada berbisik, Alena malah acuh. Dia tidak peduli dengan bos baru itu. Yang sekarang dia pusingkan bagaimana bisa terlepas dari jerat Darius di setiap malamnya.


Meski dia juga kadang menyukainya, tapi jika setiap hari dan selalu di lakukan sampai menjelang pagi. Apa itu tidak ketelaluan? Dasar maniak! gerutu Alena dalam hati.


Hatinya fokus pada bagaimana dia menghindari Darius. Bisakah dia mencari uang sebesar satu miliar?


Suara langkah kaki dari arah lift yang terbuka, membuat para model dan staf tertegun. Sesosok laki-laki dengan beekemeja biru navy, dengan sepatu fantopel hitam mengkilap. Berkacamata hitam dan ada sedikit bulu-bulu halus di pinggiran rahangnya. Menambah kesan macho dan seksi.


Raya sendiri juga takjub dengan penampilan kakaknya Simon yang berbeda itu. Dia tahu dalam dunia akting dan model itu yang di perlukan fisik yang bagus dan tubuh yang proporsional. Mesku tidak ada keinginan untuk memasuki dunia model di agensinya sendiri, Simon layak di sebut sebagai model paling seksi dan tampan.

__ADS_1


"Waah, ternyata kakak keren juga ya." ucap Raya ketika Simon sudah memasuki ruang kerjanya.


Raya terus memuji penampilan Simon, dai terus memandangi kakaknya dari atas sampai bawah.


"Kakak pergi ke salon mama?" tanya Raya.


"Tentu saja, mereka memilihkan baju juga untuk kakak." jawab Simon.


"Emm, sudah pantas jadi bos Symonesta Stars. Kak Anindya juga sepertinya juga sudah siap mengalihkan tampuk kepemimpinan negeri Symonesta Stars." ucap Raya.


Mata Simon membola, dia mencibir ucapan adiknya itu.


"Ini bukan zaman kerajaan, tampuk kepemimpinan segala. Memang dia mau kemana" tanya Simon.


"Tidak tahu."


Tok tok tok


"Masuk."


Pintu terbuka dan terlihat Anindya dengan senyum cerianya menatap Simon yang penuh percaya diri kali ini. Dia pun memutari Simon memperhatikan penampilannya yang spektakuler siang ini.


"Bagus juga ya penampilanmu kali ini. Nah, gitu dong. Orang harus percaya diri, jangan karena satu masalah semuanya di buat suram." kata Anindya.


"Apa yang kamu katakan? Ngga penting untuk di bahas, sekarang apa yang akan aku lakukan selanjutnya?"


"Emm, satu bulan kamu dalam bimbinganku untuk mengenal bagaimana itu Symonesta Stars. Meski kamu yang punya, tapi kamu belum pernah menginjakkan kakimu di Symonesta selain hari ini. Jadi harus aku bimbing Nanti kita bisa berkenalan dengan para staf dan karyawan serta para produser, sutradara juga fotografer. Sekalian semua model dan artis yang bernaung di Symonesta Stars. Agar semua tahu ada pimpinan baru yang akan memimpin rumah produksi ini." kata Anindya panjang lebar.


"Sudahlah Nin, ngga usah secara resmi begitu. Aku masuk ke Symonesta ini hanya untuk memantau perkembangan aja, tetap kamu yang memegang puncak kepemimpinan." ucap Simon.


"Ngga- ngga, itu ngga seperti apa yang kamu katakan. Ini milikmu, kamu harus memimpinnya dengan penuh. Suatu saat aku akan hengkang dari agensi ini."


"Kenapa?"


"Aku mau juga menikah Simon, dan menjadi istri yang baik. Adikmu juga sepertinya akan ikut dengan suaminya nanti jika dia menikah. Dan sekarang sudah saatnya kamu yang memimpin agensi ini, makanya satu bulan ini aku bimbing sampai kamu tahu seluk beluk dan juga apa pun di Symonesta Stars ini." kata Anindya lagi.


"Oh ya kak, bagaimana dengan skandal itu? Perlu kita ungkap semua?" tanya Raya pada Anindya.


Simon heran, apa yang di bicarakan oleh kedua perempuan itu.


"Kalian bicara apa?"


"Hemm, di agensi kita ini ada yang terlibat skandal yang memalukan. Dan kamu pasti akan terkejut siapa yang terlibat skandal itu.l, kita sedang menyelidikinya dan mengumpulkan bukti itu." kata Anindya.

__ADS_1


"Siapa yang terlibat?"


Raya dan Anindya saling pandang, haruskah memang Simon tahu?


"Kak, aku pikir memang seharusnya kak Simon tahu. Dia juga nanti yang bertindak tegas pada model itu." kata Raya pada Anindya.


"Ehhm, benar juga. Tapi masalahnya dia sudah move on belum? Aku takut dia nanti syok mendengar mantannya itu yang terlibat skandal itu." kata Anindya.


Sengaja mereka membicarakannya terang-terangan, agar Simon berpikir kalau memang dia sudah tidak memikirkan Alena lagi.


"Ooh, jadi kalian pikir aku masih memikirkan gadis itu? Dan dia terlibat skandal itu?" tanya Simon dengan datar.


Kembali Raya dan Anindya saling pandang, lalu tersenyum keduanya mengembang.


"Ya, kurasa kamu masih memikirkan gadis itu." kata Anindya.


"Tidak, santai saja. Aku sudah memikirkan perempuan lain kok. Jadi kalian jangan khawatir, jika memang gadis itu teibat skandal dan melibatkan agensi kita ini, aku harus bertindak tegas padanya. Kejam pun tak masalah bagiku."


"Oh yaa?!"


Teriakan Raya dan Anindya yang berbarengan membuat Simon mengerutkan dahinya aneh.


"Hei, sejak kapan kalian kompak seperti itu? Dan perlu kalian tahu ya, sejak aku memutuskan melakukan terapi dan bisa berjalan sampai aku mau memimpin agensi ini, gadis itu bagaikan sampah di mataku. Dan aku akan lebih senang kalau nanti aku sendiri yang akan mengusirnya dari kantor ini." kata Simon dengan penuh percaya diri.


"Waah, bagus kalau begitu. Aku juga sepertimya setuju kak Simon yang akan menendang Alena dari agensi ini. Tapi tunggu bukti kuatnya, semua sedang menyelidiki dan mengumpulkannya." kata Raya dengan antusias.


"Ya benar, aku juga sudah memata-matai Alena setiap malam dan juga ada beberapa model yang terlibat itu kita pantau Aku sudah menemukan beberapa model yang mengikuti Alena." kata Anindya.


"Baiklah, kerjakan semuanya. Nanti tinggal aku yang eksekusi Alena."


"Siap bos!"


Raya dan Anindya pun keluar, mereka kini masuk ke ruangan masing-masing. Tapi sebelumnya Raya menemui Alisa di tempat studio foto.


_


_



Promo lagi ya kaka, ceritanya bagus. Yang kepo silakan mampir..😉😊✌


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2