Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
46. Jalan-Jalan


__ADS_3

Alisa menghampiri Raya dan dua rekan lainnya, mereka berpelukan bersama dan mengucapkan pada Alisa yang telah masuk lima besar pada kontes Beautiful Models International. Bisa jadi nanti sampai di Indonesia Alisa akan banyak sekali tawaran, entah itu endorse sebuah produk dan juga ke sebuah acara talk show.


Raya menjauh, dia mendapatkan telepon dari beberapa stasiun televisi untuk mengontrak satu jam acara talk show dengan bintang tamu Alisa.


Bolak-balik menerima telepon dari berbagai iklan dan stasiun televisi, semua masuk ke ponsel Raya. Raya sekarang sibuk menjawab teleponnya.


Sementara itu kedua rekan Alisa masih bersama Alisa bercerita banyak tentang semua kejadian dan rangkaian di panggung megah itu.


"Kamu hebat, Alisa. Aku pikir kamu juara, tapi pokoknya kamu hebat bisa masuk lima besar. Sedangkan kami masuk dua puluh besar aja ngga, selamat ya Alisa." teriaknya.


"Iya, Alisa. Kami bangga lho sama kamu, pasti setelah ini kamu banyak sekali tawaran di televisi atau sebuah iklan produk. Waah, kamu tambah terkenal aja nantinya." timpal satu rekannya lagi.


"Ah, itu biasa saja. Aku juga tidak menyangka bisa masuk lima besar. Karena sebelum itu aku merasa putus asa, mungkin karena lelah ya. Kan acaranya padat sekali." ucap Alisa.


"Bagaimana kamu bisa bangkit dan tampil percaya diri seperti tadi?"


"Emm, ada seseorang yang bisa membuat moodku lebih baik." jawab Alisa malu-malu.


"Ee, ciiee. siapa nih?"


"Hahah, Raya." jawab Alisa sambil tertawa senang.


Kedua rekannya pun cemberut, lalu Alisa pun di hamliri oleh beberapa wartawan yang mau mewawancari Alisa, membuat dua rekannya reflek melindungi Alisa.


"Eh, mas. Jangan asal serobot aja dong!"


"Kami mau wawncara mbak Alisa, mbak Alisa, bagaimana perasaan anda dengan anda masuk ke lima besar ajang kontes model tersebut?" tanya salah satu wartawan yang nekad.


"Eh, si mas maksa aja sih."


Lalu Alisa di giring kedua rekannya menghindari para wartawan itu. Meski tadi Alisa ingin menjawab, tapi kedua rekannya itu seperti bodyguard yang siap melindunginya.


Sedangkan dari jauh Richard sedang mengamati Alisa yang di giring masuk menghindari wartawan. Dia tersenyum bangga pada Alisa yang masuk lima besar ajang kontes kecantikan itu.


"Selamat ya Alisa, kamu benar-benar hebat." guman Richard sambil tersenyum puas.


Meski dia hanya bisa melihat dari jauh, tapi dia bangga. Besok dia juga akan bertemu dengan Alisa. Dia terima resiko jadi kekasih yang tersembunyi dari Alisa, karena dia juga nyamab seperti itu. Tidak ikut di kerumuni wartawan, namun dia juga kasihan dan sedih jika Alisa banyak sekali di kerumuni oleh wartawan, dia tidak bisa melindungi.


_


Raya, Alisa dan dua rekannya tidak langsung pulang. Mereka jalan-jalan liburan lebih dulu di Singapura, berbelanja keperluan syuting dan pemotretan.


Alisa sekarang sedang bersama Richard. Dua teman Alisa tahu kalau Richard adalah kekasih Alisa, dan mereka semua sepakat untuk menyembunyikannya dan merahasiakan dari media. Raya yang memintanya juga Richard.

__ADS_1


"Tenang aja Alisa, kami akan merahasiakannya kok. Menunggu kamu sendiri yang bicara pada media, santai aja ya." ucapnya.


"Terima kasih, kalau begitu aku berpisah sampai di sini ya. Kalian bebas bersenang-senang."


"Ya, Alisa. Bersenang-senanglah Alisa dengan pacarmu."


"Hahaha."


Lalu Raya, dan kedua model lain serta manajernya jalan-jalan bersama, sedangkan Alisa dengan Richard. Keduanya saling memeluk dan menatap kepergian kelima orang temannya itu.


"Ayo, kita jalan-jalan sendiri. Kamu mau kemana?" tanya Richard pada Alisa.


Kini mereka berhadapan saling memeluk pinggang masing-masing. Alisa tersenyum, lalu dia tampak berpikir sejenak. Membuat Richard gemas melihatnya, dia lalu mencium pipi Alisa.


"Kamu lucu banget sih. Cup." ucap Richard mengecup bibir Alisa sekilas.


"Apa sih, malu di lihat orang." ucap Alisa, tapi pipinya bersemu merah.


"Hahah, tambah gemas kan aku jadinya."


"Udah ah, kamu bikin aku malu terus. Ayo kita jalan-jalan aja." kata Alisa menarik tangan Richrad.


"Ya kemana kita jalan-jalan?"


"Siap tuan putri." kata Richard membuat Alisa malu.


Mereka lalu menunggu taksi menuju tempat wisata yang di sebutkan tadi oleh Alisa.


"Kamu lapar ngga?" tanya Richard pada Alisa.


"Emm, lumayan. Makan cemilan enak ya." jawab Alisa.


"Oke, aku beli cemilan di sekitar sini. Tadi aku lihat ada beberapa warung, sepertinya memang mereka di bolehkan oleh petugas berjaualan di pinggir jalan sini."


"Aku ikut."


"Ayo.


Lalu Alisa dan Richard bergandengan tangan ke tempat warung berjejer. Hanya ada beberapa lapak di saja, meski tempatnya luas. Namun baru ada beberapa penjual yang berdagang. Mungkin masih baru tempat itu di jadikan lapak penjualan. Seperti stan warung makan juga cemilan untuk beberapa penduduk dan juga turis asing.


Richard dan Alisa menjelajah setiap stan makanan, ada yang sama makanan Singapura dan juga Indonesia. Di sana ada juga yang menjual gulai, terlalu berat makanan itu bagi Alisa, dia tidak mau makan itu.


Lali Alisa berkeliling mencari apa yang menggugah selera makannya. Dan tampak berhenti, dia berhenti di tempat jualan seperti rujak buah. Tampak antusias Alisa meliahatnya.

__ADS_1


"Bang, bikin satu ya." kata Alisa pada penjualnya.


"Baik miss." Tukang rujak itu pun membuat pesanan Alisa.


Richard mendekat dan melihat apa yang di belik Alisa.


"Kamu beli rujak buah?" tanya Alisa.


"Iya, kamu mau?"


"Boleh."


"Bang, satu lagi ya. Jadi dua porsi."


"Baik miss."


Alisa dan Richard menunggu di bangku yang tersedia di sana. Mereka mengobrol dengan asyik tentang acara kemarin yang telah usai, dan ada saja di alami Alisa pada waktu itu.


"Di sana paati banyak yang menantimu, Alisa." kata Richard.


"Emm, ya. Raya tadi malam mengatakan kalau dia menerima beberapa job di sana. Aku bilang mau istirahat dulu dua hari di sana nanti, ya Raya setuju. Karena di tempat karantina tidak ada waktu istirahat, lagi pula acaranya sangat padat sekali. Makanya waktu itu entah kenapa aku merasa lelah dan kangen banget sama kamu." ucap Alisa.


Richard mendengarkan Alisa bercerita, dia merasakan juga bahwa setiap hari merindukan Alisa.


"Setiap hari aku juga merindukanmu, tapi tidak bisa bebas meneleponmu. Kadang sudah terlalu malam jadi, aku kasihan sama kamu. Kamu butuh istirahat cukup." kata Richard.


Dia merapikan rambut Alisa yang di terpa angin berhembus kencang.


Pesanan pun datang, mereka langsung menyantap rujak buah khas Singapura yang lebih mirip dengan rujak buah di Indonesia.


"Emm, kurang pedas ya rujaknya." kata Alisa mengunyah buah mangga mentahnya.


"Kalau terlalu pedas nanti perut kamu sakit, kan belum makan tapi sudah makan rujak pedas."


"Emm, ya Kita orang Indonesia belum makan kalau belum makan nasi. Hahah.." tawa ceria Alisa membuat Richard senang.


Mereka segera menghabiskan rujak buah tersebut lalu meneruskan rencana jalan-jalan mereka ke Orchid Road dan Marlion Park.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2