
Alena dan Darius kini sedang bergumul di hotel, mereka menikmatinya selama dua jam. Agak kesal juga Alena, Darius begitu kuat dan hampir mereka melakukannya lima kali.
Kalau Alena tidak menyetopnya, dengan jaminan dia ingin istirahat dulu. Dia juga nanti akan bicara mengenai bayaran atas pelayanannya itu. Darius sedang melihat ponselnya, tubuh telanjang dadanya menampakkan keperkasaan. Tapi Alena tidak terlalu tertarik, bahkan jatuh cinta.
Dia pun mendekat pada Darius yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Tuan Darius, aku ingin membicarakan mengenai pembayaranku malam ini menemanimu tidur." kata Alena.
Darius belum bergeming, dia masih fokus dengan ponselnya. Alena masih sabar, dia merapikan bethropnya agar tertutup belahan dadanya.
"Tuan Darius, anda mendengarkan ucapanku?" tanya Alena lagi.
Baru kali ini Darius menoleh pada Alena lalu memperhatikan Alena yang baru saja mandi. Dia tersenyum menyeringai.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Darius.
"Pembayaranku malam ini, bahkan anda aku layani lima kali." kata Alena.
"Hahah, kamu meminta bayaran untuk malam ini?" tanya Darius.
"Iya, dan tarifku mahal tuan." jawab Alena dengan percaya diri.
"Berapa tarifmu semalam?" tanya Darius lagi.
"Seratus juta semalam." ucap Alena masih dengan percaya diri.
"Oh ya, mahal sekali ya. Tapi itu terlalu murah di bandingkan saudara kembarmu. Dia bahkan satu miliar setengah." ucap Darius.
Rahang Alena mengeras, dia kepalkan tangannya dan gemeretak giginya. Lalu dengan cepat senyumnya mengembang.
"Tapi dia itu masih poloskan? Tentu saja sangat mahal." kata Alena.
"Emm, aku belum tahu dia polos atau tidak. Aku belum merasakannya." ucap Darius dengan santai.
Tentu saja membuat Alena terkejut, lalu bagaimana dengan bayarananya?
"Maksud tuan Darius apa?" tanya Alena masih belum percaya.
"Ya, dia di selamatkan oleh kekasihnya dan temannya. Beruntung sekali dia ya."
"Tapi bukankah saya sudah memberinya ..." ucap Alena menggantung.
__ADS_1
"Obat itu? Saya rasa mungkin kekasihnya yang menikmati tubuh polos Alisa." kata Darius
Alena diam, dia kembali kesal. Kenapa Alisa selalu selamat lagi, bahkan dia bertanya pada orang suruhannya yang mengikuti Alisa dan Darius hanya tidak tahu saja jawabannya. Bahkan meminta bukti rekaman waktu itu pun tidak di kasih.
Ada apa sebenarnya? Apakah memang sudah di ketahui lebih dulu oleh Alisa?
"Maksudnya bagaimana tuan?" mencoba untuk memperjelas ucapan Darius.
"Maksudnya, jika kamu tarifnya seratus juta, ada satu miliar empat ratus juta uangku sama kamu. Untuk malam ini sudah aku bayar kan dari uang yang gagal aku dapatkan Alisa. Jadi di ganti denganmu. Jadi, ada empat belas hari lagi kamu harus melayaniku setiap malam selama empat belas hari. Kalau kamu tidak mau, aku minta uangku yang sudah masuk ke rekeningku sejumlah satu miliar empat ratus juta itu, dan ku pastikan kedokmu akan aku bongkar kalau kamu yang telah menjual Alisa padaku." kata Darius dengan nada mengancam.
Alena terdiam, dia mencerna ucapan Darius. Ternyata Darius tidak bisa di permainkan. Memang uang satu miliar setengah itu terlalu besar, dan siapa dia bisa mendapatkan uang sebesar itu.
Lagi pula, uang sebesar itu tawaran Darius sendiri untuk mencari gadis perawan. Dan gagal karena di ketahui oleh Richard. Yang dia takutkan adalah Richard tahu kalau dia menjual Alisa pada Darius.
"Jadi tuan tidak mengatakan apa pun pada Richard?" tanya Alena ragu.
"Belum, tapi mungkin dia akan cari tahu. Tapi sebelum dia tahu, aku meminta uangku kembali atau kamu melayaniku setiap malam selama empat belas hari. Bagaimana?" kata Darius.
"Kalau saya kembalikan uangmu tuan?"
"Silakan, tapi dengan cara apa? Tetap saja kamu bermalam dengan banyak laki-laki, tapi tarifmu tidak mungkin seratus juta. Masih untung jika ada yang membayarmu dua puluh juta." kata Darius lagi.
Alena tampak berpikir, masalahnya dia juga bingung mencari uang itu, kemarin dia langsung pergi liburan selama satu minggu dengan Bela. Niatnya untuk menghindar, tapi ternyata di agensi malah adem tidak ada kabar atau pun yang mencarinya.
"Ya, dan setiap malam sampai pagi." kata Darius lagi dengan senyum seringainya kembali.
"Ya." jawab Alena lirih.
Biasanya dia menjawab dengan lantang dan angkuh serta menggoda, tapi dia tampak lesu. Masalahnya dia membayangkan melayani Darius sampai pagi.
"Sekarang, ayo kita mulai lagi Alena." kata Dsrius dengan senyumnya yang mengerikan bagi Alena.
Seketika Alena merasa lemas, tapi dia harus menuruti kemauan Darius.
_
Seperti yang sudah di umumkan pada staf dan semua karyawan rumah produksi Symonesta Stars juga beberapa model dan para pelaku seni lainnya, hari ini akan ada kedatangan bos baru laki-laki.
Mereka tidak tahu siapa bos laki-laki itu. Dan katanya itu adalah bos sesungguhnya, yang mempunyai saham terbesar dari rumah produksi itu.
"Siapa sih dia, bos itu?" tanya para model yang baru bergabung di Symonesta Stars.
__ADS_1
"Katanya pemilik agensi ini, dia belum pernah terlihat selama ini. Karena yang aku dengar pemiliknya itu kan kak Anindya." kata salah satu temannya lagi.
Meta yang kebetulan ada di antara mereka pun mendengar pembicaraan tentang bos baru itu. Alena dan Bela baru datang, mereka duduk di sebelah Meta.
"Kak, ada kabar baru udah tahu belum?" tanya Meta pada Alena dan Bela.
Terlihat Alena lesu dan tidak bersemangat, sedangkan Bela antusias menanggapi Meta.
"Oh ya, kabar apa?" tanya Bela.
"Hari ini akan ada bos baru, dia laki-laki dan yang punya agensi ini." jawab Meta.
"Bukannya Anindya ya yang punya agensi ini?" tanya Bela lagi.
"Kurang tahu itu sih." kata Meta.
Mereka pun penasaran siapa bos baru laki-laki yang di maksud, setiap sudut membicarakan bos baru itu. Lalu, apakah nanti akan ada penyambutan bagi bos baru itu?
"Ck, paling bos barunya sudah tua dan gendut. Ngga asyik orang seperti itu." celetuk Alena.
"Eh, ngga kok kak. Katanya dia tampan dan masih muda juga." jawab Meta.
Alena malah malas untuk menanggapi berita itu, saat ini dia masih kelelahan dan mengantuk karena ternyata Darius itu maniak juga. Bahkan sampai pagi menjelang, Darius masih semangat saja. Dan yang ada di pikiran Alena adalah empat belas hari ke depan, harus menuruti dan melayani Darius setiap malam sampai pagi.
"Alena, ayo kita ke studio." ajak Bela.
Dengan malas, Alena pun mengikuti Bela untuk masuk ke studio. Ada pemotretan untuk sebuah majalah dewasa dan nanti pihak majalah akan menanyakan beberapa model untuk di jadikan cover serta wawancara dengan wartawan majalah tersebut.
Dan Alena tidak tahu kalau yang akan di wawancarai adalah dirinya.
Mereka masuk ke dalam studio, sudah ada dari wartawan majalah dewasa juga fotografernya juga.
Memang dari agensi, jika ada yang meminta model untuk pemotretan, yang bersangkutan harus datang ke studio agensi, jadi mereka yang tidak terlibat juga bisa melihat bagaimana proses wawancara dan juga pemotretan itu.
"Alena ya?"
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤