Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
78. Simon Bertemu Alena


__ADS_3

Hampir sebulan Simon bekerja sebagai direktur rumah produksi yang memang miliknya itu. Enam tahun dia serahkan pengawasan dan kepemimpinan pada Anindya dan Raya. Dia sendiriasib terpuruk waktu itu, sehingga Raya dan Anindya menjalankannya dengan lancar dan sampai sukses, hingga menelurkan model dan artis yang handal dan profesional.


Alisa sebenarnya bisa saja berkarir di dunia model internasional, tapi dia tidak mau. Jadi akhirnya yang di kirim hanya dua model untuk berkarir di luar negeri. Hanya waktu itu mengikuti ajang kontes kecantikan seAsia dan Australia saja.


Entah alasannya apa, yang jelas sepertinya Alisa mempunyai alergi cuaca dingin. Karena di negara eropa itu seringnya cuacanya dingin.


Simon masuk ke dalam lift setelah dia tadi berjalan cepat untuk bisa masuk lift. Tapi tibat-tiba lift di tahan oleh seseorang, ternyata itu adalah Alena. Beruntungnya Simon makai kacamata dan juga masker lupa dia lepas. Jadinya Alena tidak mengenalinya.


Ada rasa deg-degan juga pada Simon, namun tiba-tiba rasa benci muncul di hatinya. Mengingat dia di campakkan ketika Alena menjenguknya di rumah sakit dalam keadaan yang tidak stabil mentalnya.


"Ehem!"


Simon berdehem, membuat Alena menoleh ke belakang lalu tidak mempedulikannya. Tapi dalam benak Alena, apakah dia adalah direktur baru Symonesta Stars?


Alena menoleh lagi lalu menatap Simon dan tersenyum ramah.


"Emm, maaf apakah bapak adalah direktur baru di Symonesta Stars?" tanya Alena ragu.


"Hemm." jawab Simon dengan deheman saja.


"Oh, kenalkan pak. Saya Alena, model di agensi Symonesta Stars yang sudah dua tahun di bawah kepemimpinan mbak Anindya." kata Alena masih bersikap ramah.


"Oh ya, saya tahu." jawab Simon lagi masih bersikap dingin pada Alena.


Alena diam, dia seperti mengenal suara laki-laki di sampingnya itu. Dan tak lama, pintu lift terbuka, Simon keluar dari dalam lift tanpa memandang Alena. Sedangkan Alena melanjutkan ke lantai tujuh untuk sesi pemotretan seperti biasa.


_


Di dalam kantor Simon, dia diam. Memikirkan berbedanya Alena yang dulu dan sekarang, tapi tetap sifat angkuhnya masih sama. Dia heran sendiri kenapa dulu bisa suka sama Alena. Kenapa dulu dia sangat mencintai Alena, hingga dengan sangat rela hampir memberikan sebuah perusahaan besar yang dia buat untuk Alena.


Jika Alena tahu, sudah di pastikan Alena sekarang lebih angkuh lagi kalau tahu Simon memberikannya sebuah agensi besar seperti Symonesta Stars. Jika dulu Alena tahu dan mau dengannya sudah di pastikan agensi Symonesta Stars milik Alena, bahkan mungkin bukan Symonesta namanya.


Dulu Simon malah memberinya nama agensimya dengan nama Alenia studios. Dan karena Alena tidak mau bahkan menghina dan meninggalkan Simon, maka agensi itu di ganti dengan nama Symonesta Stars.


Tok tok tok

__ADS_1


Pintu di ketuk dari luar, Simon tersdara dari lamunannya tentang masa lalu dengan Alena.


"Masuk."


Pintu terbuka dan Anindya masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Simon memperhatikan berkas yang di bawa Anindya.


Anindya duduk di depan Simon lalu menyerahkan berkas di tangannya.


"Ini sebagian kerja sama dengan sebuah perusahaan atau toko yang bekerja sama bulan lalu, kamu boleh periksa. Dan ada map gaji para karyawan dan staf, serta kru sutradara dan juga krunya. Fotografer dan krunya juga. Di bawahnya itu gaji para karyawan di sini." kata Anindya.


"Hemm, jadi aku harus tanda tangan saja?" tanya Simon.


"Ya, nanti selanjutnya semua laporan masuk ke meja kerjamu semua." kata Anindya lagi.


"Baiklah, semua berkat kamu agensi ini jadi lebih maju. Tapi kenapa kamu harus keluar dari agensi ini?" tanya Simon.


"Emm, ngga apa-apa. Aku ingin santai di rumah, menjalankan hobiku menanam bunga di kebun dan mengembangkannya jadi usaha." jawab Anindya.


"Bukannya kamu sedang di dekati oleh pengusaha tambang minyak?" tanya Simon.


"Hemm, baiklah itu terserah kamu."


"Oh ya, bagaimana dengan Raya? Mau sampai kapan dia cuti terus?"


"Biarkan saja dia, di rumah juga dia tetap mengajakku ribut. Mungkin lebih baik aku seperti dulu."


"Hei, jangan seperti itu. Dia adikmu, dia sangat sayang sama kamu. Biarkan dia masuk lagi, lagi pula setelah urusan dengan Alena selesai kurasa Thomas akan menikahinya dan membawanya pergi. Apa kamu tidak kasihan dia selalu cerita padaku tentang kamu yang tidak juga mencabut masa cutinya." kata Anindya.


"Ya nanti aku cabut, saat ini aku mau dia tidak merecoki urusanku. Aku akan buktikan kalau aku benar-benar akan menendang Alena dari agensi ini."


"Aku pikir ucapanmu itu hanya main-main dengan membuat cuti Raya, hahah! Tapi ternyata kamu serius, Alisa sampai heran kalian seperti itu." ucap Anindya.


"Tidak Nin, aku memang ingin membereskan sendiri masalah Alena. Jangan di kira aku lumpuh dan di rumah saja, tidak tahu perkembangan informasi yang ada di agensi ini?"


"Ya, kamu sendiri punya mata-mata?"

__ADS_1


"Aku tidak bodoh, ya sudahlah jangan di bahas. Dalam sebulan pasti aku bereskan masalah ini. Dan model yang mengikuti jejak Alena juga akan aku depak juga." kata Simon.


"Ada berapa model yang mengikuti Alena?"


"Ada lima orang, salah satu ada yang bergerak sendiri. Dia mencari mangsa sendiri tanpa harus setor uang pada Alena." kata Simon.


"Oh, jadi begitu. Makanya, aku tidak mau Raya merecoki urusanku. Lagi pula dia memang bagus sudah menghandle tim cyber dengan cepat masalah Alisa itu. Jadi rekaman video itu sudah ada di tanganku juga, dan saat masih ada Alena di sana serta memberinya obat itu ada semua sama aku." kata Simon.


"Jadi kamu sudah tahu rencana Alena itu." tanya Anindya penasaran.


Ternyata Simon tahu semua, dia tidak menyangka. Laki-laki yang terlihat lemah itu ternyata mempunyai segudang informasi yang tidak di ketahui olehnya dan Raya.


"Tidak, aku tidak tahu rencana Alena menjual Alisa pada pengusaha Darius. Saat itu hanya anak buahku yang selalu mengawasi Alena dari dia keluar rumah pagi hari sampai malam hari dia kemana pun." jawab Simon dengan santai.


"Waah, kamu benar-benar menakjubkan. Aku pikir kamu masih memikirkan Alena, makanya aku dan Raya khawatir kamu masih punya perasaan sama Alena. Dia perempuan licik dan penuh dendam sama Alisa. Kasihan Alisa, Raya bilang Alisa selalu di buli ketika di kampusnya. Juga di rumahnya, ibunya juga tidak mempedulikan Alisa. Kurasa Raya tepat membawa Alisa ke agensi ini." ucap Anindya.


"Ya, benar. Dengan berpura-pura jadi manajernya. Tapi memang dia benar-benar menikmati jadi manajer Alisa."


"Ya, ya sudah. Aku keluar dulu, masih ada pekerjaan lain yang harus aku kerjakan."


"Hemm, ya."


Anindya pun keluar dari ruangan Simon, sementara Simon masih memikirkan bagaimana mencari tahu tentang Jason, teman Alena yang membantunya mencari laki-laki sebagai langganannya juga model lain. Karena, Jason ikut berperan juga dalam skandal tersebut.


_


_



Promo novel bagus, cuus yang penasaran dengan ceritanya..😉😊


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2