Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
26. Syuting Dengan Alena


__ADS_3

Saat ini Rendar berada di kantor pabriknya, dia di beritahu oleh anak buahnya kalau dirinya di laporkan atas kejadian pembakaran sepuluh tahun lalu oleh keponakannya sendiri.


"Apa yang kamu katakan?" tanya tuan Rendra.


"Benar tuan, saya mendengar bahwa tuan akan di laporkan oleh tuan Richard ke kepolisan atas tindakan kriminal sepuluh tahun lalu mengenai kebakaran itu." kata anak buah Rendra yang bekerja di perusahaan Richard untuk jadi mata-matanya.


"Kurang ajar! Kenapa anak sialan itu mau melaporkanku?" tanya tuan Rendra.


"Katanya tuan telah sengaja membakar pabrik milik tuan Darwin waktu itu, juga membakar tuan Darwin dan juga istrinya." ucapnya lagi.


Brak!


Meja itu di pukul oleh tuan Rendra, dia marah sekali. Kenapa peristiwa itu di ungkit lagi? Bukankah dia sudah menutup mulut setiap yang terlibat pada kejadian itu? Siapa yang membocorkannya?


"Siapa yang berhianat pada saya?!" tanya tuan Rendra dengan mata melotot pada anak buahnya.


"Saya tidak tahu tuan, sepertinya tuan Richard menemukan saksi kunci waktu itu. Mungkin dia yang melihat anda membawa dirigen berisi bensin tuan atau anda masuk ke dalam pabrik membawa api." kata anak buahnya lagi.


"Siapa dia? Aku tidak tahu waktu itu ada orang yang melihatku." kata tuan Rendra lagi.


"Saya tidak tahu tuan, tuan Richard sepertinya menyembunyikan identitas orang itu."


"Cari tahu siapa orang itu, jika dia adalah anak buahku yang berhianat. Sudah saya pastikan keluarganya akan aku ancam sampai aku bunuh." ucap tuan Rendra dengan tegas.


Wajahnya merah padam, sudah hampir sebelas tahun peristiwa itu tidak di ungkit-ungkit oleh siapa pun. Kini keponakannya sendiri yang mengangkat ke permukaan dan akan masuk ke laporan kepolisian. Jika barang bukti dan juga saksi ada, maka tuan Rendra akan terjerat hukum. Dia tidak mau harus masuk penjara. Sudah mati-matian dia menyogok oknum kepolisian untuk menutup peristiwa itu dan menetapkan bahwa kebakaran pabrik itu hanya kesalahan dari konsleting listrik saja.


Tapi sekarang, di buka. Ternyata Richard berani berperang dengannya secara terang-terangan.


"Baiklah Richard, kamu mau melawanku? Tunggu saja, aku akan mencari tahu siapa saja saksi-saksi yang mengetahuiku saat itu." gumam tuan Rendra.


_


"Ya, kita siap ya Alisa." kata sutradara yang mengarahkan Alisa untuk bersiap.


"Oke bang." jawab Alisa.


Lalu Alisa berpose sesuai arahan fotografer, berganti pose dan juga gaya. Beberapa gaya di perbaiki oleh fotografer, Alisa mengikuti dengan tenang.


Fotografer mengacungkan jempol jika Alisa sesuai arahannya, dan beberapa jepretan mengenai Alisa.


Sekarang kini ganti baju, beberapa produk iklan untuk sebuah majalah atau toko online shop meminta jasa Alisa memakai baju-baju garapannya.


Alisa sangat profesional, dia kembali bersiap untuk pemotretan lagi. Satu jam kemudian dia akan melakukan syuting iklan di televisi, yaitu iklan mie instan.

__ADS_1


Gaya Alisa untuk syuting iklan selalu alami dan tanpa di buat-buat, mungkin karena dia melakukannya dengan hati dan sesuai instingnya.


Satu jam Alisa melakukan syuting, setelah selesai dia pun beristirahat. Alisa duduk di kursi dengan Raya yang sejak tadi menunggunya.


"Lo di jemput sama Richard ngga?" tanya Raya memberikan air mineral pada Alisa.


Alisa mengambil air mineral dari tangan Raya dan menenggaknya sampai habis setengahnya. Ternyata dia sangat kehausan.


"Ngga tahu, biasanya dia langsung datang aja kalau jemput tanpa kasih kabar sama aku." jawab Alisa.


"Emmm."


"Memang kenapa?" tanya Alisa heran.


"Ngga, rencananya aku ingin ngajak kamu ke rumahku. Tapi nanti ajalah, mungkin minggu depan." kata Raya.


Tak lama, seorang perempuan dengan langkah elegan seperti berjalan di catwalk mendekat pada Raya dan Alisa.


Ya, dia adalah pemilik agensi yang menaungi Alisa sebagai model. Dia juga model senior, namanya Anindya, kadang dia juga sering melakukan pemotretan dengan juniornya.


"Halo Alisa." sapa Anindya.


"Halo juga kak Anin, ada keperluan apa?" tanya Alisa sopan.


"Aku mau memasangkan kamu dengan kembaranmu di sebuah iklan kosmetik." kata Anindya.


Alisa dan Raya terkejut. Mereka tidak percaya Alena bisa masuk ke agensi milik Anindya.


"Alena?" tanya Raya.


"Iya, dia masuk ke agensiku bulan lalu. Apa kalian tidak dengar?" tanya Anindya pada Alisa dan Raya.


"Tidak kak, kami fokus dengan pekerjaan kami aja." jawab Alisa.


"Emm, itu bagus. Kalian profesional menjalankan pekerjaan kalian, jadi minggu depan Alisa dan Alena akan syuting bareng ya." kata Anindya.


"Iya kak." jawab Alisa lirih.


"Ya udah, kamu siap-siap minggu depan akan ada syuting dengan Alena." jata Anindya.


Setelah berkata seperti itu, Anindya pergi meninggalkan Alisa dan Raya yang masih terkejut kenapa Alena bisa masuk ke agensi model milik Anindya.


Lagi pula, kenapa juga Anindya sendiri yang mengatakan pada Alisa. Bukankah biasanya Icha yang memberitahu kalau akan berkolaborasi dengan model lain atau artis lain.

__ADS_1


"Alisa, menurutmu ada yang aneh tidak?" tanya Raya pada Alisa.


"Aku tidak tahu, sejujurnya sebenarnya aku senang bisa bekerja sama dengan Alena. Tapi aku merasa enggan jika harus bersama dia, entah bagaimana nanti jika syuting iklan itu." kata Alisa menghela nafas panjang.


Dia sangat menderita sejak ayahnya meninggal karena Alena terus saja menindasnya sampai dia belum bekerja sebagai model.


"Kamu tahu, dulu Alena meminta padaku untuk masuk ke agensi ini. Tapi aku menolaknya, kupikir dia menyerah. Ternyata dia bisa masuk juga, karena aku tahu masuk ke agensi ini sangat sulit." kata Raya.


"Mau bagaimana lagi, aku harus menerimanya. Jika pun dia tidak mau, tentu akan ada denda kan?" kata Alisa lagi.


"Ya, kita akan membayar dendanya." jawab Raya.


Mereka masih berpikir bagaimana Alena bisa masuk ke agensi ini, sedangkan mereka tahu. Untuk seleksi masuk ke agensi ini adalah seleksi dan casting yang cukup ketat. Alisa mendaftarkan casting juga lomba model memang Alisa berbakat dengan model.


_


Satu minggu pun tiba, kini Alisa bersiap untuk syuting iklan kosmetik dari produk ternama. Alisa hanya menerima apa yang di berikan oleh agensi, sedangkan Alena sepertinya juga siap untuk bersaing dengan Alisa.


Dia berpikir inilah kesempatan untuk menjadi model terkenal, tak mengapa harus di pasangkan dengan adik kembarnya.


Alisa dan Alena sudah tiba di lokasi syuting, mereka berdua seperti bukan kakak beradik yang saling akrab. Tapi Alisa berusaha menyapa Alena, untuk menutupi kerengganan dan permasalahan di antara mereka. Tapi Alena selalu menghindar terus, Raya pun sangat kesal dengan Alena.


"Baiklah modelku, sekarang kita akan take beberapa sine ya. Jadi bantu saya untuk mempermudah pengambilan sine ini dan jangan sampai terlihat kalian tidak akrab. Kalian ini kembar, jadi tunjukkan bahwa kalian sangat dekat satu sama lain." kata sang sutradara.


"Baik bang." jawab Alisa dan Alena.


"Untuk mempermudah, kalian baca skrip dulu selama setengah jam. Lalu kita siap mengambil gambar kalian ya." kata sutradara.


"Baik bang." jawab Alisa dan Alena.


Kini Alisa dan Alena membaca skrip terlebih dahulu, mereka juga berdiskusi. Seolah keduanya tidak ada masalah.


Bagi Alena, syuting ini adalah awal karirnya. Biarpun dia harus banyak bicara atau diskusi dengan Alisa.


Dan Alisa sendiri dia bersikap profesional, bekerja sama dengan Alena karena pekerjaan. Dia juga menjaga image di mata sutradara juga para kru.


_


_


_


\=> jangan lupa like dan komen ya..😊😊

__ADS_1


__ADS_2