Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
33. Alisa Menjadi Saksi


__ADS_3

Sidang tuan Rendra di adakan minggu depan, ternyata Richard lebih cepat tanggap ketika Jo mengatakan kalau pamannya mempunyai koneksi di kepolisian. Richard lebih sigap bertindak agar pamannya itu tidak bisa bermain curang di kepolisian.


Semua bukti dia serahkan pada pengacaranya yang handal itu. Jadi dia tinggal menunggu bagaimana kelanjutan kasus yang dia laporkan di kepolisian, dan ternyata sudah masuk ke pengadilan berkat pengacaranya pak Rudi.


Kini Richard tinggal mengumpulkan saksi yang di minta pengadilan setelah nanti kasusnya di gelar minggu depan. Dia juga meminta Alisa untuk jadi saksi di persidangan pada sidang berikutnya nanti setelah sidang pertama di selenggarakan.


"Aku jadi saksi di pengadilan?" tanya Alisa ketika mereka sedang makan malam di restoran langganan Richard.


"Ya, kamu siapkan?" tanya Ruchard menyuapkan makanan ke dalam mulut Alisa.


Alisa membuka mulutnya dan mengunyah makananya. Dia tampak berpikir kemudian dia mengangguk pasti.


"Oke, kapan aku akan di panggil jadi saksi?" tanya Alisa yang membalas menyuapi Richard ke dalam mulut kekasihnya itu.


"Nanti pengadilan akan melayangkan surat pemanggilan sebelum sidang untukmu. Kamu tegang?" tanya Richard.


"Emm, ngga. Aku senang bisa membantumu dalam mengungkap kebenaran yang lama terkubur itu." jawab Alisa sambil tersenyum.


Dia mengelap mulutnya dengan slampe di sebelah kiri tangannya.


"Aku udah kenyang makannya." ucap Alisa.


"Ya udah kita keluar dari restoran ini, aku ingin jalan-jalan denganmu di taman seperti biasa. Ini kan malam Minggu, pasti ramai di taman." kata Richard yang bersiap bangkit dari duduknya dan menggandeng tanga Alisa.


Mereka pun langsung pergi dan Richard membayar bill yang tadi di berikan oleh pelayan. Setelah membayar bill, mereka langsung keluar dan masuk ke dalam mobil untuk pergi ke taman sesuai tujuan.


Di dalam perjalanan, ternyata Alisa mengantuk. Dia memejamkan matanya tanpa Richard tahu, dia terus saja bercerita tentang kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Dia merasa aneh, Alisa tidak menanggapi. Akhirnya Richard menoleh dan menatap Alisa yang terpejam matanya.


"Alisa?"


Tidak ada sahutan, Richard pun tersenyum dia melajukan mobilnya dengan pelan agar Alisa tidak terganggu. Dia tahu Alisa kelelahan, hingga dia berinisiatif lebih baik pulang ke rumah Alisa, mengantarnya pulang seperti biasa.


Sampai di depan gerbang rumah Alisa, Richard tidak berani membangunkan Alisa. Dia diam saja sambil memperhatikan kekasihnya yang masih terpejam. Lama Richard menunggu Alisa bangun, hingga kepala Alisa miring dan tangan Richard menjadi penyangganya agar tidak jatuh dan kaget karena kaget.


Tak lama Alisa membuka matanya, diam menatap Richard yang begitu dekat dan tersenyum padanya.


"Lelah ya?" tanya Richard menarik tangannya yang terasa kebas.


"Oh, aku dari tadi tidurnya ya? Maaf ya, tangan kamu jadi kram." kata Alisa memegang tangan Richard yang kebas.

__ADS_1


"Jangan di pegang, nambah geli karena kram." kata Richard mengibaskan tangannya.


"Alisa tersenyum, sifat jahilnya keluar. Dia menarik tangan Richard yang kram dan menekannya. Hingga Richard merintih karena geli dan sakit.


"Sayaang, kenapa di tarik dan di tekan?" tanya Richard meringis.


"Hehe, maaf ya. Yuk kita keluar, pasti di taman ramai banget deh." ucap Alisa belum sadar kalau sekarang sedang berada di depan rumahnya.


"Mau kemana?" tanya Richard dengan senyum mengembangnya.


"Kan kita di taman, dan mau jalan-jalan di taman kan?" tanya Alisa masih belum sadar.


"Coba lihat ke samping, itu rumah kamu."


Alisa pun melihat ke samping kanannya, dia melihat rumah besar tidak asing baginya. Dan matanya membelalak, lalu menoleh ke arah Richard.


"Kamu mnegantarku pulang? Katanya mau ke taman?"


"Nanti lagi, kamu kelihatannya sangat lelah. Jadi nanti lagi kalau aku jemput kamu lagi ya?"


"Yaah, padahal aku juga ingin ke taman itu." ucap Alisa kecewa.


"Sudah sana masuk, aku juga butuh istirahat. Kamu harus cepat istirahat ya, jangan melihat berita di ponsel." kata Richard mengingatkan Alisa.


Richard tersenyum lucu, lalu mengangguk dan mengecup kening Alisa. Kemudian Alisa keluar dari mobil Richard dan melambaikan tangannya, setelah itu dia masuk ke dalam rumahntya yang tampak sepi namun masih menyala lampunya.


Kemudian Richard menjalankan mesin mobilnya dan melaju dengan cepat. Dia juga harus istirahat karena tubuhnya sangat lelah sekali malam ini.


_


Persidangan pun di mulai jam sepuluh pagi, dua hari sebelum sidang Alisa di kirimi surat untuk hadir sebagai saksi Richard dalam kasus kebakaran sepuluh tahun silam


Tentu saja wartawan jadi heboh dengan Alisa yang masuk ke pengadilan, dan kini wartawan sudah berkumpul di pengadilan untuk mencari tahu kenapa Alisa ke pengadilan dan beritanya jadi saksi seorang pengusaha.


Alisa sudah berada di ruang sidang, dia berdiri dengan tegap. Menatap Richard dan tuan Rendra secara bergantian. Richard memgangguk untuk meyakinkan Alisa bahwa dia harus bicara sesuai yang dia lihat.


Ketika melihat tuan Rendra, Alisa diam. Tatapannya juga sedikit marah karena dia mengingat peristiwa itu. Tuan Rendra sendiri heran, siapa gadis cantik yang sedang berdiri di depan menjadi saksi Richard.


Sekarang jaksa penuntut sedang menangakan Alisa tentang kebakaran itu. Pengacara tuan Rendra sepertinya keberatan jika kliennya di sudutkan sebagai dalang kebakaran pabrik tersebut.

__ADS_1


"Maaf tuan, saya akan cerita kenapa saya bisa taju? Karean memang saat itu tuan Rendra membawa dirigen masuk ke dalam pabrik dari pintu belakang, dan dia juga menggunakan sarung tangan rajut yang tadi di tunjukkan. Saya tahu wajahnya juga tangannya yang terbakar dan selalu mengibaskan tangannya karena api mengenai tangannya.


Waktu itu saya berusaha menolongnya juga untuk memadamkan api, tapi dia malah mendorongku ke dalam api yang sedang berkobar di jendela kayu. Tepat mengenai wajah saya sebelah kanan dan akhirnya cacat saat itu." kata Alisa.


"Jadi wajah anda juga ikut terbakar?" tanya pengacara Richard.


"Iya. Wajah saya sejak terkena kebakaran itu memang cacat, dan sekarang lebih baik karena banyak sekali kosmetik untuk merawat wajah saya." ucap Alisa lagi.


Richard yang mendengar penuturan Alisa seperti itu rahangnya mengeras, jadi pamannya juga telah mencelakakan Alisa juga?


"Itu bohong yang mulia, dia mengada-ada cerita saat itu." teriak Rendra menyangkal ucapan Alisa.


"Tapi tangan anda juga terkena api saat itu tuan karena bensin yang menempel di sarung tangan itu." jawab Alisa.


Lalu pengacara mendekat pada Richard dan Richard pun berbisik. Lalu pengacara tersebut pun mengeluarkan korek api dan lilin, dia menyalakannya di mejanya. Tampak jelas wajah Rendra tegang, dia mencoba berusaha menutupi kecemasannya ketika melihat api dengan membuang muka ke samping.


Pengacara tersebut pun mendekat pada Rendra, dan Rendra pun semakin panik. Wajahnya semakin tegang dia bersiap untuk meninggalkan tempatnya berdiri.


Pengacara berhenti tepat di depan meja pesakitan Rendra, dia memperhatikan tangan Rendra yang mulai bergerak.


"Yang mulia, terlihat jelas tuan Rendra itu sedang mengalami trauma api, jelasnya dia sedang ketakutan dan cemas melihat api ini. Itu membuktikan bahwa trauma yang di alami tuan Rendra, karena dia memang tangannya terkena api yang dia sulutkan di pabrik itu. Saya bisa panggil saksi ahli yaitu dokter psikologi untuk mengecek keadaan tuan Rendra.


"Ya silakan."


Lalu saksi ahli di suruh masuk, dia adalah dokter ahli psikologi yang pernah menangani Richard paska trauma juga dengan meninggalnya kedua orang tuanya karena kebakaran itu. Dan Rendra semakin panik, dia menatap dokter yang dia kenal sebelumnya.


"Dokter Ansel, anda jadi saksi ahli Richard?" tanya Rendra menutupi kegugupannya.


"Ya, saya hanya mengecek keadaan anda saja tuan Rendra." jawab dokter Ansel.


Pengacara mendekat dengan dokter Ansel, mereka bekerja sama untuk melihat Rendra yang semakin panik melihat lilin api.


"Ya, tuan Rendra ini sedang mengalami trauma jika melihat api. Dia terguncang dan rasa cemas dengan di tandai tangannya selalu bergerak, jika di dekatkan maka tangannya semakin bergerak cepat karena dia mengingat kejadian itu. Masa trauma tuan Redra sangat dalam, sehingga dia tidak bisa melihat api sebentar saja. Semakin dekat api padanya tuan Rendra akan semakin panik dan menjerit juga." ucap dokter Ansel.


Persidangan pun heboh dengan cara pengacara mengetes apakah benar Rendra sesang trauma, dan benar saja. Tuan Rendra semakin panik dan tangannya bergerak cepat, lalu berteriak untuk menyingkirkan api yang berada di depannya.


_


_

__ADS_1


_


\=> jangan lupa like and komen ya..😚😊


__ADS_2