
Alisa dan ibu Rosi kembali saling berpelukan, ada rasa haru di hati Alisa ketika ibunya memeluknya. Sudah lama sekali sejak dia di tinggal oleh ayahnya, ibu Rosi tidak pernah memeluk Alisa.
Hati seorang ibu sebenarnya sangat mencintai dan menyayangi anaknya, tapi mungkin kebutaannya pada satu anak sehingga anak yang lain terabaikan. Seperti Alisa, yang mampu berdiri sendiri tanpa bantuan dari ibunya. Dia gadis kuat dan bermental baja, meski beberapa kali di perdaya oleh Alena.
Mungkin karena Alisa gadis yang baik, sehingga banyak sekali yang menyayangi dan melindunginya. Meski kedua orang terdekatnya sendiri membencinya.
Dan sekarang, dia merasakan kembali pelukan hangat dari ibu Rosi, hingga tak terasa air matanya mengalir deras. Rasa nyaman pada hati Alisa ketika ibunya memeluknya erat.
Ibu Rosi melepas pelukannya, dia seolah tahu kenapa Alisa menangis terisak.
"Maafkan mama, nak. Mama baru memelukmu lagi. Mungkin sudah banyak penderitaanmu sejak papamu meninggal, bahkan mama selalu mengabaikanmu. Kamu itu putriku yang sangat baik, tapi kenapa maka melupakan itu. Hik hik hik." ucap ibu Rosi ikut menangis dan menyesal akan masa lalunya mengacuhkan Alisa.
"Terima kasih mama sudah mau memelukku, aku memang ingin sekali di peluk mama. Rasanya hilang semua ketika mama sudah di butakan oleh Alena. Pura-pura tegar di hadapan mama dan Alena adalah caraku untuk tetap kuat ma. Mama sekarang sudah kembali seperti dulu, terima kasih ma. Hik hik hik."
Kini keduanya pun kembali berpelukan dengan deraian air mata. Menangis haru, dan mungkin banyak hikmahnya ketika Alena di tangkap dan di masukkan ke dalam sel tahanan.
Sedangkan dari jauh, Richard melihat kedua anak dan ibu berpelukan dan menangis haru merasa lega. Akhirnya Alisa di rangkul kembali oleh ibunya. Sering dia mendengar cerita Alisa tentang kerinduannya di peluk oleh ibunya, walau dulu dia pernah bersikap kasar padanya ibu Rosi. Tapi dalam hatinya sangat menyayangi ibunya itu.
Richard tersenyum bahagia, melihat kekasihnya itu bahagia telah menemukan kasih sayang dari ibu Rosi. Walaupun harus ada korban dan kejadian yang tidak mengenakan, tapi itu adalah pelajaran bagi calon mertuanya.
"Syukurlah Alisa, kamu menemukan kasih sayang mamamu. Aku turut bahagia melihatmu bahagia. Dan minggu depan aku akan melamarmu pada ibumu." gumam Richard.
Dia lalu kembali di ruang tamu, menelepon Jo asistennya untuk mengetahui perkembangan di perusahaannya.
"Halo Jo, bagaimana di kantor?"
"Tidak ada masalah tuan."
"Begitu ya. Satu jam lagi aku akan datang ke kantor, siapkan di meja semua berkas yang harus aku tanda tangani." kata Richard.
"Baik tuan, semua sudah saya bereskan. Tinggal laporan dari bagian administrasi saja yang belum di serahkan dokumennya."
__ADS_1
"Ya, ngga apa-apa. Kalau begitu aku tutup teleponnya, satu jam lagi aku ke kantor."
"Baik tuan."
Klik
_
Kini ibu Rosi berada di lapas penjara wanita. Dia mengunjungi Alena.
Satu bulan sudah Alena di penjara, baru kali ini ibu Rosi menjenguk anaknya. Karena sewaktu sidang keputusan hukuman bagi Alena, ibu Rosi juga tidak hadir. Entahlah, dia enggan menghadiri atau karena malu dengan perbuatan anaknya itu.
Tak lama, Alena keluar. Dia menatap ibunya dari jauh, membuang nafas kasar. Dia kesal, kenapa ibunya itu tidak pernah berkunjung. Tapi sekarang malah baru mengunjunginya, senyum sinis tersungging di bibir Alena lalu dia mendekat pada ibunya itu.
"Ehem!"
Alena berdehem, lalu duduk. Ibu Rosi mendongak dan tersenyum pada anaknya itu. Dia melihat Alena membuang muka dan kesal padanya.
"Untuk apa mama datang mengunjungiku?!"
"Mama ingin bertemu dengan anak mama yang cantik." ucap ibu Rosi dengan tenang.
"Heh! Anak mama sudah hidup di neraka, buat apa mama berkunjung?"
"Alena, bersikap tenanglah. Kamu harus menerima semuanya. Mama sudah memperingatkanmu, tapi kamu seolah tidak peduli ucapan mama." kata Ibu Rosi.
Alena menatap ibunya tajam, rasa kesal dan marah bercampur terlihat di matanya. Meski dia kecewa kenapa ibunya itu baru menjenguknya di penjara setelah satu bulan ini.
"Apa mama masih mempunyai anak sepertiku? Mama malu kan aku yang seperti ini? Di penjara dan jadi pesakitan di balik jeruji besi yang dingin dan pengap." ucap Alena tapi tidak angkuh seperti tadi.
"Mama hanya mau kamu sadar, bahwa perbuatanmu itu salah. Banyak sekali merugikan orang lain, dan kamu? Kamu telah merugikan banyak sekali adikmu. Kamu saudara seperti apa? Mama juga marah sama kamu, setelah tahu kalau kamu mau menjual adikmu pada laki-laki hidung belang. Tapi sudahlah, kamu sudah mendapatkan ganjarannya. Semoga kamu sadar Alena, dan maaf mama baru mengunjungimu." kata ibu Rosi lagi dengan lirih.
__ADS_1
"Mama sepertinya mendapat pengakuan dari Alisa, dan mama juga sepertinya mulai menyayangi gadis sialan itu."
"Cukup Alena! Dia adikmu, dan dia juga anakku!" teriak ibu Rosi.
Membuat orang-orang di sana memperhatikan dengan aneh.
Sedangkan Alena tampak terkejut dengan teriakan ibunya itu dengan marah. Baru kali ini dia di bentak dengan tatapan tegas, biasanya dia yang membentak ibunya dan selalu marah jika ibunya membela Alisa.
Terkadang Alena merasa sangat iri sekali pada adiknya, sejak pemberian gelang dari papanya sebelum meninggal. Tapi entah apa yang membuat Alena iri pada Alisa? Dia sendiri tidak tahu, dan sejak itu Alena semakin semena-mena pada adiknya. Di tambah lagi ibunya yang selalu membelanya bahkan tidak jarang ibunya ikut memarahi Alisa.
Jadilah selama bertahun-tahun dia dan ibunya bagai ibu tiri dan kakak tiri, seperti kisah bawang merah dan bawang putih. Sejak itu Alena yang berperan sebagai bawang merah selalu menindas Alisa seperti bawang putih yang kalem, tertindas dan selalu mengalah.
Kini Alena merenung, memang apa yang dia lakuian itu salah. Dia terunduk, menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
Ibu Rosi masih menatapnya dengan kesal, namun perubahan wajah Alena yang biasa saja membuat ibu Rosi lega. Setidaknya dia melihat anaknya itu tidak seangkuh tadi.
Lama mereka berbincang, memberikan nasehat-nasehat pada Alena. Sedangkan Alena diam saja tapi menanggapi apapun ucapan ibunya.
"Mama harap kamu berubah jadi lebih baik, sayang. Mama yakin, setelah kamu keluar dari penjara orang-orang akan menerimamu dengan baik. Dengan catatan kamu harus berubah dan menyesali perbuatanmu itu." kata ibu Rosi.
Alena masih diam, tapi dia tidak menentang ucapan ibunya itu.
Setelah berkata seperti itu, ibu Rosi pun pamit pulang. Dia membawakan selimut dan juga bantal untuk Alena serta beberapa makanan ringan serta buku agar Alena tidak merasa bosan.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤
__ADS_1