
Mendengar Simon tidak mau terapi kakinya yang tidak bisa berjalan, bukan lumpuh. Hanya belum bisa berjalan, Raya bertanya pada mamanya kenapa Simon seperti orang putus asa.
"Alena mencampakkannya, Raya. Mama ngga tahu membujuk kakakmu agar mau terapi." kata ibu Ana, mamanya Raya dan Simon.
"Biar nanti Raya yang membujuknya ma." kata Raya.
"Mama ngga bisa lama-lama di sini, mama harus ke Kalimantan. Kasihan papamu, kamu jaga kakakmu ya. Jangan sampai dia putus asa seperti itu." kata ibu Ana lagi.
"Iya ma, mama tenang aja. Nanti Raya akan memberi semangat pada kao Simon. Lagi pulan, proyeknya itu harus di tuntaskan." ucap Raya.
"Ya sudah, mama mau istirahat dulu. Sore ini harus berangkat ke bandara."
Ibu Ana pun meninggalkan Raya masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Raya mencoba masuk ke dalam kamar Simon dan bertanya tentang apa yang di alaminya.
Raya menarik handle pintu dan langsung masuk ke dalam kamar Simon, dia sudah biasa masuk kamar Simon tanpa mengetuk pintu. Dan pintu kamar Simon tidak pernah di kunci.
Raya mendekat pada kakaknya yang sedang duduk di kursi di balkon sambil memandang ke arah langit, dan sesekali melihat di bawah. Dengusan nafas Simon terdengar oleh Raya..Dia tahu Simon sedang marah dengan keadaannya sendiri.
Dia mendekati Simon dengan pelan, agar kakaknya tidak kaget. Lalu berdiri di belakang kursi rodan yang di duduki Simon.
"Kamu mau apa" tanya Simon yang ternyata sudah tahu kalau Raya masuk ke dalam kamarnya.
"Aku mau tanya tentang proyek rumah produksi itu, proyek itu sudah berjalan dan sudah di resmikan oleh kak Anindya. Bukankah kakak menyerahkan rumah produksi itu pada kak Anindya." tanya Raya.
"Ya, terserah dia mau di bawa kemana dan mau di apakan. Jika bangkrut juga tidak masalah." jawab Simon datar dan dingin.
"Biar aku dan kak Anindya yang mengurusnya, kakak hanya atas nama kepemilikan rumah produksi saja dan menyokong dananya juga. Banyak sekali calon model dan calon artis yang di rekrut di rumah produksi itu. Tapi, kakak harus mau terapi ya?" kata Raya.
"Kakak tidak perlu melakukan terapi Raya, tidak ada yang suka dengan kakak. Buat apa?"
"Jangan putus asa seperti itu, kakak itu tampan juga kaya. Pasti banyak juga yang suka sama kakak."
"Tapi Alena tidak suka laki-laki cacat, Raya. Dia tidak mau laki-laki cacat sepertiku. Biar pun tampan dan banyak uang, buat apa?"
__ADS_1
"Kak, gadis itu bukan hanya Alena. Masih banyak kok yang lain. Atau kakak bisa cari gadis yang daftar jadi model di sana, banyak kak." ucap Raya.
"Sudahlah Raya, kakak tidak mau bicarakan itu lagi. Bagi kakak semuanya sama, tidak ada yang tulus mencintai kakak. Biarkan kakak seperti ini, kamu tidak usah repot-repot membujuk kakak untuk terapi. Terapi tidak ada gunanya, jika kamu ingin kakak terapi terus kamu tidak usah masuk ke dalam kamar kakak lagi."
"Kak Simon?"
"Cukup Raya, kamu boleh keluar dari kamar kakak." Simon memutarkan kursi rodanya menuju ranjangnya.
Dia tidak mau Raya terus membujuknya, hatinya sudah beku. Dia memang tidak akan berharap apa pun pada siapa pun. Saat ini Simon hanya ingin menyendiri. Dan Raya pun hanya bisa melihat kakaknya yang pergi menuju ranjangnya untuk tidur.
Raya melihat Simon agak susah naik ke atas ranjang, buru-buru Raya mendekat. Namun Simon mencegah Raya dengan menahan tangannya pada Raya. Lalu dengan usaha yang penuh leluatan akhirnya Simon bisa berbaring juga di ranjangnya.
Raya menghela nafas panjang, lalu dia berbalik dan keluar dari kamar kakaknya itu. Rasanya dia gagal hari ini, mungkin Raya akan coba lagi nanti.
_
Kini Raya memasuki kuliah pertama, dia senang bisa masuk kuliah. Mengambil jurusan ekonomi dan teman-temannya juga banyak yang mengambil jurusan ekonomi, hanya saja beda kelas. Selama kuliah, Raya melihat gadis yang berwajah jelek. Dia pemalu, tapi sangat percaya diri. Dia berpikir mencari ilmu tidak harus cantik, katanya.
Raya heran, apa Alisa punya suadara kembar?
Raya pun berteman baik dengan Alisa, memang Alisa orangnya baik terlepas dari wajahnya yang cacat. Raya memperhatikan wajah Alisa yang cacat, jika melakukan perawatan. Maka wajah Alisa akan nampak asli dan cantiknya alami. Meski dia punya saudara kembar, tapi Raya jamin Alisa itu cantik.
Suatu siang, Raya dan Alisa sedang mengobrol dengan asyik. Karena memang teman Alisa hanya Raya saja, yang lain tidak ada yang mau dan hanya bisa mengejek saja.
Tiba-tiba saja Alena datang dan menarik Alisa dengan paksa.
"Alena, ada apa ini?!" teriak Alisa.
Dan Raya kaget, dia menatap keduanya antara Alisa dan Alena. Mirip dan memang mereka cantik, pikir Raya. Dan yang paling mengejutkan adalah Alena.
Raya terus memperhatikan Alena yang membentak Alisa dengan seenaknya saja. Entah apa yang mereka ributkan, tapi Alena lebih berkuasa pada Alisa.
"Awas kamu kalau berani melawanku." ancam Alena pada Alisa.
__ADS_1
Dan Alisa hanya diam saja, dia pun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Lalu mendekat pada Raya.
"Maaf ya, kamu melihat aku seperti ini." kata Alisa.
"Dia saudaramu?" tanya Raya penasaran.
Apakah Alena yang ini? Jika memang Alena yang ini, pantas kakaknya Simon di campakkan. Alena yang sombong dan suka seenaknya.
"Iya, dia kakak kembarku. Seenaknya saja dia seperti itu, tidak peduli dengan situasi, jika marah dia selalu melampiaskan sama aku. Maaf ya, aku jadi cerita sama kamu." kata Alisa.
"Ngga apa-apa, kamu boleh cerita sama aku apa pun. Meskipun yang lain menjauhimu, tapi aku tidak seperti mereka kok Alisa.
"Terima kasih, tapi apakah kamu tidak malu berteman denganku?" tanya Alisa ragu.
"Tidak. Kenapa harus malu, lagi pulan kamu cerdas jadi aku bisa meminta bantuan sama kamu kalau aku kesulitan menyelesaikan tugas dari dosen. Heheh.." kata Raya dengan tawa kecilnya.
Alisa pun ikut tertawa, mereka pun kembali melanjutkan obrolannya. Dan Raya banyak bertanya tentang keluarga Alisa, terutama Alena.
"Ya, dia selalu gonta ganti pansangan. Entah apa maunya dia, mungkin dia mau uangnya saja. Entahlah. Dari SMA banyak yang suka dengan Alena, pernah ada laki-laki yang sangat suka sama dia. Mau memberikan apa saja yang dia mau, tapi setelah dia bosan di putuskannya lagi. Kasihan sebemarnya sama laki-laki yang menyukai Alena, nasibnya selalu sama ketika di putuskan."
"Kamu tahu banyak tenatng Alena.?"
"Aneh kamu itu Raya, dia kan saudaraku. Jadi aku banyak tahu tentangnya. Meski memang aku ngga peduli dia punya pacar sepuluhpun, aku tetap selalu di bawak kuasnya. Apa lagi mamaku selalu membela Alena." ucap Alis.
Raya tertawa kecil, dia akan mencari tahu tentang Alena. Dan nanti akan membalas perbuatan dapa kakaknya itu.
_
_
_
\=> jangan lupa lika and komen yaa...😊
__ADS_1