Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
84. Mangsa Baru


__ADS_3

Semua model yang sudah di targetkan untuk di pecat karena mereka melakukan prostitusi di luar setiap malam. Bukan tanpa alasan di pecat, karena sebelum wartawan mencium berita yang tidak mengenakan, manajemen sudah mendepak mereka lebih dulu. Tinggal Alena sang dalang prostitusi itu berlangsung.


Kini Alena semakin bingung, ternyata banyak sekali yang keluar dari jaringannya untuk mendapatkan keuntungan dari mereka yang mau melakukannya.


Hingga ada pelanggan bertanya pada Alena, di mana gadis-gadis model yang biasa menemani mereka setiap malamnya.


"Mereka pada berhenti tuan, nanti saya carikan lagi ya penggantinya." kata Alena pada pelanggan itu.


"Heh, kamu itu punya jaringan luas pada gadis-gadis itu. Kenapa mereka tidak mau di hubungi dan melakukan malam panjang. Aku lagi suntuk, aku ingin bersenang-senang Alena." kata pelanggan itu.


Alena mendengus kesal, entah kenapa teman-teman modelnya yang biasa meminta pekerjaan padanya semua tidak menjawab panggilan teleponnya, satu pun tidak ada yang menjawab.


"Sial, kenapa mereka tidak mau menjawab panggilan ponselku?!" gerutu Alena.


"Bagaimana Alena? Apa kamu bersedia menghiburku malam ini? Bermalam denganku." kata laki-laki itu dengan senyuman mesumnya.


Alena menatap ngeri pada laki-laki itu, dia bergidikkan pundaknya.


"Maaf tuan, saya tidak bisa." kilah Alena.


Dia malas meladeni laki-laki yang benar-benar mata keranjang.


"Kenapa? Bukankah kamu juga bisa di pakai?" tanya laki-laki itu semakin mendekat duduknya dengan Alena.


Dia mengelus lengan Alena lalu mencium telapak tangan Alena.


"Tidak tuan, saat ini saya sedang datang bulan." kata Alena berbohong.


Padahal dia sangat malas dan merasa jijik sendiri.


"Waah, sayang sekali. Kalau begitu, coba carikan gadis lain jika kamu tidak bisa di pakai."


"Saya sedang menghubungi teman saya tuan, tapi tidak di angkat-angkat juga sejak tadi." ucap Alena dengan kesal.


Kenapa dia jadi tambah kesal pada laki-laki di dekatnya itu. Dia ingin pergi, namun rupanya dia punya rencana lain. Yaitu untuk mengganti teman modelnya dengan mencari pelayan bar tempatnya kini.


"Begini tuan, saya akan cari pengganti lain. Tapi tuan harus sabar ya." kata Alena.

__ADS_1


"Oh, tentu. Asal malam ini saya bisa bermain-main dengan perempuan gundik. Hahah ...."


Alena lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri seorang pelayan bar dan berbisik padanya.


"Mau ngga kerja sampingan yang dapat uang gede?" kata Alena.


"Kerja apa kak?"


Alena kemudian membisikkan ke telinga pelayan bar itu dengan pelan. Meski suasana di sana hingar bingar, tapi Alena tetap menjaga agar ucapannya tidak terdengar oleh orang lain.


"Mau ngga?" tawar Alena.


Pelayan itu tampak berpikir, dia menoleh ke kanan ke kiri. Artinya dia menemani tidur dan melakukan pergumulan dengan laki-laki hidung belang.


"Tapi saya lagi kerja kak." kata pelayan itu ragu.


"Tenang aja, untuk saat ini temani aja dia dulu minum-minum. Nanti kalau dia mengajakmu bisa deh kamu bilang dulu, lagi kerja atau gimana gitu." ucap Alena membujuk pelayan itu yang masih ragu.


Pelayan itu diam, dia masih ragu.


"Bayarananya lumayan lho, apa lagi kalau udah buking kamu. Dari pada kerja jadi pelayan bar aja, uangnya ngga seberapa. Jadi jika kamu mau, nanti bisa kok hubungi aku." kata Alena lagi.


Alena tersenyum, dia membisikkan lagi mengenai seperti apa urutan bayaran yang akan dia terima.


"Dalam semalam, kamu bisa mendapatkan lima juta satu orang. Jika ada dua orang, bisa kamu hitung sendiri dapat berapa." ucap Alena dengan senyum senangnya.


Kembali pelayan itu tampak berpikir, sambil melayani pelanggan yang meminta minuman dia teru berpikir. Memang sangat menggiurkan, pikirnya.


Sedangkan kerja dari bar sebulan hanya empat empat juta. Jika sehari dapat satu orang saja, bisa dapat lima juta dalam semalam. Kalau satu minggu?


Pelayan itu berpikir dan mengkalkulasi pendapatan yang dia terima nantinya. Alena tampak tersenyum puas, dia yakin pelayan itu akan mau di ajak olehnya untuk melayani laki-laki hidung belang.


Alena menoleh ke arah laki-laki tadi yang memintanya di carikan gadis untuk tidur dengannya. Di sana sudah ada perempuan yang menggoda laki-laki itu, Alena tampak kesal. Seharusnya dia adalah mangsanya malam ini.


"Hei, bagaimana? Kalau tidak mau, orangnya akan mencari gadis lain untuk menemaninya malam ini." kata Alena tidak sabar dengan keputusan pelayan itu.


"Baiklah kak, tapi nanti dulu ya. Soalnya jam kerja saya sebentar lagi selesai." kata pelayan itu.

__ADS_1


"Oke, saya tunggu. Oh ya, nama kamu siapa?" tanya Alena.


"Marisa kak." jawab Marisa.


"Baiklah, saya minta nomor ponselmu?"


"Bisa."


Marisa lalu memberikan ponselnya pada Alena untuk mencatat nomor ponselnya.


"Nih, nomor kamu sudah saya simpan. Nanti kalau ada pelanggan lagi, saya bisa hubungi kamu. Bagaimana?"


"Baik kak."


"Nah, selesaikan dulu pekerjaanmu. Saya menunggu di kursi yang dekat dengan laki-laki itu." kata Alena menunjuk seseorang di sana.


"Iya kak."


Alena pergi dengan perasaan lega, ternyata malam ini dia bisa dapat uang lagi. Kemudian dia mendekat pada laki-laki tadi yang menunggunya untuk mendapatkan gadis yang dia minta.


"Bagaimana? Mana gadis itu?" tanya laki-laki tersebut.


"Dia sedang bekerja, tapi setengah jam lagi selesai kok tuan. Tuan sabar dulu ya." kata Alena.


"Baiklah, selama setengah jam saya menunggu. Temani saya minum-minum."


"Tidak masalah, saya akan temani anda di sini tuan." ucap Alena dengan senyum menggodanya.


Sementara itu, di tempat lain di bar itu. Ada dua laki-laki yang sedang memperhatikan gerak-gerik Alena yang sedang menemani laki-laki hidung belang. Dia benar-benar menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan Alena jika malam hari di luaran seperti ini.


"Jadi memang dia sangat pintar sekali, para model-model itu sudah tidak mau mengikutinya malah justru mencari gadis lain, pelayan bar ini untuk mangsanya mendapatkan uang haram itu. Benar-benar menjijikkan." kata laki-laki yang bertopi dan berkacamata tersebut.


Dan laki-laki misterius satunya memakai topi, memakai masker dan juga kacamata hitam agar tidak di kenali. Meski dalam ruangan bar itu remang-remang dan tidak ada yang akan mengenal mereka itu siapa.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2