
Mobil Richard sampai di depan pintu gerbang rumah Alisa, dia mengklakson kencang sekali membuat satpam rumah Alisa pun kaget. Lalu dengan cepat satpam membukanya dan mobil Richard masuk ke halaman rumah.
Dengan cepat Richard memghentikan mobilnya dan menurunkan Alisa yang terus saja memeluk Richard.
Richard menggendong Alisa agar dia tidak terliaht seperti menerjang Richard. Dia pun berlari untuk masuk ke dalam rumah. Dia berteriak pada pembantu Alisa.
"Mbok Darmi! Cepat tolong Alisa." teriak Richard.
Mbok Darmi yang kebetulan ada di dapur pun terkejut, kenapa Richard berteriak dan meminta tolong. Dia pun bergegas menghampiri Richard yang sedang menngendong Alisa membawanya ke kamar Alisa.
Mbok Darmi bergegas membukakan pintu kamar Alisa, Richard masuk dan segera dia membawa Alisa ke dalam kamar mandi.
"Mbok, cepat isi air penuh bak mandi, hangat aja. Cepat mbok, jangan sampai Alisa terus seperti ini." kata Richard.
Alisa mendengus leher Richard dan terus menciuminya. Meski Richard merasa baik-baik saja, tapi dia tidak mau Alisa seperti itu. Dia membantu Alisa dengan cara apa saja asal jangan melakukan itu tanpa sadar.
"Mbok, keluarlah. Biar aku dan Richard yang melakukan." kata Alisa masih dengan mata sayunya.
Mbok Darmi pun diam, dia menatap Alisa dengan bingung.
"Keluarlah mbok, biar aku yang urus." kata Richard.
"Baik tuan."
Mbok Darmi pun keluar dari kamar mandi dan kamar Alisa. Dia kaget sekaligus bingung, apa yang terjadi dengan majikannya itu.
Sedangkan Alisa menatap Richard penuh harap. Dia mendekat dan kembali mencium Richard dengan pelan, meski dia keinginan untuk melakukan hubungan intim terus mendesaknya. Dia tahu, obat itu adalah obat untuk merangsang birahi agar lebih agresif dan menginginkan hubungan intim.
Dia terus mencium seluruh wajah Richard, semoat terbuai Richard. Namun sadar, bukan cara seperti itu untuk melakukan hubungan dengan Alisa. Dia pun melepas dekapan Alisa dan menatapnya lembut.
"Richard, jika ini memang cara untuk membantuku keluar dari siksaan ini, aku ngga apa-apa melakukannya denganmu." ucap Alisa lirih.
"Alisa, aku minta maaf. Bukan aku tidak mau tapi aku tidak mau melakukannya di bawah pengaruh obat." ucap Richard.
Dia memeluk Alisa, dia merasa kasihan dengan kekasihnya itu. Tapi, dia tidak mau seperti itu. Sungguh, dia mencintai Alisa benar-benar dari hatinya yang terdalam. Tidak mau memanfaatkan keadaan.
"Lalu, bagaimana caranya aku keluar dari siksaan ini, eeeessht."
"Sebelumnya aku mohom maaf sama kamu ya, kamu berendamlah di bak mandi itu. Sebelum rasa itu belum selesai kamu rasakan, jangan keluar. Aku sayang kamu Alisa, cup." kata Richard.
Alisa pun mengangguk, dia lalu menuruti apa kata Richard. Miris memang, tetapi dia tahu Richard tidak mau memanfaatkan keadaan. Dia juga sebenarnya malu meminta Richard melakukan itu dengannya dalam keadaan pengaruh obat.
Sebelum masuk ke dalam bak Mandi Alisa menatap Richard, entahlah seperti mau masuk ke dalam lubang buaya. Ada perpisahan yang menyentuh hati, tapi Richard pun menganggukkan kepala.
"Aku akan menyuruh mbok Darmi membeli obat flu nanti. Aku minta maaf sama kamu, aku tidak melakukan seperti orang melakukannnya." ucap Richard lirih.
__ADS_1
Alisa kembali mengangguk, dan Richard pun keluar dari kamar mandi. Dia akan menunggu Alisa di luar dan menyuruh mbok Darmi membantu Alisa mengganti baju setelah nanti keluar dari bak mandi.
"Mbok, suruh pak satpam membeli obat flu di apotik. Dan mbok Darmi segera bantu Alisa di kamar mandi. Siapkan semua keperluannya, handuk atau baju gantinya ya." kata Richard dengan sigap.
Meski tidak tahu apa yang terjadi dengan majikannya, mbok Darmi pun menurut apa kata Richard. Dia masuk ke dalam kamar mandi, menunggu Alisa selesai. Ada rasa kasihan, tapi kata Richard hanya dengan cara itu menolong Alisa.
"Non, sabar ya. Saya yakin non Alisa kuat." kata mbok Darmi yang melihat Alisa sedang menahan sebuah gejolak di dalam air dingin.
Sesekali Alisa meminta mbok Darmi mengguyur kepalanya juga.
Sementara itu, Richard menghubungi Raya. Dia akan meminta pada Raya untuk mrliburkan jadwal Alisa selama satu minggu ke depan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dia juga akan meminta penjelasan pada Darius nanti, kenapa laki-laki playboy itu bisa bersama dengan kekasihnya. Richard benar-benar marah.
"Halo, Richard. Ada apa malam-malam kamu meneleponku?"
"Kamu sudah tahu temtang Alisa?"
"Belum, memang kenapa dengan Alisa?"
"Besok aku kan menemuimu. Mungkin juga dengan Thomas. Sekarang aku minta sama kamu cutikan Alisa selama satu minggu, dia sakit." kata Richard lagi.
"Memang Alisa sakit apa?"
"Makanya besok aku akan ceritakan sama kamu, jadwal Alisa satu minggu ini kamu cancel aja untuk minggu depannya, bisa kan?"
"Ya bisa, nanti aku atur jadwal lagi kegiatan Alisa. Aku akan kosongkan konfirmasi dengan pihak yang sudah mengontrak Alisa."
"Baik, kamu tenang aja. Aku akan atur semuanya."
"Terima kasih."
Klik
Richard memutus teleponnya pada Raya, dia melirik jam di tangannya. Sudah setengah jam, Alisa masih di kamar mandi dengan mbok Darmi.
Pak satpam masuk ke dalam rumah dan memberikan obat yang di pesannya di apotik. Lalu Richard menuju dapur, menyiapkan air minumnya.
_
Satu jam lebih sudah, kini Alisa sudah selesai dan memakai bathrop. Dia berbaring di atas ranjangnya dengan tubuh yang menggigil dan kaku. Mbok Darmi juga sudah menyiapkan air susu dan juga makanan bubur hangat.
Richard duduk di samping Alisa yang masih menggigil kedinginan. Ingin sekali Richard memeluknya.
"Alisa, makanlah dulu buburnya ya?" kata Richard.
Sejak tadi Richard tidak beranjak dari tempat duduknya, dia terus mendampingi Alisa dan mengecek suhu tubuhnya.
__ADS_1
Richard mengangguk dan membuka mulutnya, mengunyahnya setelah satu sendok bubur masuk ke dalam mulutnya. Menatap Richard, ada rasa bangga padanya karena mempertahankannya tetap jadi perempuan suci.
"Richard, terima kasih." kata Alisa dengan bibir bergetar.
"Jangan bilang terima kasih, aku merasa bersalah sama kamu. Tidak bisa menolongmu dengan cara seperti itu, maaf." ucap Richard lirih dan menyesal.
"Tidak, aku bangga sama kamu. Tidak melakukan itu dalam keadaan terdesak sekalipun atau memanfaatkan keadaan. Terima kasih ya, aku semakin mencintaimu." ucap Alisa dengan senyum mengembang.
"Aku hanya tidak mau jadi laki-laki yang memanfaatkan keadaan. Aku mau jadi laki-laki sejati buatmu, laki-laki yang tidak mau memanfaatkan keadaanmu karena kamu terlalu berharga untuk diriku Alisa." kata Richard.
Alisa pun bangkit dari tidurannya, lalu memeluk Richard dengan erat. Dia benar-benar beruntung mencintai orang yang menghargainya setulus hati.
"Terima kasih, hik hik hik. Terima kasih Richard." kata Alisa dalam pelukan kekasihnya.
"Sudah, jangan bilang terima kasih terus. Sejujurnya aku merasa bersalah dengan cara seperti itu sama kamu, aku takut kamu ...."
"Tidak, aku kuat kok. Aku bisa mengatasinya."
Setelah memeluk erat Alisa melepasnya dan menatap Richard dengan lembut, di kecupnya bibir Richard. Richard pun tersenyum dan membalasnya juga.
"Aku sudah meminta Raya untuk libur satu minggu untukmu. Besok aku akan menemui Raya. Emm, sayang aku tanya kenapa kamu bisa ada di kafe itu?"
Alisa pun menceritakan kenapa bisa bertemu Darius dan sampai dia terjebak dengan keadaan seperti itu.
"Jadi kamu sendiri tidak tahu siapa yang akan memberimu kejutan tadi itu di kafe Eksplors?"
"Ya, dan setelah aku meminum minuman jus aku langsung pusing. Aku mengirim pesan sama kamu, apa kamu tidak membaca pesanku?"
"Aku belum melihatnya, saat itu aku masih dengan klein dan Jo juga sedang cuti sejak kemarin. Jadi aku lakukan sendiri, beruntung ketika aku di jalan di telepon Thomas."
"Thomas? Ah ya, dia tadi yang menolongku. Tapi, ... Aku tadi menciumnya Richard maafkan aku."
"Sudahlah, saat itu kamu sedang dalam pengaruh obat."
Kembali Alisa memeluk Richard, betapa sabarnya Richard padanya. Mengerti keadaannya yang bukan dirinya saat itu.
_
_
Promo novel bagus kaka, sekalian ya mampir..😉😊
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤