
Pukul 11 siang, Arsha memutuskan untuk pulang ke rumah, karena ada berkas yang tertinggal, rencana nya berkas itu akan di perlukan untuk meeting jam 2 siang nanti.
"Assalamu'alaikum, mom," panggil Arsha.
"Ya Arsha, " sahut Laura dari arah dapur, dia membawa bubur yang baru saja dia buat.
"Mom aku pulang cuman mau ambil berkas," ucap Arsha, dia pun segera berlari ke arah kamar untuk mengambil berkas yang tertinggal.
"Ya udah mom, aku mau langsung ke kantor ya?" ucap Arsha.
"Kamu nggak makan dulu?" tanya Laura.
"Enggak ah, bubur nya buat mommy aja," ucap Arsha, dia pikir Laura membawa bubur untuknya, padahal itu bubur untuk Natalie.
Arsha pun hendak memasuki mobil, namun dia melihat Vania yang tengah mondar-mandir di samping mobil.
"Aunty kenapa?" tanya Arsha.
"Eh Arsha, ini loh pak Tito tiba-tiba sakit, sedangkan aunty harus jemput Vanessa di sekolah, tapi kan aunty nggak bisa nyetir." ucap Vania bingung.
"Ya udah aunty, biar aku yang jemput Vanessa, sekalian aku jemput Rafa," ujar Arsha.
"Loh kamu kan mau ke kantor kan Rafa?" tanya Vania.
"Nggak papa aunty, kan sekalian jemput Rafa juga," jawab Arsha.
"Makasih banget ya Arsha," ujar Vania.
"Sama-sama aunty, ya udah aku berangkat sekarang ya," pamit Arsha.
"Iya Arsha, hati-hati," ujar Vania. Rafa pun memasuki mobilnya lalu melaju menuju sekolah Galaxy.
Jam pulang sekolah sudah tiba, anak-anak SMAN Galaxy pun berlarian keluar kelas, Rafa sendiri tengah berjalan santai bersama teman-temannya.
"Al, gue jadi nebeng sama loe ya," ucap Rafa.
"Siap, gue ambil motor dulu," ucap Aldy teman Rafa.
"Ya udah, gue ke gerbang dulu, kayaknya gue lihat Nessa deh," ucap Rafa.
"Yaelah, khawatir bener sama neng Vanesa," ledek Nino.
"Mulai deh loe pada," ujar Rafa sambil memutar bola matanya malas. Tidak mau terus-terusan menjadi bahan ledekan teman-temannya, Rafa pun memilih menjauh, dia menghampiri Vanessa yang sepertinya tengah menunggu jemputan.
"Ness," sapa Rafa.
"Apa?" jawab Vanessa.
"Nunggu jemputan?" tanya Rafa.
"Iya," jawab Vanessa. Tidak lama Aldy dan Nino datang, dengan mengendarai motor masing-masing.
"Yuk Raf," ajak Aldy.
__ADS_1
"Bentar," jawab Rafa.
"Balik sama gue yuk," ajak Rafa, dia tidak tega meninggalkan Vanessa sendirian.
Vanessa berpikir sejenak, "gue telepon Mamah dulu deh," ucap Vanessa.
"Ya udah," jawab Rafa.
Vanessa pun mencoba menghubungi Vania, untuk menanyakan apakah ada yang bisa menjemput nya.
"Hallo Mah," ucap Vanessa.
"Hallo sayang, ada apa?" tanya Vania.
"Pak Tito sudah dalam perjalanan jemput Nessa nggak?" tanya Vanesa.
"Kebetulan pak Tito lagi sakit sayang, jadi nggak bisa jemput. Tapi kamu tenang aja, kak Arsha lagi dalam perjalanan buat jemput kamu kok," ujar Vania. Mendengar Arsha dalam perjalanan, senyum Vanessa pun terbit.
"Oh, gitu mah, ya udah deh kalo gitu, makasih ya mah," ujar Vanessa.
"Iya sayang," jawab Vania, setelah itu telepon pun terputus.
"Gimana?" tanya Arsha.
"Nggak deh, loe balik duluan aja, jemputan gue udah di jalan, bentar lagi sampe," ucap Vanessa.
"Beneran nih?" tanya Rafa memastikan.
"Ya udah, gue balik duluan ya," pamit Rafa, dia pun menggunakan helm nya, setelah itu naik ke boncengan motor milik Aldy.
Sebelum motor melaju, Rafa sempat menengok sebentar ke arah Vanesa, namun Vanessa tak menyadari, Karena dia tengah sibuk menatap layar ponsel.
Sepeda motor pun melaju meninggalkan Vanessa yang masih menunggu jemputan nya.
Tidak lama, mobil Arsha mulai terlihat, entah kenapa hati Vanessa menjadi berdebar-debar, raut wajah bahagia tak bisa disembunyikan lagi. Namun sebisa mungkin Vanessa mencoba bersikap biasa saja.
"Nunggu lama Vanessa?" tanya Arsha.
"Enggak kok kak," jawab Vanesa seraya tersenyum manis.
"Oh iya, Rafa mana? kok kamu sendirian?" tanya Rafa.
"Oh ... Rafa udah pulang kak, sama Aldy," jawab Vanesa.
"Oh, ya udah kita pulang yuk" ajak Arsha, dia pun membukakan pintu mobil untuk Vanessa.
"Makasih kak," ujar Vanessa.
"Sama-sama" jawab Arsha.
Selama perjalanan Arsha mencoba mengajak Vanessa untuk mengobrol, obrolan mereka tidak jauh dari sekolah Vanessa dan Rafa.
Saat melewati restoran cepat saji, Rafa pun mengajak Vanessa untuk makan siang bersama, tentu saja Vanessa tak menolak, anggap saja ini kencan, begitu pikir Vanessa.
__ADS_1
Setelah memesan makanan, Arsha pun mengajak Vanessa untuk mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman.
"Kak Arsha," panggil Vanessa ragu.
"Iya? kenapa Vanessa?" tanya Arsha lembut.
"Papah sering cerita sama Vanessa, dulu kak Arsha suka bilang, kalau anak papah cewek minta di jodohin sama kak Arsha, emang bener kak?" tanya Vanesa.
Arsha pun tertawa mendengar pertanyaan Vanessa, "ternyata uncle masih inget aja ya ucapan kak Arsha waktu kecil," ujar Arsha masih menahan tawanya.
"Itu sih waktu kamu masih dalam kandungan Van, dulu kak Arsha masih berusia 9 tahun, itu sih cuman ucapan masa kecil Van, kalau sekarang ya enggak lah, kakak udah anggap kamu seperti adik kandung kakak sendiri," ujar Arsha, dan bertepatan saat itu pesanan mereka berdua datang.
Senyum yang sedari tadi Vanesa perlihatkan perlahan menghilang, setelah mendengar jawaban dari Arsha, hati Vanessa merasa berdenyut nyeri.
"Ayo Vanessa makan," ujar Arsha.
"Iya kak," jawab Vanesa. Ingin sekali Vanesa menangis saat ini juga, namun sebisa mungkin dia tahan, makan pun sudah tidak berselera sekarang.
Selesai makan Arsha langsung mengantarkan Vanesa pulang, sepanjang jalan Vanessa berpura-pura memejamkan mata, dengan beralasan mengantuk, padahal dia tengah membendung air mata.
Saat tiba rumah, rupanya Rafa tengah di teras rumah sambil bermain dengan Gery, kucing jantan milik anak-anak Laura.
"Kak Arsha makasih ya," ucap Vanessa.
"Sama-sama Vanessa," jawab Arsha.
"Kalau gitu, Vanessa pulang dulu," ucap Vanessa, setelah itu dia pun langsung berlari menuju rumah nya.
Rafa mengernyit bingung, kenapa kakak nya bisa pulang bersama Vanessa.
"Kak," sapa Rafa. "Kakak kok bisa pulang sama Vanesa?" tanya Rafa.
"Iya, kakak yang jemput Vanessa, soalnya pak Tito lagi sakit," ujar Arsha.
"Terus kenapa Vanessa kelihatan sedih?" tanya Rafa.
"Ah masa sih, biasa aja kok," ujar Arsha, nampaknya kali ini Arsha kurang peka dengan perasaan Vanessa.
"Kakak ngajak ngobrol apa emang?" tanya Rafa.
"Ngbrol biasa, tentang sekolah, terus ada juga tentang obrolan masa kecil, yang kakak minta di jodohin sama anak uncle Leo," jawab Arsha enteng.
"Terus?" tanya Rafa lagi.
"Ya kakak bilang aja, itu cuman masa kecil, sekarang sih nggak mungkin, karena kakak udah anggap Vanessa adik kandung kakak sendiri," jawab Arsha.
"Pantes Vanessa sedih," batin Rafa.
"Ya udah ah, kakak harus kekantor sekarang, kakak langsung pamit ya," ucap Arsha.
"Iya kak hati-hati," ujar Rafa, dia pun melambaikan tangan Gery ke arah Arsha, "bye kak Arsha."
Setelah mobil Arsha meninggalkan pekarangan rumah, Arsha pun menatap kucing nya, "ayo Gery, kita hibur yang sedang patah hati," ujar Rafa seraya tersenyum jahil.
__ADS_1