
Akhirnya Rey dan Leo sudah sampai di rumah sakit Harapan, mereka segara mencari UGD sesuai petunjuk dari perawat yang mereka tanyakan tadi.
Sesampainya di sana, sudah ada Laura, Ryan dan Farah yang menunggu di luar UGD, raut kecemasan dapat terlihat dari keduanya.
"Laura, mamah, papah" panggil Leo.
"Leo.."
"Mah, pah gimana keadaan Vania?" Tanya Leo cemas.
"Vania tengah di tangani oleh dokter Leo." Jawab Farah.
"Sayang apa yang terjadi?" Tanya Rey pada Laura.
"Vania tejatuh dari kamar mandi, dan dia mengeluarkan darah" jawab Laura.
"Astaghfirullah.." Leo semakin mengacak rambut nya, dia terus menerus menatap pintu UGD yang belum juga terbuka.
"Leo kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan Vania dan anak kamu, karena di dalam dokter tengah berusaha" Ujar Ryan mencoba memberi pengertian pada Leo.
"Iya Pah" Jawab Leo seraya terisak.
Tidak lama pintu ruangan terbuka, dan keluar lah dokter yang menangani Vania. Leo dan yang lain pun bergegas mendekat.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Leo khawatir.
"Maaf Pak, kami sudah berusaha namun Yang Maha Kuasa berkehendak lain, ibu Vania meninggal dunia" Jawab dokter lesu.
Leo mundur satu langkah sambil menggelengkan kepala nya, "nggak mungkin dok, dokter pasti salah" Ucap Leo tak terima.
"Maaf Pak,tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin" Ujar dokter.
"Nggak mungkin.. Vania!!" Leo langsung berlari kedalam ruang UGD dimana Vania tengah berbaring tak berdaya, bahkan suster hendak menutup seluruh tubuh Vania namun di hentikan oleh Leo.
Dokter memberi kode kepada suster agar memberikan ruang kepada keluarga Vania. Leo langsung memeluk Vania erat dan memandang wajah pucat Vania.
"Vania.. sayang, ayo bangun" Ucap Leo sembari terisak. Bahkan Laura ,dan Farah pun tak kuasa menahan tangis mereka.
"Vania.. buka mata kamu" Ucap Leo sambil mengguncang pelan tubuh Vania.
Ryan mendekat ke arah Leo, "Leo.. kamu harus bisa ikhlas Nak" Ujar Ryan.
"Enggak Pah.. Vania cuman tidur" Ucap Leo berontak.
"Leo.. Vania akan sedih melihat kamu seperti ini" Ucap Ryan menenangkan Leo.
"Permisi pak, kami harus membawa jenazah" Ucap salah satu perawat.
"Tidak.. tidak boleh ada yang membawa istri ku.. Vania akan tetap bersama ku" Seru Leo.
"Leo.. Nak dengarkan mamah" Farah menangkup kedua pipi Leo, "ikhlas kan Vania, jangan seperti ini, mamah tahu kamu sedih dan kehilangan, tapi kami juga Nak.. jadi mamah mohon ikhlaskan" Ucap Farah sambil terisak.
"Nggak mah.. aku yakin Vania akan bangun" Ucap Leo terus berontak, akhirnya Rey dan Ryan memegang Leo agar perawat bisa membawa jenazah Vania.
__ADS_1
"Tidak .. pah lepas!!" Seru Leo terus berontak.
"Vania!!! Vania!!!"
"Leo.. Leo bangun.." Ucap Rey menggoyang bahu Leo dengan sedikit kencang. Dan akhirnya pun Leo langsung terbangun dari tidurnya.
"Kamu mimpi apa sih? Pake manggil Vania segala.. teriak lagi" Ucap Rey.
"Syukurlah cuma mimpi" Ucap Leo sambil mengelus dadanya, dia masih mengatur nafas karena baru saja mengalami mimpi buruk.
"Kamu mimpi apa?" Tanya Rey lagi.
"Aku mimpi buruk tentang Vania" Jawab Leo.
"Sudahlah jangan di ceritakan, kata ustadz Syam mimpi buruk tidak boleh di ceritakan, itu pasti hanya bunga tidur Leo.. atau mungkin karena kamu terlau memikirkan ketika Vania melahirkan nanti" Ujar Rey.
"Huft iya kamu benar Rey.. mungkin memang karena aku terlalu khawatir dengan Vania ketika melahirkan nanti" ujar Leo.
"Tapi supaya aku bisa lebih tenang, aku hubungi Vania dulu aja ya" Ujar Leo.
"Ya sudah, kabarkan juga supaya Vania nggak khawatir kalau kita mungkin telat, karena lumayan macet" Ujar Rey.
"Baiklah" Jawab Leo, kemudian Leo segera mencari nomor telepon Vania.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam sayang.." Jawab Vania dengan lembut.
"Aku lagi nungguin kamu pulang sambil ngemil" Jawab Vania.
Leo pun tersenyum mendengar jawaban Vania, "kalau kamu lapar, kamu bisa makan dulu sayang.. karena aku dan Rey mungkin akan terlambat pulang, soalnya macet parah" Ujar Leo.
"Begitu ya... Tapi aku nggak bisa kalau makan sendirian, aku nunggu kamu pulang aja" Jawab Vania.
"Ya sudah, kamu baik - baik di rumah yaa" Ucap Leo.
"Oke sayangg" Jawab Vania.
"Aku tutup telepon nya yaa."
"Iyaa.. hati - hati" Jawab Vania. Setelah itu panggilan telepon pun berakhir.
Sedangkan Laura kini tengah menanti kepulangan Rey.
"Mommy kita ke masjid dulu yaa.." Pamit si kembar.
"Oh iya sayang.. " Jawab Laura.
"Tapi nanti mommy sendirian" Ujar Keysha khawatir.
"Ke rumah aunty Vania aja mom" usul Arsha.
"Wahh boleh, ya udah mommy ke sana ya" Laura hendak berdiri, tapi langsung di bantu oleh si kembar.
__ADS_1
"Kita antar mom" Ujar Yasha, dan Keysha pun mengangguk. Keysha sangat beruntung karena di kelilingi oleh orang - orang yang baik. Memiliki suami yang siaga dan anak - anak yang sangat perhatian.
Mereka berempat pun segera menuju ke kediaman Vania.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Ohh nyonya Laura.." Ucap pelayan rumah Vania.
"Vania ada?" Tanya Laura ramah.
"Ada nyonya silahkan masuk" Ujar pelayan.
"Terimakasih" Laura dan si kembar pun masuk kedalam rumah menuju ruang keluarga dimana Vania berada.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam.. ehh kak Laura.." Ucap Vania.
"Hallo aunty.." Sapa si kembar.
"Hallo sayangg" Vania balik menyapa.
"Aunty kita titip mommy boleh? Soalnya Daddy belum pulang, dan kita mau ke masjid buat sholat Maghrib dan ngaji" tanya Yasha.
"Boleh sayang, tadi uncle Leo bilang katanya jalanan macet banget jadi mungkin mereka pulang terlambat " jawab Vania.
"Ya sudah, kalian berangkat gih" Ujar Laura.
"Siap mom.. " si kembar pun mencium tangan Laura dan Vania secara bergantian.
"Kami berangkat ya mom.. aunty" Pamit si kembar.
"Iya Nak.. hati - hati" jawab Laura.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Setelah berpamitan si kembar pun meninggalkan kediaman Vania dan bergegas ke masjid, di jalan mereka juga bertemu dengan beberapa teman mereka yang hendak pergi masjid.
"Nggak nyangka ya kak kita udah mau lahiran" Ujar Vania.
"Iya Van, rasanya baru kemarin" Jawab Laura.
"Deg - degan nggak kak?" Tanya Vania.
"Pasti Van, meskipun ini anak ke empat, tapi tetep ada rasa grogi.. tapi kali ini aku sedikit tenang karena akan ada suami ku nanti yang akan menemani saat aku melahirkan " Jawab Laura seraya tersenyum.
"Jadi dulu kakak melahirkan nggak ada yang nemenin?" Tanya Vania lagi.
"Ada sih yang nemenin, tapi sahabat ku di Amerika, namanya Bella, dan dia sudah menikah beberapa bulan lalu .. tapi aku nggak bisa dateng karena aku sedang hamil besar " ujar Laura. Memang Bella dan Clark baru saja menikah 2 bulan lalu, namun Laura tidak bisa menghadiri pernikahan sahabat nya itu karena kondisi nya yang tengah hamil besar. Bella dan Clark pun mengerti dengan kondisi Laura, mereka tidak mempermasalahkan sama sekali, dan rupanya Rey memberikan sebuah kado kepada Bella dan Clark berupa mobil mewah yang sudah dipastikan memiliki harga yang fantastis.
Rey dan Laura sudah membicarakan tentang pemberian kado tersebut, Rey merasa sangat tidak enak karena tidak bisa datang ke pernikahan mereka, apa lagi Bella dan Clark memiliki jasa yang besar dalam kehidupan Laura dan si kembar selama mereka hidup di Amerika, jadi bagi Rey memberi kado mewah pun belum bisa membalas kebaikan Bella dan Clark.
__ADS_1