
...^^ Happy reading readers ^^...
Ke esokan harinya Leo dan Vania sudah bersiap untuk bertemu ibu Vania dan omnya.
"Leo, apapun yang terjadi kamu akan disamping ku kan?" Tanya Vania.
"Tentu sayang, jangan takut ya aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti kamu" Ucap Leo meyakinkan Vania.
"Aku percaya"Jawab Vania, setelah itu Leo menggandeng tangan Vania,dan satu tangannya lagi membawa koper milik Vania. Karena rencananya Vania akan pindah ke rumah Farah hari ini juga, tapi setelah Vania dan Leo pulang dari rumah ibu Vania tentunya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam akhirnya Leo dan Vania sampai di kediaman Ami yang tak lain ibu Vania.
"Ini rumahnya Leo, ayo turun" ajak Vania pada Leo.
Leo melihat rumah besar yang nampak tak terawat, "ini rumah peninggalan nenek kamu?" Tanya Leo.
"Iya, dulu rumah ini sangat bagus dan terawat, tapi setelah nenek meninggal dan usaha nenek yang memburuk rumah ini jadi kurang terawat karena ibu jarang sekali bersih" ucap Vania.
"Sayang sekali ya, padahal bagus" ucap Leo.
"Kalau saja surat rumah ini tidak di amankan,mungkin rumah ini sudah dijual oleh ibu Leo" ucap Vania lagi.
"Apa tidak sayang, ini kan peninggalan orang tua" ucap Leo tak habis pikir.
"Bagi ibuku yang penting uang, untunglah om Budi bergerak cepat dan semua surat surat penting pun di amankan" ucap Vania.
"Ya sudah ayo" Ajak Vania, merekapun menekan bel rumah, dan tidak lama ada seorang lelaki membukakan pintu.
"Vania?" Ucap lelaki itu.
"Mana ibu?" Tanya Vania ketus.
"Ada di dalam, ayo masuk" ajak lelaki itu, namun matanya menyipit kala melihat Leo di samping Vania.
"Siapa dia Vania?" Tanya lelaki itu penuh selidik.
"Perkenalkan saya Leo, calon suami Vania" Leo memperkenalkan diri dengan gagahnya.
"Saya Anton, ayah tiri Vania" lelaki itu pun memperkenalkan dirinya.
"Jadi ini ayah tiri Vania yang hampir melecehkannya?" Batin Leo.
"Dia nampaknya orang kaya,mobilnya juga mewah, apa dia yang membantu Vania melunasi hutang?" Batin Anton.
"Ya sudah mari masuk" Anton mempersilahkan Vania dan Leo untuk masuk,kemudian mereka di persilahkan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Bapak panggul ibu dulu ya Vania" ucap Anton ramah,lebih tepatnya berpura pura.
"Hmm" hanya itu yang keluar sebagai jawaban Vania, sedari tadi Vania terus memeluk lengan Leo,Vania lebih memilih duduk dipinggir agar ibu atau ayah tirinya tidak bisa mendekati Vania,karena akan terhalang oleh Leo.
Anton pun masuk untuk memanggil istrinya, didalam hati Anton terus merutuki karena melihat Vania yang terus menempel pada Leo.
"Kamu semakin cantik Vania, tapi kenapa kamu pulang dengan membawa lelaki lain" batin Anton,
"Bu" panggil Anton pada Ami yang tengah duduk sambil merokok.
"Apa" jawab Ami.
"Ada Vania" ucap Anton,sontak membuat Ami langsung berdiri dari duduknya.
"Akhirnya anak itu datang juga,pasti dia bawa uang" ucap Ami sambil tersenyum.
"Bukan hanya uang,dia bahkan membawa calon suaminya" ucap Anton.
Deg.. Ami langsung menatap Anton dengan tatapan bertanya.
"Calon suami?" Beo Ami.
"Iya, makanya cepat keluar" ucap Anton memberi saran.
"Sepertinya,dia juga memakai mobil mewah" jawab Anton.
"Bagus Vania,kamu memang bisa di andalkan" ucap Ami seraya tersenyum. Anton dan Ami pun bergegas ke ruang tamu setelah sebelumnya Ami membuang puntung rokoknya.
"Vania" Ucap Ami dengan raut wajah di buat seolah dia rindu dengan putrinya, Ami bahkan merentang kan tangannya agar Vania memeluk. Tapi ekspetasi memang tidak seindah kenyataan, Vania tetap duduk disamping Leo sambil menatap Ami dengan pandangan tak terbaca.
"Vania,kamu tidak rindu ibu nak?" Tanya Ami dengan suara sehalus mungkin.
"Topeng" batin Leo.
"Biasa saja" jawab Vania cuek. Ami pun mencoba bersabar, dia menurunkan tangannya yang sudah dia rentangkan.
Kemudian Anton datang dengan membawa 4 cangkir minuman berupa teh, dia pun menatanya di meja.
"Maaf ya Vania seadanya" ucap Anton.
"Hmm" Hanya itu yang keluar dari mulut Vania.
"Vania,ini siapa nak?" Tanya Ami sambil menunjuk Leo.
"Perkenalkan, saya Leo dan saya calon suami Vania" ucap Leo.
__ADS_1
"Saya Ami,ibu nya Vania" ucap Ami menjabat tangan Leo.
"Jadi kalian akan menikah?" Tanya Ami pada Vania dan Leo.
"Iya" jawab Vania singkat.
"Syukurlah, kalian nampak serasi dan ibu yakin kamu adalah orang baik nak Leo, ibu merestui kalian" Ucap Ami dengan tersenyum.
"Aku datang kesini bukan untuk meminta restu ibu, kami hanya memberitahukan tentang niat baik kami, jikalau pun ibu tidak merestui kami, aku dan Leo tetap akan menikah" ucap Vania tegas.
"Vania, jaga bicara kamu. Bagaimana pun ini ibu kamu" tegur Anton.
"Kenapa dulu kamu tidak menegur ibuku,ketika dia berbuat kasar padaku tanpa aku tahu apa salah ku. Harusnya kamu juga mengatakan, jangan kasar bagaimanapun juga dia anak kandung kamu. Tapi apa? Kamu seolah senang ketika aku mendapat siksaan dari ibu ku" ucap Vania dengan nafas yang baik turun. Leo menggenggam tangan Vania,agar kekasihnya bisa lebih tenang.
"Vania ,ibu minta maaf" ucap Ami terisak.
"Maaf? Selama ini aku hanya berharap ibu bisa menyayangi ku setulus hati ibu, tapi nampaknya rasa keibuan ibu sudah mati" ucap Vania sambil menatap ibunya dengan kecewa.
"Vania!" Nada bicara Anton mulai naik, dia mulai emosi dengan perkataan Vania.
"Jaga nada bicara anda pada Vania " ucap Leo dengan menekan kata katanya, dia mulai tersulut ketika Anton membentak vania.
"Dia keterlaluan" ucap Anton tak terima.
"Seperti itu kalian bilang keterlaluan? Lalu yang wajar bagaimana? Menyiksa Vania? Membebani Vania dengan hutang yang menumpuk sampai Vania dikejar rentenir?" Ucap Leo sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Ami pada Leo.
"Karena Leo yang membantu ku melunasi semua hutang kalian" Jawab Vania.
"Saya rasa cukup disini pertemuan kita, karena kedatangan kami hanya untuk menyampaikan perihal rencana pernikahan. Untuk tanggal dan tempat acara akan kami kirimkan undangannya" ucap Leo, setelah itu Leo pun mengajak Vania untuk pergi.
Tanpa penolakan, Vania mengiyakan ajakan Leo untuk meninggalkan rumah yang kini penuh dengan memori buruk yang ibunya ciptakan pada Vania.
Tanpa Leo dan Vania sadari, Ami menatap mereka dengan tatapan benci, sedangkan Anton menatap Vania dan Leo dengan tatapan marah karena cemburu.
"Anak tidak tahu diri, harusnya dulu aku gugurkan kamu, tidak tahu terimakasih" Batin Ami.
"Aku akan pastikan pernikahan kalian akan gagal, kau hanya milikku Vania milikku" Batin Anton geram.
.
.
...Maaf ya readers baru bisa up,tapi tenang hari ini aku kasih double up 😁 okee jangan lupa setelah baca klik like vote dan komen yaaa...
__ADS_1