
Kesehatan Goerge, sudah mulai membaik, Dokter juga sudah menyatakan bahwa George sudah boleh pulang. Namun, seolah tidak sabar, Georege langsung menanyakan seputar, apakah dia boleh bepergian jauh menggunakan pesawat? dan jawaban Dokter boleh, asalkan George juga banyak istirahat dan jangan lupa perbanyak minum air putih. George menyanggupi, dan hari itu juga George meminta sang istri untuk memesan tiket, untuk mereka pergi ke Indonesia.
"Jangan, Aunty ..." larang Yasha, dengan sopan.
"Loh, kenapa Yasha?" tanya Jennifer bingung.
"Aku akan persiapkan semuanya," jawab Yasha meyakinkan, akhirnya Jennifer pun menyerah, dan membiarkan Yasha menyelesaikan dan mempersiapkan keberangkatan mereka.
Yasha langsung menghubungi seseorang, dan berbicara dengan serius, setelah itu tidak lama, Yasha mengatakan bahwa untuk penerbangan mereka sudah siap, dan mobil juga sudah siap untuk mengantar mereka ke Bandara. Jennifer sebelumnya sudah memesan kepada maidnya untuk membereskan pakaiannya dan juga George, jadi tidak perlu bolak-balik ke rumah lebih dulu.
"Daddy beneran nggak apa-apa kan? nggak ada yang Daddy rasakan?" tanya Nathalie dengan cemas.
George tersenyum, karena perhatian sang putri masih saja tidak berubah. Hanya keyakinan yang mereka anut, yang berbeda, "Daddy benar-benar tidak apa-apa Na2k, kamu tenang saja. Setelah mendengar kamu akan segara menikah, semangat Daddy jadi kembali lagi," ujar George, dengan senyum yang mengembang.
Nathalie tidak menyangka, hanya karena mendengar bahwa dirinya akan menikah, dengan Yasha, sudah membuat kondisi sang Ayah langsung membaik. 'Mungkin, selama ini Daddy sangat khawatir, karena aku jauh darinya,' batin Nathalie.
Akhirnya, mereka sudah sampai Bandara, begitu mereka turun, sudah ada orang-orang yang mengenakan jas formal menyambut mereka. Hal ini membuat George, Jennifer dan Nathalie bingung.
"Selamat datang Tuan," salah satu orang diantara mereka memberikan hormat pada Yasha.
"Apa semuanya, sudah siap?" tanya Yasha memastikan.
"Sudah Tuan, mari." mereka membawakan barang bawaan George dan Jennifer, mereka semua digiring yang entah kemana mereka juga tidak tahu.
"Pesawat Jet pribadi?" gumam George dan Jennifer terkejut.
"Iya Uncle, Aunty ... supaya penerbangan kita bisa lebih nyaman, kita pakai ini," jawab Yasha dengan sopan. Dan baik Jennifer maupun George hanya bisa mengangguk kaku.
__ADS_1
.
.
Laura, yang sudah mendapatkan kabar, bahwa sang putra dan keluarga calon besannya akan ke Indonesia. Langsung mempersiapkan semuanya, bahkan Laura juga langsung meminta izin pada Nathalie, untuk membersihkan apartement Nathalie. Karena Nathalie bilang, akan membawa kedua orangtuanya ke apartement.
"Baiklah, besok jam 7 pagi, kalian datang lagi ke sini, untuk menyiapkan hidangan," titah Laura kepada tim chef. Karena estimasti Yasha dan rombongan sampai itu jam 9 pagi.
"Baik Nyonya," jawab tim chef patuh. Hari ini, mereka hanya mempersiapkan kiranya hidangan apa yang akan dibuat untuk besok, serta mempersiapkan peralatan yang belum tersedia di apartement Nathalie.
"Mom, kalo gini, bukannya kita bikin rusuh di apartement Nathalie?" tanya Keysha, sebab dia melihat banyak barang-barang serta bahan makanan yang sudah tersedia, sampai kulkas Nathalie penuh.
"Semua bahan makanan ini juga belum tentu di pake Key, dan soal kebersihan tempat, Mommi sudah siapkan semuanya," jawab Laura dengan yakin, dan Keysha pun hanya bisa mengangguk pasrah.
"Mommy yakin, setelah melakukan perjalanan jauh, mereka pasti malas untuk berbenah apalagi masak. Dan lagi, Daddy Nathalie juga baru keluar dari rumah sakit, jadi Mommy akan siapkan makanan khusus," jelas Laura lagi.
"Ya udah, yuk kita pulang." Hari sudah cukup sore, jadi Laura mengajak sang putri untuk pulang, sebelum Rey pulang lebih dulu, dan nantinya mencari mereka.
Di kediaman Laura, juga ternyata tidak kalah sibuk. Rencananya, Laura akan mengundang kedua orangtua Nathalie untuk makan malam. Namun Laura juga harus meminta persetujuan dari Nathalie lebih dulu, untuk memastikan kondisi sang Ayah. Laura begitu excited, menyambut kedatangan calon menantu dan juga calon besannya.
"Key..." Arsha, yang baru saja pulang dari kantor, langsung mengampiri sang adik.
"Apa?" tanya Keysha.
"Kamu udah siapin kado pernikahan?" ternyata, Arsha ingin menanyakan soal kado pernikahan untuk Yasha dan Nathalie.
"Belum, aku terlalu sibuk mikirin gaun pernikahan yang nantinya design itu aku mau kasih tunjuk ke Nathalie," jawab Keysha.
__ADS_1
"Oh gitu ... kamu yang bikin?" tanya Arsha nampak ragu, sebab setahu Arsha, adik perempuannya ini sangat sibuk semenjak di tinggal Nathalie ke Amerika.
"Bukan, tapi Vanessa," jawab Keysha, karena memang urusan butik akan Keysha alihkan kepada Vanessa. Sebab, Keysha tahu, Vanessa memiliki bakat. Mendengar jawaban sang adik, Arsha pun, menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Arsha, yang melihat Keysha tidak jadi masuk ke dalam rumah.
"Ke rumah aunty Vania, ambil design nya Vanessa," jawab Keysha.
"Biar Kakak ajah," cegah Arsha, karena kebetulan Keysha juga tengah lelah, jadi dia pun mengiyakan. Arsha melangkah dengan gagahnya, menuju kediaman Vanessa, yangg letaknya memang cukup berdekatan.
"Aunty..." sapa Arsha, pada Vannia yangg tengah menyiram tanaman.
"Eh Arsha, sombong nih, nggak pernah main," ujar Vannia. Memang, beberapa hari ini, Arsha juga cukup sibuk, karena dia harus mengurus pekerjaan sendiri, selama Yasha ada di Amerika.
"Iya nih Aunty, gara-gara kak Yasha di Amerika, jadi semuanya aku yang kerjain," keluh Arsha, mengadu pada Vania. Vannia hanya bisa menggeleng dan tersenyum, bagi Vania, Arsha kecil dan Arsha yang sudah dewasa tidak jauh berbeda. Dulu, saat Arsha tengah banyak kegiatan di sekolah, dan dia merasa lelah pun, pasti akan mengadu pada Vania.
"Ya sudah, terus sekarang kamu datang ke sini ada apa? pasti ada sesuatu hal yang penting kan?" tanya Vannia, mengingakan Arsha, tentang tujuannya datang ke kediaman Vannia.
"Oh iya, Arsha hampir lupa," cengir Arsha, "Arsha mau ketemu Vanessa, Aunty."
"Vanessa? ada di gazebo, kamu ke sana ajah," ujar Vannia, dan diangguki oleh Arsha. Sebelum masuk ke dalam rumah, Arsha lebih dlu berpamitan kepada Vannia dengan sopan. Arsha melihat Vannessa yang tengah fokus membaca novel, ide jahil muncul di kepala Arsha. Dia mengendap-ngendap mendekati Vanesssa, dan menutup mata Vanessa.
"Ih siapa sih?" keluh Vanessa, dia tidak bisa meihat siaa yang tengah usil. Arsha juga tidak bersuara barang sedikitpun.
"Kak Arsha ya?" tebak Vannessa, dan seketika Arsha melepaskan tangannya.
"Yah ... kok kamu tahu sih," keluh Arsha, dia gagal, karena Vanessa bisa menebaknya. Vanessa hanya tersenyum tak menanggapi pertanyaan Arsha.
__ADS_1
'Aroma tubuh Kak Arsha sudah tidak asing dalam ingatan ku Kak, bahkan mungkin sudah menjadi candu,' batin Vanessa. Ternyata, dia masih menyimpan rasa cintanya, meskipun hanya dalam diam. Vanessa diam-diam menatap Arsha dalam, karena saat ini, Arsha tengah fokus mencicipi camilan yang ada di atas meja.