Anak Genius - Triple Baby CEO

Anak Genius - Triple Baby CEO
Season 2 (Keras kepala)


__ADS_3

Rafa begitu semangat membawa Geri menuju kediaman Vanessa, Geri begitu nyaman nampaknya berada di gendongan Rafa. Sedangkan Rafa, dia nampak begitu semangat menemui Vanessa, entah semangat ingin menghibur atau ingin meledek kesedihan Vanessa.


"Assalamu'alaikum" Rafa langsung masuk kedalam rumah Vanessa, dia memang sudah terbiasa datang.


"Waalaikumsalam" Vania menjawab salah Rafa dari arah dapur.


"Eh Rafa ... cari Vanessa?" tebak Vania.


"Iya aunty," jawab Rafa.


"Ada tuh, di gazebo," tunjuk Vania.


"Ya udah aunty aku ke Vanessa dulu ya?" pamit Rafa.


"Eh tunggu, kamu mau minum apa?" tanya Vania.


Rafa pun nampak berpikir ,"kayaknya jus mangga yang aunty bikin enak," ucap Rafa seraya tersenyum. Memang Vania tengah membuat jus mangga.


"Boleh, nih sekalian bawa buat Vanessa ya?" ucap Vania seraya memberikan nampan berisi jus dan camilan, sedangkan Rafa menaruh Gerry dan bergegas menuju wastafel untuk mencuci tangan.


"Makasih aunty," Rafa menerima nampan tadi.


"Sama-sama," jawab Vania.


"Aunty, aku ke Nessa dulu ... ayo Gerry kamu jalan dibelakang aku ya," ucap Rafa memberi perintah, seakan-akan Gerry tahu bahasa Rafa.


Rafa berjalan menuju Gazebo yang terletak di taman belakang, terlihat Vanessa tengah duduk seraya melamun.


"Ngelamun terus, kesurupan loh entar," ucap Rafa membuyarkan lamunan Vanessa.


"Ngapain loe disini?" tanya Vanesa kesal.


"Hibur loe yang lagi galau," ucap setelah menaruh nampan dan duduk di salah satu kursi.


"Ck apaan sih, siapa yang galau coba," ucap Vanessa berdecak kesal.


"Ngga usah mengelak, gue udah tahu penyebab loe galau," ucap Rafa seraya meminum jus mangga nya.

__ADS_1


"Sok tahu," seru Vanessa kesal.


"Nggak usah malu Ness, sekarang loe percayakan sama omongan gue, kak Arsha itu cuman nganggap loe sebagai adik, mulai sekarang saran gue low buang jauh-jauh perasaan loe buat kak Arsha," kali ini nada bicara Rafa nampak lebih serius.


"Enggak," jawab Vanessa, "gue nggak mau ngelupain rasa gue buat kak Arsha, toh kak Arsha belum punya pacar juga kan? gue masih ada kesempatan Raf buat dapetin harta kak Arsha," ucap Vanessa keras kepala.


"Jangan lupain kak Glenca," Rafa menekan nama Glenca.


"Loe selalu bilang kak Glenca, kak Glenca terus ... tapi apa? kak Glenca tuh nggak ada disini Raf," kali ini pembicaraan mereka mulai sengit.


"Kak Glenca itu diluar negeri, dan kecil kemungkinannya dia kembali ke Indonesia, karena udah terlalu lama juga dia disana," ucap Glenca.


"Baru kecil kemungkinannya kan? masih ada harapan kak Glenca kembali," jawab Arsha.


"Loe bener-bener keras kepala Nes," Rafa mulai menyerah memberi pengertian kepada Vanessa, dia pun memilih bermain dengan gadgetnya.


"Loe harusnya semangatin gue Raf, loe dukung gue supaya gue bisa jadi kakak ipar loe."


"Males," Rafa meminum jus mangga nya hingga tandas, setelah itu dia langsung menggendong Gerry dan membawanya pulang.


Namun Rafa tak menggubris, dia terus melangkah meninggalkan Vanessa dengan kebingungannya.


"Kenapa sih tuh anak," ucap Vanessa bingung.


Sore hari Yasha dan Arsha sudah pulang dari kantor, karena pekerjaan sudah selesai, jadi mereka berdua bisa pulang lebih cepat. Namun, mereka menatap bingung, karena ada seorang perawat yang keluar dari rumah mereka.


"Sus, siapa yang sakit?" tanya Yasha khawatir.


"Nona Natalie," jawab suster, setelah itu dia pun berpamitan.


Mendengar nama Natalie, Yasha langsung masuk kedalam rumah, diikuti oleh Arsha. Rafa yang tengah duduk santai di ruang tamu, bergegas menghadang Yasha yang dengan tergesa-gesa masuk kedalam rumah. Pasalnya Rafa sudah diberi amanat dari Laura, untuk bisa mengendalikan Yasha.


"Kak, stop kak," ucap Rafa seraya merentangkan kedua tangannya.


"Ngapain sih kamu hadang kakak," ucap Yasha kesal.


"Aku tahu kakak pasti mau marah-marah," tebak Rafa.

__ADS_1


"Jadi kamu udah tahu kalau Natalie ada disini?" tanya Yasha.


"Tahu kak, kak Natalie emang dirawat disini, karena kak Natalie lagi sakit. Kasihan kalau kak Natalie dirumah sakit sendirian," ujar Rafa menjelaskan.


"Kak, lagian kakak liat sendiri kan tadi pagi gimana keadaan Natalie," ucap Arsha mencoba membantu Rafa agar Yasha tak gegabah.


"Itu bukan urusan ku," jawab Yasha.


Laura yang baru saja keluar dari kamar Natalie, sayup-sayup mendengar keributan, karena takut istirahat Natalie terganggu, Laura pun bergegas menuju pintu utama, dimana keributan itu berasal.


"Kenapa ini?" tanya Laura, yang melihat ketiga anaknya tengah berkumpul.


"Mommy," ucap Yasha,Arsha dan Rafa bersamaan.


"Mom..." belum selesai Yasha berbicara, namun Laura sudah menyela lebih dulu, karena Laura tahu apa yang akan Yasha ucapkan.


"Apa? kamu keberatan Natalie ada disini? ini sudah menjadi keputusan Mommy dan daddy, suka atau tidak suka, kalian harus menerima keputusan ini," tanpa mendengar jawaban dari ketiga putranya, Laura segara pergi.


Yasha mendesah kesal, dia pun kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya yang berada dilantai dua, tak ingin mengambil resiko Arsha dan Rafa mengikuti Yasha. Tak lupa Rafa juga mengajak Gerry untuk mengikutinya.


Saat melewati kamar tamu, yang lebih tepatnya kamar yang tengah digunakan oleh Natalie, Arsha dan Rafa sedikit mendorong tubuh Yasha agar tak berhenti, karena mereka takut, tiba-tiba Yasha masuk kedalam kamar Natalie dan membuat keributan.


Tengah malam, Yasha terbangun dari tidurnya, karena dia merasa haus, namun ketika melihat gelas yang berada di atas nakas gelas tersebut kosong, terpaksa Yasha harus turun kelantai bawah dibawa dapur berada.


Namun sebelum menuju dapur, Yasha melewati kamar Natalie, sayup-sayup dia mendengar suara rintihan, lebih tepatnya seperti mengigau. Yasha pun mencoba mengecek kamar Natalie.


"Natalie?" lirih Yasha. Dia melihat Natalie yang nampak menggigil,Yasha pun mencoba menempelkan punggung tangannya di dahi Natalie.


"Panas," ucap Yasha. Dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 dinihari, tak mungkin untuk membangunkan Laura, dia pun berinisiatif untuk mengompres Natalie, tapi lebih dulu dia pergi kedapur untuk menyiapkan kompresan, tidak lupa Yasha juga mengambil air minum, dan melepaskan dahaga yang sedari tadi dia tahan.


Yasha kembali kekamar Natalie dan mengompresnya secara perlahan.


"Nggak mungkin gue ninggalin Natalie dalam keadaan begini," batin Yasha. Diapun duduk di kursi sofa panjang yang ada dikamar Natalie, sambil beberapa kali mengecek suhu tubuh Natalie yang mulai menurun. Merasa lelah, Yasha pun berbaring sambil bermain ponsel supaya tidak mengantuk, Yasha berniat pindah ke kamarnya setelah panas Natalie benar-benar turun, namun kantuk mulai menyerang nya, hingga tidak terasa Yasha ketiduran di sofa, menemani Natalie.


...**Hai semuanya, maaf yaa beberapa hari ini author absen ngga up, karena harus istirahat.. tapi mulai malam ini, author udah aktif kembali, tapi baru bisa up satu bab, mungkin besok bisa double up .. ...


...Terimakasih semuanya**...

__ADS_1


__ADS_2