
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Eh ibu, bapak sudah datang" Ucap Farah ramah pada keluarga Vania.
"Mari Bu silahkan masuk" ucap Farah pada keluarga Vania.
"Terimakasih Bu" Ucap Ami, mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah Farah.
"Silahkan duduk" Ucap Farah mempersilahkan keluarga Vania untuk duduk di ruang tamu, dan keluarga Farah satu persatu menuju ruang tamu termasuk Vania dan Leo.
Mereka mulai berkenalan satu persatu, termasuk si kembar. Mereka tidak mau kalah untuk memperkenalkan diri.
"Wah anak - anak Bu Laura dan pak Rey sangat pintar dan menggemaskan" Puji Ami.
"Terimakasih Bu " ucap Laura.
"Saya yakin, mereka akan jadi orangb- orang yang sukses kela" ucap Budi.
"Aammiin om Budi, terimakasih doanya" Ucap Rey tulus.
"Ya sudah, saya rasa waktu berkenalan cukup. Sekarang kita ke meja makan ya" Ucap Farah, dia pun menggiring keluarga Vania untuk ke meja makan. Lalu mereka pun menempati posisi masing - masing.
"Saya berharap, dengan pertemuan kita adalah awal dari ikatan keluarga dan akan terus terjalin tali silaturahmi nya" ucap Rendi selaku kepala keluarga.
"Aamiin pak Rendi, kami juga berharap demikian" Ucap Budi, "dan saya mewakili keluarga dari Vania, juga mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga pak Rendi dan ibu Farah yang sudah mengundang kami untuk makan malam" Ucap Budi lagi.
"Sama - sama pak Budi,kami juga mengucapkan terimakasih atas ketersediaan bapak dan ibu memenuhi undangan kami" Ucap Farah.
"Silahkan pak, Bu di cicipi hidangannya, maaf ya cuma seadanya" Ucap Farah.
__ADS_1
"Ini malah sudah lebih dari cukup bu" ucap Rani. Kemudian mereka pun mulai menyantap makan malam.
Selesai makan malam mereka membahas perihal rencana pernikahan Leo dan Vania sambil duduk di ruang tamu dan menikmati secangkir teh.
"Jadi untuk acara pernikahan kami sudah sampai 65%" ucap Leo menjelaskan.
"Lalu nak Leo akan memberikan mahar berapa?" Tanya Ami.
"Eemm 750 juta Bu" jawab Leo.
"Cuma 750 juta?" Tanya Ami terkejut, Vania mulai merasa tidak nyaman dengan sikap ibunya itu.
"Bu, itu juga sudah sangat banyak" Ucap Vania.
"Nggak bisa dong Vania, lihat lah mereka itu orang kaya, masa cuma bisa ngasih kamu mahar 750 juta sih" ucap Anton membela Ami.
"Memang nya dulu mas ngasih mahar mba Ami berapa waktu nikah?" Tanya Budi menimpali.
"Saya om nya Vania mba, jadi saya berhak ikut campur dalam masalah ini" ucap Budi.
Vania semakin malu dengan sikap ibunya sekarang ini, apa yang di takutkan akhir nya terjadi.
"Jadi Bu Ami maunya saya ngasih mahar berapa?" Tanya Leo santai.
"Di naikkan dong nak Leo, biar lebih bagus kedengarannya 1 milyar kek, intinya di atas itu . Masa cuma 750 juta" Ucap Ami dengan tidak tahu malu nya.
"Memangnya Bu Ami ngasih apa untuk anak ibu? Ketika menikah nanti?" Tanya Farah, nampaknya Ami juga ikut geram dengan sikap Ami dan Anton. Namun sebisa mungkin dia menahannya karena tidak enak dengan Vania.
"Saya kan ibunya Vania Bu Farah, jadi saya tidak perlu memberikan apapun" Ucap Ami.
"Pemikiran apa itu? Ibu pikir semuanya hanya di nilai dari uang? Dengar Bu Ami.. anak juga butuh kasih sayang, sekarang saya tanya apa selama ini Bu Ami sudah memberikan kasih sayang yang tulus untuk Vania?" Tanya Farah. Sontak Ami membelalakkan matanya mendengar pertanyaan dari Farah, ya selama ini Vania memang tidak pernah merasakan kasih sayang darinya. Karena selama ini, Ami selalu menatap benci Vania, dia selalu diliputi amarah jika menatap Vania.
__ADS_1
"Bu, kita hidup itu harus realistis. Apa hanya dengan kasih sayang kita bisa makan?" Jawab Ami berani.
"Oh ya? Memang nya ibu membesarkan dan menafkahi Vania selama ini?" Tanya Farah lagi. Lagi - lagi Ami tidak bisa menjawab, karena selama ini Ami tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk Vania. Semenjak Vania ada dalam kandungan nya, alm. Ibu nya lah yang membiayai dan ketika Vania lahir alm. Ibu nya juga yang membesarkan dan merawat Vania, bahkan hingga pendidikan.
"Kenapa ibu diam? Asal ibu tahu, Leo memberikan mahar 750 juta itu belum terhitung dengan rumah, dan mobil yang akan di berikan untuk Vania" ucap Farah menjelaskan.
"Loh, tempat tinggal kan sudah menjadi tanggung jawab suami " kali ini Anton yang berbicara.
"Oh ya mas? Lalu bagaimana dengan kamu?" Tanya Budi pada Anton. Sekali lagi, Anton kalah dia tidak bisa menyanggah pertanyaan Budi.
"Pak Anton benar. Sandang, pangan, papan adalah tanggung jawab suami,namun Leo ingin memberikan yang terbaik untuk Vania hingga dia memutuskan membeli rumah. Asal ibu Ami dan pak Anton tahu, Leo sebenarnya bisa saja mengajak Vania tinggal di apartemen, namun Leo tidak mau. Karena ingin memberikan fasilitas yang lebih baik untuk Vania. Agar Vania bisa lebih bersosialisasi" kali ini Rendi yang menjalelaskan.
"Apa ada lagi yang ingin Bu Ami tahu?" Tanya Farah menantang. Ami dan Anton diam tidak bersuara, mereka memilih meminum teh yang sudah di sajikan di meja.
"Maaf ya Bu Ami, kalau saya dan istri saya terkesan perhitungan, kami sudah menganggap Vania seperti anak kami sendiri, jujur saja melihat sikap Bu Ami dan pak Anton yang seperti ini, saya kasihan kepada Vania. Apa tidak bisa bu Ami menanyakan kabar Vania? Atau yang lain. Jika di ingat kalian jarang berkomunikasi dan bertemu, apa Bu Ami tidak rindu dengan putri ibu sendiri" tanya Rendi.
Vania menatap Rendi dengan penuh haru, Rendi bisa tahu apa yang Vania rasakan, ya Vania tidak menuntut banyak kepada ibunya, dia hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya yang selama ini belum pernah dia rasakan.
"Maaf ya pak Rendi, pak Rendi ini tahu apa tentang saya dan keluarga saya?" Tanya Ami sinis.
"Tentu saya tahu banyak, tentang Vania yang ibu telantarkan dan Vania harus di kejar rentenir yang menagih hutang kalian" ucap Rendi. Ami dan Anton begitu terkejut, ternyata Rendi tahu.
"Jadi pak Rendi tahu" Batin Anton.
"Pasti Vania yang menjelek - jelekkan aku, dasar anak kurang ajar" batin Ami. Ami dan Anton adalah pasangan suami istri yang serasi, sama - sama memiliki rasa tidak tahu malu.
.
.
...Haii **malam Minggu nih up cepet 😅 jangan lupa like , vote dan komen yaaa...
__ADS_1
......Happy reading readers**......