
Hari weekend seperti biasa keluarga Laura akan berkumpul menikmati waktu keluarga, apalagi sekarang ada Natalie suasana pun semakin ramai, sebenarnya kondisi Natalie sudah cukup membaik, namun Laura masih melarang Natalie untuk kembali ke apartemen, mengingat kondisi Natalie belum cukup stabil.
Keluarga kecil Laura tengah berkumpul di ruang keluarga, mereka tengah berbincang santai, ada yang mengobrol seputar pekerjaan, terkadang mereka juga bercerita tentang hal lucu.
Tal lama, terdengar suara salam dari Vanesa, dia pun langsung masuk kedalam rumah Laura, karena mencari Keysha.
"Hai Vanessa," sapa Laura.
"Hallo aunty," sapa Vanessa.
"Cari siapa?" tanya Laura.
"Kak Keysha."
"Sini duduk," ajak Keysha, Vanesa pun duduk disamping Keysha, namun matanya nampak mencari seseorang, yang tidak ada diruang keluarga. Dan semua gerak-gerik Vanessa diawasi oleh Rafa, dia tahu siapa yang Vanessa cari, yaitu kakaknya Arsha.
"Ada apa Nes?" tanya Rafa mencoba mengalihkan perhatian Vanessa.
"Eh iya, ini kak Keysha, aku mau membicarakan soal penawaran kakak kemarin," jawab Vanesa.
"Oh iya, gimana keputusan nya?" tanya Keysha antusias, Laura, dan Natalie sudah tahu apa yang Keysha bahas, kecuali Yasha.
"Aku udah bilang sama mamah dan papah, mereka menyerahkan keputusannya ke aku, yang pentin itu nggak mengganggu sekolah ku, jadi keputusannya aku mau kak," jawab Vanessa seraya tersenyum.
Mata Keysha berbinar senang, "syukurlah kalau kamu mau, kakak yakin dari sini kamu bisa lebih menggali lagi kemampuan kamu," ucap Keysha menyemangati Vanessa.
"Iya kak," jawab Vanessa.
"Ya sudah nanti coba kamu design sebuah gaun pernikahan, kakak mau lihat hasilnya, bisa?" tanya Keysha.
"Bisa kak," jawab Vanessa penuh semangat.
"Semangat seperti ini bagus Vanessa, aunty yakin, kelak kamu akan jadi anak yang sukses," ucap Laura.
"Iya aunty, aammiin."
Dan dari arah tangga, terdengar suara langkah kaki, ternyata itu Arsha, dia turun kelantai bawah menghampiri keluarganya, Vanessa begitu terpukau dengan penampilan Arsha, rambut yang tertata rapih, pakaian kasual dan dipadukan dengan sepatu snikers.
"Mom, aku pergi keluar ya bentar," pamit Arsha.
"Hati-hati," jawab Laura.
"Eemm Raf, ikut yuk," ajak Arsha.
"Kemana?" tanya Rafa seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Udah ikut aja," jawab Arsha.
"Ajak Nessa juga ya?" pinta Rafa.
"Oh iya, kebetulan ada Vanesa, ikut aja yuk?" ajak Arsha kepada Vanessa.
__ADS_1
"Eemm boleh deh," jawab Vanesa" Setelah itu mereka pun berpamitan dan langsung melangkah menuju mobil.
Vanessa duduk di samping Arsha yang memegang kemudi, sedangkan Rafa duduk dikursi penumpang sendirian.
Selama perjalanan senyum Arsha tak pernah luntur, dan itu tak luput dari penglihatan Vanessa, dalam benak Vanessa bertanya, apa kah yang membuat Arsha sebahagia itu?.
Mobil berhenti ketika mereka sampai di bandara, Vanessa bingung kenapa Arsha mengajaknya ke bandara.
"Apa mungkin kak Arsha mau jemput uncle Rey?" batin Vanessa. Arsha keluar dari mobil, dan meminta Rafa dan juga Vanessa, untuk tetap didalam.
"Raf, bosen nih, keluar yuk," ajak Vanessa.
"Yuk." ajak Rafa, mereka berdua pun turun dari mobil, Vanessa menatap sekeliling bandara, mencari keberadaan Arsha, namun nihil.
"Raf, kita mau jemput siapa sih?" tanya Vanessa.
"Nggak tahu," jawab Rafa seraya mengedikkan bahunya acuh.
"Emang nggak jemput uncle Rey?"
"Enggak, Daddy pulang lusa," jawab Rafa.
"Loh, terus kita jemput siapa?" tanya Vanessa bingung.
Lalu dari arah pintu, mereka melihat Arsha yang tengah berjalan dengan seorang perempuan, satu tangan Arsha membawa koper yang cukup besar, sepertinya milik wanita itu.
"Loh, kak Glenca?" lirih Rafa, sontak Vanessa menatap kepada Rafa dengan pandangan bertanya.
"Enggak kok kak," jawab Rafa.
"Hai kak Glenca," sapa Rafa, dia memang sudah cukup mengenal Glenca, karena terkadang ketika Arsha video call dengan Glenca, Rafa juga ikut.
"Hai Rafa, wah udah besar ya, ganteng lagi," ucap Glenca seraya tersenyum manis.
Rafa tersenyum membalas pujian dari Glenca, kemudian Glenca menatap kearah Vanesa, yang memang asing bagi Glenca, karena mereka tidak pernah bertemu.
"Nah ini Vanesa Glen, dan Vanesa ini kak Glenca," mereka berdua pun saling berjabat tangan.
"Wah Vanessa cantik ya, kaya Tante Vania," puji Glenca.
"Terimakasih kak," jawab Vanesa seraya tersenyum.
"Ya udah, yuk aku antar kamu pulang." ajak Arsha, dia pun menaruh koper Glenca ke bagasi mobil, sedangkan Glenca berniat masuk kedalam mobil, Vanessa hendak duduk dikursi samping Arsha, namun tangan Rafa sudah lebih dulu menariknya ke kursi penumpang.
Vanessa hendak protes, namun ketika melihat Arsha yang membukakan pintu untuk Glenca di kursi depan, membuat Vanesa akhirnya menuruti Rafa.
Sepanjang perjalanan Arsha dan Glenca terus mengobrol banyak hal, namun sepertinya Vanesa dan Rafa tak tertarik dengan obrolan mereka berdua, apa lagi Vanessa, sangat nampak dia tidak nyaman dengan kondisi sekarang.
"Aku kangen banget sama Indonesia Ar, sama Jakarta dan juga komplek rumah kita," ucap Glenca, pasalnya memang mereka berdua tinggal di satu perumahan.
"Nggak kangen aku nih?" tanya Arsha menggoda.
__ADS_1
"Iih Arsha," Glenca tertawa, namun tawanya begitu anggun.
Tiba-tiba Arsha mengemudikan mobilnya, ke salah satu restoran, membuat Glenca, Rafa dan Vanessa mengernyit bingung.
"Kita mampir makan dulu yuk? kamu pasti laper kan?" ajak Arsha kepada Glenca setelah dia memarkirkan mobil.
"Eh tapi nggak papa?" tanya Glenca tak enak.
"Nggak papa, yuk Rafa, Vanesa." ajak Arsha, mereka semua pun turun dari mobil, dan memasuki restoran.
"Raf, kita pisah meja aja," pinta Vanessa dengan lirih.
"Ya udah," Rafa pun menuruti permintaan Vanessa.
"Kak aku ke meja itu aja ya?"
"Loh kenapa nggak sama kakak aja?" tanya Arsha bingung.
"Enggak, siapa tahu kakak butuh waktu berdua," jawab Rafa sambil mengedipkan sebelah matanya. Rafa pun tersenyum kearah Rafa, seolah mengatakan terimakasih atas pengertiannya.
Vanesa dan Rafa duduk dimeja yang cukup jauh dari Arsha dan Glenca, nampak sekali Vanesa tak suka dengan kehadiran Glenca, dan Rafa tahu itu.
"Raf, gue mau pulang," ucap Vanesa dengan nada kesal.
"Loh, kenapa? kita kan baru duduk," jawab Rafa bingung.
"Pokoknya aku mau pulang," Vanessa menekan kata-katanya, seolah dia menahan rasa sakit dihatinya, dan juga air mata yang seolah ingin keluar dan meluncur bebas dipipi Vanessa.
Melihat keadaan Vanesa membuat Rafa tak tega, "ya udah, gue ijin ke kak Arsha ya?" ucap Rafa dengan nada halus. Vanessa pun mengangguk sebagai jawaban.
Rafa melangkah menuju meja kakaknya, yang nampak sekali mereka tengah mengobrol.
"Kak," panggil Rafa.
"Eh kenapa Raf?" tanya Arsha.
"Aku pulang duluan ya?"
Alis Arsha berkerut, "kenapa pulang?" tanya Arsha.
"Iya aku lupa harus latihan sekarang, kalau kakak mau disini nggak papa, aku pulang sama Vanesa aja," ucap Rafa.
"Nggak papa emang?" tanya Arsha memastikan.
"Iya kak tenang aja," jawab Rafa meyakinkan.
"Ya udah nih, buat ongkos pulang," ucap Arsha seraya mengeluarkan uang seratus ribu berjumlah 5.
"Oke kak, makasih ya. Kak Glenca have fun ya."
"Makasih Arsha."
__ADS_1