
Kini Ami baru saja tiba di rumahnya, dia mengecek ke dalam rumah dan tidak mendapati siapapun, nampaknya Anton tidak berada di rumah.
"Pergi kemana dia?" Batin Ami.
Pukul 11 malam Anton baru pulang, dia melihat Ami yang tengah duduk di ruang tamu.
"Kamu belum tidur sayang" Tanya Anton.
"Aku tidak bisa tidur, ini aku buatkan teh masih hangat kok" Ucap Ami.
"Terimakasih sayang, kamu memang pengertian" Ucap Anton, dia pun duduk berhadapan dengan Ami.
"Bagaimana dengan pertemuan antara kamu dan Vania?" Tanya Anton sambil meminum teh buatan Ami hingga tandas.
"Aku tidak bertemu Vania" Jawab Ami.
"Lalu?" Tanya Anton bingung.
"Aku bertemu dengan Leo dan Rey, mereka mengatakan suatu hal padaku" Jawab Ami tenang.
"Apa itu?" Tanya Anton.
"Tentang kamu, yang ternyata otak dari kejadian pemerkosaan ku" Jawab Ami.
"Dan kamu percaya??" Tanya Anton, tapi entah kenapa tenggorokan nya terasa panas.
"Tentu percaya, sekarang mengaku lah" Ucap Ami.
"Baguslah kalau kamu sudah tahu, kini aku tidak perlu berpura - pura lagi, dan aku sudah melihat kehancuran mu, maka semua dendam ku sudah lunas" Ucap Anton.
"Bukan hanya aku yang akan hancur, tapi kita berdua" ucap Ami sambil menyeringai.
"Apa .. apa maksud kamu??" Tanya Anton, tenggorokan Anton semakin panas dan tidak nyaman.
Ami tersenyum dan meminum teh nya juga,"tidak kah kamu merasakan gejala yang aneh?" Tanya Ami setelah dia meminum teh nya.
Anton membelalakkan matanya dan dia juga memegang leher nya itu, Tenggorokan nya serasa tercekat dan dia sulit untuk bernafas, tubuh Anton limbung dan jatuh ke lantai. Anton masih menatap Ami dengan tatapan penuh benci.
"Mari kita mati bersama" Ucap Ami sambil tersenyum, Ami mulai ter batuk , dia juga merasakan hal yang sama seperti Anton, kondisi Anton sendiri sudah mengenaskan mulutnya mengeluarkan busa.
Ami belum sepenuhnya tidak sadarkan diri, matanya masih setengah terbuka dan dia seperti melihat kilas balik selama hidupnya dulu, bagaimana dia memperlakukan Vania, penyesalan terbesar dalam hidup Ami adalah sikapnya kepada Vania.
__ADS_1
"Maaf kan ibu Vania" batin Ami, dia sudah tidak bisa bicara lagi.
Ami kembali mengingat kejadian tadi ketika dia melihat rumah yang kosong, dia pun mencari racun tikus di rumahnya karena seingat nya, dia pernah menyimpan itu untuk membunuh tikus yang selalu ada di dalam rumah.
Ami membuat dua cangkir teh dan mencampurkan racun tikus dalam minuman itu.
Penglihatan Ami mulai semakin kabur, nafasnya pun semakin sulit dsn detik berikutnya Ami sudah menutup mata menyusul Anton.
Ke esokan paginya ada salah satu tetangga yang datang ke rumah Ami dan mengetuk pintu beberapa kali, tetangga tersebut berniat mengembalikan cangkul yang dia pinjam kemarin, namun sudah beberapa kali mengetuk Ami belum juga keluar rumah.
Tetangga tersebut pun mencoba mengintip dari jendela yang tirainya sedikit terbuka, dan betapa terkejutnya dia melihat Ami dan Anton yang sudah tergelatak di lantai.
"Tolong... Tolongg...!!!" Teriak nya, dan tidak lama beberapa warga pun berkerumun.
"Ada apa pak??"
"Bu Ami dan pak Anton tergeletak di lantai, saya lihat lewat celah jendela" Ucap nya menjelaskan.
"Astaghfirullah, ya sudah dobrak saja pintunya" Usul salah satu warga, kemudian dua pria mengambil ancang - ancang untuk mendobrak pintu. Dalam sekali tendangan pintu berhasil terbuka.
Para warga begitu terkejut melihat kondisi Ami dan Anton, mulut mereka berdua sama - sama mengeluarkan busa.
"Pak ayo bawa ke rumah sakit" Ucap salah satu warga yang di ketahui adalah ketua RT. Para warga pun membawa Ami dan Anton menggunakan ambulance desa.
Pak Bambang selaku ketua RT melihat sekeliling rumah dan mendapati dua cangkir yang ada di meja, dia berinisiatif menelpon polisi untuk melaporkan kejadian ini, dia juga melihat ponsel Ami di atas kursi serta ada surat bertuliskan untuk Vania.
"Oh iya mbak Vania" Ucap pak Bambang, dia mencari nomor telepon Vania dari ponsel Ami.
Sedangkan Vania, entah karena apa perasaan nya terus gelisah sejak semalam, bahkan malam tadi tidurnya tidak nyenyak. Vania terus memikirkan Ami, dia menyesal karena memperbolehkan Ami pulang malam itu.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Leo pada Vania yang tengah melamun, bahkan Vania tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Aku kepikiran ibu" Jawab Vania.
"Ya sudah pulang kerja kita kesana, kita jemput ibu, supaya ibu tinggal bersama kita" ucap Leo.
"Memang nggak papa??" Tanya Vania.
"Ya nggak papa sayang, memang kenapa?" Tanya Leo.
"Siapa tahu kamu risih karena ada ibu" Ucap Vania.
__ADS_1
"Sayang dengarkan aku" Leo menggenggam tangan Vania, "ibu kamu berarti ibu ku juga, kemarin aku hanya kecewa dengan sikap ibu. Tapi sekarang ibu sudah berubah, dan aku menerima ibu untuk tinggal bersama kita" Jelas Leo.
"Terimakasih sayang" Ucap Vania seraya memeluk Leo.
Namun tiba - tiba ponsel Vania berdering menandakan telepon masuk, dan tertera nama ibu disana. Vania dengan semangat mengangkat panggilan yang dia kira dari ibunya.
"Halo ibu.." Ucap Vania.
"Mbak Laura.. ini saya pak Bambang" Ucap pak Bambang di sebrang telepon.
"Loh pak Bambang, kok ponsel ini ada di bapak? Ada apa pak?" Perasaan Vania mulai tidak enak.
"Mbak langsung ke rumah sakit saja ya nanti saya kirim lokasinya, disana nanti saya akan jelaskan" Ucap pak Bambang.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit pak?" Tanya Vania.
"Bu Ami dan pak Anton, saya tunggu ya mba" Ucap pak Bambang.
"Ba..baik pak saya segera kesana" Ucap Vania, setelah itu sambungan telepon pun terputus.
"Ada apa sayang?" Tanya Leo yang melihat Vania sudah panik sekarang.
"Ibu masuk rumah sakit, ayo Leo kita kesana" Ucap Vania.
"Ya sudah, aku bilang ke Rey dulu ya" Ucap Leo, dia pun segera berlari menuju rumah Rey.
Sesampainya di rumah Rey, tanpa basa basi Leo langsung membicarakan niatnya, dan Rey memahami tentang kondisi Vania dan Leo. Rey pun mengijinkan mereka berdua untuk cuti hari ini, Rey juga meminta pada Leo agar mengabari nya jika terjadi sesuatu pada Bu Ami.
Selesai dari rumah Rey, Leo langsung mengajak Vania pergi ke rumah sakit dimana Ami di larikan, perjalanan serasa sangat lama bagi Leo dan Vania karena mereka ingin cepat sampai.
"Ya Allah, ibu kenapa? Bu tunggu Vania .. Vania datang Bu.." Batin Vania, dia sangat gelisah sekarang. Leo mencoba menengah Vania dengan menggenggam tangan Vania.
"aku yakin ibu pasti akan baik - baik saja" Ucap Leo mencoba menenangkan Vania. Vania hanya mengangguk sebagai jawaban, karena kini dia sudah terisak.
.
.
...Hari ini aku cuma bisa up dua bab.. ...
...jangan lupa like ,vote dan komen nya yaaa...
__ADS_1