
Rafa melangkah menuju mejanya, dimana Vanesa tengah duduk sendirian menunggunya. Rafa sebenarnya tak tega dengan Vanesa, dia tahu pasti Vanesa tengah merasakan patah hati, setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sikap Arsha kepada Glenca. Bahkan Arsha begitu semangat ketika menjemput Glenca di bandara tadi.
"Ayo Nes, aku udah pamit kok," ajak Rafa, Vanesa pun bangkit dari duduknya dan berjalan bersisian dengan Rafa.
"Aku udah pesen taksi online, bentar lagi pasti dateng," ucap Rafa, namun tak ada tanggapan dari Vanesa.
Tak lama, taksi pesanan Rafa sudah datang, dia pun mengajak Vanesa untuk naik. Sepanjang jalan, Vanessa terus saja terdiam, tak ada sepatah katapun yang keluar dadi bibir Vanessa, padahal biasanya dia itu bawel.
"Raf, kita beli ice cream yuk," ajak Vanesa.
"Ya udah," jawab Rafa, "pak didepan berhenti ya?" pinta Rafa.
Kemudian taksi pun berhenti didepan salah satu kedai ice cream, setelah membayar biaya tagihan, Rafa pun mengajak Vanessa untuk duduk disalah satu kursi yang kosong,sembari menunggu pesanan mereka.
Tak lama pesanan datang, Vanessa pun langsung memakan ice cream nya, berharap semua rasa kesal dan sakit hatinya ikut mencair. Rafa tahu, perasaan Vanessa pasti tengah galau, sebagai sahabat Rafa hanya bisa menghibur Vanessa dengan caranya.
"Nes, apa setelah loe tahu kak Glenca ada kembali ke Indonesia loe bakal buang rasa loe?" tanya Rafa seraya memakan ice cream nya.
Vanessa terdiam sejenak kemudian berkata, "enggak, gue nggak mau nyerah Raf, apapun yang terjadi gue bakal perjuangin perasaan gue, soal kak Glenca gue gak yakin mereka menjalin hubungan."
Rafa menggeleng pelan mendengar jawaban Vanessa, "loe keras kepala banget sih," ucap Rafa kesal.
"Ini soal cinta Raf, dan gue gak mau mundur gitu aja, gue mau berjuang dan gue yakin masih ada kesempatan buat gue supaya gue bisa bikin kak Arsha jatuh cinta sama gue," jawab Vanesa yakin.
"Terserah loe deh," ucap Rafa menyerah. Sedangkan Vanessa hanya mengedikkan bahunya acuh, karena cinta dan obsesi nya sudah mengalahkan logika, jadi apapun yang akan orang lain katakan, itu semua tidak akan bisa diterima oleh Vanessa.
"Balik yuk." Ajak Rafa, karena ice cream mereka juga sudah habis.
"Yuk." Vanesa pun berdiri dari duduknya, sedangkan Rafa nampak tengah mengutak-atik ponselnya.
"Kenapa Raf?" tanya Vanessa, karena melihat raut kekesalan di wajah Rafa.
"Ponsel gue lowbat, ponsel loe dong buat pesen taksi online," ucap Rafa seraya menengadahkan tangannya.
"Gue gak bawa," jawab Vanessa santai.
"Terus gimana kita baliknya?" tanya Rafa panik.
"Ya cari taksi lain ajah yang lewat," saran Vanessa.
"Nggak bisa Nes, pasti susah, ini tuh weekend," jawab Rafa frustasi. Mendengar jawaban Rafa, Vanessa pun ikut panik.
Ditengah kebingungan mereka, ada mobil yang berhenti di depan mereka, Rafa dan Vanessa pun saling berpandangan satu sama lain, kemudian turun lah seseorang dan menyapa mereka.
"Hai Rafa, Vanessa."
__ADS_1
"Friska?" ucap Vanessa dengan raut wajah bingung.
"Kalian mau kemana?" tanya Friska ramah.
"Pulang Fris," jawab Rafa.
"Naik apa?" tanya Friska, pasalnya dia tak melihat motor Nando.
"Sebenarnya kita mau cari taksi, tapi weekend agak susah," jawab Rafa.
"Ya udah, aku anter yuk," ajak Friska.
"Eh nggak usah," tolak Rafa halus.
"Kenapa nggak usah Raf? kan loe bilang sendiri cari taksi jam segini susah," ujar Vanessa.
"Ya udah, kalo loe gak mau, gue ajah," Vanessa pun berjalan kearah mobil Friska.
"Ayo Fris." ajak Vanessa.
"Ayo." Friska pun melangkah menuju mobilnya menyusul Vanessa, Friska dan Vanessa duduk di kursi penumpang, karena ada supir yang mengemudikan mobil.
Rafa tak punya pilihan, akhirnya dia pun ikut masuk kedalam mobil.
"Kita kemana non?" tanya supir kepada Friska.
"Baik non," Mobil pun melaju menuju kediaman Rafa dan Vanessa, selama perjalanan Vanesa dan Friska juga membicarakan beberapa hal, seputar tugas disekolah.
"Kalian habis dari mana? kok tumben nggak bawa kendaraan?" tanya Friska.
"Habis ikut kak Arsha jemput pacarnya," jawab Rafa.
"Bukan, cuman temen," ujar Vanessa tak terima.
Friska menatap bingung kearah keduanya, "jadi temen apa pacar?"
"Temen," jawab Vanessa sengit.
"Pacar," jawab Rafa tak kalah sengit.
"Loe gimana sih Raf, harusnya loe dukung gue dong," ucap Vanessa kesal.
"Ngapain gue dukung loe? calon pelakor," ucap Rafa santai.
"Raf, kamu gak boleh bilang gitu," tegur Friska.
__ADS_1
"Tau tuh," Vanessa bersedekap dada seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Terus apa kalau bukan pelakor? cewe yang masih mengharapkan seorang lelaki yang sudah jelas memiliki kekasih, apa bukan disebut pelakor?" tanya Rafa seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan asal bicara ya Raf, kak Arsha belum punya pacar, kak Arsha sama kak Glenca cuman temen," ucap Vanessa seraya meneken perkataan teman.
"Duh stop," ucap Friska menengahi perdebatan antara Rafa dan Vanessa, yang sama-sama keras kepala.
"Raf, apapun itu harusnya kamu nggak ngomong kasar gitu ke Vanesa, kamu itu harusnya bisa bicara lebih baik lagi," ucap Friska.
"Dia udah gak bisa dibilang baik-baik Fris, dia terlalu terobsesi sama kak Arsha," jawab Rafa.
"Ini bukan obsesi, ini cara gue memperjuangkan cinta gue ya Raf, lagian kak Arsha dan kak Glenca emang bukan pasangan kekasih kok, mereka cuman temen," bela Vanesa.
"Dari mana loe tahu kak Arsha gak punya hubungan sama kak Glenca?" tanya Rafa.
"Kak Arsha di Indonesia, dan kak Glenca di Amerika, mereka udah terpisah sejak usia 9 tahun, dan baru ketemu sekarang, aku yakin nggak ada hubungan spesial antara keduanya," jawab Vanesa yakin.
"Menurut loe gimana Friska?" tanya Vanessa, meminta pendapat Friska.
Friska nampak berpikir sejenak, "kalau menurut ku, gak masalah kalau Vanessa mau memperjuangkan cintanya, mencintai itu hak semua orang, asal lelaki yang kamu cintai benar-benar belum memiliki pasangan," jawab Friska.
"Kok loe belain dia sih Fris," ujar Rafa kesal.
"Bukan belain Raf, siapa sih di dunia ini yang tahu tentang jodoh, semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa," jelas Friska.
"Tuh dengerin," ucap Vanessa kepada Rafa.
"Makasih ya Fris," bisik Vanessa, Friska pun merespon dengan senyum.
Rafa hanya mendesah kesal, karena jawaban Friska lebih pro kepada Vanessa, "tambah besar kepala deh tuh dia," batin Rafa.
Disisi lain, Arsha tengah asyik mengobrol dengan Glenca seraya menikmati santapan makan siang mereka. Arsha akui, menatap wajah Glenca dekat seperti ini Glenca semakin cantik dipandang.
"Kamu cantik Glen," puji Arsha.
Mendengar pujian dari Arsha, membuat pipi Glenca memanas, dan tanpa sadar pipi Glenca bersemu merah. Padahal pujian seperti ini sering Glenca dengar.
"Kamu gombal," ucap Glenca malu-malu.
"Nggak gombal, sumpah deh, kamu tuh cantik," ucap Arsha.
"Makasih," jawab Glenca seraya tersenyum manis.
"Duh meleleh hati aku Glen," ujar Arsha seraya meletakkan tangannya tepat di dada.
__ADS_1
"Apaan sih Arsha," Glenca tertawa mendengar gombalan dadi Arsha, tak banyak berubah dari Arsha, masih sering menggombal kepadanya, meskipun begitu tetap saja, hati Glenca selalu bergetar ketika berbicara dengan Arsha, padahal mereka sering vidieo call, namun bertemu secara langsung seperti ini jantung Glenca terus berdetak dengan cepat, ada rasa bahagia yang tak bisa dia ucapkan sekarang ini.