
Tina terus menghindar saat diajak untuk berhubungan suami istri oleh Thomas yang sudah tidak menahan nafs*nya.
“Tina, kenapa kamu menghindar terus sih?”, tanya Thomas
“Aku sedang sibuk”, jawab Tina sekenanya.
“Tapi, kamu sibuk apa sweety? Kamu hanya mondar mandir ke sana-sini”,
“Jika kamu lihatnya begitu, anggap saja aku sedang mondar mandir sana-sini”, Thomas mulai jengah dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu dengan paksa Thomas menggendong Tina seperti karung beras. Kemudian Tina terkejut saat tubuhnya merasa melayang dan memukul punggung Thomas.
“Thomas lepasin!”, sambil kakinya terus di gerakkan.
“Lepasin! Lepasin! Lepasin!”, teriak Tina.
Sesampainya di kamar Thomas melempar tubuhnya dan Tina merintih, “auch”, lalu Thomas menindih tubuhnya terus mencekal ke dua tangannya membuat Tina hanya menggeliat karena kakinya juga diapit diantara kedua kaki milik Thomas.
“Tho... uhmmm”, lenguh Tina ketika bibirnya sudah terbungkam dengan bibir milik Thomas. Membuat Tina tidak dapat berbuat sesuatu.
Setiap inci Thomas memberikan kenikmatan pada tubuh Tina membuat dia terus menggeliat karena geli dari sentuhan yang diberikan oleh Thomas.
Tangan nakal Thomas terus memberikan efek menggelikan dan membuat tubuh Tina terus menggelinjang. Rasa nikmat yang diberikan satu sama lain membuat hati mereka berdebar.
Pikirannya mulai menggila, mereka sama-sama terbawa euforia masing-masing dalam. Lingkaran surga dunia hingga tubub mereka terkapar di ranjang lalu terlelap bersama.
Malamnya mereka makan bersama dengan Felix seperti keluarga kecil sambil mengobrol tentang sesuatu hal sepele.
“Felix, bagaimana dengan rakitan robotik dan pemrogaman aplikasi yang sedang kamu kerjakan”, tanya Thomas
“Masih lama dad”, jawab Felix
“Apa hari ini momy dan daddy sedang terjadi sesuatu?”, tanya Felix dan Tina yang mendengarkan saat sedang makan
langsung tersedak, “huk.., huk..,huk..,”, sambil memukul dadanya.
__ADS_1
Sedangkan Thomas menanggapi dengan santai, “Yah, begitulah sesuai dengan harapan yang kau inginkan”, jawabnya dan langsung dapat injakan di kakinya dari Tina.
Felix hanya beroh-ria.
“Sayang, kamu jangan dengarkan daddy kamu”, ucap Tina.
“Baiklah”, ucap Felix yang sebenarnya ia sudah mengetahui karena semua yang dilakukan daddynya adalah rencana Felix juga.
“Mom, aku pamit ke kamar dahulu”, pamit Felix dengan langsung bergegas ke kamar.
Esok harinya mereka berangkat bersama ke kantor setelah mengantarkan Felix ke sekolah.
“Mom, dad, aku berangkat dulu ke sekolah”, pamit Felix sambil turun dari mobil BMW 17.
“Baiklah, hati-hati ya, sayang”, ucap Tina di sebelah Thomas dengan mengeluarkan kepala dari jendela mobil.
Felix berlari dengan melambaikan tangan dan Tina merasa puas. Lalu mereka berangkat ke kantor.
Mereka berjalan beriringan melewati semua tatapan para karyawan dengan berbagai bisikan ada yang positif dan ada juga negatif namun Tina abaikan selama batas wajar.
“Turunkan!”, bisik Tina
“No!”, sambil tersenyum licik dan memposisikan gendongan tubuh Tina seperti koala. Lalu lift berdenting, “ting”, menandakan mereka telah sampai kemudian keluar melewati dua bawahan yang berada di satu lingkungan dengan ruangan Thomas. Setelah masuk Thomas memberi kode dan dua bawahan mengerti maksud dari Thomas.
Thomas menutup tirai ruang kerja lalu menciumi bibirnya mendalam saling memberi nafas hingga aksi bercinta sejak dua jam dan mereka kembali bekerja. Tina merasa kesal kenapa ia selalu terbuai akan aksi yang diberikan oleh Thomas. Dia memukul kepalanya sendiri dan Thomas yang melirik hanya tersenyum tanpa sepengetahuan Tina.
“Sweety, kamu sangat imut ketika kesal, marah, dan apalagi ketika berhubungan”, batin Thomas sambil berkutat dengan dokumen
Ketika seluruh jajaran karyawan sedang sibuk bekerja tiba-tiba Elizabeth datang, berjalan melewati dua penjaga di kantor Thomas dengan tanpa malunya.
“Maaf nona, anda tidak bisa asal masuk tanpa membuat janji”, ucap salah satu penjaga berambut blound dengan menggunakan kaca mata hitam.
“Aku, itu kekasihnya Thomas. Jadi, kalian minggirlah!”, ucap Elizabet yang terus ingin menerobos tetapi penjaga terus menghalanginya.
__ADS_1
“Mohon maaf, saya terpaksa mengusir anda, nona”,ucap penjaga itu.
Tina yang berada di ruangan Thomas mendengar suara teriakan dan keributan di luar. Lalu Tina akan beranjak tetapi oleh Thomas di cegah dengan memberi kode untuk duduk kembali dan Tina kemudian dengan patuh duduk karena ia telah mengenali suara perempuan itu.
Salah satu penjaga menghubungi penjaga lain untuk mengusir Elizabet, namun tanpa malunya karena sudah diusir dengan banyak penjaga di kantornya. Dia terus berteriak menyebut nama Thomas.
“Thomas!”
“Thomas!”
“Thomas!”
“...”
Teriakan itu terus menggema di setiap lorong ruangan dan dia menjadi pusat perhatian karena menggila. Sesampainya di luar ia di turunkan dan lobi di jaga ketat.
Tina saat ini, tidak ingin ikut campur permasalahan mereka. Sekarang dia ingin fokus mengetik saja.
Ketika istirahat, Tina pergi keluar dari kantor dengan dijemput Grace tiba-tiba Elizabeth datang dengan muka tebal dan mengatakan bahwa dirinya yang pantas memiliki Thomas.
“Tina!”, panggilan keras dari Elizabet yang sudah sejak diusir masih betah berada di pelataran kantor dengan baju merah sexy. Lalu Tina menoleh dan terkejut.
“Tina, sudah lama tidak bertemu. Sayangnya kamu tampak sama enam tahun lalu”, ucap Elizabeth dengan bibir menornya.
“Iya tampak sama, tetapi kamunya yang semakin seperti j*l*ng”, batin Grace di sebelah Tina sambil menelisik setiap penampilannya.
“Aku kesini bukan untuk basa basi..tetapi aku mau memberitahu kamu setelah melihatmu terpampang di tabloid bersama Thomas, aku sarankan untuk menjauhi dia. Kamu terlalu buruk di samping Thomas”, ejek Eluzabet sambil mendorong dada milik Tina dengan telunjuk jari tangan. Tetapi Tina hanya diam untuk menunggu ucapannya yang ia lontarkan kembali. Namun Grace tidak tahan dan menyahut.
“OH, YA, KAMU LEBIH BAIK GITU DI SAMPING THOMAS! LIHATLAH PENAMPILAN KAMU KAYAK WANITA MUR*H*N.AKU SARANIN, KAMU NG*C* KALAU NGOMONG. SEBELUM..”, kalimat Grace terpotong dengan tarikan tangan Tina, “kita tidak perlu meladeninya”, ucap Tina.
“Aku peringatkan untuk menjauh.. sebelum aku memberi pelajaran untukmu!”, teriak Elizabeth. Tapi Tina tidak menggubris omongan Elizabeth sedangkan Grace sudah tidak tahan dengan mulut Elizabet sampai-sampai dia ingin menyumpal mulutnya dengan sepatu high hils. Setelah sampainya di cafe Grace terus mengomel sendiri membuat Tina hanya menggeleng kepala.
“Sumpah tadi Tin, aku ingin menyumpal mulutnya dengan high hils”, omelnya.
__ADS_1
“Aku itu gedek dengan tingkah j*l*ng itu”, geram Grace dan sampai akhirnya ia terdiam karena bibirnya untuk mengoceh sudah terlalu lelah sambil menghembuskan nafas kasar, “uhhh... ahhhh”, dan Tina hanya mendengar setiap lontaran kalimat dari mulut sahabat kecilnya itu.