
Malamnya mereka mengadakan pesta atas kebahagiaan Herlena di kehidupan yang baru. Thomas mengundang beberapa temannya dan teman Tina sebagai ucapan rasa syukur karena Herlena kembali menjadi sosok yang baik saat sebelum mengenal Stefanus.
Thomas kini sedang berbincang bersama Xander sahabat Tina dari London, Gideon, dan Hans. Mereka membicarakan masalah bisnis properti hingga proyek yang sedang mereka jalankan.
“Berkunjunglah ke kantorku, dan kita bisa membahas lebih detail tentang kerjasama kita”, ucap Thomas.
“It’s okay, itu ide yang bagus”, ucap Xander.
“Jangan lupa juga berkunjung di pabrik kayu ukir, siapa tahu kamu membutuhkan untuk proyek villa yang besar”, ucap Hans.
“Iya benar kata Hans, kamu bisa meminta kami untuk mengantarkan segala keperluan kamu untuk membangun properti”, kekeh Gideon.
Sementara Felix dan Audrey sedang menggoda antara cinta segitiga Laura dengan Reyhan dan Jordhan.
“Hum, hum, kak Laura ungkapkanlah perasaan kamu. Nanti uncle Jordhan malah di dahului oleh orang lain”, goda Felix di samping Laura yang sedang memanggang.
Apaan sih, jangan bikin kakak malu tahu”, ucap Laura dengan menyentuh pipinya yang terasa panas bukan karena di dekat pemanggangan namun karena tersipu melihat Jordhan memandang dirinya.
Sedangkan Audrey juga berusaha menggoda Rayhan yang tengan duduk menikmati wine dengan menatap Laura yang terlalu sempurna di matanya.
“Uncle!”, panggil Audrey yang tengah memakan sosis bakar buatan Laura.
“Humm”, Rayhan hanya menjawab deheman.
“Uncle menyukai kak Laura ya?”, tanya Audrey.
“Ap..apa.. apa! A..aku.. aku.. aku menyukai Laura.. hemm hemm”, jawab Reyhan dengan gugup sambil terbatuk.
“Iya, uncle benar-benar mencintai kak Laura”, sesuai dugaan Audrey.
“Se...sebenarnya”, dengan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Iya”, lanjut Reyhan dengan suara lirih.
Audrey mendengarkan perkataan Reyhan walaupun suaranya lirih dengan mangut-mangut.
“Apa yang disukai uncle terhadap kak Laura?”, tanya Audrey.
“Padahal kak Laura itu hanya terlihat cantik saja di ruapawan namun otaknya dia minim”, ungkap Audrey.
“Kau jangan berkata begitu. Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda. Aku menyukai bukan karena kepintaran. Tetapi.. “, ungkapan isi hati Reyhan langsung disela oleh Audrey.
“Tetapi uncle Reyhan menyukai karena dia cantik”, ucap Audrey yang langsung mengena di hati. Namun Reyhan menyangkal dengan mengatakan, “aku bukan menyukai wajah yang rupawan tapi aku menyukainya saat bibir itu bergerak”.
“O.. jadi, uncle menyukai karena bibirnya saja. Kalau begitu aku akan kasih tahu kepada kak Laura..”, ucap Audrey yang akan beranjak dari duduknya namun lengan kecilnya di cekal oleh Reyhan.
__ADS_1
“Bu..bukan begitu. Aku menyukai semuanya..”, ucap Rayhan dengan bingung.
“Tapi..ups, kan kak Laura lebih menyukai uncle Jordhan”, ucap Audrey kembali duduk dan memakan sosis bakarnya.
“Uncle Reyhan harus lebih berusaha. Lihatlah, sorotan mata kak Laura memandang uncle Jordhan sahabay uncle Reyhan sendiri”, ucap Audrey menunjukkan ke arah Laura yang sedang memandang Rayhan dengan wajah merahnya karena malu.
“Iya”, sedih Reyhan.
Audrey melihat kesedihan uncle Reyhan menjadi tidak tega untuk tidak memperdulikannya. Lalu Audrey memberikan solusi agar kak Laura menyukai Reyhan.
“Uncle!”, panggil Audrey.
“Apa nak?”, tanya Reyhan dengan mata tanpa mengalihkan dari pandangan Laura.
“Aku akan bantu uncle untuk membuat kak Laura jatuh hati di pelukkan uncle Reyhan”, ucap Audrey. Reyhan yang masih memandang Laura lalu mengalihkan pandangan ke Audrey dengan mengatakan, “benaran”, dengan raut wajah senang.
“Tentu uncle, aku akan mengirim sesuatu kemana kak Laura pergi dan sedang makan apa akan aku kirimkan lewat chat”, ucap Audrey sambil mengunyah makanan.
“Thank you girl”, ucap Reyhan.
Ekspresi Reyhan kembali ceria saat Tuhan memberikan harapan lewat malaikat kecil di sampingnya yang sedang makan sosis.
Tatkala Herlena sedang mengadakan pesta bahagianya yang di bantu oleh Thomas, kini Stefanus sedang berseteru dengan Lauren dalam kamar hotel dengan mencekal kedua tangan ke atas pintu.
“Kamu kemana saja?”, tanya Stefanus dengan nada dingin.
“Aku sedang berusaha menghilangkan berita-berita yang terus membabi buta, tapi kamu malah meninggalkan aku dalam keadaan hancur!”, ucap Stefanus dengan nada rendah.
“Itu semua adalah kesalahan kamu yang rakus”,ucap Laura dengan gigi mengetat.
“Aku tidak rakus, tapi kamu selalu mengeluh tentang Thomas dan kamu selalu menggodaku saat aku sedang bekerja. Itu semua kesalahan kamu yang selali melemparkan tubuhmu yang molek”, ucap Stefanus dengan mata menyalang.
“Itulah lelaki yang tak punya pendirian”, sambil meludah di wajah Stefanus sehingga Stefanus tambah geram dengan mencekik leher Lauren. Lalu Stefanus menggerayangi tubuhnya dengan kasar sampai membawa tubuh Lauren dibawah naungannya. Lauren terus menjerit namun sayang, Tuhan selalu adil apa yang diperbuat oleh setiap manusia. Lauren terus meronta dan menangis hasil perbuatan Stefanus sampai ke hal yang berhubungan seperti layaknya suami istri sampai menjelang pagi.
Pukul 06.00 dini hari, Lauren terbangun dari tidurnya dengan kepala terasa sakit dan seluruh tubuhnya seperti akan hancur atau remuk. Lauren menangis dalam diam dengan memunggungi Stefanus yang tengah terlelap dalam mimpinya sambil mengutuk Stefanus dalam batinnya.
Awas setelah ini aku akan bunuh kamu tanpa babi buta. Dasar tua keladi berengs*k. Aku akan kubur kamu hidup-hidup setelah mansion yang kau belikan untukku terjual.
Tina, ini semua salah kamu. Aku juga akan menghancurkan kebahagiaan kamu. Aku tidak rela hidupku dibuat seperti ini karena kamu.
Beberapa lama kemudian Lauren bangun dengan mengendap-endap meninggalkan Stefanus yang tengah tertidur pulas. Lauren menghubungi Victor untuk membawanya pergi ke tempat gedung agency.
“Hallo Victor, sekarang juga jemput aku jika kamu masih menginginkan uang”, ucap Lauren lewat ponsel.
“Baik, aku akan sampai setengah jam apabila jalan raya tidak macet kendaraan”, ucap Victor.
__ADS_1
Setelah mematikan ponsel Victor pergi menuju mobil barunya meski bekas tapi masih baru dan terlihat menarik. Victor berjalan dengan bersiul dan berjalan sambil berloncat ria seperti anak kecil. Lalu mengemudikan mobilnya menjemput sang ratu untuk mendapatkan seonggok cuan.
Sementara Ellizabeth sedang meneriaki aktor terkenal dalam adegan filmnya setelah beberapa kali cut dan akhirnya selesai juga. Lalu asisten Elli menghampiri membawakan ponsel, payung dan memberikan tisu untuknya.
Sampai di ruang rias, Ellizabeth mendapati notif banyak dari Brian dengan kalimat minta tolongnya.
Brian:
Elli tolongin aku.
Brian:
Elli tolonglah. Aku kini sedang dikejar oleh para lintah.
Brian:
Apabila kamu menolongku, aku mau jika menjadi kacung kamu.
Brian:
Elli!
Brian:
Elli!
Setelah membaca isi chat, Ellizabeth tersenyum sinis lalu men deal up nomor Brian dengan nada mengejeknya.
Brian yang berada di seberang sana sedang tidur di sebuah gubuk yang telah lama tidak dipakai. Brian mendengar suara deritan ponsel di saku celananya. Saat melihat nama yang terpampang di depan, matanya langsung terbelalak lalu memencet tombol hijau.
“Hallo Elli! Tolongin aku!”, ucap Brian dengan mengusap air liur di sudut bibirnya dan beranjak dari lantai.
“Hallo Brian, ternyata kamu masih butuh aku”, ucap Ellizabet sambil membersihkan make up disekitar wajahnya.
“Please, tolongin aku. Jika kamu menolongku. Aku akan melakukan apa pun yang kamu suruh”, ucap Brian.
“Baiklah, aku akan menolong pria miskin seperti kamu”, ucap Ellizabeth.
Brian mendengarkan kata ejekan merasa sakit hati.
Sial, wanita j*l*ng ini malah mengejekku. Awa saja setelah aku menghancurkan kesombongan kamu.
“Kita bertemu di restoran biasa. Pergilah ke sana dan jangan lupa mandi. Aku tahu sekarang kamu kesusahan air tapi jangan bikin malu aku. Ok”, ucap Ellizabeth.
“Baiklah”, ucap Brian.
__ADS_1
Usai mematikan ponsel rasa amarah memuncak hampir ingin membanting ponsel tapi sayang bagi Brian. Lalu pergi melangkah untuk bersiap-siap menemui Ellizabeth.