
Setelah mendapatkan keputusan dari hakim, Kini Herlena dan Gideon menuju ke rumah Thomas dengan tidak sabar. Herlena merasa campur aduk antara percaya dan tidak percaya atas keputusan hakim. Sekarang perasaan Herlena kembali ke permasalahan bagaimana dirinya untuk meminta maaf kepada Tina dan cucunya yang telah dirinya sakiti.
Jantung Herlena berdebar dengan raut wajah khawatir sambil menautkan jemari tangannya dan menoleh ke arah jendela luar melihat pemandangan jalan raya. Gideon yang tengah menyopir tahu perasaan Herlena yang sedang dipikirkannya. Gideon mencoba menggenggam tangan Herlena dengan mengatakan, “janganlah khawatir, mereka ngertiin kamu, Herlena”. Lalu Herlena menoleh ke arah Gideon yang sedang memberikan senyuman hangat untuknya.
“Thank you Gideon. Kamu benar-benar pria baik”, ucap Herlena.
Sementara Stefanus yang mendapatkan kabar setelah bangun tidur langsung membanting ponselnya dan menarik rambut sendiri atas kemarahannya.
Stefanus masih tidak menerima keputusan hakim. Stefanus terus menyalahkan pengacaranya yang tidak kompeten menangani kasus perceraiannya.
Stefanus turun dari ranjang sambil melemparkan beberapa uang dari dompetnya dan meninggalkan wanita sewaan di kamar sendirian sambil memungut uang.
Stefanus berjalan dengan mata menyalang. Stefanus mengemudikan mobilnya menghampiri ke pengacara yang sudah di bayar berdolar-dolar uang namun tidak ada hasilnya.
Sampainya di gedung Lawyer Stefanus berjalan tanpa memperdulikan para staf yang ingin menghadang dirinya. Stefanus masuk ke dalam lift. Beberapa menit kemudian telah sampai di ruang kerja Sam dan langsung melayangkan tinju dengan keras sampai para bawahan Sam menahan kemarahan Stefanus.
Stefanus berteriak, “kamu, tidak berguna. Pengacara apaan yang terkenal namun tidak bisa menangani proses sidang yang begitu remeh di mata para Lawyer hebat !!!”
Lalu Sam menyuruh bawahannya membawa pergi Stefanus.
“Bawa dia keluar”, ucap Sam dengan hidung berdarah sambil mengadahkan kepalanya keatas.
Lalu Stefanus di seret sampai keluar dan tersungkur ke pelataran halaman gedung sambil memarahi para pekerja lawyer.
“Dasar, awas ya, akan aku beberkan pekerjaan kalian. Bahwa kalian benar-benar tidak becus bekerja!”, dengan pergi menuju area parkir dan masuk ke dalam kemudi.
Ketika akan masuk ke dalam mobil, Stefanus mendapatkan telepon dari tangan kanannya Doni.
“Hallo Don, ada apa?”, tanya Stefanus.
“Tuan saya melihat nyonya Lauren kembali ke California dan saya barusan mengikutinya. Nyonya Lauren masuk ke dalam hotel. Sepertinya dia chek in tuan. Alamatnya nanti saya kirimkan”, ucap Doni.
“Baiklah”, ucap Stefanus dan mendapatkan notifikasi sharelok yang dikirimkan oleh anak buahnya.
Stefanus langsung melajukan mobil kembali ke mansion utamanya baru melangkah ke hotel sesuai sharelok yang dikirim oleh Doni.
Kini Herlena telah sampai di kediaman Thomas yang baru. Meski rumahnya tidak sebesar mansion milik Thomas yang dulu namun suasana halaman di rumah yang baru nampak suasana yang berbeda dan sejuk.
Herlena menarik nafas sebelum menuju ke pintu rumah. Lalu melangkah dengan pelan bersama Gideon di sampingnya. Kemudian Herlena dengan gemetar memencet tombol bel rumah dengan bunyi tiga kali.
Herlena tampak tegang. Gideon di sampingnya menenangkan hati dan pikirannya dengan mengusap pundaknya.
__ADS_1
Tatkala Herlena sedang tampak tegang, Tina yang tengah berkumpul dengan momy nya dan daddy nya bersama Thomas mendengarkan suara bel lalu Tina beranjak dari sofa melangkah ke pintu luar.
Pada saat membuka pintu menampakkan wajah Herlena dan Gideon membuat Tina merasa terkejut dengan memanggil namanya yang begitu berat sehingga Tina mengurungkan niatnya untuk memanggil nama Herlena dengan sebutan momy.
Lalu Herlena yang berinisiatif memanggil Tina tetapi dengan rasa canggung.
“Ha..halo Ti..Tina”, dengan senyuman kikuk.
Tina hanya tersenyum kikuk juga. Gideon yang melihat kecanggungan diantara mereka lalu menengahi.
“Tina, apakah kami boleh masuk untuk menemui Thomas?”, tanya Gideon dengan to the poin.
“Oh tentu uncle, silahkan masuk”, ucap Tina mempersilahkan mereka masuk.
“Silahkan duduk dahulu. Biar aku panggilkan Thomas”, ucap Tina dengan detak jantung yang bertalu ketika melihat Herlena pertama kali mengunjungi rumahnya.
Tina kembali masuk ke dalam ruang tengah. Tina duduk mendekati Thomas. Lalu Tina mengatakan, “di luar ada momy, sekarang dia duduk di ruang tamu”, sambil berbisik.
Thomas mendengarkan berita dari Tina merasa senang bahwa momy nya benar-benar datang berkunjung. Kemudian Thomas beranjak dari sofa dengan menarik tangan Tina. Tina terkejut dengan menatap Thomas yang tengah tersenyum hangat yang terpatri di wajahnya. Thomas memberikan kode untuk ikut dengannya. Lalu Tina ikut menemui Herlena dan Gideon.
Sementara Herlena sedang mengamati setiap sudut ruang tamu yang terlihat elegan. Saat Herlena sedang menikmati interior ruang tamu, Thomas datang dengan memanggil namanya.
“Momy!”, panggil Thomas dengan melepaskan tangan Tina lalu memeluk tubuh Herlena yang beranjak dari sofa.
Setelah saling melepaskan rasa rindu, Thomas dan Herlena melepaskan pelukkannya. Lalu duduk di sofa sebelah bersama Tina.
Sementara Hans dan Alena merasa penasaran apa yang dibisikkan oleh Tina untuk Thomas?
Hans dan Alena berjalan mengendap dan melihat siapa yang ditemui oleh mereka?
Alena dan hans mengintip di balik dinding dan melihat Herlena dan Gideon yang tengah mengobrol dengan Thomas.
“Bagaimana mom dengan keputusan hakim tadi?”, tanya Thomas.
“Akhirnya hakim memutuskan”, jeda Herlena dengan senyum hangat yang terpatri di wajahnya.
“Hakim itu memutuskan bahwa kami sah bercerai”, lanjut Herlena setelah diam lima detik dengan senyum merekah.
“Selamat mom”, ucap Thomas.
“Ada apa mom ke sini?”, tanya Thomas.
__ADS_1
“Momy...momy uhmm..”, Herlena dengan ragu.
“Herlena kamu pasti bisa”, bisik Gideon memberikan semangat untuk Herlena dengan menggenggam tangannya.
Lalu Herlena menghembuskan nafas dengan kasar dan mulai berbicara meski jantungnya bertalu.
“Momy, ke sini mau meminta...meminta maaf kepada Tina”, ucap Herlena dengan canggung dan gugup. Tina yang mendengarkan kalimat maaf dari bibir Herlena terkejut dan Tina masih diam karena tidak percaya bahwa momy nya Thomas mengucapkan kata maaf. Ketika Tina berdiam cukup lama, Felix datang untuk memecahkan keheningan antara Herlena dan Tina.
“Grandma, sudah lama tidak berjumpa. Felix senang grandma berinisiatif meminta maaf kepada momy”, ucao Felix menghampiri Herlena. Herlena tersenyum merekah melihat cucunya mendekati dirinya dengan kedua tangannya merentangkan ingin minta di peluk dan digendong tetapi Herlena ragu dengan kode yang diberikan oleh Felix.
Lalu Felix menegaskan dengan berkata, “apakah grandma tidak ingin memelukku? Padahal Felix mau memberikan maaf kepada grandma”, dengan polos.
Kemudian Herlena memeluk tubuh mungil itu dan mengangkat tubuhnya dalam pangkuan sambil memberikan kecupan hangat di dua pipi gembulnya dan meneteskan air mata yang tidak tertahankan. Herlena juga menyatakan kata terima kasih cucuku. Senyum merekah di sudut bibir Tina dengan perasaan lega meskipun tadinya tidak percaya. Lalu Tina bersuara.
“Kami sudah memaafkan momy sebelum momy meminta maaf kepada kami”, ucap Tina dengan memberikan senyuman hangat.
“Thank you, thank you, kalian sudah mau memaafkan momy. Mulai sekarang kita keluarga. Kita akan terus bersama”ucap Herlena dicampur tangisan bahagia.
“Tina apakah momy boleh memelukmu?”, tanya Herlena di samping Gideon.
“Tentu mom”, ucap Tina beranjak dari tempat duduk dan memeluk Herlena dalam dekapan tubuhnya.
Setelah selesai berpelukan, Felix yang masih di dalam pangkuan Herlena menyuruh Hans dan Alena untuk keluar yang saat ini sedang mengintip.
“Granpa, grandma, keluarlah, jangan mengintip di balik dinding dan kita ikut bergabung dengan grandma Felix yang baru”, ucap Felix dengan polos membuat orang disekitarnya tertawa dan gemas sama sikap Felix.
Hans dan Alena keluar dari balik dinding denga tersenyum malu saat cucunya memanggilnya. Alena menggaruk tengkuk yang tidak gatal sambil tersenyum aneh.
Sedangkan Hans menyapa Herlena untuk menutupi rasa malu.
“Hai Herlen, sudah lama tidak berjumpa”, ucapnya.
“Iya Hans, apa kabarnya kamu?”, balas Herlena.
“Yah, sangat baik”, ucap Hans dengan mengambil tempat duduk di sofa singel sebelah putrinya.
“Selamat atas perceraian kamu dengan Stefanus”, ucapan selamat dari bibir Hans.
“Thank you”, ucap Herlena.
“Oh ya, selamat ya Herlena”, ucap Alena dengan senyum kikuk.
__ADS_1
“Thank you”, ucap Herlena kembali.
Kemudian mereka berbincang dengan santai sambil canda tawa setelah suasana canggung yang tidak begitu mengenakan.