Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Terusik 7


__ADS_3

Victor dan Frans bersengkokol untuk menghancurkan Lauren. Mereka memiliki tabiat buruk. Frans mencoba menghubungi Lauren kembali.


Lauren yang tengah membersihkan make up melihat ponselnya terus berdering. Lauren mengangkat telepon dari Frans.


“Hallo Lauren, maaf, aku tadi tidak mengangkat telepon darimu”, ucap Frans.


“Baiklah, aku maafkan”, ketus Lauren.


“Ada apa, kamu menghubungiku? Tumben”, ucap Frans.


“Besok kita bahas di cafe biasa”, ucap Lauren.


“Kenapa tidak lewat telepon?”, tanya Frans.


“Ceritanya panjang, besok saja. Besok aku kirim pesan menyesuaikan jadwal aku syuting”, ucap Lauren.


“Baiklah”, ucap Frans.


Lalu Lauren meletakkan ponsel di atas meja rias dan membaringkan diri diatas ranjang dengan bermonolog, “Thomas tunggulah aku. Sebentar lagi kita akan bersatu dan sehati”.


Di sisi lain Thomas tengah membereskan para aliansi pengkhianat yang telah membocorkan data.


“Thomas, kita sudah mengalami kerugian akibat kebocoran data”, ucap Aslan.


“Bagaimana cara kita menangkap pengkhianat itu?”,tanya Emir.


“Kalian menangkap pengkhianat saja tanya, “ck”, kalian sebagai komplotan mafia harusnya malu”, ejek Thomas dengan senyum sinis.


“Thomas! Kamu jangan mentang-mentang bisa apa saja! Kamu meremehkan para tetua aliansi di sini!”, ucap Emir dengan mata melotot.


Thomas mendengar protes dari bibir Emir hanya tersenyum sinis.


Thomas beranjak dari tempat duduk dengan pergi berlalu tanpa pamit dengan para tetua yang tengah tegang memikirkan harta mereka yang mulai merosot akibat kebocoran data.


Lalu salah satu dari mereka bertanya kepada Thomas yang tengah melangkah keluar.


“Thomas, kamu mau kemana?”, tanya Samuel.


Thomas tetap melangkah tanpa mengindahkan pertanyaan dari Samuel.


Raffael yang selalu mendampingi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena jalanan tidak terlalu macet, Thomas akhirnya sampai di kediaman tidak membutuhkan waktu yang lama.


Thomas turun dari mobil dengan mengendap masuk ke dalam kamar di tengah malam. Lalu Thomas ikut bergabung tidur di samping istrinya dengan memeluk pinggangnya dan menghirup tengkuk leher Tin dengan senyuman hangat sambil berkata, “good night sweety”.


Alarm berbunyi dari ponsel milik Tina. Tina terbangun dari tidurnya dan merasakan hembusan nafas dari tengkuk lehernya dan rasa berat dipinggangnya. Tina membalikkan tubuhnya dan melihat Thomas memeluk tubuhnya dengan erat.


Tina tersenyum senang melihat wajah Thomas di sampingnya dengan ekspresi tenang. Tina memandang wajahnya sambil membelai pipi Thomas dengan pelan agar tidak membangunkan dalam tidurnya lalu mengecup kedua mata suaminya. Thomas merasakan sentuhan itu dengan sudut bibir mengembangkan senyum yang merekah. Kemudian Thomas menambahkan pelukan erat dan berkata, “morning sweety”, dengan suara serak dalam tidurnya. Tina kaget saat tahu bahwa Thomas ternyata terbangun akibat sentuhan yang diberikan olehnya. Tina menjauhkan tangannya dari wajah Thomas namun dicekal.


“Sweety, kenapa tanganmu menjauh dari sentuhan halus di wajahku? Padahal aku menyukainya”, ucap Thomas.


“Thomas, ternyata kamu pura-pura tidur”, cemberut Tina.


“Aku tidak pura-pura tidur sweety. Aku terbangun saat sentuhan hangat dari tangan kamu dan bibirmu yang membuat hatiku menculas rasa hangat”, ucap Thomas dengan suara serak nan sexy.


“Aku harus bangun menyiapkan sarapan pagi untuk Felix”, ucap Tina beranjak dari ranjang namun dicegah oleh Thomas untuk mendapatkan morning kiss. Tetapi Tina tidak mengindahkan dengan permohonan Thomas malah berusaha lepas dari cekalan Thomas.


“Thomas lepasin, biarkan aku membuat sarapan untuk putraku sebelum ia menyelesaikan ritual mandinya”,ucap Tina.


“Berikan aku morning kiss dulu”, ucap Thomas.


“Sudah aku berikan”, ucap Tina.


Thomas tidak ingin debat langsung menarik tangan Tina dan terjatuh diatas tubuhnya. Lalu Thomas menarik tengkuknya untuk mendapatkan morning kiss beberapa menit.


Setelah menyelesaikan ritual mand dan menata jadwal sekolah, Felix pergi ruang makan. Di dapur Felix disuguhkan Tina yang tengah membuat sarapan pagi untuk dirinya.

__ADS_1


“Morning boy”, sapa Tina dengan membawa piring yang berisi sandwich untuknya.


“Morning mom”, sapa balik Felix.


“Uhmmm sandwich buatan momy tidak ada duanya”, puji Felix.


“Bisa saja kamu nak”, ucap Tina dengan mengusap kepala.


“Hari ini jadwal pelajaran tidak ada yang tertinggalkan nak?”, tanya Tina.


“Tidak mom, sudah beres semua”, senyum Felix.


Beberapa lama kemudian Felix telah berangkat ke sekolah. Kini Tina pergi ke kamar untuk membangunkan suaminya.


“Thomas bangunlah. Ini sudah siang. Kamu belum sarapan darling”, ucap Tina dengan membisikkan di telinga Thomas sambil mengusap pipinya.


Ketika Tina tengah berusaha untuk membangunkan Thomas, tiba-tiba tubuhnya di tarik dan menindih tubuh suaminya. Lalu Thomas memeluknya dengan erat tubuh Tina.


“Begini sebentar sweety”, ucap Thomas.


Di tempat lain Lauren tengah merencanakan siasat buruk untuk rumah tangganya Thomas bersama Frans di cafe biasa mereka bertemu.


“Apa yang ingin kamu diskusikan Lauren?’, tanya Frans.


“Aku mau, kamu menculik Tina dan bunuh dia”, ucap Lauren dengan berbisik.


“You crazy”, umpat Frans.


“Terserah kamu bilang apa. Aku mau kamu menjalankan siasat ini dengan bersih tanpa ketahuan oleh siapa pun”, ucap Lauren.


“Kamu mau membayarku berapa untuk menjalankan siasat ini”, ucap Frans dengan menantang.


“Aku akan bayar 2 milyar”, ucap Lauren.


“Memangnya aku harus membayarmu berapa?”, tanya Lauren.


“Aku mau tiga triliun dengan bayaran bersih itu”, ucap Frans.


“Kamu gila, kamu hanya preman kecil tapi minta bayaran sebesar itu”, ucap Lauren dengan nada mengejek sambil tersenyum sinis.


Frans berdecak, “ck”, dengan berkata, “kalau kamu tidak ingin memakai jasaku tidak apa-apa. Aku bisa pergi dari sekarang dan lakukanlah sendiri”.


Lauren bergelut dengan pikirannya setelah mendengar ancaman Frans.


“Gawat kalau dia tidak menerima tawaranku. Tapi, uang yang selama ini aku kumpulkan akan habis sekejap mata. Aku tidak bisa melakukan sendiri. Aku harus bernegosiasi dengan Frans”, batin Lauren.


“Tunggu Frans!”, ucap Lauren. Frans tersenyum menyeringai dengan kembali duduk.


“Bagaimana kalau aku memberikan setengah untukmu? Aku tidak memiliki uang sebanyak itu”, ucap Lauren menawarkan diri.


“Baiklah, aku terima tawaranmu”, ucap Frans setelah mendapatkan kode ok dari victor.


“Kamu kirimkan uang setengah dari negosiasi itu. Setelah terkirim baru aku jalankan misi darimu”, ucap kembali Frans.


“Baiklah, aku akan mengirim setengah dan setengahnya jika kau berhasil menghilangkan nyawa Tina”, ucap Lauren.


“Deal”, ucap Frans dengan menyodorkan tanganny dengan senyum penuh dengan banyak arti dan kelicikan.


Setelah bernegosiasi selesai dengan Lauren, Frans pergi menemui Victor untuk menjalankan kelicikannya untuk mendapatkan uang lebih dari kedua belah pihak.


Victor menjalankan siasatnya menemui Thomas. Victor menyambangi di kantor milik Thomas dengan membawa rekaman hasil perbincangan dengan Frans.


Victor pergi ke meja resepsionis untuk menemui Thomas.


“Permisi Mrs. saya mau bertanya, apakah Mr. Thomas ada di kantor”, tanya Victor dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


“Kalau boleh tahu, anda siapa?dan keperluannya apa?”, tanya karyawan resepsionis.


“Nama saya Victor. Ada keperluan hal penting masalah nyawa”, ucap Victor.


“Apakah sudah membuat janji dengan Mr. Thomas?’, tanya karyawan resepsionis.


“Belum Mrs”, jawab Victor.


“Mohon maaf apabila anda belum membuat janji kepada beliau. Sebab beliau sedang sibuk dengan masalah pekerjaannya”, ucap karyawan resepsionis.


“Bantulah Mrs.karena yang saya yang akan aku bicarakan masalah nyawa istrinya. Tolong hubungi Mr.Thomas”, ucap Victor memohon.


“Baiklah, saya akan coba hubungi Mr.Thomas”, ucap karyawan resepsionis.


Karyawan resepsionis kemudian menghubungi Thomas yang tengah berbincang dengan Jordhan dan Reyhan.


Thomas mengangkat telepon tersebut.


“Hallo, ada apa?”, tanya Thomas dengan suara dingin.


“Mohon maaf mister mengganggu. Saya menyampaikan pesan dari Mr. Victor katanya ia mau membicarakan mengenai nyawa istri anda”, ucap Karyawan resepsionis yang langsung terpotong oleh Victor yang merebut ganggang telepon tanpa permisi.


“Hallo Thomas, aku datang untuk menyelamatkan istrimu yang tengah dalam bahaya. Dia akan dibunuh oleh sosok orang yang kamu kenal!!”, teriak Victor.


Thomas menghembuskan nafas kasar, “ahhh!!”, lalu menyuruh Victor untuk pergi ke ruangannya. Kemudian Victor diantar oleh salah satu karyawan resepsionis.


Karyawan resepsionis itu mengetuk pintu, “tok, tok, tok”. Thomas yang sedang duduk di kursi kerjanya menyuruh orang di luar untuk masuk.


“Masuklah!”.


“Mohon maaf mister mengganggu. Saya ke sini mengantar tamu anda”, ucapnya.


“Ya, kamu boleh pergi”, ucap Thomas dengan mengusir secara halus.


“Siang tuan Thomas”, sapa Victor dengan gaya percaya diri.


“Duduklah”,perintah Thomas dengan ekspresi dingin.


Victor duduk di depan meja kerja Thomas dan langsung menjelaskan kedatangannya menyambangi kantor miliknya.


“Saya ke sini ada yang mau aku sampaikan perihal keselamatan istrimu”, ucap Victor.


“Apa yang kamu tawarkan? To the point saja tidak perlu berbelit-belit”, ucap Thomas dengan ekspresi dingin.


“Aku mau memberikan sesuatu yang menyangkut nyawa istrimu namun ada syaratnya”, ucap Victor dengan senyum menyeringai.


“Kamu menginginkan apa?”, tanya Thomas.


“Aku menginginkan sejumlah uang sebesar 48 milyar dengan bersih”,jawab Victor.


Thomas berdecak dengan senyum sinis.


“Berikan rekaman itu dan buktikan apa yang kau katakan”,ucap Thomas.


“Baiklah, aku akan buktikan dengan setengah rekaman hasil pembicaraan mereka”, ucap Victor.


Victor memberikan setengah rekaman kepada Thomas dengan waktu singkat.


“Apa yang ingin kamu diskusikan Lauren?’, tanya Frans.


“Aku mau, kamu menculik Tina dan bunuh dia”, ucap Lauren dengan berbisik.


“You crazy”, umpat Frans.


“Terserah kamu bilang apa. Aku mau kamu menjalankan siasat ini dengan bersih tanpa ketahuan oleh siapa pun”, ucap Lauren.

__ADS_1


__ADS_2