Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Pernikahan 1


__ADS_3

Thomas berdiri di atas altar menunggu sang kekasih datang. Sang pembawa acara mempersilakan Tina untuk masuk dan naik ke atas altar untuk segera bersanding dengan Thomas. Tina berjalan masuk dengan di dampingi oleh ayahnya naik ke atas. Thomas terpaku dengan kecantikan Tina yang terlihat lebih cerah dan aura kecantikannya tak bisa teralihkan. Lalu Thomas maju menghampiri Tina. Thomas mengambil alih tangan Tina. Hans menyerahkan putrinya dengan sorotan mata sedih bercampur bahagia. Hans memberikan pesan untuk Thomas. Hans mengatakan, “jagalah putriku dengan baik-baik”.


“Tentu dad, aku akan menjaga putrimu segenap jiwa dan ragaku”, ucap Thomas.


Hans melangkah turun dari altar pernikahan sambil mengusap air mata karena Hans sangat sedih putrinya diambil oleh pria lain.


Hans bergabung ke tempat duduk para tamu undangan.


Alena melihat suaminya seperti wanita menenangkan.


“Hans, kamu harus mengiklaskan putrimu. Dia membutuhkan pendampingnya untuk masa tuanya. Jadi, kamu tak perlu menangis”, ucap Alena.


“Iya sweety, aku akan ikhlaskan putriku untuk suaminya”, ucap Hans.


Sang pembawa acara mempersilakan kepada penghulu untuk mengikrarkan janji suci.


Sang penghulu memulai dengan mengatakan, “saudara Thomas, apa kamu bersedia menjaga Tina Reffalino untuk seumur hidup baik dalam suka ataupun duka”.


Thomas menjawab, “aku bersedia menjaganya seumur hidupku segenap jiwa dan raga baik suka maupun duka”.


Lalu sang penghulu beralih ke Tina.


“Tina Reffalino, apa kamu bersedia hidup bersama Thomas seumur hidup baik dalam suka maupun duka”.


Tina menjawab, “saya bersedia hidup bersama dengan Thomas seumur hidup karena aku mencintainya dan aku akan terus di sampingnya baik dalam suka maupun duka”.


Setelah ucapan janji di lontarkan oleh dua sejoli sang penghulu mengatakan sah dan para tamu undangan bertepuk tangan sampai ada yang bersiul.


Lalu Thomas menyematkan cincin pernikahannya di jari manisnya Tina. Begitupun juga Tina. Kemudian Thomas menarik pinggang Tina dan memberikan ciuman cintanya.


Sedangkan di sudut bawah, Alena menutup mata cucunya Felix agar tidak melihat adegan dewasa yang di tunjukkan oleh ibu dan ayahnya.


Sebenarnya Felix sudah mengetahui jika mereka berciuman dengan mesra. Felix melihat adegan itu tidak hanya satu kalin malah ketiga kali. Jadi Felix tidak kaget melihat mereka melakukan itu.

__ADS_1


Setelah selesai mereka melakukan pelemparan bunga. Para tamu undangan berebut bunga pengantin itu agar bisa cepat menikah atau segera mendapatkan jodoh.


Pelemparan bunga membuat Laura lebih agresif untuk bisa mendapatkan bunga begitu juga dengan Rayhan. Tina melempar bunganya berhitung bersama dengan Thomas lalu bunga itu jatuh kepada Jordhan yang sedang memegang gelas berisi wine.


Jordhan tersenyum manis tapi tidak untuk Rayhan yang terlihat kecewa. Sementara Laura berharap Jordhan memberikan bunga itu kepadanya namun malah bunga itu di bawa ke arah seorang wanita yang tengah asyik makan dessert. Jordhan memberikan bunga itu. Namun perempuan itu malah bingung. Sehingga Jordhan membawanya pergi dengan merangkul lehernya sambil berbisik, “terimalah, kamu hanya perlu membantuku”.


“Jadi, kamu menyuruhku ke sini bukan untuk dapat makan gratis namun aku membantu kamu menerima bunga ini”, ucap Vienna.


“Terima saja”, bisik Jordhan dengan menoleh sedikit ke arah teman-temannya yang kecewa melihat Jordhan lebih memilih perempuan lain dan tak lain sahabat dari adiknya Jordhan bernama Vienna.


“Baiklah, tapi kamu berjanji memberiku uang jika aku membantumu kan? Kalau begitu aku terima”, dengan senyum manis.


“Kenapa kamu sampai segitunya sih?”, tanya Vienna.


“Segitunya bagaimana?”, tanya Jordhan.


“Ya, kamu itu harusnya tinggal berikan kepada wanita itu bukan malah mengeluarkan uang hanya untuk menghindari wanita cantik itu”, ucap Vienna.


“Karena aku tidak ingin mengkhianati persahabatan aku dengan Rayhan yang sudah sejak lama kami bangun”, ucap Jordhan.


“Benar katamu. Tapi mana mungkin hatimu bergerak. Soalnya kamu selalu memikirkan perasaan kamu sendiri. Coba kamu pikirkan pelan-pelan”, ucap Jordhan.


“Uhmmm apa ya? Setahuku hatiku terus bergerak kalau ada orang meminta bantuan dengan memberiku imbalan”, ucap Vienna.


Jordhan langsung memukul kepala Vienna dengan keras sampai dirinya mengadu sakit.


“Kamu pria brengs*k. Gak adiknya ataupun kakakny yang suka memukul kepalaku. Bisa-bisa kepalaku dan otakku menjadi amnesia”, ucap Vienna dengan mengusap kepalanya.


“Gak mungkin kepala kamu bisa sampai amnesia. Malahan dalam isi kepala kamu dengan di pukul seperti itu menjadi encer otaknya”, ucap Jordhan dengan memainkan ke dua alis sampai Vienna menginjak kakinya dengan suara mendesis dan membuang bunganya. Jordhan mengadu sakit sambil berlari mengambil bunganya. Jordhan berteriak, “sweety ini bunganya jatuh!”, membuat orang-orang disekitarnya memperhatikannya. Jordhan langsung merangkul pundaknya dan memakan kue terakhir yang diambil Vienna dan membuat Vienna mendelik.


Jordhan memperlihatkan bahwa makanannya sudah sampai ke mulutnya. Vienna memukul punggung Jordhan sampai Jordhan mengadu sakit.


Sedangkan Laura yang melihat adegan antara Jordhan dan Vienna membuat hatinya terasa sakit. Laura pergi ke tempat sepi untuk menenangkan hatinya.

__ADS_1


Rayhan melihat Laura berlari, Rayhan menyusul Laura dan mencoba mendekatinya. Rayhan mencoba bersuara.


“Hai Laura, ada apa dengan kamu?”, tanya Rayhan.


“Biarkan aku sendirian dahulu Ray”, ucap Laura.


“Jika kamu ingin menangis, menangislah di pundakku agar membuat hatimu lega”, ucap Rayhan.


Lalu Laura menangis dengan memeluk tubuh Rayhan dan Rayhan membalas pelukan dari Laura.


Sementara diujung arah pojok ada seorang anak pria dan perempuan yang melihat Rayhan sedang memeluk Laura.


“Felix!mereka berdua kasihan ya, cintanya bertepuk sebelah tangan”, bisik Audrey.


“Iya Audrey, semoga mereka dapat bersatu hatinya. Dengan begitu uncle Rayhan bisa mendapatkan hati kak Laura”, ucap Felix.


“Benar juga, kita bisa membantu mereka untuk saling berdekatan”, ucap Audrey.


“Oh ya, ngomong-ngomong si gendut itu kemana?”, tanya Audrey.


“Mungkin dia sedang makan coklat”, ucap Felix.


Usai menikmati makanan mereka melakukan sesi foto untuk kenang-kenangan di hari bahagia bersama keluarga dan sahabat mereka.


Setelah sesi foto bersama, Thomas dan Tina masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat sebentar untuk pesta dansa malam nanti. Tatkala mereka sedang berbahagia di dalam kamar, kini Jordhan mengajak Vienna ke kamar dan memberikan sebuah gaun yang berwarna ungu maroon dengan berlapisan rendra. Vienna tersenyum lalu mencubit pipi Jordhan dengan mengatakan, "terima kasih".


Sedangkan sang adiknya bernama Damien juga meminta sebuah sepasang pakaian untuk pesta dansa malam nanti. Tapi Jordhan malah memberikan baju miliknya. Damien merasa kecewa tidak dapat pakaian yang baru.


"Bro, kenapa kamu pilih-pilih denganku? Sedangkan Vienna kamu memberikan gaun baru", cemberut Damien sambil merebahkan diri ke ranjang.


"Dia adalah orang yang ku sewa karena bekerja untukku sedangkan kamu hanya seorang adik yang selalu merepotakan aku terus", ucap Jordhan.


"Oh my god! kamu tidak ikhlas memberiku uang yang selama ini aku minta", ucap Damien dengan menantang.

__ADS_1


"Iya aku gak ikhlas. Kamu mau apa nak!", balik tantang Jordhan dan Damien hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk tidak gatal lalu kabur menarik tangan Vienna. Tapi Jordhan menahan tangan Vienna dan menyuruh Damien untuk kembali ke kamar sendiri. Damien pun akhirnya kembali ke kamar sendiri karena tidak mampu melawan sang kakak yang notabenenya selalu membiayai hidupnya yang pengangguran.


__ADS_2