Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Restu Terhalang Oleh Masa Lalu 1


__ADS_3

Ponsel Elizabeth berdering keras saat ia sedang mengeringkan rambutnya.


"Siapa sih yang menelepon?", gumam Elizabeth.


Elizabeth sangat kesal, sebab orang yang menelepon tidak sabaran. Elizabeth menaruh hyrdrayer dan beranjak dari meja rias menuju ke ranjang dengan menghempaskan bokongnya di pinggir ranjang langsung men deal up.


"Hallo, siapa ini?", tanya Elizabeth dengan ketus.


"Elli ini aku, kamu sudah berani bersuara ketus. Kamu sudah tidak menginginkan uang haa?!", ucap Lauren dengan suara dingin. Lauren yang berada di seberang sana merasa harga dirinya diinjak.


Elizabet mencoba melihat nama orang di layar ponsel lalu terkejut dengan bergumam, "Lauren".


Ternyata wanita j*l*ng ahhh. Jika bukan karena uangnya, ogah aku berurusan dengan wanita menjijikkan itu.


"So.. sorry Lauren, a...aku sedang kesal dengan seseorang haha. Ada apa?", ucap Elizabeth sambil tertawa aneh.


"Bagaimana informasi semalam mengenai Tina dan keluarganya. Apakah dia dan Thomas di sambut dengan baik?", ucap Lauren yang sedang mondar mandir di seberang sana.


"Ya, kemarin mereka diajak makan malam"


"Sial, kita harus memiliki rencana secepatnya sebelum mereka mendapatkan restu", kesal Lauren


"Apa rencana kamu Lauren?"


"Aku akan menemui Herlina"


"Gila kamu! Kamu sedang hamil besar"


"Aku berbicara lewat ponsel bodoh, kenapa kamu yang membentak aku?", amarah Lauren


Elizabeth yang diseberang sana membola.


Terserah kamu deh.


"Kenapa kamu tidak membuat alibi buruk mengenai Thomas di depan orang tuanya Tina. Itu akan baik jika mereka tidak dapat restu. Kamu bisa mengarang cerita sesuai informasi yang kau dapatkan Eli", ucap Lauren dengan tersenyum.


"Benar juga, yaudah, aku akan menemuinya", ucap Ellizabeth dengan menyeringai.


Sementara Thomas bersama Tina pergi ke kebun binatang menemani Felix. Mereka melihat berbagai macam hewan dan berfoto ria.


"Mom, aku mau naik unta itu", tunjuk Felix


"Baiklah boy, daddy akan membawa kamu kesana", sahut Thomas dengan menggendong Felix.


Tina mengikuti langkah Thomas pergi ke kandang unta. Felix dan Thomas menaiki unta berdua sementara Tina menunggu di pinggir pagar melihat mereka mengelilingi lapangan tersebut.


Felix melambaikan tangan sambil memanggil Tina, "mom!", dengan senyum merekah dan Tina membalas lambaian tangan anaknya.


Mereka memutari dua kali putaran bersama pemandu kebun binatang. Setelah itu mereka berhenti tepat di putaran terakhir. Sebenarnya Tina juga ingin merasakan menaiki unta namun dia sedikit takut. Tetapi saat melihat Felix begitu bahagia Tina sudah merasa senang.


Thomas sedang berbicara dengan petugas bahwa ia ingin menaiki sekali lagi bersama istrinya tanpa di pandu dan petugas itu menganggukan kepala.


Thomas lalu memanggil Tina sang istrinya yang sedang memeluk anaknya.


"Tina!"


"Tina!", dengan tangan melambai.


Tina mendengarkan suara panggilan dan menoleh ke sumber suara dimana Thomas sedang melambaikan tangannya. Tina melangkah ke arah Thomas dengan menggandeng tangan Felix.


"Ada apa Thomas?", tanya Tina.


"Sekarang giliran kamu harus merasakan naik ke punggung unta", ucap Thomas.

__ADS_1


"Enggak ah Thomas, aku takut menaikinya", tolak Tina.


"Aku akan memandu kamu di belakang. C'mon sweet girl", ajak Thomas.


"Ta.. tapi Felix", ragu Tina


"Tenang saja mom, Felix akan menunggumu di sini. Felix juga gak sendirian disini, ada dua penjaga kebun binatang mom", ucap felix.


"Iya sweety, kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah meminta pemandu unta untuk menjaga Felix dan kita hanya berdua tanpa pemandu sweety", ucap Thomas


"Kamu yakin menaiki unta tanpa pemandu", ucap Tina dengan ragu dan Thomas mengangguk kepala.


"Ta.. tapi ini beda, tidak seperti mobil atau kendaraan yang biasa kita naiki lho"


"Ussttt," Thomas menenangkan dengan menghampiri Tina yang sejak tadi meragukan kemampuannya dengan mengusap kedua pipi.


"Tataplah aku sweety, aku tidak akan membuatmu jatuh ataupun terluka. Aku akan menjaga kamu. Percayalah padaku", ucap Thomas dengan lembut.


Tina memandang mata elang itu.


Dia begitu yakin mengendarai unta. Apa aku percayakan saja padanya? Tapi ini beda dengan kendaraan yang biasa dinaiki. Jika tanpa pemandu takutnya terjadi sesuatu. Sudahlah, harusnya aku percaya kemampuan Thomas yang ahli dibidang apapun meski dia tidak bisa memasak hidangan manis saja.


Tina kemudian menerima uluran tangn Thomas menaiki unta bersamanya. Sedangkan Felix tersenyum dengan senang melihat ibunya dan ayahnya bersatu.


Thomas mengajak keliling lapangan seperti sedang menaiki kuda yang biasa ia lakukan. Thomas di belakang Tina membisikan, "relakslah sweety, jangan khawatir. Aku berada di belakang kamu", dengan mencium telinga Tina. Lalu Tina mencoba untuk relakskan badan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan tiga kali dengan memenjamkan mata. Thomas yang berada di belakang tersenyum dibelakang.


Ketika saat menikmati menunggang unta, sekali-kali Thomas menjahili dengan mencium kepala dan terkadang suka menggigit telinga maupun bahunya yang membuat Tina melenguh dan jengkel dengan perilaku Thomas yang menjengkelkan. Saat ini pipi dan telinga Tina memerah dengan perilaku nakalnya yang terus menggoda dengan menutup wajahnya yang saat ini merah merona sambil mengusap wajahnya dengan keras.


Tina sangat geram dan akan mengeluarkan kalimat yang dia pendam tetapi untanya sudah berhenti di finish terakhir dengan putaran tiga kali.


Tina turun dengan buru-buru sedangkan Thomas menang banyak sebab dia bisa mengambil kesempatan untuk menggodanya. Thomas tidak peduli dengan kemarahan Tina nantinya untuk mengomelinya.


Sementara Elizabeth sedang pergi ke agency lama untuk meminta pekerjaan sebagai model kembali dengan menggunakan pakaian sexy untuk menggoda wakil direktur agar mau menerima kembali dirinya.


Ellizabeth menemui sekretaris di mejanya yang dekat ruang milik Handson.


Elizabeth berdehem, "hem, hem, hem", dengan mengetuk mejanya.


Sang sekretaris wanita tersebut mengadah kepalanya kepada orang yang telah mengganggunya.


"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu nona?", tanya sekretaris wanita tersebut.


"Handson, ada tidak?", tanya Elizabet


"Tuan Handson ada, tetapi apakah anda sudah membuat janji dengannya?"


"Belum"


"Maaf nona, saya tidak bisa mengizinkan anda untuk menemui tuan Handson sebelum membuat janji"


"Bilangin lewat telepon genggam itu, Elizabeth datang. Dia mengenal saya", dengan percaya diri


"Baiklah nona, akan saya beritahu kepada tuan Handson", ucap sekretaris wanita tersebut dengan mengambil ganggang telepon dan memencet panggilan dengan suara, "tutt, tuttt, tuttt",


Handson yang berada di dalam ruangan, mengangkat ganggang telepon sambil membaca lembaran kertas yang berisi profil model untuk pembuatan majalah.


"Hallo"


"Hallo tuan, mohon maaf mengganggu, ada seorang wanita yang mencari tuan",


"Siapa?"


"Elizabeth tuan", ucap sekretaris wanita itu dan Elizabeth yang berada di depannya begitu percaya diri sebab dia pasti akan diterima olehnya.

__ADS_1


Handson yang berada diruangannya, mendengarkan kata Elizabeth membuat dia terkejut dengan bertanya-tanya dan menduga.


Kenapa dia kesini? Bukankah dia dipenjara dengan tuduhan percobaan *pembunuhan setelah di tendang dari agency yang ku naungi?


Pasti dia ingin kembali jadi model. Apakah aku menerimanya dan harus melapor kepada pimpinan agency ini?


Lebih baik aku suruh masuk dulu, siapa tahu dia memberikan kepuasan untukku.


Dengan senyuman menyeringai yang tidak terlihat*.


Setelah menjeda sebentar dan mendapatkan suara panggilan berkali-kali, Handson memerintahkan kepada sekretarisnya untuk menyuruh wanita itu masuk.


"Suruh dia masuk"


"Baik tuan",


Lalu Sekretaris mempersilakan Elizabeth masuk setelah mendapatkan perintah dari Handson.


"Nona, silahkan masuk", ucapnya


Ellizabet tersenyum miring dengan berlalu membuka pintu ruangan Handson. Eluzabet melangkah berjalan mendekati Handson yang tengah duduk santai dengan di sibukkan oleh beberapa dokumen profile model.


Elizabet menyapa Handson si pria gendut.


"Hai tuan Handson", sapa Elizabeth dengan menggeser kursi untuk duduk sambil membuka kacamata.


"Sudah lama kita tidak bertemu", ucap Elizabet dengan menopang dagu di kedua tangannya sambil menggoda dengan tatapan sinar mata genit.


"Apa kabarnya sekarang?", tanya Elizabeth.


"Baik", jawab singkat Handson sambil memandang lekuk tubuh dan bagian di dadanya yang terlihat begitu menakjubkan.


Gila, wanita ini semakin lama tubuhnya semakin sexy. Tidak perlu diperhitungkan untuk bisa menikmati hal yang telah lama kosong.


"Aku ingin kamu membantuku untuk bisa masuk kembali di agency ini menjadi model", ucap Elizabeth dengan penuh permintaan.


Handson tersenyum menyeringai dengan menyandarkan punggungnya.


Sesuai dugaan aku.


"Aku akan membantu kamu tetapi dengan syarat kamu mau menerima apa saja yang perusahaan berikan seperti sebagai model bawahan dari nol", ucap Handson.


"Baiklah, akan aku terima,yang penting aku dapat masuk agency dan jadi model".


"Jika aku dapat menyakinkan pemimpin agency ini, Apa yang akan kamu tawarkan untukku?" seringai Handson.


"Aku akan memberikan kepuasan untukmu", senyum Ellizabeth.


"Baiklah, berarti kita deal!", ucap Handson dengan menyodorkan tangannya dan diterima oleh Elizabeth dengan mengulas senyuman licik dan menyeringai.


Di rumah nan megah dengan artistik klasik, di sana Hands menceritakan kenapa ia tidak begitu menyukai Thomas kepada Alena yang tiap kali berpapasan saat Hands libur ataupun pulang dari pekerjaan.


"Hands!", panggil Alena


Hands yang sedang membuka kemeja mendengus arti panggilan dan tatapan Alena lewat kaca.


"Akan aku ceritakan", ucap Hands dengan berlalu pergi berjalan ke sofa empuk di kamar dan diikuti Alena.


Hands menatap mata istrinya yang menyalang dengan sedikit ragu sinar mata yang dia berikan. Hands takut membuat dia marah, kesal, dan murka ketika dia menceritakan tragedi dimana perusahaan miliknya dapat bangkrut dan terbakar yanh dilakukan oleh keluarga Stefanus. Hands mencoba menarik nafas dengan begitu dalam dan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat dirinya bercerita. Mulut Hand begitu berat untuk berucap tentang masa lalu dan tenggorokan seperti tercekik.


Akan aku coba ceritakan setengah dahulu untuk antisipasi kekecewaan mendalam pada diri Alena.


Hembusan kasar dari hidung Hans berasa berat.

__ADS_1


__ADS_2