Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Perseteruan Dunia Bisnis Dengan Ayahnya 2


__ADS_3

Paginya pukul 08.00,Thomas pergi ke pedesaan menemui Gideon untuk bekerjasama melawan Stefanus ayahnya sendiri bersama Reyhan dan Jordhan. Mereka telah sampai di kediaman Gideon dengan ada penjagaan dua orang. Thomas turun dari mobil dan terpakir di depan rumah Gideon yang diikuti oleh Jordhan dan Reyhan. Lalu Thomas mengucap, “permisi, apakh benar ini kediaman Gideon tetua pemimpin perusahaan resort perhotelan?”, tanya Thomas dengan sopan.


Salah satu penjaga balik tanya tanpa ekspresi, “anda sekalian siapa?”


“Kami dari perusahaan PT Grind Lind”, jawab Thomas dengan menahan emosi atas pertanyaan penjaga pintu gerbang Gideon dengan sedikit ketus.


“Baiklah, tunggulah di sini”, jawabnya sambil membuka pintu dan berlalu berjalan menemui bos pemilik rumah ini.


Setelah kepergian penjaga tadi yang bercakap ketus Reyhan bergumam yang masih terdengar oleh Thomas dan Jordhan, “dia sungguh ketus, kami bertanya baik-baik”, Jordhan yang mendengarkan tersenyum sedangkan Thomas menggeleng.


Beberapa lama kemudian penjaga itu keluar dan mengatakan, “maaf tuan-tuan, bos kami tidak ingin menemui anda”, dengan menutup gerbang dan kembali ke posisi seperti sediakala.


“Dia tidak mau menemui kita”, bisik Reyhan.


“Bagaimana kalau kita coba sekali lagi”, ucap Jordhan.


“Tidak perlu, kita kembali lagi besok”, ucap Thomas dengan berjalan mendahului Jordhan dan Reyhan.


Sampainya di mobil, Jordhan mencoba menyakinkan Thomas, “kamu yakin?”, tanyanya dan Thomas menjawab mengangguk. Lalu Reyhan melajukan mobil meninggalkan kediaman Gideon.


Sementara Gideon yang berada di ruangan sambil mengamati monitor CCTV di layar laptop hanya mengetukan meja dengan berpikir.


“Apa yang dilakukan anak dari Stefanus menemuinya? Ataukah mereka bangkrut, itu karma buat keluarga Stefanus. Apakah ada kepentingan lain, sehingga ia mewakilkan anaknya untuk datang menemuinya?”, batin Gideon. Lalu Gideon memerintahkan asistennya yang dibelakang untuk menyelidiki tentang perusahaan Stefanus dan anaknya.


“Kamu, carilah tahu tentang mereka. Aku butuh informasi malam ini. Jangan tanyakan, jalankan penyelidikan tentang perusahaan milik Stefanus dengan anaknya”, perintah Gideon dengan matanya masih menatap ke depan.


“Baik tuan, segerah aku laksanakan”, ucap sang asisten itu. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Gideon untuk penyelidikan tentang keluarga Stefanus.


Malamnya Thomas sedang menyesap anggur bersama Reyhan dan Jordhan sambil mengobrol tentang usaha selanjutnya untuk menemui Gideon.


“Thomas, apa usaha selanjutnya yang akan kamu lakukan agar Gideon dapat menerima kita dan membantu kita untuk melawan ayah kamu?”,ucap Jordhan sambil mengupas kulit kacang.


“Besok kita ke sana dulu, aku sudah dapat nomor milik Gideon berkat bantuan Emrat yang telah bekerja sama dengannya”, ucap Thomas.

__ADS_1


“Ternyata kamu sudah merancang semua itu”, ucap Jordhan.


“Bos emang yang terbaik tapi lebih baik Jordhan saat mengomeli para bawahannya”, kekeh Reyhan yang diikuti oleh Jordhan dan senyuman Thomas yang tidak pernah terlihat oleh orang-orang sekitar kecuali untuk keluarga kecilnya yang ingin dia bina bersama orang terdekat seperti Reyhan dan Jordhan.


Jordhan berdecak, “ck”, lalu beranjak mencekik leher Reyhan yang sudah seperti adiknya sendiri. Ketika mereka berbuat ulah Thomas beranjak ke kolam renang dan memandang langit malam sambil menyuarakan isi hatinya, “tunggulah sebentar, aku akan membawa kalian kebahagiaan tanpa harus dapat gangguan dari keluarga Stefanus”, dengan menghembuskan nafas.


Saat ini Gideon sedang mendengarkan informasi di ruang kerja yang duduk mengarah ke jendela keluar.


“Tuan saya mendapatkan informasi bahwa anak laki-laki Stefanus ingin beradu dengan ayahnya disebabkan perseteruan karena soal perjodohan dengan keluarga Scott. Dia menolak karena memiliki wanita yang telah melahirkan anaknya akibat one night stand. Maka dari itu Thomas menolak.


Saya juga memiliki informasi bahwa Stefanus menghamili seorang wanita. Dan ternyata wanita itu sudah hamil. Ia berselingkuh di belakang Herlena”, ucap Asisten Gideon.


“Dasar tak tahu malu, aku sungguh kasihan dengan kamu Herlena. Aku lebih tulus menyukaimu, tapi lihatlah sekarang siapa yang kau sebut b*jingan dan tidak mempercayaiku”, batin Gideon.


“Siapa wanita itu?”, tanya Gideon dengan tangan mengepal.


“Wanita itu adalah Lauren yang akan dijodohkan dengan Thomas tuan”, ucap asisten itu.


Gideon lalu menyuruh asistennya untuk keluar dan Gideon di dalam melampiaskan kekesalannya dengan meminum sebotol anggur dengan mata menyalang. Saat ini wajah Gideon tidak bisa terbaca dan pikiran Gideon hanya mengingat masa lalu saat bersama Herlena.


“Gideon!”, panggil Herlena.


“Hai Herlena, ada apa?”, tanya Gideon dengan senyum hangatnya.


“Kamu melihat Stefanus tidak. Aku ingin mengajaknya makan”, ucap Herlena membuat Gideon kecewa.


“Dia sedang berada di ruang kerjanya”, ucap Gideon dengan ekspresi kecutnya. Lalu Herlena berpamitan sambil mencium pipi kanan Gideon dengan mengucapkan, “thank you”.


Sedangkan Gideon hanya bisa pasrah dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Hari demi hari Gideon melihat Herlena tersenyum bersama Stefanus hanya mampu melihat dari jarak jauh dengan matanya menatap nanar.


Lalu dikemudian hari Herlena sendirian di kafe dengan mata bengkak, Gideon menghampiri tanpa tahu jika Herlena sedang patah hati dan ia bertanya, “ada apa Herlena?”, tapi Herlena menggeleng kepala. Kemudian Gideon menduga kenapa Herlena menangis, “ini pasti Stefanus, cowok b*jingan itu. Biar aku beri pelajaran”, teriak Gideon dengan beranjak dan mengepalkan lengan.


Kemudian Herlena mencekal lengan dan memeluknya dari belakang, “jangan Gideon, nanti persahabatan kamu dengannya hancur”, ucapnya dengan air mata mengalir. Lalu Gideon luruh dan memeluk tubuh Herlena dan mencium kepala Herlena.

__ADS_1


Setelah adu cek cok dan baku hantam dengan Stefanus. Pada akhirnya satu tahun kemudian mereka menikah dan Gideon hanya melindungi Herlena dari jarak jauh sebelum terjadinya pengkhianatan soal keadilan bagi hasil mendirikan usaha. Stefanus dengan liciknya hampir membunuh Gideon tapi ia selamat dari kobaran api di pabrik meski telah dianggap mati oleh Stefanus. Akhirnya Gideon tidak pernah lagi melihat Herlena. Dia hanya ditakdirkan untuk bersama orang licik itu.


Pada siang hari Thomas kembali ke kediaman milik Gideon setelah mengurusi klien di sekitar area yang ia kunjungi saat ini. Thomas turun dari mobil dengan diikuti oleh Jordhan dan Reyhan. Thomas kembali mengucap permisi pada dua bodyguard di depan pintu yang masih sama.


“Permisi, saya kembali lagi untuk perihal kerja sama dengan Mr. Gideon.Apakah saya boleh menemuinya?”, tanya Thomas dengan sopan.


“Anda lagi dan lagi, kemarin tuan Gideon sudah menolak. Jangalah kembali lagi. Kalian tidak akan ada kesempatan apapun darinya”, ketus bodygurad itu yang membuat Reyhan tersulut emosi.


“Kamu itu tidak perlu ketus begitu, kami bertanya baik-baik. Baru menjadi penjaga gerbang, angkuhnya selangit!”, marah Reyhan yang ditahan oleh Jordahn.


“Sudahlah, jangan buat ribut. Hei kamu, bisa tanyakan kembali tidak!”, ucap Jordhan menengahi. Pengawal itu tiba-tiba mendapatkan panggilan dari Gideon dengan memerintahkan mereka untuk masuk. Lalu bodyguard itu mempersilahkan mereka masuk dan mengantarnya menemui Gideon.


“Silahkan masuk”, ucapnya dengan membukakan gerbang laku berjalan mendahului dengan menunjukan arah jalan menemui Gideon. Setelah sampai sang bodyguard tadi yang diajak berkelahi oleh Reyhan berpamitan dengan membukukan badan sebagai kesopanan. Lalu Gideon menyuruh mereka duduk di meja makan dengan diatas meja ada sebuah hidangan makan yang tersajikan.


“Silahkan duduk!”, perintahnya


“Ada keperluan apa kamu kesini? Putra dari Stefanus?”, tanyanya sambil mengupas cangkang kepiting.


“Saya ke sini untuk meminta bantuan dari anda”, ucap Thomas to the poin


“Bantuan apa yang kamu inginkan? Bukankah Stefanus sudah memiliki cukup besar saham. Kenapa kamu malah meminta bantuanku ini? Musuh dari ayahmu itu”, tanya Gideon dengan ekspresi dingin.


“Ya benar, apa yang anda katakan. Justru saya dan kedua karyawan saya kesini untuk mengajak kerja sama untuk menghancurkan Stefanus yaitu ayah saya”, ucap Thomas dan Gideon mendengarkan tersenyum sinis.


“Perjanjian apa yang kamu berikan kepadaku, saat nanti kau berhasil”, ucap Gideon.


“Saya membawa kertas perjanjian, silahkan anda menimang. Jika ada yang harus saya ubah akan aku lakukan apapun itu”, ucap Thomas.


“Benarkah, jika aku meminta wanita kamu dan anakmu bagaimana?”, tantang Gideon yang telah mengetahui apa permasalahan yang di hadapi dari anak Stefanus.


“Maaf tuan, itu saya tidak bisa berikan. Dia wanitaku dan anakku selain itu akan saya berikan”, ucap Thomas dengan tegas.


“Baiklah, nanti aku pikirkan. Jika kalian lapar, kalian bisa menyantapnya semua hidangan ini. Saya sekarang ada tamu”, ucap Gideon beranjak pergi setelah mencuci tangan yang disediakan dalam mangkuk besar. Saat akan melangkah Thomas menghentikan langkahnya, “tunggu!”, ucapnya dan Gideon menghentikan langkahnya dengan membelakangi Thomas, “kami juga mau mengundurkan diri”, ucap Thomas dengan pergi berlalu mendahului Gideon. Gideon yang masih berdiri di belakang Thomas terangkat senyuman tipisnya sambil bergumam, “sungguh menarik”.

__ADS_1


__ADS_2