
Saat ini Lauren sedang marah dan emosi karena penghinaan dari Stefanus. Lauren sedang memikirkan ulang kembali untuk menghancurkan Thomas dengan Tina terutama Stefanus. Ia sedang mondar mandir ke sana kemari untuk mencari ide dengan menggigit ibu jarinya.
“Bagaimana caranya untuk memisahkan Thomas bersama Tina?”
“Aku harus cari cara, sebab setelah anak ini lahir aku harus sudah bisa memiliki Thomas. Tidak ada yang boleh memiliki Thomas jika aku tidak bisa mendapatkan”, sambil mondar mandir. Lalu tiba-tiba ide muncul dalam pikirannya. Lauren menghubungi Vector untuk membantunya mencari tahu tentang musuh Tina selama ini. Agar ia bisa dengan mulus merencanakan siasat selanjutnya. Lauren mencari nama Vector di ponselnya lalu mendeal up nama Vector. Suara bunyi ponsel, “tutt, tuttt, tutt”, kemudian Vector mengangkat, “hallo!”, sapanya.
“Hallo Vector, ini aku Lauren”
Vector setelah mengangkat dan mendengarkan suaranya berdecak, “ck”, dengan mengatai dalam batin, “ada apa sekarang dengan dia?”, sambil mengisap rokok di kontrakan rumahnya.
Setelah Vector berdiam cukup lama. Suara Lauren kembali terdengar dengan mengatakan, “Aku butuh bantuan kamu”,
“Bantuan apa?”, tanya Vector sambil mengepulkan asap rokok.
“Aku mau kamu mencari informasi tentang musuh-musuh Tina Refalino. Aku akan berikan berapa pun yang kau mau”, ujar Lauren.
“Baiklah akan aku cari tahu informasi itu, sekarang yang aku butuhkan uang. Berapa yang akan kau bayar untukku?”
“Aku akan bayar sepuluh juta”
“Aku mau lebih, informasi saat ini mahal”
“Kamu butuh berapa?”
“Lima puluh juta”
“Kamu gila!”umpat Lauren
“Jika kamu tidak mau, aku tutup, carilah bantuan yang lain”
“Sial, orang ini memanfaatkan aku sekarang. Awas saja, nanti akan aku habisi kamu”, batin Lauren
“Baiklah, aku akan bayar DP lima juta, setelah kamu berhasil akan aku bayar selebihnya”
“itu baru mantap, akan aku laksanakan”, senyum puas dari sudut bibir Victor.
Lauren saat ini menunggu kabar dari Victor sambil menghubungi Stefanus dengan rayuan mautnya.
“Hallo sweetheart ada apa?”, tanya Stefanus.
“Aku ingin makan di luar honey. Bisakah kamu menemaniku?”
__ADS_1
“Tentu sweety”, sambil membaca dokumen pemasaran yang ia pegang, “tunggulah di rumah, aku akan jemput kamu setelah menandatangani beberapa dokumen”, ucap Stefanus dengan senyum senang. Lalu Lauren mematikan ponsel dan bergegas siap-siap untuk pergi sebelum Stefanus datang.
Tiga puluh menit kemudian Stefanus datang dan memeluk tubuh Lauren dengan gaun merah. Lalu Stefanus memuji, “sweety, kamu terlihat sexy”, dengan mencium rambut Lauren yang ia pegang.
“Ayo kita berangkat honey”, ajak Lauren dengan menggandeng lengan Stefanus.
Sesampainya di restaurant Elizabeth dan Stefanus duduk di dekat jendela dengan nuansa tenang. Mereka memesan makanan setelah itu mereka mengobrol soal nama anak yang dikandungnya.
“Sweety kamu mau pesan apa?”, tanya Stefanus dengan lembut.
“Aku ingin makan salad buah sama jus alpukat”, pesan Lauren.
“Saya pesan orange jus dan steak kentangky”, pesan Stefanus.
Setelah selesai mencatat, pramusaji itu mengundurkan diri dengan sopa sambil mengatakan, “silahkan di tunggu tuan, nyonya”, dengan berlalu pergi ke dapur.
“Sweety apakah kamu sudah menyiapkan nama putra kita?”, tanya Stefanus.
“Belum honey, dia masih empat bulan lebih satu minggu, nanti kita pikirkan kembali”, ucap Lauren dengan senyum lembut
“Baiklah, aku akan ikut kamu”
“Honey, uang bulan ini sudah tidak mencukupi, daddy juga belum mengirimku uang”,rengek Lauren.
“Aku butuh satu milyar honey”,
Stefanus terkejut dengan permintaan Lauren meskipun dia sering mengeluarkan uang banyak untuk Lauren, tapi kali ini Stefanus merasa curiga dengan permintaan Lauren.
“Uangnya untuk apa sweety?”
“Aku mau memeriksa kandungan dan untuk membeli vitamin honey”
“Baiklah nanti akan aku kirimkan”
Lalu mereka melanjutkan acara makan. Setelah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan mereka kembali ke rumah. Kali ini Stefanus hanya mengantarkan Lauren dan langsung kembali ke rumah Herlena.
“Aku pergi dulu”, pamit Stefanus dengan mencium bibirnya.
Setelah turun dari mobil Stefanus tiba-tiba ada suara dentingan email dan pesan. Lauren membuka dengan senyum merekah karena mendapatkan informasi yang dibutuhkan sekaligus kiriman uang langsung dari Stefanus.
Lauren pergi ke kamar untuk membaca informasi dari Victor setelah mengirimkan uang yang dia mau. Lauren tersenyum bahagia sebab masih ada harapan untuk memiliki Thomas sambil mengusap perut buncitnya.
__ADS_1
Sementara Tina saat ini sedang pergi ke rumah Grace bersama Felix dan Keenan. Mereka bercipika cepiki. Lalu Grace mempersilahkan mereka masuk.
“Makasih lho kalian sudah datang menyempatkan ke rumah ku. Terutama kamu Keenan, sudah dari jauh datang ke sini membawa bingkisan lagi”, ucap Grace dengan terenyum senang.
“Iya, sama-sama Grace”, ucap Keenan yang duduk di samping Felix.
“Oh ya, ngomong-ngomong mana Raiden kecil?”, sahut Tina.
“Dia ada di kamar, sebentar akan aku bawakan ke kalian”, ucap Grace bersemangat naik tangga menuju kamarnya.
Grace mengambil Raiden lalu menggendong menuruni tangga dengan pelan menuju ke ruang tengah. Saat Grace telah sampai, Tina mencoba menggendong Raiden kecil. Setelah dalam gendongan Tina, Grace mengambil box bayi dengan meminta bantuan pelayan di mansionnya. Tina terus mengajak Raiden kecil mengoceh dengan menaruh tubuh mungilnya dalam box bayi yang diangkat bersama para pelayan Grace di sini.
Felix mendekat dan mencoba memegang tangan mungil Raiden yang sedang ngempeng.
“Hai boy, nanti kalau sudah besar kita main sepak bola bersama” , ucap Felix.
“Iya Felix”, jawab Grace dengan menirukan suara bayi.
“Suara kamu kok buruk Raiden”, ledek Felix yang menyindir Grace.
“Yak.., suara dia lebih bagus dari kamu Felix, lihat besar nanti. Suara tangis dia aja udah nyaring, ya kan baby Raiden”, ucap Grace dengan kesal lalu menirukan suara anak kecil teruntuk Raiden anaknya.
“Ya ampun Grace kamu seperti anak kecil saja”, ledek Keenan dengan terkekeh diikuti Tina.
“Biarin dong, dia kan anak aku yang kudu aku bela”, ungkap Grace dengan terkekeh.
Saat mereka sedang mengobrol dan menikmati makanan camilan tiba-tiba Jack bersama Thomas datang.
Thomas yang melihat Tina bersama Keenan, hatinya mulai panas dan terselimuti rasa cemburu. Thomas melangkah lebar menyusul Jack.
“Sweety, aku merindukan kamu”, ucap Jack memeluk Grace yang sedang membawa semangka di piringnya.
Thomas yang berada di sampingnya memanggil Tina dengan ekspresi wajah dingin, “Tina!”, Tina menoleh ke arah sumber suara yang begitu dingin dan kaku. Tina terkejut dengan mata melotot dengan menyebut nama suaminya, “Thomas!”.
Keenan yang duduk di samping Tina berdecak, “ck”, ketika melihat ekspresi Thomas yanh cemburuan.
“Sweety, hari ini sepertinya kamu menikmati bersama pria itu”, ucap Thomas yang tidak ingin menyebut laki-laki bernama Keenan.
“Ya ampun Thomas, jangan cemburu dong, aku ke sini bersama dengannya hanya untuk menjenguk Grace”, ucap Tina sambil mengusap lengan dan mengecup bibirnya agar kecemburuan Thomas mereda.
“Thomas kamu itu jangan posesive dong kasihan Tina. Lama-lama dia tidak memiliki teman”, tandas Grace yang jengah melihat Thomas yang terlalu overprotective.
__ADS_1
Thomas menghembuskan nafas dan duduk dengan menarik pinggang Tina agar tidak mendekati Keenan dengan posesive. Sedangkan Felix melihat ayahnya menggeleng kepala.
Lalu mereka mengobrol dengan canda tawa sambil menggoda Thomas yang suka cemburuan yang sering dimenangkan oleh Keenan dan Grace. Thomas memasang wajah besengut yang harusnya sudah tidak pantas untuk orang dewasa ini. Grace dan Jack menikmati pertarungan sengit antara Keenan dan Thomas dalam adu otot. Sedangkan Tina menggeleng kepala dengan mengatakan dalam batin, “tidak habis pikir mereka orang dewasa seperti anak-anak, apalagi di rumah orang dan dilihat Felix”, sambil memegang jidat.