Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Menangkap Hama


__ADS_3

Di tengah terisaknya Lauren, Dion memberikan informasi kepada Stefanus bahwa Lauren di tangkap dengan tuduhan perencanaan pembunuhan dan penculikan. Setelah mendengar informasi dari Dion, Stefanus menyuruh Dion untuk tidak membebaskan Lauren untuk sementara waktu namun Stefanus memberikan perintah agar Lauren di pindahkan dalam sel tahanan yang aman. Dion melaksanakan perintah dari Stefanus.


Vienna yang sedang risau mengenai berita kecelakaan itu membuatnya terus mengunyah tanpa henti menunggu kabar kepulangan Jordhan yang tak kunjung menghubunginya.


Ketika beranjak dari bangku di ruang makan, Vienna melihat Jordhan telah kembali dengan kedaan baik-baik saja. Rasa khawatir yang dialami oleh Vienna mengubah ekspresi seketika biasa. Vienna tidak ingin menunjukkan rasa khawatir yang menghantuinya terlihat oleh Jordhan. Vienna tidak ingin Jordhan besar kepala. Vienna berpura-pura menyapa saja dengan ekspresi datar.


“Uncle pulangnya kok cepat’, ucapnya


“Oh ya..”, ucap Jordhan berjalan menghampiri Vienna, “apakah kamu tidak tahu berita perihal kasus kecelakaan yang dialami olehku?”, tanya Jordhan dengan menaikkan alis sebelah.


“Berita mengenai apa? Aku bahkan tidak tahu berita itu”, bohong Vienna.


“Apakah kamu benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu”, ucap Jordhan dengan menarik pinggang Vienna hingga hampir mengikis jarak.


“Beneran aku tidak tahu”, ucap Vienna dengan suara jantung tak karuan sampai memohon kepada jantungnya untuk tidak berdetak terlalu keras.


Jordhan tersenyum tipis ketika melihat wajah cantiknya ketakutan saat mendekat. Jordhan membelai wajahnya sampai di bagian ranum bibirnya. Jordhan lalu mengangkat tubuh Vienna yang membuat sang pemilik tubuh terkejut dengan mata membelalak. Vienna meronta untuk minta diturunkan namun Jordhan terus membawanya ke kamar dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan ekspresi dingin dan datar lalu membuat Vienna ketakutan. Jordhan melepaskan kemeja birunya kemudian mendekati Vienna yang terus mundur sampai terpentok dengan sisi kepala ranjang dan mereka saling memandang lalu Jordhan mendekatkan wajahnya dan mencium Vienna dengan mengapit dua kaki miliknya dan mencekal kedua tangannya.


Vienna terus bergerak seperti ular dan akhirnya dia pasrah karena kekuatan yang dimiliki tidak sebanding dengan milik pria yang ada di depannya.


Vienna merasakan ada sesuatu yang membuat tubuhnya menggelinjang dan bergetar akibat ulah dari Jordhan.


Jordhan memulai aksinya untuk memuaskan diri dan memberikan kenikmatan untuk wanitanya yang dimiliki.


Pagi pukul 09.00 Jordhan terbangun dari alam mimpinya setelah mendengar suara nada telepon dari ponselnya. Jordhan mengangkat sambungan telepon dari Thomas.


“Hallo Thomas, ada apa?”


“Kamu segeralah membuat pers untukku agar semua masalah terselesaikan secepatnya”, perintah Thomas.


“Baiklah”, ucap Jordhan.


Jordhan meletakkan ponsel lalu mencium pipi Vienna yang membelakangi dirinya. Sampai Vienna terbangun dengan mengulet. Jordhan yang berada di sampingnya terus memandang Vienna yang merenggangkan otot-otot akibat kelelahan. Vienna yang merasa di pandang langsung melototi Jordhan dan melontarkan kalimat mengumpat dengan suara lirih.


“Dasar mesum”,lirih Vienna.


Umpatan yang di lontarkan Vienna dengan suara lirih terdengar oleh Jordhan dan membuat Jordhan tersenyum miring.


Jordhan beranjak dari tidur dengan kedaan tanpa sehelai kain sampai membuat Vienna melotot dan menutup mata dengan kedua telapak tangan. Jordhan melihat tingkah Vienna yang malu tersenyum menyeringai. Jordhan diam-diam mengangkat tubuh Vienna sambil berbisik, “tidak perlu malu, kita sudah sama-sama melihat dengan keadaan seperti ini”.


Vienna terkejut dengan perlakuan Jordhan yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya sehingga Vienna berteriak dan meronta. Namun Jordhan tidak peduli dengan pukulan kecil yang diberikan wanitanya. Jordhan tetap melanjutkan madu kasihnya sampai Vienna terus mengeluh soal pinggangnya.


Jordhan yang mendengarkan keluhan Vienna dijadikan sebuah senandung yang menghibur dirinya sampai Vienna kesal dengan membuang nafas kesar.


Di ruang rawat inap Thomas terus berjaga dan menyuapi Tina tanpa rasa lelah.


“Honey, lebih baik kamu istirahat dan biarkan aku makan sendiri”, ucap Tina.


“No, no, no, aku akan menyuapi kamu sampai kamu sembuh”, ucao Thomas.


“Tapi..”


“Tidak ada tapi-tapian. Tetaplah turuti aku biar kamu cepat sembuh”.


Thomas menyuapi Tina dengan telaten hingga tandas. Lalu Thomas pamit meninggalkan Tina untuk menemui Rayhand di kamar rawat sebelah. Kemudian Tina mengizinkan Thomas untuk menemui sahabatnya.


Thomas menyapa Rayhand yang tengah terbaring di ranjang.


“Bagaimana keadaan kamu Rayhand?”, tanya Thomas.


“I’m ok”, jawab Rayhand.


“Apakah kamu akan tetap menghancurkan karier Lauren di dunia entertainment?”, tanya Rayhand.


“Ya, aku tetap akan membuat dia hancur sehancurnya walaupun nantinya Stefanus akan memohon kepadaku untuk melepaskan Lauren. Siapa pun yang berani mengganggu atau menyakiti orang terdekatku pastinya dia akan mendapatkan bayaran yang lebih setimpal seperti halnya Victor”, ucap Stefanus.

__ADS_1


“Kamu benaran pria kejam tanpa belas kasih”, sindir Rayhan.


Thomas mendengarkan sindiran dari Rayhand hanya berdecak dan senyuman miring.


Lalu Thomas mengalihkan topik mengenai percintaan Rayhan bersama Laura.


“Bagiamana percintaan kamu dengan Laura?”, tanya Thomas.


“Uhmmm..”


Flashback


Pada saat Rayhand terluka parah Laura menangisi untuk dirinya ketika dalam keadaan terbius obat yang diberikan dokter setelah operasi.


Laura pergi menghampiri dengan meneteskan air mata dan berekspresi khawatir terhadap dirinya.


“Rayhand, kenapa kamu bisa seperti ini?”, dengan sesenggukan.


“Rayhand, se.. sebenarnya aku me.. menyukai..mu ketika kamu menghiburku ketika aku sedang galau masalah cintaku bertepuk sebelah tangan..”


“Aku mohon kamu untuk segera bangun.. aku janji apabila kamu menyatakan cinta kepadaku, aku akan menerima kamu apa adanya dan melupakan kisah cintaku bertepuk sebelah tangan. Jadi segeralah sadar”, ucap Laura sambil menghapus air mata.


Rayhand yang berpura-pura tak sadarkan diri mendengarkan semua pernyataan yang dilontarkan oleh Laura merasa bahagia dan lega. Laura yang masih sesenggukan tak sadar bahwa Rayhand membuka mata. Ketika Laura beranjak dari tempat duduknya Rayhand kembali menutup mata agar tidak ketahuan kalau dirinya sudah siuman dari obat bius.


Saat Laura pergi ke kamar mandi Rayhand bernafas lega dengan senyuman bahagia yang terpancar dalam wajahnya beberapa menit lalu kembali menutup mata setela Laura kembali dari kamar mandi.


Ketika Laura memegang tangan Rayhand, Laura terkejut dengan pergerakan tangan. Lalu Laura memanggil Rayhand dengan rasa bahagia. Saat Rayhand membuka mata, Laura langsung berteriak memanggil dokter bahwa Rayhand telah sadarkan diri.


Dokter memeriksa jantung dan denyut nadi Rayhand dan menyampaikan kondisi Rayhand.


“Syukurlah, dia baik-baik saja setelah melewati masa kritis dan obat bius yang saya berikan. Mr. Rayhand akan baik-baik saja apabila dia ingin segera pulih, dia harus istirahat total dalam waktu dua sampai tiga minggu hingga luka di dahi dan tangannya kering”, ucap dokter.


“Thank you dok”, ucap Thomas yang sudah ikut bergabung setelah mendengar teriakan dari Laura.


Esok paginya, Laura merawat Rayhand mulai dari menyuapi, membantu dia duduk, sampai ke hal kecilpun Laura selalu membantu hingga kadang Rayhand mengambil kesempatan di sela-sela Laura membantu dirinya dalam hal mulai berani mencium dan menggodanya.


Flasback off


Usai Rayhand bercerita kepada Thomas, Laura datang dengan membawa makanan dari luar.


“Rayhand! Aku membawa makanan kesukaan kamu”, ucap Laura dengan menenteng tas kresek berisi kebab dan makanan ringan yang dibelinya tanpa memperhatikan orang yang berada di samping Rayhand. Usai berteriak, Laura baru menyadari kalau di sampingnya ada sosok pria yang menakutkan dan tidak lain adalah suami dari Tina. Kemudian Laura menyapa dengan senyum sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Rayhand membuka suara agar tidak ada rasa canggung atas apa yang dilewatkan oleh Laura.


“Sweety, thank you”, ucap Rayhand membuka kantong kresek berisi makanan yang dibeli oleh Laura.


“Uhmm baunya harum sekali honey”, ucap Rayhand kembali.


“Thom, apa kamu mau”, ucap Rayhan menawarkan kepada Thomas.


“Tidak perlu, aku sudah makan. Kamu nikmati saja makanannya agar kamu cepat sembuh. Kalau begitu aku pamit dahulu”, ucap Thomas dengan berjalan ke arah pintu keluar. Laura yang berada di samping Rayhand jadi tidak enak hati karena tidak sopan ketika dirinya berteriak di depan Thomas.


“Rayhand! Aku jadi gak enak deh dengan Thomas akibat aku tidak menyadari dirinya kalau ada di sampingmu. Harusnya aku melihat sekeliling orang di sampingmu”, ungkap Laura dengan ekspresi wajah ditekuk.


“Sudahlah sweety, kamu tidak perlu bersalah. Thomas itu orangnya memang berekspresi datar dan dingin. Jadi, kamu tidak perlu gak enak hati”, senyum Rayhand.


“Lebih baik kita makan bersama”, ucap Rayhand menarik tangan Laura agar duduk di sampingnya.


Di kamar rawat samping, Thomas tengah bermesraan dengan Tina sambil mengusap perut yang mulai terlihat buncit dengan memberikan senyuman hangat untuk istrinya.


“Thomas, apakah kita harus melakukan pers untuk membuat jera Lauren?”, tanya Tina.


“Iya sweety, kita harus menyelesaikan masalah ini agar kehidupan rumah tangga kita tidak terusik oleh hama liar seperti mereka”, ucap Thomas dengan memeluk tubuh istrinya.


“Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu di dunia ini”, puji Tina dengan memberikan kecupan kepada Thomas.


Ketika mereka sedang asyik bermesraan tiba-tiba Felix datang dengan suara keras memanggil momy-nya dan mengatakan bahwa dirinya sangat merindukannya. Ia datang bersama dua keluarga besar serta para sahabat Tina dari London sehingga Thomas harus menghentikan kemesraannya bersama Tina. Thomas beranjak menghampiri putranya.

__ADS_1


“Hai boy”, usap Thomas di kepala Felix.


“Dad, bagaimana keadaan momy?”, tanya Felix.


“Sangat baik boy”,sela Tina.


“Momy!”, teriak Felix dengan berlari lalu memeluk Tina.


“Aku sangat mengkhawatirkan kamu mom”, ucap Felix dengan ekspresi cemas.


“Kamu tidak perlu khawatir lagi karena momy baik-baik saja dan hanya cedera di bagian tangan. Hanya dady kamu yang berlebihan sampai momy di rawat inap”, ucap Tina.


“Itu demi kebaikan kamu sayang”, nimbrung Herlena.


“Hai mom, apa kabar?”, sapa Tina.


“It’s good baby”, ucap Herlena dengan senyum hangat.


“Momy berharap kamu tetap tersenyum dan bahagia”, ucap Herlena dengan memberikan kecupan di dahi Tina.


“Tentu, dia harus bahagia”, nimbrung Hans yang masih saja menaruh ketidakpercayaan kepada Thomas sebagai menantunya.


“Hai Tina, sudah lama kita gak ketemu”, ucap Rosiana.


“Ros!”, panggil Tina.


“Iya, kita sudah lama gak bertemu”,ucap Tina.


“Hallo Xander, Audrey”, sapa Tina.


“Hallo aunty”, senyum Audrey.


“Kapan kamu akan mengadakan pers Thomas?”, tanya Hans yang telah mengetahui rencananya.


“Besok”, jawab Thomas dengan nada datar.


“Aku mengandalkan semua masalah kepadamu. Aku juga mau memperingatimu untuk tidak mencampurkan urusan dengan hubungan darah ketika daddy kamu memohon kepadamu”, ucap Hans.


“Tenang saja, aku sudah memutuskan apa yang terbaik untuk keluarga kecilku”, ucap Thomas.


Di tempat berbeda Jordhan tengah mempersiapkan pers untuk Thomas dan Tina yang dibantu oleh beberapa rekan kerjanya.


Usai menyelesaikan tugasnya, Jordhan pergi ke markas untuk melihat keadaan Victor yang telah mengkhianati kepercayaan Thomas.


Jordhan memasuki ruang bawah tanah bersama Rafael.


“Bagaimana keadaan dia?”, tanya Jordhan dengan nada dingin.


“Dia sangatlah menderita tuan. Dia terus merintih ketika kami menyalakan tegangan listrik di tubuhnya. Dia juga tidak mau berbicara”, ucap salah satu anak buahnya yang ditugaskan menyiksa victor.


“Kalian keluarlah, biarkan aku bicara dengannya”, perintah Jordhan.


“Baik tuan”, ucap salah satu anak buahnya.


Setelah mereka keluar, Jordhan melangkah mendekati Victor yang kini sedang lemah dan kesakitan akibat siksaan yang diberikan Thomas.


“Victor, apakah kamu masih mendengarku?”, tanya Jordhan.


“Victor!”, panggil Jordhan.


Victor mencoba menegakkan kepalanya yang terasa sakit dan pusing. Victor memandang laki-laki itu di depannya dengan matanya yang buram.


“Kamu terlalu berani. Kamu harusnya memilih untuk berpihak kepada Thomas bukan mengkhianatinya. Kamu sudah tahu kalau dia itu pria yang memiliki kekuasaan dalam segala hal yang tidak bisa kamu lawan. Lebih baik kamu berbicara mengenai kenapa kamu berbelok mengkhianati kami?”, ucap Jordhan.


Victor tersenyum miring dan cekikikan tanpa memberikan alasan apa pun. Sikap Victor membuat Jordhan geram sehingga Jordhan mencoba memancing dengan mengancam akan memberikan tegangan listrik yang lebih tinggi. Namun ancaman yang diberikan oleh Jordhan tidak membuat Victor gentar dan Victor tetap pada pendiriannya. Victor sudah tidak peduli lagi dengan nyawanya. Victor lebih memilih mati daripada hidup dalam kesakitan setelah di diagnosa dokter empat hari yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2