Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Restu Terhalang Oleh Masa Lalu 5


__ADS_3

"Thomas! maafkan momy yang telah membuat kamu sedih", ucap Tina di dalam kamar dengan memeluknya dari belakang.


"No sweety, itu bukan salah mereka. Semua telah terjadi berabad-abad karena daddy ku", ucap Thomas membalikan tubuhnya.


"Apa yang terjadi Thomas? Apakah aku bisa mendengarkan ceritamu itu?", tanya Tina yang masih betah memeluk tubuh kekar suaminya.


"Aku akan ceritakan. Tapi kamu janji tidak akan meninggalkan aku setelah kamu mendengarkan ceritaku", ucap Thomas mengusap punggung istrinya lalu mendorong tubuhnya agar mereka bisa saling menatap.


"Iya aku janji", ucap Tina dengan menyodorkan kelingking jarinya dan tersenyum.


"Mari kita duduk di ranjang", ajak Thomas yang diikuti oleh Tina.


"Cobalah ceritakan", ucap Tina yang tidak sabar Lalu Thomas mulai bercerita.


"Tiga puluh tahun yang lalu Stefanus baru merintis usaha bersama sahabatnya bernama Gideon. Stefanus baru menjalan setengah tahun membangun sebuah resort. Stefanus menjalin kerja sama dengan Reffalino kakek kamu yang telah meninggal. Dia menjalin begitu lama dengan keluarga Reffalino selama empat tahun lamanya...", jeda Thomas melihat ekspresi istrinya dengan alis berkerut.


" Apa yang terjadi selama empat tahun itu?", tanya Tina dengan penasaran yang tangannya bertengger di lengan Thomas.


"Yang terjadi selama empat tahun yaitu Stefanus mulai serakah setelah kemajuan pesat usahanya. Dia melakukan kelicikan dengan mencuri kayu berkualitas bersama dua saudara sepupunya lalu setelah dua hari melakukan pencurian kayu, Stefanus membakar gudang serta pabrik yang dibangun oleh kakek kamu", lanjut Thomas dengan ekspresi antara sedih dan marah.


"Tina maaf, maafkan aku", ucap Thomas dengan mengusap wajahnya dengan kasar dan tidak bisa menahan air mata. Begitupun Tina yang mendengarkan cerita Thomas yang begitu mengerikan kelakuan ayahnya. Tina berpikir bahwa dirinya tidak bisa menyalahkan Thomas namun di sisi lain Tina begitu kecewa dengan darah Stefanus yang mengalir di tubuh suaminya.


Ya Tuhan aku begitu kecewa dengan ayah Thomas. Aku tidak bisa menyalahkan Thomas begitu saja. Thomas bukan pelakunya. Dia hanya korban dari ayahnya. Aku tidak bisa menyalahkannya.


Tina lalu memeluk tubuh Thomas yang menunduk menyembunyikan air mata. Dia mencoba menenangkan hati Thomas.


"Thomas itu semua bukan salah kamu", ucap Tina. Thomas yang mendengarkan ucapa Tina menoleh dengan saling menatap kemudian Thomas memeluk tubuh istrinya.


"Maafkan aku Tina", ucap Thomas.

__ADS_1


"Itu bukan salah kamu. Kamu hanya korban keserakahan daddy kamu", ucap Tina memeluk tubuh kekar suaminya.


Sementara Felix yang akan mengambil minum melihat kedua orang tuanya saling berpelukan dari pintu yang terbuka sedikit.


Sementara Herlena tidak ingin kembali ke mansion Stefanus. Dia pergi kediaman Gideon setelah bercerita mengenai sifat Stefanus selama ini yang sudah mulai berbuat kasar dan tidak peduli terhadapnya.


Dia sedang melamun di blakon kamar tamu yang disediakan oleh Gideon untuk dia menginap.


Gideon yang telah selesai berkutat di ruanb kerja. Dia pergi menuju ke kamar tamu dimana Herlena berada. Gideon mengetuk pintu dengan keras dari luar namun tidak ada jawabn dari Herlena. Lalu Gideon mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci olehnya. Gideon melangkah masuk mencari Herlena dalam kamar dan ternyata ia berada di blakon dengan tatapan kosong.


Gideon melangkahkan kakinya menghampiri Herlena dengan berdiri di samping wanita itu. Kemudian Gideon mulai mencoba untuk bersuara dengan pandangan lurus ke depan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?", tanya Gideon yang membuat Herlena kaget dan tersadar dari acara melamunnya.


"Sejak kapan kamu berada di sini?", tanya Herlena.


"Sejak kamu masih melamun dan memikirkan sesuatu yang mengganggu pikiran kamu", ucap Gideon.


"Apakah kamu memikirkan Stefanus?", tanya Gideon.


"Iya, aku memikirkannya sejak ia berubah sikap dan perilakunya terhadap aku", ucap Herlena.


"Sudahlah Herlen, dia benar-benar pria br*ngs*k lebih baik kamu melupakannya dan buatlah hidup kamu menjadi bahagia. Kamu memiliki Thomas yang selalu menghormati kamu", ucap Gideon dengan rasa peduli kepadanya.


"Aku tidak bisa Gideon, apalagi Thomas akhir-akhir ini lebih peduli dengan wanita rendahan itu. Aku tidak menyukainya", dengus Herlena dengan tangan mengerat pada besi pembatas.


"No Herlen, dia bukan wanita rendahan. Dia anak dari Reffalino. Mereka saling mencintai. Kamu tidak boleh egois. Dan yang terlihat baik belum tentu dia baik di mata kita. Lalu yang terlihat buruk belum tentu lebih buruk di mata kita Herlen. Semua manusia memiliki sifat itu tapi antara ketraluan atau tidak. Bisa saja Lauren yang notabenenya di mata kamu dia terlihat baik tapi belum tentu di belakang kamu berbuat baik", ucap Gideon yang mengenai hatinya.


"Apakah kamu membela perempuan itu?", tanya Herlena dengan menahan rasa kesal dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku tidak membela siapa-siapa", ucap Gideon.


"Namun aku hanya mengingatkan sesuatu untukmu. Jangalah percaya kepada orang yang terlalu baik bisa jadi dia boomerang untukmu. Manusia tidak selamanya baik pasti ada keburukan malah lebih buruk dari orang yang kita anggap buruk", lanjut Gideon dengan mengepalkan tangan dengan erat.


"Tidurlah ini sudah hampir tengah malam dan masuk ke dalam. Tidak baik berlama-lama di luar. Angin akan semakin dingin dan kamu bisa sakit. Tubuhmu bukan seperti dulu lagi. Kita akan cepat terkena serangan sakit", ucap Gideon dengan berlalu meninggalkan Herlena di Balkon.


Setelah kepergian Gideon, Herlena teringan dengan ucapan Gideon di telinga yang terus berdengung. Herlena merasa kesal kepada Gideon yang selalu tidak pernah selaras terhadap pemikirannya.


Herlena yang berada di balkon lalu masuk setelah merasakan angin semilir begitu dingin sampai menembus pada kulitnya. Herlena menutup pintu lalu pergi tidur dengan menyelimuti tubuhnya yang kedinginan.


Matahari terbit menyinari seluruh negara AS. Herlena saat ini sedang berkutat membantu para pelayan menyiapkan hidangan untuk sarapan pagi.


Saat Herlena sedang meletakkan secangkir kopi, dia melihat Gideon yang berjalan ke arahnya dari kamarnya.


"Apakah tidur kamu nyenyak?", tanya Herlena dengan tangan kiri memegang kursi dan tangan kanan berkacak pinggang.


"Ya, tidurku nyenya", jawab Gideon dengan berlalu pergi ke kursi yang biasa ia duduki. Dengan diikuti Herlena.


Herlena membantu mengambilkan roti bakar untuk menemani soup labu.


Sedangkan Alena yang berada di ruang tengah bersama Hands yang sedang membaca koran mengajak suaminya untuk segera membawa putrinya dan cucunya pergi dari apartemen itu.


"Hands!", panggil Alena.


"Ya sweety", ucap Hands.


"Kapan kita membawa Tina dan Felix pergi dari apartemen itu?', tanya Alena.


"Secepatnya. Tunggulah sebentar untuk memisahkan mereka dari Thomas", ucap Hands dengan membalikan koran.

__ADS_1


"Baiklah, aku percaya dengan kamu", ucap Alena dengan menyesap secangkir teh manisnya.


__ADS_2