Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Restu Terhalang oleh Masa Lalu 3


__ADS_3

Felix saat ini sedang di periksa oleh seorang dokter bernama Liam. Tina sedang menunggu dengan begitu khawatir sedangkan Thomas di samping Tina mengusap pundaknya untuk menenangkan istrinya.


Saat Liam selesai memeriksa, dia memberitahu keadaan Felix.


"Felix hanya demam tinggi, dia butuh istirahat. Mungkin dia kelelahan dalam belajar atau bermain terlalu berlarut-larut", jelas Liam.


"Kamu yakin Liam?", tanya Thomas sedikit ragu.


"Ya, tentu", ucap Liam.


"Dia hanya gejala demam biasa yang sering terjadi pada anak-anak diusianya", ucap kembali Liam sembari menuliskan resep untuk Felix.


"Syukurlah, Thank you Liam", senyum Tina yang merasa lega di dadanya. Tina pergi menghampiri Felix dan duduk di pinggir ranjang lalu memberikan kecupan di dahinya yang terdapat handuk kompres dengan membisikan, "cepatlah sembuh boy", terus mencium kembali.


Dokter Liam telah selesai menuliskan resep untuk Felix dan diserah kepada Thomas.


"Ini resep yang harus kamu beli dan Felix akan bangun kemungkinan tiga jam lagi. Berikan dia vitamin secara teratur agar cepat sembuh", ucap Thomas.


"Thanks", ucap Thomas dengan tulus dan diangguki oleh Liam.


"Kalau begitu aku pamit", ucap Liam dengan menenteng tasnya.


Setelah kepergian Liam, Thomas mendekati Tina yang duduk diranjang lalu memberikan kecupan untuk Felix di pipinya dengan membisikkan, "cepatlah sembuh boy".


Sementara di dalam kamar utama ponsel Tina terus berdering menunggu jawaban dari anaknya untuk mengangkat sambungan. Alena yang berada di seberang sana mondar mandir berharap anaknya mengangkat tetapi sudah dua puluh lima kali mencoba tidak diangkat. Membuat Alena merasa khawatir.


Tina kemana sih? kok gak diangkat-angkat teleponnya.


Sedangkan Elizabeth saat ini sedang menunggu pengumuman diterimanya kembali sebagai model di ICW. Elizabeth berharap Handson bisa dipercaya untuk menariknya kembali ke dunia model. Orang yang sedang diharapkan saat ini sedang melakukan rapat bersama para karyawan untuk memilih karakter model yang cocok untuk edisi anak-anak.


Para karyawan mengeluarkan pendapat mengenai tema majalah yang akan diluncurkan.


"Saya memiliki pendapat bagaimana jika temanya party", usul salah satu karyawan wanita berambut pendek.


"Menurutku lebih bagus dengan tema family yang menggambarkan kehangatan dalam lingkup keluarga", usul karyawan pria.


"Apakah masih ada pendapat lain?", tanya Handson.


Para karyawan saling melirik menunggu usulan ide dari lainnya. Begitupun dengan Handson. Tiba-tiba ada yang mengangkat tangan dengan sedikit keraguan.


"Sa... saya ada ide..", ucap karyawan wanita berambut keriting berparas manis dengan gugup.

__ADS_1


" Apa ide kamu?", tanya Handson yang duduk di ujung meja.


"Saya memiliki tema halloween yang identik disukai oleh anak-anak. Sebab penerbitan buku yang akan kita terjunkan bertepatan dengan hari halloween", ucapnya dengan kurang percaya diri.


Handson lalu berpikir sejenak usulan tema dari para karywan kerjanya dengan penuh pertimbangan. Ada yang mengatakan ide itu bagus. Ada juga yang mengatakan ide itu terlalu jauh dengan tanggal halloween meski penerbitan majalahnya bertepatan dengan halloween.


Beberapa menit kemudian Handson memutuskan untuk mengambil tema halloween. Dengan alasan bisa menerjunkan majalahnya sebelum perayaan halloween datang karena bisa memberikan ide untuk para keluarga dalam merayakan halloween dengan berbeda dan diisi berbagai tips moment agar perayaan halloween bersama dengan anak-anak lancar.


Setelah mendengarkan ungkapan dari direkturnya, para karyawan pun setuju dengan ide temannya yang sudah diputuskan oleh Handson sebagai selaku direktur dalam pemasaran. Lalu mereka keluar dari ruang rapat kecuali Handson yang masih berpikir untuk pertemuan malam ini dengan presdir agency ICW untuk menarik kembali Ellizabeth.


Sedangkan Tina baru keluar dari kamarnya Felix setelah memberikan suapan makanan untuk anaknya. Lalu Tina bergegas pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang lengket.


Beberapa lama kemudian Tina pergi ke meja rias membuka ponsel dan terdapat dua puluh lima misdcall dari momy nya. Lalu Tina menelepon balik Alena.


Pada saat ini Alena sedang membaca majalah di ruang tamu dan tiba-tiba mendengar nada dering dari ponselnya yang ia taruh di atas meja lalu mendeal up.


"Hallo Tina!", sapa Alena.


"Mom, tadi maaf aku tidak mengangkat sambungan telepon dari kamu".


"Iya, gak apa-apa Tina".


"Mom, ada apa meneleponku?"


"Masalah apa ya mom?"


"Masalah ini tidak bisa diungkapkan disembarang tempat, dan momy ingin kalau bisa di rumah"


"Tapi, Tina tidak bisa sekarang mom. Hari ini Felix sedang sakit"


"Sakitt?, sakit apa sayang?"


"Hanya demam, kata dokter dua sampai tiga hari dia beristirahat akan cepat sembuh dan diberikan vitamin secara rutin untuknya mom"


"Syukurlah", lega Alena


"Apakah kamu bisa menyebutkan alamat apartemen kamu nak?"


"Tentu mom, apartemennya Brave hills no XXX"


"Baiklah sayang momy akan kesana"

__ADS_1


Alena menutup buku majalahnya dan bergegas siap-siap pergi ke tempat tinggal Tina dan Thomas. Alena memasuki mobil dengan diantar oleh sopir.


Di ruang kerja yang megah, ada sosok laki-laki yang sedang sibuk berkutat tumpukan kertas mengenai pemasaran. Laki-laki itu adalah Thomas. Dia dengan serius meneliti satu persatu dokumen untuk direview ulang oleh para karyawannya.


Reyhan yang berada di luar ruangan mengetuk pintu dengan keras dan Thomas menyahut dengan keras untuk menyuruhnya masuk. Reyhan membuka pintu dengan sopan.


"Sorry bro, aku mengganggu kamu", ucap Reyhan


"It's ok. No problem, ada apa?", ucap Thomas yang tidak mengalihkan pandangan dan masih fokus dengan tumpukan kertas.


"Saya kesini mau menyampaikan beberapa informasi untuk anda".


"Informasi apa?"


"Informasi mengenai Refalino yang anda minta dan informasi dari para aliansi sesepuh kita", ucap Reyhan dengan menyerahkan dokumen terkait dua informasi penting yang harus dibaca oleh Thomas. Kemudian Thomas menghentikan pekerjaannya dan beralih dengan dokumen yang dibawa oleh Beni.


"Mulailah ceritakan mengenai keluarga Reffalino dahulu", perintah Thomas.


"Baiklah", ucap Reyhan.


"Tiga puluh tahun yang lalu, Reffalino pernah bekerja sama dengan Stefanus dan Gideon untuk membantu perusahaan yang saat ini kita naungi untuk bisa berkembang dalam usaha resort. Tetapi Stefanus mengkhianati kepercayaan kepada keluarga Reffalino dengan mencuri kayu-kayu berkualitas tinggi dengan menyelipkan mata-mata di pabrik kayu tersebut. Mereka bekerja sama cukup lama yaitu empat tahun. Setelah perkembangan pesat resort tersebut, ayah anda mulai serakah dengan membakar pabrik milik Reffalino tanpa dicurigai oleh siapapun. Stefanus menuduh dua saudara sepupunya yang saat ini telah bergabung dengan aliansi anda. Orang tersebut bernama Edagor dan Hamid", jelas Reyhand.


"Kemudian masalah aliansi bagaimana?", tanya Thomas dengan menaruh dokumen mengenai Reffalino.


"Masalah di aliansi ada sebuah perseteruan dengan mengkambing hitamkan para tetua untuk meminta saham yang sudah kau dapatkan untuk digabungkan dalam aliansi sebagai penguat sistem di aliansi kita. Dan saya memiliki dugaan bahwa yang membuat perseteruan tersebut adalah saudara sepupu dari ayah anda", jelas Reyhand kembali.


"Ternyata si tua bangka itu lebih licik dan cerdik dalam memainkan skenario dalam mencari musuh", gumam Thomas dengan berdecak.


Thomas menyenderkan tubuhnya di kursi dengan hembusan nafas kasar. Reyhand masih menunggu perintah dari Thomas untuknya. Tetapi tak kunjung bersuara. Akhirnya Reyhand memberanikan diri bersuara.


"Apakah masih ada yang kamu butuhkan?", tanya Reyhan.


"Sudah tidak ada, kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu", ucap Thomas.


"Kalau begitu saya keluar", pamit Reyhan.


Reyhan melangkah menuju pintu keluar. Saat memegang ganggang pintu Reyhan berhenti dengan menyampaikan kalimat yang ia lupakan lalu Reyhan membalikan badan.


"Oh ya Thomas ada yang aku lupakan tentang kematian ayah dari Hands", ucap Reyhan.


Thomas mengerutkan dahi dan bertanya, "siapa yang membuat Reffalino meninggal dunia?", tanpa ragu.

__ADS_1


"Dia ayah kamu sendiri", ucap Reyhan dengan membuka pintu dan berlalu pergi keluar. Thomas termangu dengan jawaban Reyhan dan jantungnya berdetak cepat.


__ADS_2