Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Terusik 5


__ADS_3

Di mansion nan megah, di sana ada seorang wanita yang tengah mondar-mandir mengkhawatirkan keadaan putranya yang tengah di culik oleh dua mantan sahabatnya. Rasa khawatir itu menjalar sampai dirinya tidak tahan menunggu kabar baik dari suaminya sehingga Tina bergegas menyusul mereka di kediaman milik Brian.


“Maaf nyonya, anda mau kemana?”, tanya salah satu penjaga yang diandalkan oleh Thomas.


“Aku mau menyusul suamiku dan putraku”, jawab Tina.


“Maaf nyonya, saya disuruh menjaga anda oleh tuan Thomas. Anda tidak diperbolehkan untuk pergi ke sana karena sangat berbahaya nyonya”,ucap penjaga tersebut.


“Aku tahu, tapi aku berhak untuk ikut menyelamatkan putraku. Aku bisa melindungi diriku sendiri”, ucap Tina.


“Ta...tapi nyonya...”, ucapannya terpotong oleh Tina.


“Saya tahu, aku bisa menjamin diriku sendiri. Dahulu aku pernah berlatih berbegai bela diri ketika aku berpisah dengan Thomas. Jadi, kamu tidak usah khawatir. Kamu juga bisa melindungiku dengan ikut bersamaku”, ucap Tina dengan penuh keyakinan sehingga penjaga yang dipercaya oleh Thomas mengiyakan dan mengantarkan Tina menyusul ke tempat dimana tuan Thomas berada saat ini.


Sesampainya di depan kediaman Brian, Thomas menyuruh anak buahnya mengambil beberapa sisi sudut untuk mencegah mereka melarikan diri.


Sedangkan Felix di dalam sedang berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat ke dua tangannya yang di gesekkan di pinggir kursi.


Beberapa lama kemudian Felix telah berhasil melepaskan ikatan itu, lalu Felix mengirimkan pesan ke nomornya Thomas.


Felix:


Dad, tidak perlu khawatir.


Thomas mendengar suara dentingan pesan, “ting”.


Thomas membuka pesan dari putranya dan membaca isi pesan lalu berucap syukur karena putranya baik-baik saja.


Kemudian Thomas memberikan kode untuk mulai aksinya. Ellizabeth dan Brian tengah tertidur dalam keadaan pulas karena kebanyakan minum wine akibat rasa senang yang tak terbendung. Thomas memasuki rumah Brian. Di sana mereka tidak bisa diapa-apakan sebab mereka tengah teler akibat minumannya yang dihabiskan.


Thomas menyuruh anak buahnya untuk membawa mereka pergi ke markas bawah tanah di area belantaran hutan. Mereka mengikuti perintah Thomas. Lalu Thomas mencari Felix di sebuah garasi dan Thomas menemukan Felix yang tengah berusaha membuka pintu.


“Felix!”, panggil Thomas.


“Daddy!”, sapa Felix dengan berlari dan melompat ke pelukan Thomas.


“Are you ok boy?”, ucap Thomas.


“Ya, aku baik saja daddy”, jawab Felix.

__ADS_1


“Pergelangan tangan kamu memerah boy”, ucap Thomas dengan raut khawatir.


“Tidak apa-apa dad, ini akibat tali yang kugesekkan dan pergelangan tanganku jadi seperti ini”, u Felix.


“Baiklah, kalau begitu kita keluar dari sini dan temui momy kamu yang saat ini pasti sangat mengkhawatirkan kamu boy”, ucap Thomas.


“Tentu dad”, ucap Felix.


Pada saat Felix dan Thomas keluar, Tina yang baru saja turun dari mobil berteriak, “Felix!”.


Lalu Felix meminta daddynya untuk menurunkan tubuhnya agar bisa berlari memeluk tubuh momy-nya.


“Dad, turunkan aku”, ucap Felix.


Thomas menurunkan tubuh Felix dan berlari lalu jatuh ke pelukan Tina.


“Are you ok?”,tanya Tina.


“Iya mom, aku baik-baik saja”, jawab Felix.


“Syukurlah, momy sampai khawatir boy”, ucap Tina.


“Ehem, Ehem”.


Tina, Thomas, dan Felix melepaskan pelukannya. Mereka menoleh ke sumber suara. Lalu Damien menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal dengan mengucapkan kata maaf karena telah mengganggu nuansa kebahagiaan keluarga kecilnya.


“Maaf saya mengganggu pelukan hangat kalian. Aku ke sini hanya memastikan dan mau membantu untuk menangkap penjahatnya. Namun ternyata saya telat. Tetapi saya bersuyukur putra anda selamat”, ucap Damien.


“Thank you mister Damien”, ucap Tina.


“Boy, syukurlah kamu baik-baik saja. Wily sangat mengkhawatirkan kamu. Dia sampai menangis kencang tiada berhenti saat kamu di culik”, ucap Damien dengan berjongkok dan mengusap kepala Felix.


“Iya uncle. Thank you. Saya menitip salam untuk Wily kalau aku baik-baik saja uncle”, ucap Felix.


“Baiklah, uncle akan sampaikan bahwa temannya yang hebat ini selamat dalam keadaan baik”, senyum Damien.


“Thank you”, ucap Damien.


“Kalau begitu saya pamit dahulu untuk menyampaikan pesan kepada Wily agar ia tidak perlu khawatir lagi keadaan teman baiknya yan pintar ini”, ucap Damien dengan pamit.

__ADS_1


“Salam untuk Arletta juga”, ucap Tina.


“Tentu, bye!”, ucap Damien masuk ke dalam mobil.


Mereka kembali kediaman untuk beristirahat setelah seharian panik untuk menjemput putranya dari penculik walaupun penangkapannya sangat mudah karena ke dua sejoli tersebut telah teler akibat minuman sehingga memudahkan untuk menangkap mereka.


Pada saat Damien telah kembali, Wily langsung menghampiri dan mencerca dengan sebuah pertanyaan.


"Daddy, bagaimana keadaan Felix?"Apakah dia baik-baik saja? Atau penculiknya telah menyakiti Felix sehingga Felix terluka? Dad! jawab dong pertanyaan Wily!"


Damien tersenyum menggeleng kepala melihat sikat putranya yang mengkhawatirkan temannya. Damien menjatuhkan bokongnya diatas sofa di ruang tengah.


"Sini boy, daddy akan menjawab semua pertanyaan kamu", ucap Damien dengan melambaikan tangannya untuk menyuruh Wily mendekatinya. Damien mengangkat tubuh Wily dalam pangkuan.


"Cepatlah daddy, jawab pertanyaan Wily", ucapnya dengan tidak sabar.


"Baiklah. Tadi daddy telah sampai di markas penculik dan keadaan Felix baik-baik saja. Daddy datangnya telat untuk menyelamatkan teman kamu. Tapi, Felix telah selamat berkat usaha ayahnya yang menyelamatkan putranya. Dia juga menitip salam untukmu", ucap Damien.


"Syukurlah dad, Wily merasa lega sehingga Wily tidak memiliki hutang budi pada anak sok pintar itu", ucap Wily.


"Sayang kamu gak boleh begitu", ucap Arletta yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa camilan dan minuman teh hangat.


"Momy tidak pernah mengajarkan Wily untuk berbuat yang gak baik kepada Wily. Wily harusnya tetap berteman agar Wily memiliki banyak sahabat", ucap Arletta.


"Ya mom, aku mau makan cookie karena sudah lapar", ucap Wily turun dari pangkuan Damien. Arletta menggeleng kepala melihat sikap putranya yang begitu nakal.


Menjelang pagi hari, Ellizabeth terbangun dari tidur yang begitu terlelap. Mentari pagi menelisik melewati sela-sela ventilasi yang berlubang. Ellizabeth ingin merenggangkan ototnya namun tangannya begitu berat dan merasakan bahwa kedua tanganya terikat. Ellizabeth membuka mata perlahan untuk menyesuaikan sinar yang masuk ke ruangan itu. Ellizabeth berusaha untuk melepas namun tangannya terbogol di besi sehingga Ellizabeth berusaha namun pergelangan tangannya malah sakit. Ellizabeth melihat bahwa kakinya juga tergelantung.


"Siapa sih yang berani menculikku?", monolog Ellizabeth dengan menoleh ke kanan. Di sana Ellizabeth melihat Brian juga tergelantung di besi dengan mata masih tertutup. Ellizabeth berusaha berteriak membangunkan Brian.


"Brian! bangun!"


"Brian!"


"Brian!!"


Ellizabeth menyerah berteriak karena kehabisan suara.


"Dasar kebo atau gimana sih? Dipanggil dengan teriakan kagak bangun-bangun", monolog Ellizabeth.

__ADS_1


"Ihhh, ihhhh, Bagaimana bisa aku dan Brian diculik padahal kami waktu itu tengah bersenang-senang karena berhasil menculi bocah itu?", monolog Ellizabeth bertanya-tanya dan terus berpikir sampai jalannya buntu sebab tidak teringat apa-apa setelah mabuk sehingga Ellizabetg berteriak, "arghhhh!!!"


__ADS_2