
Tina tengah duduk diatas pinggir ranjang dengan pikiran melayang mengenai rencana yang dilakukan oleh Victor. Thomas yang sudah menyelesaikan memasang dasi di depan cermin lemari membalikkan badan dan melihat ekspresi kusut istrinya. Thomas menghampiri Tina dengan duduk di sampungnya lalu memegang tangan istrinya sambil berkata, “aku akan selalu disampingmu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu bahkan sampai kamu terluka”. Tina menoleh ke arah suaminya setelah mendengar pernyataan yang diungkapkan oleh Thomas. Thomas lalu memegang kedua sisi wajahnya yang begitu menggemaskan baginya dengan mendekatkan wajahnya sampai satu inci dan mengungkapkan kembali isi hatinya.
“Sweety, percayalah kepadaku. Aku tidak akan membiarkan kamu sampai tergores bahkan sampai melukai anak kita dalam kandunganmu. Aku sudah mempersiapkan secara matang. Kamu tak usah khawatir”.
Setelah mendengar ungkapan isi hati Thomas yang dilontarkan dari mulutnya, membuat perasaan Tina lega. Kemudian ia langsung berinisiatif memberikan kecupan dan menjadi sesuatu yang dalam dengan bertukar nafas satu sama lain sampai ada sebuah ketukan dari luar. Thomas dan Tina melepaskan momen itu untuk memarahi orang yang sudah mengganggu momen intimnya. Thomas beranjak dari duduknya dan sudah memasang wajah amarah sedangkan Tina bergeleng kepala melihat tingkah suaminya yang selalu membuatnya merasa bahagia.
Thomas membuka pintu kamarnya lalu menampakkan seorang anak kecil laki-laki dengan senyuman polosnya. Ekspresi amarah yang tadi tertampak di raut wajah Thomas dalam sekejap ekspresi itu hilang dengan berganti senyuman hangat untuk putranya yang menyapa dirinya.
“Hallo dad”, sapa Felix dengan lambaian tangan kecilnya.
Kemudian Thomas berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putra kesayangannya.
“Hai boy, ada apa kamu datang ke kamar momy dan daddy?”
“Aku ke sini mau memberitahukan kepada daddy bahwa dibawah ada uncle Rayhan dan uncle Jordhan yang menunggumu”.
“Kenapa kamu yang menyampaikan informasi? Bukankah di mansion ini tidak kekurangan asisten, boy?”
“Aku yang berinisiatif dad. Jadi, daddy jangan memarahi mereka”, dengan senyum lembut.
“Baiklah boy, thank you, dengan mengusap kepala Felix.
“Kalau begitu daddy akan mengambil barang dahulu dan nanti daddy akan menyusul kamu”.
“Okay dad, bye”.
Thomas menutup pintu kamarnya lalu menghampiri Tina yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Honey, tadi siapa yang mengetuk pintu?”, tanya Tina.
“Tadi Felix, dia memberitahukan kalau Reyhan dan Jordhan datang”, jawab Thomas dengan memasukkan ponsel dalam saku celana.
“Ada apa mereka kok tumben datang?”
“Mereka datang karena aku yang menyuruhnya untuk membahas persoalan mengenai rencana Victor”, ucap Thomas dengan mendekati Tina dan dengan mengusap pipi kanannya.
“Aku sudah memberitahu kamu kalau aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyakiti wanitaku. Aku akan melakukan apapun untuk istriku yang tercinta. Percayalah, aku akan selalu ada untukmu”, dengan memberikan kecupan singkat di bibir Tina.
“Apaan sih, kamu membuatku merinding”, ucap Tina dengan mendorong tubuh Thomas dan mengusap lengannya yang berkidik sambil berjalan pergi keluar menemui dua tamu yang tengah menunggu dibawah.
Sampai di lantai bawah, Tina menghampiri Rayhan dan Jordhan untuk memberikan sapaan kepaa mereka.
“Hallo guys”, dengan tsenyuman hangat.
Jordhan dan Rayhan menoleh ke sumber suara saat mereka tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing.
“Hai Tina”, sapa Rayhan.
Setelah saling menyapa, Tina ikut bergabung bersama dua pria tersebut dan di susul oleh Thomas. Lalu Thomas langsung to the point membahas rencana Victor kepada kedua sahabatnya tersebut.
“Nanti salah satu dari kalian ikut Victor untuk mendapampingi Tina ke rumah kosong di mobil yang sama dengan b*jingan tersebut”, ucap Thomas.
“Sebaiknya mengandalkan Reyhan untuk mendampingi Tina. Sementara kamu, Jordhan..”, dengan tangan menunjuk ke arah Jordhan sambil mengatakan, “kamu lacak mengenai Lauren dan memimpin para bawahanmu untuk berjaga di lokasi tersebut”, perintah Thomas.
“Baiklah”, ucap Jordhan.
“Apakah itu tidak berlebihan Thomas?”, tanya Tina ikut menimbrung obrolan Thomas.
“Tidak sweety, aku melakukan ini karena masih tidak percaya dengan Victor meski dia sudah aku kendalikan. Dia bisa saja mengkhianati kepercayaan kita. Jadi, kamu tidak usah berfikir hal-hal lainnya dan ikuti saja kata hatimu. Aku akan selalu disampingmu”, ucap Thomas.
“Tentunya Felix juga akan bersama momy dan tidak akan membiarkan momy terluka sedikitpun”, sela Felix.
“Thank you boy”, ucap Tina.
“Kemarilah, momy ingin memelukmu”, ajak Tina.
Felix berlari ke arah ibunya dengan memeluk erat Tina. Thomas dan dua sahabatnya ikut terenyuh dengan ibu dan anak yang saling menyanyangi juga melindungi.
“Good boy”, puji Thomas dengan mengusap kepala putranya yang menggemaskan itu.
Di lokasi syuting, Lauren tengah beradu akting dengan aktor ternama bernama Chris.
“Kamu tidak usah khawatir Lauren! Aku akan selalu di sampingmu untuk menghajar pria br*ngsek itu yang telah menyakitimu!”, tukas Chris dengan dengan menarik tubuh Lauren dalam dekapannya.
“Thank you brother”, ucap Lauren dengan membalas pelukan Chris.
Sementara Frans yang tengah menunggu Lauren di lokasi syuting tersenyum sinis melihat adegan yang dimainkan oleh wanita licik tersebut. Beberapa menit kemudian sang sutradara menghentikan syutingnya untuk break up.
Lauren berjalan menuju ke pria yang tengah menunggu dirinya dan langsung bertanya masalah intinya.
__ADS_1
“Bagaimana perkembangan rencana menculik Tina?”, dengan menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.
“Tenang saja, aku sudah menyuruh temanku menyekap Tina masuk ke dalam rumah kosong”, ucap Frans.
“Tunggulah dua jam lagi”, tukas Frans.
“Jangan lupa kamu mengirim separoh bayaran setelah memperlihatkan foto itu di dua jam kemudian”, ucap Frans mengingatkan Lauren.
“Itu masalah kecil”, sinis Lauren.
Di dalam kamar yang megah dengan nuansa putih dan sederhana ada seorang wanita yang berteriak dengan keras dan memaki seorang pria yang telah berani mengambil sesuatu miliknya.
“Argghhhhh!!”
“Jordhan!! Kamu pria br*ngsek! Kamu si mes*m! B*jingan! Aish”.
Rasa kesal yang meluap membuatnya lelah dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil bergumam, “awas aja kalau ketemu. Aku akan pukul kamu sampai rasanya mau pingsan”, dengan mengepalkan tangannya.
Vienna pergi bergegas turun dari ranjang dengan kemeja putih yang membalut tubuhnya. Ketika akan berdiri, Vienna merasakan nyeri di bawah sana dan pinggangnya. Vienna berusaha untuk bangkit dengan berjalan sedikit terseyok akibat malam pertama yang dialaminya.
Berjalan perlahan dan menyalakan shower untuk membersihkan diri. Setela selesai, Vienna mengeringkan rambutnya dengan bersenandung. Tanpa terasa Vienna telah menyelesaikan ritual hariannya sebagai wanita. Vienna pergi menuruni tangga untuk membuat sarapan pagi. Pada saat akan membuka kulkas, Vienna melihat sebuah catatan kecil yang ditinggalkan oleh Jordhan.
Note:
Sweety, aku sudah buatkan makanan kesukaan kamu. Apabila kamu bangun kesiangan, kamu tinggal panaskan makanan itu.
Jangan lupa minum vitamin agar staminanya pulih.
Good luck
Salam Jordhan😘
Setelah membaca pesan yang tertempel di kulkas, Vienna mengambil dengan meremas catatan itu dan melemparnya dalam tong sampah. Lalu Vienna mengambil susu dan buah pisang untuk membuat jus smoothie untuk mengganjal perutnya yang tengah lapar dengan mengabaikan makanan yang dibuat oleh Jordhan.
Usai tandas menghabiskan jus smoothie yang dibuatnya tanpa di tuangkan dalam gelas, Vienna berjalan keluar mencari makanan. Ketika akan keluar dari pintu besar itu, dua pengawal yang berjaga melarang Vienna keluar sesuai perintah dari Jordhan. Vienna menghembuskan nafas kasar karena kesal yang dilakukan Jordhan terhadapnya sehingga Vienna membanting pintu itu dengan kasar sambil terus memaki pria bermata elang itu.
“Apa sih yang dipikirkan dia? Aku kan bukan siapa-siapanya dia! Kenapa tiba-tiba saja dia berbuat begini kepadaku?! Aku harusnya mengutuk pria itu. Arggghhh!!..”, omel Vienna dengan membumbui sebuah teriakan untuk menyampaikan kekesalan terhadap Jordhan.
Sementara Jordhan saat ini tengah membantu Thomas untuk mengungkapkan fakta tentang Lauren yang terus saja mengusik kehidupan rumah tangganya.
Pada saat ini, Tina dibawa oleh Victor menuju ke rumah kosong dengan di dampingi oleh Rayhand dan diikuti dua penjaga yang dipilih oleh Thomas secara langsung. Sedangkan Thomas memberikan perintah kepada anak buah lainnya untuk mengontrol media.
Victor yang tengah menyupir tiba-tiba menodongkan pistol ke arah Reyhan yang ada di sampingnya. Rayhan pun melawan Victor dan peluru itu menancap ke atas atap mobil.
Victor melihat mobil Thomas yang melaju kecepatan penuh lewat spion belakang langsung menancapkan pedal mobil dengan penuh. Rayhan yang berada di samping Victor langsung merebut posisi mengemudi mobil sampai mobilnya berkelok-kelok tak karuan dan membuat Tina terus berteriak untuk menyuruh Victor berhenti namun jalan pikiran Victor menggila sehingga mobil yang di tumpanginya hampir tertabrak truk dan akhirnya mobil itu dibelokkan oleh Rayhand ke arah pohon besar dengan menyuruh Tina memakai sabuk pengaman agar tidak terjadi cedera pada kandungannya. Ketika posisi mobil sudah hancur bagian depan, Thomas langsung keluar dan berlari menuju Tina yang tengah menangis terisak atas kejadian yang menimpa. Thomas membuka jok bagian belakang dan membawa Tina keluar dari mobil tersebut lalu membawanya dalam dekapan. Sementara Jordhan menyuruh anak buahnya untuk menghubungi ambulan agar membawa Rayhand yang cedera cukup para diobati. Sedangkan Victor dibawa oleh beberapa anak buah dari Thomas ke markas ruang bawah tanah.
Di perjalanan yang ditempuh oleh Frans bersama Lauren ke rumah kosong yang telah di share lokasi oleh Victor ternyata tidak ada orang yang disekap di dalam sana. Frans menghubungi Victor namun tidak diangkat. Ketika tengah berusaha untuk menghubungi Victor, Lauren datang dengan mengagetkan Frans lewat tepukan bahu. Lauren mulai menanyakan perihal penculikan yang telah direncanakan olehnya dan Victor. Namun rencana matang itu hancur akibat Victor yang terlalu serakah.
“Mana Tina?”
“Tunggulah sebentar, temanku sudah menangkap. Mungkin dia masih dalam perjalanan ke sini”.
“Aku gak mau tahu alasanmu. Aku sudah membayarmu begitu banyak. Kamu juga sudah mengirimku hasil rencana kamu menculik Tina. Tapi apa yang aku dapat di rumah kosong!”, kesal Lauren dengan berjalan keluar. Ketika akan melangkah keluar, Frans mencegah Lauren namun Lauren tetap kekeuh untuk pergi meninggalkan rumah kosong tersebut. Sampai Frans mengancam Lauren.
“Jika kau berani melangkah.., aku tak segan untuk melukaimu..”
Lauren yang mendengar ancaman dari Frans hanya membola dan tetap melangkah pergi jauh. Pada waktu sampai di luar dan berada di depan teras tiba-tiba Lauren dikagetkan dengan beberapa polisi yang mencekal lengannya sehingga membuat Lauren tak berkutik dan bingung.
“Anda kami tangkap atas laporan penculikan”, ucap polisi tersebut.
“Saya tidak menculik”, tangkas Lauren.
“Bisa dijelaskan dikantor polisi”, ucap pak polisi itu.
Sementara Frans yang melihat polisi di teras langsung lari ke belakang namun langkahnya terhenti oleh cegatan dua anak buah dari Thomas.
Lalu Frans mencari barang di sekitar untuk melawan dua pria kekar itu dengan mengambil beberapa benda untuk dilempar ke arah dua pria itu kemudian lari ke arah lain sampai ada dua polisi ikut meringkus dan akhirnya Frans tertangkap.
Di mansion nan megah yang terletak di area tidak jauh dari nuansa pedesaan, ada seorang wanita tengah asyik menonton siaran berita di TV sambil memakan camilan yang ada di kulkas.
“Di area dekat perkotaan California terjadi kecelakaan akibat pengemudi. Pengemudi tersebut merupakan komplotan penculikan. Dia mengalami luka di bagian kepala dan satu pria juga mengalami cedera yabg Sedangkan wanita yang ada di belakang kemudi mengalami luka ringan dan untungnya kandungan dia tidak mengalami cedera. Saat ini mereka dibawa ke rumah sakit...”, ucap penyiar wanita tersebut.
Vienna melihat sosok orang yang ia kenal diberita terkejut.
“What’s!”, dengan melanjutkan camilannya.
“Kenapa mereka bisa seperti itu? Jangan – jangan Jordhan juga terlibat masalah dengan mereka”, gumam Vienna.
“Apa aku harus menelepon dia?”
__ADS_1
“Janganlah, nanti dia besar kepala kalau di perhatiin”.
“Argh!.. Aish!’, dengan menghembuskan nafas kasar.
Di kantor polisi, Lauren terus menyangkal perbuatan yang ia lakukan dan dia meminta polisi untuk bisa menghubungi keluarga atau pengacaranya untuk membela dirinya. Akhirnya polisi mengabulkan permohonan dari tersangka tersebut dengan diberi waktu sepuluh menit. Lauren mendeal up nomor momy-nya namun tidak ada respon kemudian mencoba menelepon lewat saluran lain namun tak ada respon juga. Akhirnya Lauren meminta bantuan kepada Stefanus dengan sisa waktu tiga menit. Lauren berharap Stefanus mengangkat sambungan telepon darinya.
Setelah sekian menunggu, Stefanu mengangkat sambungan telepon dari Lauren.
“Hallo”
“Stefanus tolongi aku. Aku saat ini berada di kantor polisi. Tolong bantu aku..”, ucapan Lauren terpotong dengan suara polisi yang memperingatkan kepada Lauren bahwa waktu untuk menelepon telah habis.
Polisi tersebut mengambil ponsel milik Lauren.
Di negara Belanda Stefanus bingung dengan ucapan Lauren yang tiba-tiba putus dan belum sempat meminta penjelasan sehingga Stefanus menghubungi anak buahnya yang berada di California.
“Hallo Dion”
“Ya tuan”
“Tolong kamu selidiki mengenai Lauren yang terjadi saat ini. Saya mendapatkan permintaan tolong dari dia. Nanti kamu laporkan kepada saya”, perintah Stefanus.
“Baik tuan”, ucap Dion.
Di rumah sakit nan megah di sana Thomas tengah mengkhawatirkan keadaan Tina dengan jaban bayi yang ada di kandungannya dan sahabatnya yang berada di ruang ICU.
Pada saat Thomas tengah risau di tempat tunggu tiba-tiba keluarganya datang dengan tergopoh-gopoh bersama dengan lainnya. Alena sebagai ibu dari Tina bertanya keadaan Tina dengan air mata yang jatuh dari pelupuk mata.
“Bagaimana keadaan putriku Thomas?”, tanya Alena dengan menggoyangkan bahu Thomas.
“Mom, dokter masih menanganinya”, jawab Thomas.
Ketika Hans akan memarahi Thomas, ruangan ICU tersebut terbuka menampakkan seorang dokter keluar dari ruang persalinan. Alena dan Hans langsung maju ke depan dengan mencerca berbagai pertanyaan seputar putrinya.
“Bagaimana keadaan putriku dok?”
“Dia baik-baik saja kan?”
“Tolong jawab dok”, ucap Alena dengan histeris.
Dokter pun menjawab, “ dia baik-baik saja setelah melalui rangkaian operasi pada tangannya yang mengalami cedera dan janin yang dikandung putri anda...juga baik-baik saja. Dia hanya perlu beristirahat untuk minggu ini”.
Alena bernafas lega setelah mendengar jawaban dokter yang memuaskan.
Kemudian Laura yang berada di samping Herlena bertanya mengenai keadaan Rayhand.
“Terus bagaimana kedaan Rayhand dok?”, tanya Laura.
“Dia dalam keadaan baik-baik saja dan kini dia masih keadaan belum sadar diri karena efek dari obat bius”, ucap dokter tersebut.
“Kalau begitu saya permisi dahulu”, ucap dokter itu.
Saat akan masuk ke raung rawat inap istrinya tiba-tiba Jordhan datang memanggilnya.
“Thomas!”
“Thomas!”
Dengan berlari mendekati Thomas.
“Bagaimana penangkapan mereka?”, tanya Thomas.
“Masih dalam proses”, jawab Jordhan.
“Kamu pantaulah mereka dan kabari aku proses hukuman mereka juga jangan lupa mengekspos Lauren agar dia terjerat dengan berita yang membuat kariernya hancur”, ucap Thomas.
“Sudah aku handel semua”, ucap Jordhan.
“Bagaimana kedaan Rayhand?”, tanya Jordhan.
“Dia baik-baik saja”, jawab Thomas.
“Kalau begitu aku akan menemui Rayhand dahulu”, ucap Jordhan dengan melangkah ke ruang unit sebelah namun lengannya dicekal oleh Thomas.
“Kamu jangan masuk dahulu, di dalam sedang ada drama dari Rayhan untuk Laura”, ucap Thomas.
“What’s!”, terkejut Jordhan.
“Baiklah”, senyum Jordhan yang mengerti masalah percintaan mereka.
__ADS_1
Di dalam sel tahanan Lauren terus menghindari para tahanan karena merasa tidak nyaman. Lauren terus mengumpat dalam hati tentang keluarganya dan Stefanus yang bahkan tidak bergegas menolongnya.
“Sh*t! Mereka telah mengabaikan aku. Aku membenci mereka terutama kedua orang tuaku. Mereka berdua hanya tahunya uang saja tanpa peduli penderitaan anaknya. Aku harusnya tidak menyia-nyiakan hidupku untu dua orang tua bangka seperti mereka. Aku bodoh..”, batin Lauren.