
Malam yang penuh dengan bintang, Thomas mengajak Tina ke Villa Reffalino untuk mendapatkan restu dan maaf dari Hans juga Alena. Thomas menggandeng tangan Tina agar kegugupan hilang. Sampai di Villa Thomas dan Tina dihalangi oleh anak buah Hans. Tapi Thomas tidak akan gentar kali ini. Dia ingin semua urusan cepat selesai.
"Maaf Mr. busakah kamu mengizinkan kami masuk. Kami ada keperluan dengan daddy", ucap Tina.
"Nona Tina boleh masuk kecuali tuan Thomas", ucap si pria penjaga.
"Kenapa tidak berdua saja tuan? Kami ada hal yang harus di sampaikan kepada tuan Hans", ucap Tina.
Hans yang berada di ruang kerja melihat Tina bersama Thomas dengan bergandeng tangan sedang beradu mulut dengan anak buahnya. Sebenarnya Hans seharusnya menyetujui perkataan Felix tapi pikiran di dalam kepala selalu menolak pria itu. Ketika Thomas sedang berusaha beradu mulut sedangkan Hans terus mempertimbangkan untuk memberikan izin mereka untuk masuk.
"Apakah kamu tidak bisa menghubungi tuan Hans? Siapa tahu dia mengizinkan kita masuk?", ucap Thomas.
"Tapi kami sudah diberi perintah tuan", ucap si pria itu.
Saat mereka saling memandang tiba-tiba Hans menghubungi anak buahnya untuk mengizinkan mereka masuk dan si pria yang beradu mulut itu mengiyakan perintah dari Hans. Si pria itu mengizinkan mereka masuk setelah perintah dari Hans lewat monitor.
"Silahkan tuan, anda di perbolehkan masuk", ucap si pria itu.
Aku tidak percaya pak tua itu mengizinkan kami masuk sungguh di luar nalar.
Thomas pergi melangkah memasuki Villa milik Reffalino. Lalu ketika akan memencet bel pintu itu pelayan sudah membukakan dan mempersilahkan mereka masuk. Sang pelayan mempersilahkan mereka untuk duduk dengan berlalu pergi ke dapur. Lalu Hans datang menuruni tangga bersama Alena yang sejak kemarin mengkhawatirkan putrinya.
Hans menemui mereka dengan ekspresi dingin berbeda dengan Alena yang saat ini malah menampilkan ekspresi senang dan lega melihat putrinya di hadapannya sekarang. Lalu Alena bertegur sapa dengan putrinya.
"Nak!", sapa Alena dengan merentangkan tangannya.
"Momy!', panggil Tina dan mendekat duduknya dengan memeluk tubuh Alena. Alena memeluk putrinya begitu erat sambil mengatakan, "maafkan momy yang tidak bisa mengerti perasaan kamu sayang", dengan mengecup pundak Tina.
"Iya mom, Tina tahu perasaan momy", ucap Tina dalan pelukan Alena.
__ADS_1
Setelah selesai bertegur sapa antara ibu dan Anak. Hans mulai membuka suara.
"Thomas, saya akan menyerahkan putriku kepadamu namun ada syarat yang harus kau penuhi", ucap Hans dengan nada dingin dan tanpa ekspresi.
"Daddy!", bentak Tina.
"Aku bukan barang untuk di tukar", protes Tina dengan wajah amarahnya. Tetapi Hans tidak memperdulikan putrinya saat ini yang tengah marah apalagi tatapan Alena dengan kilatan hunus yang membuat Hans sering takut namun kali ini Hans harus mengambil tindakan ekstrim tanpa perduli dengan orang-orang terdekatnya. Lalu Thomas dengan santainya mengatakan, "apa persyaratan yang kau ajukan agar aku bisa terus bersama dengan putrimu dan mendapatkan restu darimu?".
Saat Tina ingin protes Thomas mencegah dengan menggenggam tangan Tina yang sedang menatap matanya.
Thomas menenangkan perasaan Tina yang meluap-luap karena perkataan Hans lewat mata.
Tenanglah Tina, aku bisa mengatasi. Biarkan aku dapat berkorban untukmu sebagai tanda cintaku yanv tulus. Biarkan daddy kamu mengajukan tawaran atau syarat. Aku bisa melakukannya. Percayalah kepadaku.
Tina mengerti maksud tatapan Thomas dengan mengangguk kepala seolah mereka sedang melakukan telepati yang hanya dapat di dengar oleh mereka saja lewat genggaman tangan dan sorotan mata.
"Bagus, saya senang dengan keteguhan dan pendirianmu. Namun entah apa yang akan kamu lakukan setelah mendengarkan ajuan syarat dariku", ucap Hans dengan tersenyum sinis.
"Aku yakin bisa mengabulkan persyaratan darimu", ucap Thomas dengan percaya diri dan tegas sambil menggenggam tangan Tina. Hans yang sejak tadi memperhatikan putrinya dan Thomas saling berpegang tangan membuat Hans tersentuh namun pikiran dalam kepalanya selalu menolak kehadiran keluarga Stefanus. Setelah berdiam dan menatap kedua sejoli tersebut yang terus gigih. Hans memiliki siasat yang dapat membuat mereka sedih dan marah.
Hans mencoba mengambil langkah yang terbesit dalam otaknya di kepala. Hans mengungkapkan kepada mereka untuk berpisah selama dua bulan tanpa saling bertegur sapa lewat ponsel atau bahkan barang alat elektronik lainnya. Pengungkapan Hans membuat Tina dan Alena protes dengan ekspresi marah. Sedangkan Thomas merasa di rugikan oleh syarat yang diberikan oleh Hans. Thomas kemudian melawan ajuan syarat yang diberikan oleh Hans.
"Saya tidak setuju dengan syarat anda tuan Hans", ungkap Thomas.
"Aku juga tidak setuju", protes Tina dengan ekspresi wajah marah.
"Kalau begitu saya masih ada syarat pilihan lainnya. Itu syarat terakhir yang sudah aku rancang sedemikian rinci yaitu tinggalkan usaha milik Stefanus dan pindah alihkan usaha itu milik Reffalino. Aku sudah tahu kamu telah merebut usaha ayahmu sendiri dengan bekerja sama dengan Gideon. Jika kamu ingin bersama putriku. Hiduplah tanpa harta Stefanus maupun Reffalino bersama putramu", ucap Hans.
"Kalau begitu saya terima syarat kedua yang kau ajukan", ucap Thomas dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah", ucap Hans.
"Hans!", bentak Alena dengan protes.
"Kamu keterlaluan terhadap putri kita yang baru kembali. Aku tidak setuju!", marah Alena.
"Kalau begitu aku akan tambahkan syarat keuntungan bagi mereka agar kamu tidak marah denganku. Aku akan memberikan mereka sebuah rumah sederhana yang bisa mereka tinggali untuk keluarga kecilnya", ucap Hans dengan santai.
"Bagaimana Tina?", tanya Hans menatap wajah putrinya.
"Aku setuju, yang terpenting kami dapat restu darimu", ucap Tina.
"Lihatlah Alena mereka setuju syarat yang aku ajukan untuk mereka", ucap Hans yang membuat Alena marah dengan meninggalkan mereka di ruang tamu.
Lalu Hans menyusul Alena yang merajut ke kamar. Sementara Tina memeluk tubuh Thomas dengan perasaan senang karena mendapatkan restu dari ayahnya meskipun kehidupan nantinya tidak bergelimang harta.
Sedangkan Hans sedang membujuk Alena sebagai istrinya dan ibu dari Tina.
"Sweetheart, aku melakukan ini demi kebaikan putri kita", ucap Hans dengan mengusap bahu Alena yang tengah memunggungi Hans duduk di pinggir ranjang.
"Tapi kamu keterlaluan Hans!",protes Alena.
"Itu syarat yang sudah aku pikir matang-matang sweety", ucap Hans yang tidak mau mengalah.
"Tetap saja kamu membuat putriku dan cucuku menderita akibat syarat yang kau ajukan", ucap Alena dengan nada tinggi sambil beranjak dari duduknya.
"Sweety!", panggil Hans saat Alena melangkah pergi menjauh darinya dan Hans mencekal lengan istrinya. Lalu Hans mengalah dengan suara keras.
"Baiklah, aku akan memberi dia kemudahan dari syarat yang ku ajukan dengan membantu dia memimpin perusahaan cabang kecil milik Reffalino. Tidak ada kemudahan lagi untuknya titik", ucap Hans dengan menarik tubuh Alena ke dalam dekapan. Alena yang berada di dalam dekapan suaminya tersenyum. Akhirnya Hans hanya memberikan tantangan mudah untuk Thomas dengan ekspresi tidak senang setelah syarat itu memudahkan untuk Thomas memiliki putrinya.
__ADS_1